7. NEW OFFICE

1210 Kata
Lagi-lagi aku bermimpi Dirga, kali ini dia sedang bermain seperti di halaman rumah di Bandung dulu, kemudian dia pergi ke luar dari pagar dan tidak kembali lagi. Aku mengejarnya, tapi saat keluar pagar aku tidak mendapati rumah lain di sekitarku. Hanya ada satu rumahku saja di tanah lapang ini. Kupanggil nama Dirga sekeras-kerasnya tapi aku tidak menemukan siapa-siapa. Terus kupanggil namanya berkali-kali, hingga aku mendengar ada seseorang memanggil namaku berulang-ulang. Ternyata mama sedang berusaha membangunkanku pagi ini. Dengan berat hati aku harus beranjak dari tempat yang paling bisa membuatku nyaman. Setelah beranjak dari ranjang aku menuju jendela untuk menyingkap tirai kaca besar dan menarik pintu kaca lebar-lebar agar udara pagi bisa masuk ke kamarku. Pagi ini aku bersiap ke kantor. Mama terus menyemangati bahkan yang paling antusias memilihkanku baju yang tepat untuk kugunakan di hari pertamaku. Bahkan mama juga yang paling heboh mendadaniku secantik mungkin. Ternyata Mama sudah membelikanku beberapa setel pakaian formal atau setelan jas kerja dari berbagai brand ternama untukku sejak jauh hari. Mama niat banget menurutku. Hari ini aku mengenakan blazer berwarna hitam dengan dalaman bahan satin warna biru laut. Aku memilih rok berpotongan lurus dari pinggang hingga lututku dengan belahan belakang sepanjang 10 cm. Rambut panjangku, aku bentuk model sanggul kecil. Kusemprotkan sedikit hairspray agar sedikit kaku dan tidak berantakan. Aku tersenyum puas menatap bayangan tubuhku di cermin. Kuambil sebuah hand bag merek Prada berwarna hitam dari dalam rak penyimpanan tas. Sepatu Pilihanku jatuh pada sebuah stiletto dengan tinggi heels mencapai 13cm, berwarna biru senada dengan inner blazerku. Sekali lagi aku menatap kembali penampilanku di depan cermin lantas turun ke bawah untuk segera berangkat. "Doakan mama bisa ya sayang menghadapi pekerjaan baru mama. Love you Dirga." Doaku dalam hati. Sampai di tangga aku melihat seseorang yang bukan penghuni rumah ini. Dia sudah rapi pagi ini. Mendengar hentakan sepatuku menuruni tangga membuat Andrew membalikkan badan menghadapku. Kulihat dia hanya menganga lalu kemudian menutup kembali mulutnya. Sepertinya aku sudah cukup sukses membungkam mulut resenya yang sudah siap akan mengomentari penampilanku. Andrew berdiri dan melangkah menghampiriku. kuperhatikan penampilannya pagi ini. Kemeja slimfit bermotif garis hitam dan putih halus sangat pas di tubuhnya, dengan celana bahan berwarna hitam membuat kaki jenjangnya semakin nampak panjang. Rambutnya lebih pendek, sepertinya dia sudah memotong rambutnya. Rambutnya pagi ini dibentuk tegak berdiri, alias jabrik dengan bantuan gel yang membuat rambutnya akan senantiasa basah sepanjang hari. Dan kini dia sudah berada tepat di hadapanku. "Selamat pagi," sapanya sembari tersenyum. "Pagi," jawabku menyapa tanpa memandangnya. Entah kenapa jika berdekatan dengan makhluk ini aku menjadi agak sedikit aneh. Mudah salah tingkah dan selalu ingin melarikan diri dari hadapannya. Karena tidak tahu harus bersikap bagaimana, aku jadi memilih bersikap angkuh padanya. Beruntung ada sifat Andrew yang tak kusuka, sehingga aku punya alasan untuk menghindarinya. "Are you ready?" Andrew berusaha mendekatiku. Aku hanya mengangguk lalu menghampiri papa yang sedang menyesap kopi paginya. "Papa mengundang Andrew pagi ini ke rumah. Papa akan ke Rumah Sakit untuk mengumumkan Andrew sebagai direktur rumah sakit yang baru," ujar papa menjawab rasa penasaranku. Aku tidak melanjutkan komentarku lagi, karena papa mengajakku untuk segera berangkat. Kami bertiga lalu memasuki mobil Alphard hitam milik papa. No papa, kenapa papa membiarkan putrimu ini duduk bersebelahan dengan seorang pria asing. Kenapa tidak aku atau Andrew saja yang duduk di kursi penumpang samping kemudi. Baguslah selama di dalam mobil aku merasa canggung bersama Andrew. Aku lebih banyak diam. Aku tidak mau terlibat pembicaraan apa pun dengannya. Kulirik dari ujung mataku dia sedang sibuk mengetik sesuatu di layar tabletnya. Syukurlah dia kelihatan sibuk pagi ini, jadi tidak punya kesempatan untuk menggangguku. Hampir satu jam kemudian mobil memasuki sebuah gedung bertingkat di pusat kota Jakarta. Saat kami keluar dari mobil, disambut oleh seorang perempuan muda cantik dan rapi. "Selamat pagi Tuan Raharjo, Tuan Andreas dan?" Perempuan itu menghentikan sapanya. Wait! Dia mengenal Andrew tapi dia tidak mengenaliku rupanya. "Ini putri tunggal saya. Lembayung Attila." Sepertinya papa memahami ketidak pahaman perempuan ini. "Ayung, ini sekertaris papa, namanya Tiara. Dia yang akan membantumu juga nantinya." Perempuan tadi langsung tersenyum dan menyapaku dengan ramah. "Oh, selamat pagi Nona Lembayung. Perkenalkan saya Tiara. Jika perlu bantuan jangan segan-segan untuk memanggil saya." "Panggil saja Ayung," ucapku membalas sapaan Tiara. Tiara agak sedikit menunduk dan kami berdua salaman. Kemudian aku dan papa masuk ke dalam gedung, disusul Andrew dan Tiara di belakang. Kudengar dua orang di belakangku sedang menahan tawa dan saling berbisik hingga mengeluarkan suara yang terdengar agak mendesis. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Saat memasuki gedung, kami semua disapa oleh setiap karyawan yang melihat. Dan rata-rata mereka mengenali Andrew. Andrew sepertinya sangat familiar dengan kantor papa. Sedangkan aku yang anaknya sendiri tidak ada yang mengenali. Mendekati lift khusus direksi, Tiara dengan cekatan membantu kami. Aku merasa wajahnya agak memerah seperti orang sedang menahan malu. Pasti Andrew sudah menggodanya. "Dasar play boy cap kapak", gerutuku dalam hati. Kami bertiga sudah ada di ruangan papa. Kemudian papa memberi sebuah arahan penting pada Tiara. "Tiara, pagi ini tolong kumpulkan semua staff tanpa terkecuali, termasuk OB, OG dan security. Saya hendak memperkenalkan Lembayung secara resmi sebagai pengganti saya dalam waktu dekat ini." "Baik, Pak. Kami akan berkumpul di lobi pukul 10 pagi ini. Oiya pak, kita ada meeting dengan PT. Chandra Wijaya saat makan siang hari ini." "Baiklah kita akan menghadiri meeting itu. Terima kasih Tiara." Kemudian Tiara meninggalkan ruangan papa. Tidak ketinggalan Andrew melambaikan tangannya ke arah Tiara, sehingga sukses membuat Tiara tersipu malu. "Kamu ya... sempet-sempetnya flirting sama perempuan pagi gini. Di perusahaan papaku lagi," ujarku sewot sambil memelototi Andrew. Andrew justru tertawa kencang. "Kamu cemburu ya?" Dia sedikit mencondongkan kepalanya ke arahku. "Dih..., apaan? Aku cuma nggak suka aja sama sikapmu yang tebar pesona di kantor papaku." "Hey, hey tunggu dulu. Tiara itu teman SMA aku. Tadi aku menggodanya karena dia baru saja menikah. Aku cuma tanya bagaimana rasanya jadi pengantin? Enak nggak? Eh..., dianya malah cekikikan. Udah ya kamu jangan cemberut gitu, Yung." Andrew mencubit pelan ujung pipiku. "Ish, apaan, sih! Kamu jangan kurang ajar ya sama aku. Lagian tangan kamu kan nggak steril, nanti mukaku jerawatan gara-gara bakteri di tanganmu," kesalku, menanggapi sikap genit Andrew. Detik berikutnya Papa sudah ada di hadapan kami, lalu menghentikan pertengkaran kami. "Andrew memang akrab dan membaur dengan hampir seluruh karyawan di sini, Yung. Selama kuliah dia banyak menghabiskan waktunya di sini untuk membantu papa di sela-sela waktu kuliahnya." "Oya? Katanya kuliah di New York," cemoohku. "Aku kuliah di Indonesia. Aku di New York cuma ngambil gelar profesiku aja." Kali ini gaya bicaranya sudah tidak seformal saat awal-awal pertemuan kami. "Andrew kuliah kedokteran di Jakarta, Yung. Setelah lulus dia melarikan diri ke New York." Tiba-tiba Papa tertawa saat membicarakan Andrew dan yang dibicarakan menggaruk-garuk tengkuknya yang aku rasa tidak gatal. Untuk apa dia bersikap seperti itu? Seperti anak abg yag ketahuan bolos sekolah saja. Aku hanya membentuk bulatan pada kedua bibirku. Ya memang tidak banyak yang aku ketahui tentang kehidupan si bule Sunda ini. Males banget mengurusi hidup orang. Hidupku sendiri saja masih belum tentu terarah. Andrew kemudian pamit ke luar dari ruangan Papa. Bagus, bila perlu tak usah kembali lagi. Tinggallah papa dan aku di ruangan besar ini. Aku menghampiri papa di meja kerjanya, dan mengambil duduk menghadap papa. Kulihat papa masih sibuk menandatangani beberapa dokumen sambil sebentar-sebentar membaca dan memperhatikan dengan seksama isi dokumen di hadapannya.  ~~~ ^vee^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN