Need a Time

1950 Kata
Happy Reading . . . *** Sebuah pelukan hangat tiba-tiba saja bisa Savannah rasakan di perutnya, pada saat ia sedang membuat secangkir kopi di meja bar di dalam ruangan kerja wanita itu. Tidak hanya pelukan saja, sebuah kecupan singkat pun juga wanita itu dapatkan di pipinya dari sosok pria yang sudah tersenyum melihat wanita itu yang tidak melakukan hal besar saja pun sudah membuatnya begitu menarik. "Selamat pagi, asistenku yang sangat istimewa." Bisik Duke yang membuat Savannah sedikit tersenyum. "Kopi anda akan segera di meja anda, sir." "Aku sangat menyukai di saat kau memanggilku dengan sebutan itu. Sir." "Mengapa?" "Terdengar sangat menggairahkan." "Okay..., kita sedang di kantor, Duke. Tetaplah profesional," balas Savannah sambil memutar posisi tubuhnya hingga kini ia yang sudah berhadapan dengan pria itu dan dekapan di tubuhnya itu pun juga semakin terasa erat. Dan senyuman kecil yang dimiliki Savannah pun justru membuat Duke semakin melebarkan senyumannya. "Aku suka itu. Tetap profesional. Tetapi..., sesekali kita bisa mencuri-curi sedikit waktu untuk bermesraan." "Duke..." "Apa?" "Profesional." "Okay, profesional." Bersamaan dengan berakhirnya ucapan pria itu, senyuman yang masih berada di bibirnya pun langsung mengecup bibir Savannah dengan singkat. Kecupan singkat yang tidak mendapatkan protes itu pun, membuat Duke semakin percaya diri untuk bisa semakin mencium wanita itu lebih dalam lagi. Tempo yang semula hanya sebuah kecupan, namun dengan cepat sudah berubah menjadi semakin lebih intim. Serangan tidak terduga yang Savannah dapatkan dari Duke itu pun, membuatnya langsung terbuai karenanya. Sebisa mungkin wanita itu mencoba untuk tersadar, namun serangan itu terasa lebih berat untuk bisa membuatnya tersadar. Bermaksud tidak ingin menikmati ataupun memberikan izin untuk pria itu bisa menciumnya lebih dalam lagi, tetapi Savannah bisa apa jika ciuman tersebut mulai membuatnya terpaku. Dan sebisa mungkin ia berusaha untuk melepaskan dirinya dan mengakhiri ciuman yang mengekang dirinya itu. "Duke, ayolah. Kita harus tetap profesional." "Aku menginginkanmu, Savannah." "Duke..." Protes wanita itu yang sudah merasakan tangan Duke yang mulai menyingkap bagian bawah roknya dan sedikit membelai milik Savannah di bawah sana dengan lembut. "Mengapa? Sebentar saja, tidak akan lama." "Jam kerja sudah dimulai, okay?" Tolaknya sambil menjauhkan tangan Duke dari miliknya itu. "Justru itu. Rasanya akan menjadi sangat menyenangkan, bukan? Di meja kebesaranku, atau di meja bar ini pun juga bukan menjadi masalah." Savannah yang mendengar ucapan pria itu pun hanya menggelengkan kepalanya dan memberikan tatapan kosong namun terasa tajam untuk dilihat oleh Duke yang kini dengan santai hanya memperlihatkan senyumannya saja. "Aku bergurau," ucap pria itu dengan terkekeh. "Baiklah, kau boleh memulai pekerjaanmu." "Terima kasih anda sudah ingin mengerti, sir. Dan ini kopi anda sudah jadi," balas Savannah sambil mengambil cangkir berisi kopi yang sudah dibuatnya tadi dan memberikannya kepada sang atasan. "Cepat sekali formalnya." "Harus profesional." "Kalau begitu, dimana laporan yang kemarin?" "Di meja kerja saya, sir. Kemarin malam baru selesai saya kerjakan," ucap Savannah sambil melangkahkan kaki menghampiri meja kerja miliknya untuk mengambil dokumen laporan yang telah dikerjakannya itu. "Pembangunan taman hiburan itu sudah terealisasi dan sudah dimulai. Saya ingin berkunjung ke sana sekaligus melihat perkembangan prosesnya yang sudah sampai dimana. Atur jadwal saya, esok lusa saya ingin berangkat ke sana." "Baik, sir. Untuk berapa lama agar saya bisa menyesuaikan janji pertemuan anda bersama dengan klien setelah anda kembali dari kunjungan itu?" Tanya Savannah yang langsung bergegas menuju kursi kerjanya dan mengarahkan pandangan menuju layar komputer untuk melihat jadwal sang atasan di sana. "Sepertinya cukup lama. Karena saya juga ingin berkunjung ke taman hiburan pertama yang belum pernah saya kunjungi selama menjadi pemimpin baru menggantikan orang tua saya. Ya, katakanlah perjalanan bisnis. Jadi, sampai kapannya saya pun tidak bisa memastikannya." "Baik. Mungkin nanti anda bisa menghubungi saya untuk informasi lebih lanjutnya dan saya akan mengatur segala keperluan anda nanti." "Untuk apa saya menghubungimu hanya untuk sekedar memberi informasi? Kau saja akan ikut dalam perjalanan bisnis nanti." "Saya..., akan ikut?" Tanya Savannah dengan sedikit rasa tidak percaya dan sangat ingin memastikan hal tersebut. "Ya, kau harus ikut. Kau ini adalah asisten saya. Jadi, semua hal yang saya butuhkan di sana nanti, kau yang harus urus." "Esok lusa, sir?" "Ya." "Hanya saya dan anda saja, sir? Berdua saja?" "Iya, Savannah sayang. Kau ini menjadi berubah menjadi banyak tanya seperti ini. Atur jadwalnya dari sekarang, dan lanjutkan pekerjaanmu." "Baik, sir." Kepergian Duke yang langsung meningggalkan sang asisten menuju ruangannya itu, membuat Savannah yang sangat memikirkan hal dimana ia akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama dan hal itu sama sekali tidaklah baik. Tidak baik untuk dirinya, dan juga tidak baik untuk hubungan yang nanti pasti akan semakin terasa sensitif. Belum lagi dirinya nanti pasti akan selalu terbayang akan sosok Dylan yang entah mengapa membuatnya merasa bersalah karena harus pergi meninggalkan pria itu untuk Savannah yang harus pergi entah berapa lama bersama dengan atasannya. Memikirkan semua itu, rasanya akan tidak akan ada habisnya dan hanya akan menyita waktu saja. Menyingkirkan hal tersebut terlebih dahulu, Savannah pun memutuskan untuk memulai pekerjaannya dan memikirkan hal yang sesungguhnya memang harus dipikirkannya itu nanti. *** Savannah melihat jam di tangannya yang kini sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Pekerjaannya yang tentu masih belum selesai juga, membuatnya tidak perlu dikira lagi bahwa ia sudah pasti akan lembur. Namun disaat Savannah yang ingin menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, pikirannya itu tidak bisa terlepas juga dari sosok Dylan. Ia yang sampai saat ini masih belum juga selesai membicarakan hal mengenai hubungan di antara keduanya yang terasa renggang itu. Dan Savannah pun juga menjadi sempat terpikirkan akan status hubungan yang resmi. Hubungan resmi yang memiliki suatu komitmen di dalamnya, mulai terpikirkan oleh wanita itu. Savannah berpikir, di dalam situasi hubungan yang sedang terasa seperti ini. Sepertinya satus hubungan yang resmi dan jelas adalah hal yang tepat baginya. Setidaknya hubungan yang bisa ia putuskan itu nanti bisa memperjelas perasaan Savannah yang selalu dibuat bingung oleh seorang Dylan. Ia membutuhkan kepastian kepada dirinya sendiri, akankah ia harus melepaskan seorang pria yang peduli dan menyayanginya, atau justru menerima rasa cinta yang sangat tulus yang ditunjukkan dan diberikan kepadanya oleh pria itu. Dengan segala pemikiran dan keberanian yang Savannah miliki, ia pun beranjak dari duduknya untuk bergegas menghampiri Dylan di lantai ruangan kerja pria itu berada. Wanita itu berharap Dylan yang masih belum pulang, dan berada di meja kerjanya. Sehingga ia bisa benar-benar membicarakan kepastian, dimana Savannah rasa hanya kali inilah satu-satunya kesempatan yang dimiliki sebelum semuanya kembali gagal untuk bisa dibicarakan secara jelas dan tuntas. Dan bersamaan dengan pintu lift yang Savannah naiki menuju lantai departemen akutansi telah terbuka, sosok yang dicari dan ingin ditemuinya itu pun sudah berdiri di hadapannya dan hendak masuk ke dalam lift. "Kita bicara," ucap wanita itu yang langsung menarik masuk tangan Dylan ke dalam lift, dan setelah keduanya sudah berada di dalam lift dan pintu yang juga sudah tertutup. Savannah pun menekan tombol berhenti pada lift, agar lift yang dinaiki tersebut dapat berhenti beroperasi dan keduanya yang dapat berbicara lebih intens. "Apa yang ingin kau bicarakan? Dan mengapa harus sampai memberhentikan lift seperti ini?" "Aku ingin membicarakan perihal di antara kita, yang sejak kemarin terasa tidak pernah memiliki kesempatan. Dan mengapa aku harus memberhentikan lift? Karena aku ingin ada privasi dalam pembicaraan kita nanti di antara kita." "Okay. Jadi, apa?" "Kau mencintaiku, bukan? Apakah perasaanmu itu masih sama sampai saat ini?" "Apakah aku pernah mengatakan ingin berhenti mencintaimu?" "Jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lagi. Cukup jawab, apakah perasaanmu sampai saat ini masih sama, Dy?" "Tentu saja, Savee. Apakah kau pikir perasaanku ini hanyalah main-main saja? Tidak, aku sama sekali tidak pernah main-main dengan perasaanku ini. Sekalipun kau tidak pernah membalas rasa cinta yang aku berikan ini, aku tidak pernah mempermasalahkannya. Aku ingin menghargaimu, memberikanmu lebih banyak waktu lagi untuk menerima semua ketulusan yang aku berikan kepadamu agar kau juga bisa mengetahui apa arti dari cinta yang aku berikan kepadamu ini." "Sampai kapan kau ingin menunggu dan menunjukkan rasa cintamu itu?" "Sampai kau mengetahui perasaanmu yang sesungguhnya terhadapku." "Aku membutuhkan banyak waktu lagi." "Maka luangkanlah waktumu." "Aku harus pergi. Esok lusa, aku ada perjalanan bisnis bersama dengan Duke. Ia mengatakan tidak tahu sampai kapan perjalanan itu akan berakhir. Tetapi, selama aku pergi nanti aku ingin kita tidak berkomunikasi. Bukan tanpa alasan. Semua itu karena aku ingin merenungkan, aku akan memikirkan dengan baik bagaimana reaksi diriku, reaksi hatiku pada saat tidak bertemu dan berkomunikasi denganmu. Komunikasi kita selama ini cukup intens, bukan? Kita sering bertemu dan bahkan kita berdua sudah sama-sama saling masuk ke kehidupan pribadi kita masing-masing. Dan dengan cara seperti itu, aku rasa mungkin akan lebih mengetahui perasaanku terhadapmu untuk lebih jelas dan lebih tepatnya lagi. Aku ingin memastikannya terlebih dahulu, Dy. Dan, bagaimana menurutmu?" "Tunggu dulu. Kau akan melakukan perjalanan bisnis bersama dengannya? Hanya berdua saja?" "Ya. Memangnya kenapa? Apakah kau tidak mengizinkannya?" "Hmm..., itu terdengarlah sangat berat bagiku." "Dy..., ayolah. Ini hanya masalah pekerjaan saja. Dan aku berjanji ini akan sangat profesional, di antara diriku dan dirinya. Jika kau menakutkan hal seperti itu, maka aku mohon berhentilah untuk bersikap seperti itu apalagi sampai memiliki pikiran yang buruk." "Aku hanya tidak ingin kau mengalami hal yang buruk dan tidak baik bersama dengannya." "Aku berjanji akan sangat menjaga diriku dengan sangat baik. Okay?" "Okay, baiklah. Lalu, mengapa kau ingin melakukan hal seperti itu hingga sampai tidak ingin berkomunikasi denganku?" "Karena..., sepertinya sudah seharusnya aku melakukan hal seperti itu. Sudah waktunya bagimu yang selama ini sudah menunggu, membuatku harus mengambil keputusan secepatnya. Setelah aku memikirkannya kembali, aku tidak bisa seperti itu terus terhadapmu. Itu tidaklah adil. Dan aku rasa, hubungan di antara kita yang belakangan ini terasa sedikit renggang, membuatku merasa sadar bahwa aku tidak bisa seperti ini terus kepadamu. Jadi, ya... Inilah keputusanku, aku ingin memastikan hatiku terlebih dahulu, dan semuanya sebelum aku mengambil keputusan akan dibawa kemana hubungan di antara kita ini." "Tanpa komunikasi apapun?" "Aku ingin memastikan hatiku." "Ya, baiklah. Apapun itu yang kau inginkan, aku akan mendukungmu. Di sini aku akan menunggumu, sampai kau datang kembali dan mengatakan semuanya dengan jelas mengenai ungkapan isi hatimu yang sesungguhnya terhadapku itu." "Terima kasih, Dy. Kau selalu mengerti dengan setiap keinginan dan juga keputusanku." "Selalu. Aku akan selalu seperti itu kepadamu, Savee. Karena aku mencintaimu." Sebuah pelukan erat pun langsung Savannah berikan kepada Dylan, dan membuat pria itu juga langsung membalas pelukan tersebut tidak kalah erat. "Apakah kau sudah ingin pulang?" Tanya Savannah sambil melepaskan pelukan yang sudah terasa cukup menenangkan perasaannya itu yang sebelumnya terasa gelisah dan tidak tenang hanya karena ingin menyampaikan hal yang sudah dikatakannya terhadap Dylan tadi. "Ya, rencana seperti itu. Kau?" "Aku masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini." "Ingin aku temani sampai kau menyelesaikannya?" "Benarkah?" "Ya, tentu saja. Mengapa tidak?" "Apakah boleh jika aku sedikit meminta bantuan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan milikku kepadamu juga?" "Jika aku bisa, mengapa tidak? Tentu aku akan membantumu." "Kau memang sungguh begitu baik, Dy." "Baiklah, kau tidak perlu merayuku sampai seperti itu hanya untuk meminta bantuan dariku." Balas pria itu sambil menenkan kembali tombol pada lift untuk kembali mengoperasikannya, dan tidak lupa juga menekan tombol lantai dimana ruangan kerja Savannah berada. "Okay, aku merindukanmu jika sudah mulai menjadi menyebalkan seperti ini." Ucap Savannah dengan senyuman kecil di bibirnya. "Baru saja sebentar, kau sudah merindukanku. Bagaimana jika esok kau pergi meninggalkanku untuk perjalanan bisnis? Aku bertaruh kau tidak akan pernah bisa untuk menahan rasa rindumu itu terhadapku." "Kita lihat saja nanti. Apakah aku yang merindukanmu? Atau kau yang jauh lebih merindukan diriku ini yang memang sangatlah sosok yang dirindukan," ucap Savannah dengan sedikit angkuh. "Ingin bertaruh?" "Cobalah." "Apa hukuman bagi yang kalah?" "Hmm..., melakukan hal apapun bagi si pemenang selama satu hari penuh." Ucap Savannah memberikan usul. "Apapun?" "Apapun." "Sepakat!" Seru Dylan sambil merangkul bahu Savannah bersamaan dengan pintu lift yang terbuka, dan keduanya yang juga langsung melangkah keluar dari lift tersebut menuju ruangan Savannah dengan senyuman yang juga sama-sama terbit pada bibir keduanya. *** To be continued . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN