Screw Up

1057 Kata
"Astaga Joanne!!" jerit Belinda tak kalah kencang. "Mom!! Kamu mengagetkan aku!!" marah Joanne. "Apa yang kamu lakukan di pagi buta seperti ini?" tanya Belinda dengan suara mengalahkan lengkingan penyanyi delapan oktaf. "Aku, aku melihat seseorang di luar dan, dan aku memastikannya ... maaf," sesal Joanne. Belinda merebut senter dalam genggaman Joanne lalu mengarahkannya ke semak-semak. "Joanne, ayo kita masuk!" Tanpa banyak bicara lagi, Joanne mengikuti langkah Belinda lalu ibunya itu tampak mengunci pintu. "Aku harap kita punya sesuatu di kulkas," tuturnya lalu bergerak membuka pintu lemari pendingin. "Syukurlah, ayahmu masih ingat kalau kita adalah manusia. Sebentar aku ambil gelas dulu," Joanne duduk di kursi, sesekali menoleh ke arah jendela, memastikan sosok yang dilihatnya tidak ada di dekat pohon itu. Suara eyongan Felix terdengar semakin jelas dan kucing itu cepat-cepat menggosokkan ujung hidungnya yang basah ke kaki Joanne. "Felix, kamu selalu tahu cara untuk menghiburku," gumam Joanne sembari mengelus pucuk kepala Felix. "Ini, minumlah," titah Belinda sembari menyodorkan segelas air dingin. "Thanks, Mom," jawab Joanne. Melihat anakknya yang meneguk habis air dalam sekejap mata, ia tahu kalau Joanne tidak berbohong. Hati Belinda mendadak kembali gelisah. Alasannya pergi ke kota terpencil ini adalah untuk menyelamatkan Joanne dan berharap perlindungan dari klan Ardolph Miller. Walau tidak tahu pasti siapa lawan atau kawan, tetapi Belinda tetap akan menuruti perintah suaminya. Semua itu demi kebaikan Joanne. "Tidurlah lagi, besok pagi kita harus membersihkan rumah karena lusa nanti kamu mulai bersekolah," tutur Belinda. Air yang memenuhi rongga mulut Joanne seketika tersembur. Menatap tak percaya ucapan ibunya, jelas-jelas Joanne meminta jawaban lebih. "Se-sekolah? Maksud Mom, akan ada guru yang datang ke tempat ini?" selidik Joanne. Belinda mengusap punggung tangan Joanne. "Tidak, kali ini akan berbeda. Dad sudah mendaftarkan kamu ke salah satu sekolah di Dalton, ya, maksudku satu-satunya senior high school di kota ini," jawabnya. "Apa?" tanya Joanne mendesak ibunya mau mengulangi kalimatnya barusan. "Ya, lusa nanti kamu akan sekolah. Selama ini kamu, 'kan ingin punya teman dan berusaha menjadi remaja seperti manusia lain dan— “ “Mom, sudah terlambat! Kalian sudah berjanji akan melepaskan aku setelah usiaku tujuh belas tahun dan itu hanya tersisa beberapa bulan lagi! Aku akan pergi bersama Tante Pamela dan sepertinya aku tidak membutuhkan sertifikat sekolah atau apa pun itu namanya!” potong Joanne. Belinda tidak mau kalah, ia turut menarik napas dalam-dalam. “Aku benci akan perdebatan karena itu tidak berguna dan aku rasa kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti akan ucapan itu. Aku tentu tidak akan menghalangi kepergianmu bersama Pamela, tapi sebelum itu terjadi, aku dan ayahmu tidak menginginkan adanya perdebatan!” tegasnya. Joanne meraih Felix lalu bergegas pergi tanpa mau menimpali ucapan ibunya. Lantai rumah tua itu berderit kala Joanne melangkah tergesa-gesa menuju kamarnya. Ia membanting daun pintu tanpa peduli satu atau dua baut ikut terlepas dari tempatnya lalu menghempaskan diri ke tempat tidur. “Aku benci mereka! Siapa yang mau menjadi anak vampire sialan yang tidak memiliki kejelasan spesies!” gerutunya. Sesekali ia menyeka air matanya yang tumpah ruah membasahi pipi dan seketika pintu kamarnya terbuka lebar. Joanne bangkit, ragu mendekati jendela yang gordennya berkibar tanpa ada angin menerpa di sekitarnya. Di luar sana, sekali lagi ia menatap sosok yang sudah mendongak ke arahnya. Walau samar, Joanne tahu dari postur tubuh yang atletis, sosok ber-hoodie hitam itu adalah seorang lelaki. “Hei!!” jerit Joanne. Entah keberanian apa yang merasuki Joanne. Sekali lagi ia memanggil sosok itu, tetapi lagi-lagi sosok itu menghilang begitu saja. *** Matahari sudah ada di pucuk kepala. Hampir dua jam Joanne berjuang menyapu beranda rumahnya, tetapi pohon serta angin yang menerbangkan daun serta potongan ranting kering memberinya sedikit urusan lebih ekstra. Setelah matahari benar-benar menyambut hari, suasana di rumah itu masih saja menyeramkan. Berkali-kali dirinya dan Belinda menggosok kaca jendela, tetap saja hanya sedikit cahaya yang mampu menembus ke dalam rumah. Felix yang sedari tadi menjadi mandor pun malah membuat Joanne jengkel sendiri. Ia mendekati kucingnya lalu berjongkok. “Apa kamu tidak bisa melakukan sesuatu, hah?” Felix memutar bola matanya lalu mengeong dengan suara serak mirip penyihir tua. Tak lama seluruh bulu di tubuhnya menegak dan ia berlari ke arah belakang rumah. “Felix!! Sial, seharusnya aku mengikat dia!” gerutu Joanne yang berlari mengejar Felix. Namun lagi-lagi ia harus berhenti ketika kucing itu tampak masuk ke semak-semak. “Felix!! Felix!! Astaga! Dia masuk ke hutan! Bagaimana ini?” Semenit, dua menit, tetapi tanda-tanda kedatangan Felix belum juga ada. Di dalam sana, bisa saja kucing itu bertemu dengan hewan buas, atau … yang lain. Sekali lagi Joanne menoleh ke belakang, mungkin Belinda bisa menemani, tetapi itu bisa jadi begitu terlambat. Joanne menunduk, ada jalan setapak di balik semak itu. Berarti, kemungkinan besar di sana ada jalan. Tangannya membuka jalan, ketika hendak melangkah tangannya ditarik oleh seseorang. “Kalau aku jadi dirimu, lebih baik pergi mencari bantuan karena setelah masuk ke sana, kemungkinan kamu tidak akan bisa keluar lagi,” tutur seorang gadis yang mengenakan kaus putih tanpa lengan dan celana jin. “Kamu?” Joanne memicingkan mata. Seingatnya ia pernah melihat gadis itu. “Bukankah kamu yang waktu itu di hotel?” Gadis berkaus putih itu mengulurkan tangannya lalu tersenyum simpul. “Halo, aku Alice. Kucingmu masuk ke sana?” “Joanne, kamu boleh memanggilku Joan. Ya, Felix! Biasanya dia tidak menyusahkan!” gerutu Joanne. Alice terkekeh, sayangnya wajahnya tidak merona. Wajah pucat serta bibir tipisnya yang sedikit ungu menyadarkan Joanne kalau gadis yang ada di hadapannya bukanlah manusia. “Kamu tunggu di sini, aku akan mencari kucingmu,” jawabnya menyanggupi. Belum sempat Joanne menjawab, gadis yang ada di sampingnya tiba-tiba menghilang. ‘Astaga, dia bukan manusia,’ batin Joanne. Tanpa sadar, Joanne mundur selangkah, tetapi punggungnya menegak kala ia menabrak sesuatu. Ketika tangan dingin menyentuh pipinya, Joanne sontak membalikkan tubuh. Mata mereka bertemu, sorot tajam penuh intimidasi menguasai Joanne. Entah kekuatan apa yang membiusnya, tetapi keindahan itu enggan dilepaskan Joanne. Bahkan tangannya bergerak sendiri menyentuh pipi pemuda itu. . Begitu terbius hingga ia merapatkan tubuhnya dengan si Pemuda beriris biru, hingga dalam satu gerakan Joanne memekik ketika tangannya dipelintir dalam sekejap mata. “Beraninya kamu menyentuhku!” marahnya, “seharusnya kamu tidak berada di sini!” Jangankan untuk balas menyentak, rasa-rasanya pergelangan tangan Joanne hampir saja patah. “Lepas, sakit!!” erang Joanne. “Bukankah kematianmu memang sudah dekat? Jadi, sebaiknya kita mempercepat prosesnya?” Pupil mata Joanne melebar, pemuda itu jelas menyiratkan ucapannya bukanlah satu ancaman kosong.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN