bc

Dark Destiny

book_age16+
281
IKUTI
2.7K
BACA
dark
love-triangle
reincarnation/transmigration
drama
tragedy
mystery
vampire
campus
highschool
sword-and-sorcery
like
intro-logo
Uraian

Menjadi gadis yang hampir memiliki semua yang diinginkan orang lain tidak pernah membuat Joanne Derreck bisa bernapas dengan lega. Di saat ia mengira bahwa hidupnya bisa normal seperti gadis sebayanya, nyatanya lagi-lagi takdir menjungkirbalikkan keadaan. Joanne tidak ingin larut dalam kengerian hidup yang dijalani ibunya karena menikahi seseorang yang bukan manusia, tetapi tidak bisa menolak gelenyar aneh ketika jemari Ethan membelai setiap bagian dari tubuhnya.

Joanne yang akhirnya tidak yakin akan jalan yang harus ditempuh, rela berkorban untuk Ethan. Pemuda yang paling dibencinya

chap-preview
Pratinjau gratis
Haruskah Mati?
“Sisanya akan dibawa nanti.” Joanne mengembalikan kesadarannya ketika kalimat terakhir dari Belinda menutup percakapan. Sekali lagi ia menatap ransel juga kucing kesayangannya yang sudah berada di dalam mobil. Sebenarnya, Joanne tidak perlu terkejut lagi atas semua keputusan-keputusan sepihak dari orang tuanya. Kalau dihitung mungkin selama hidupnya, Joanne hanya menetap paling lama setahun di tiap-tiap kota. Jadi, seharusnya ia tidak sesedih ini kala meninggalkan rumah bergaya victoria dengan halaman luas lengkap dengan semua fasilitas menyenangkan lainnya. “Ayo, waktu kita tidak banyak.” Lagi-lagi ucapan ibunya menyentak kesadaran Joanne. Mau tidak mau ia ikut memasuki mobil, memasang seat belt kemudian berusaha menikmati lagu dari radio yang sengaja Belinda nyalakan. Joanne mulai pasrah ketika pemandangan di luar jendela mulai berganti. Berawal dari pemandangan gedung-gedung bertingkat, rumah-rumah pedesaan, sawah, ladang, sampai ke hutan-hutan sesak pepohonan yang tidak pernah terjamah manusia. Kali ini ia hanya bisa diam pasrah. Sudah berjam-jam dan mereka hanya berhenti hanya untuk sekadar mengisi bahan bakar atau pergi ke toilet. Sekali lagi ia menoleh untuk memastikan kucing hitam kesayangannya tidur dengan nyaman di atas tumpukkan selimut. “Sebentar lagi kita akan sampai, Joan,” Joannne hanya tersenyum miring. Malas rasanya mempercayai ucapan Belinda. Melihat jalanan aspal yang membentang, ia tahu kalau tujuannya masih jauh dari kata tiba. Setelah lelah, muak, juga malas untuk menanggapi ocehan ibunya. Mata Joanne membulat tak percaya kala mobil yang dikemudikan Belinda menepi di salah satu pelataran hotel menyedihkan. Ingin rasanya ia memprotes, tetapi kali ini Joanne benar-benar lelah karena seharian hanya duduk saja. Belinda mematikan mesin, meraih tasnya kemudian keluar dari mobil sementara Joanne masih duduk manis seakan bokongnya dilem. Belinda mengamati papan nama besar bertuliskan Rose Hotel, berhiaskan deretan bunga mawar plastik lusuh dengan warna sedikit memudar. Kemilau cahaya lampu neon panjang di sepanjang plang nama membuat beberapa serangga terlihat mabuk oleh pesona cahayanya. Belinda kembali menarik napas panjang. Ia tahu putrinya sedang protes dan enggan tidur di hotel yang tampak menyeramkan itu. Meskipun begitu, mereka tidak punya pilihan lain. Joanne menurunkan jendela mobil setelah Belinda mengetuknya beberapa kali dan tampak mengabaikan isyarat untuk bergegas turun dari mobil. “Astaga! Kau sama keras kepalanya seperti ayahmu!” marah Belinda sembari membuka pintu. “Keluarlah! Aku sangat lelah dan sudah menuruti kemauanmu dengan tidak beristirahat selama hampir sepuluh jam menyetir! Kau pikir aku juga senang kita harus pindah ke kota menyedihkan ini? Cepatlah! Jangan banyak bertingkah!” lanjutnya. Joanne mendesah kasar. “Mom, katamu kita sudah dekat─” “Astaga! Apa kamu buta? Ini sudah hampir larut malam! Aku tidak tahu sejelek apa jalanan di depan sana! Cepatlah! Aku ingin mandi!” Belinda benar-benar tidak memberikan kesempatan untuk si Tuan Putri itu berkeluh kesah. Sungguh, ia hanya ingin segera berganti pakaian dan tidur nyenyak. “JOANNE!” Tidak ingin mendapatkan semburan untuk yang kesekian kalinya, Joanne memilih melepaskan seat belt, meraih ranselnya dan tak lupa menggendong kucing hitam kesayangannya yang sedari tadi pulas tertidur. Kali ini bayangan indah semua fasilitas menyenangkan di rumahnya seakan menertawakan dirinya. Ia punya banyak waktu untul menyesali, mengapa selama ini tidak memanfaatkan waktu. Sekali lagi Joanne mengamati hotel menyedihkan yang tampak begitu lengang. Kepalanya juga berputar mengamati sekeliling tempatnya berada. Sepanjang yang terlihat hanya pohon dan kegelapan mengungkung mereka. Mungkin, kali ini menuruti ibunya adalah pilihan terbaik. Ia juga harus menyingkirkan rasa gatal, lengket di sepanjang kulit mulusnya. Joanne menurunkan kakinya. “MOM!” jeritnya kala satu bayangan tak kasat mata menabrak tubuh rampingnya. Bahkan ia harus memaksa kakinya tetap berdiri tegak, memijak aspal pelataran parkir hotel. Belinda mengikuti nalurinya untuk berdiri di hadapan Joanne. Angin yang tiba-tiba datang menerpa tubuh mereka adalah pertanda buruk dan Belinda sudah pernah diperingati soal ini sebelumnya. Jadi, seharusnya ia bisa memegang kendali penuh. Joanne menarik lengan Belinda kala melihat beberapa bayangan berkelebat dari balik pepohonan. Mata Joanne membulat sempurna, tampak tiga orang keluar dari hutan di seberangnya berada. Mereka berjalan tanpa keraguan seakan sedang menebarkan aura kematian. Dirinya tidak bisa banyak bergerak. Sepasang mata elang dengan irisnya yang merah mengunci pandangan Joanne. Pria itu berjalan paling depan dan menebarkan energi paling kuat di antara dua gadis sebaya dengannya. Sekali lagi Joanne menarik lengan mantel Belinda, ia benar-benar ketakutan melihat tatapan ganas pria itu. “Beraninya kalian memasuki wilayahku tanpa izin!” desis pria itu kala sudah berada dekat dengan Belinda. “A-aku sudah mendapatkan izin dari perbatasan!” timpal Belinda berusaha menyembunyikan rasa takutnya. “Aku tidak bicara tentang kau! Tapi makhluk di belakangmu!” lanjutnya mengerutkan keberanian Belinda. Seketika Joanne menyadari bahwa dirinya yang dimaksud oleh pria itu. Tidak mungkin, ‘kan ucapan itu ditujukan untuk kucing yang sedang ketakutan di pelukannya? Astaga, aku harap Mom punya jawaban, batin Joanne. Dengan tangan gemetar Belinda mengeluarkan secarik kertas dari saku mantelnya kemudian menyerahkan kertas itu pada pria yang seketika terbakar emosi. Joanne hampir saja terjengkang kala pria itu meremas kertas itu lalu memandang tajam Belinda. “Bagaimana bisa kamu mendapatkan surat ini?” desisnya. Belinda menarik senyum puas, ia tahu pria yang ada dihadapannya tidak mungkin bisa menarik keputusannya sendiri. “Kamu sendiri yang menandatangani surat itu. Benar, ‘kan Tuan Ardolph Millen?” Mata Ardolph mengerjap dua kali. Yang diucapkan wanita itu adalah benar. Akan tetapi, ia tidak pernah merasa menandatangani surat perizinan atas nama keluarga Derreck. Pasti ada yang salah, termasuk menyetujui mereka tinggal di Dalton selama hampir dua tahun. Ini pasti salah. “Amanda!” Salah satu gadis berambut lurus sebahu menghampiri Ardolph. “Bakar gadis itu!” titahnya. “Ba-bakar?” Kali ini Belinda tidak bisa menyembunyikan ketakutannya. Ketakutan Joanne semakin bertambah kala gadis cantik itu berjalan mengikuti perintah Ardolph. Berkali-kali Joanne mengerjapkan mata sembari mengamati gadis itu, dia tidak membawa korek atau semacamnya, jadi, tidak mungkin bisa membakarnya? Atau apa dia salah mendengar? Apa pria itu memerintahkan untuk menembaknya? “Tu-tunggu! Kau sudah menandatangi surat persetujuan penduduk, bahkan pertukaran klan dengan Cedric, jadi─” “MOM!!” jeritan Joanne menambah ketegangan karena tiba-tiba saja tubuh Belinda terpental tepat setelah gadis berambut lurus sebahu itu mengibaskan tangannya. Joanne tetap memaksa tubuhnya untuk berdiri tegap. “Tunggu!! Kalian tidak bisa melakukan itu!! Anakku berada di bawah lindungan dua klan! Kalian tidak bisa melakukannya!” jerit Belinda sembari memegangi lengannya. Bergantian Joanne menatap Belinda yang mulai menangis dengan gadis yang terus berjalan mengikis jarak di antara mereka. “Jadi, apa permintaan terakhirmu?” tanyanya diiringi seringai menakutkan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.8K
bc

Rise from the Darkness

read
8.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.2K
bc

TERNODA

read
199.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook