Devil Prince

1001 Kata
'Sekarang kamu aman, Joan.' Rasanya sudah ribuan kali Joanne mendengar kalimat penuh omong kosong itu. Berkali-kali ia dan ibunya harus pindah dengan alasan keselamatan tanpa pernah Joanne tahu apa yang mengancam hidupnya. Dari dahulu kala, yang Joanne tahu hanyalah ayahnya mencoba menyembunyikan Joanne dari leluhur atau apalah itu namanya. Ketika Joanne membuka mata, senyum sempurna Alice menyambutnya. Binar mata gadis itu sungguh memikat hingga rasanya sulit untuk tidak mengagumi warna iris Alice, pipi yang merona serta bibir mungil indahnya. "Terima kasih," ucap Joanne walau ia sendiri tidak tahu kenapa harus berucap seperti itu. Alice menepuk pundak Joanne. "Santai saja," balasnya lalu menoleh ke ambang pintu dengan tatapan berubah nyalang. "Dia tidak menerimamu bukan berarti kamu harus menutup satu sekolah dengan perisaimu lalu menyerangnya, Ethan!" marah Alice. Dengan saksama Joanne memperhatikan Ethan yang berjalan menghampirinya. Pemuda berambut sekelam malam itu, berparas begitu menawan. Semakin diperhatikan, maka debaran jantung Joanne semakin tak menentu. Seakan setiap lekuk di wajah Ethan adalah hasil ukiran mahakarya para malaikat. "Apa yang kau bicarakan, Alice? Dia sendiri yang akan menyerahkan diri padaku serta memaksa untuk aku tandai! Hei, dengar gadis busuk. Aku akan mengawasimu. Kau tidak bisa bertindak sesuka hati," ancam Ethan. Joanne hendak menyembur pemuda yang baru saja disesali karena mengagumi parasnya, tetapi Alice dengan cepat meremas punggung tangan Joanne hingga membuat gadis itu kembali bungkam. Alice bangkit lalu meraih lengan Ethan, memaksanya untuk keluar kelas. "Ya, ya, ya. Hati-hati saja, salah-salah kamu sendiri yang akan memohon untuk ditandai oleh Joan. Dia cantik sekali bukan?" godanya. Ethan menoleh dengan keras. Otot rahangnya menggurat sempurna menahan amarah. "Kau tidak bisa marah padaku karena jatah darahmu ada di tanganku. Hmm, menyebalkan bukan?" kekeh Alice yang kembali menatap Joanne lalu mengedipkan satu mata ke arahnya. Tepat setelah kepergian mereka, satu per satu murid yang keluar kelas kembali masuk, Joanne malah merasa canggung ketika mereka mengajak dirinya untuk berbincang seolah memang Joanne adalah bagian dari kelas itu. "Maaf, sepertinya kamu duduk di kursiku." Seketika Joanne menoleh, aroma surga yang sulit dijabarkan menyergap setiap rongga hidung hingga rasanya ia ingin memeluk seorang pemuda yang telah berdiri di sampingnya. "Halo? Hei?" tanyanya lagi sembari melambaikan tangan di wajah konyol Joanne. "Baiklah, kamu tidak perlu pindah, biar aku saja yang duduk di sebelahmu," tambahnya lalu melepaskan tas serta duduk di sebelah Joanne. Hingga kesadaran Joanne pulih ketika para murid lain bergegas duduk setelah mendengar dengking bel berbunyi. Lagi-lagi Joanne tanpa sadar menoleh ke ambang pintu, kali ini ia tidak mau mengagumi si Menyebalkan yang masuk lalu duduk tepat dua kursi di belakang Joanne. Namun, entah mengapa sekali lagi ia menoleh ke belakang hingga seringai Ethan malah membuatnya kesal sendiri. "Kenapa? Apa kamu ada masalah dengan Ethan?" Sontak saja Joanne menutup hidung ketika pemuda yang duduk di sebelahnya mencondongkan tubuh hingga hampir saja pipi mereka bersentuhan. 'Astaga, aku tidak tahu parfum apa yang dikenakannya, tetapi, aku, aku serasa ingin memeluk dia. Astaga, aku pasti sudah gila!' batin Joanne. "Ah, Ethan, tidak, tentu saja tidak. Aku tidak mau berurusan dengannya," jawab Joanne sekadarnya. Pemuda itu melirik ke arah belakang lalu kembali menatap Joanne. "Baguslah, sebaiknya memang kamu tidak perlu berurusan dengannya," timpalnya. Joanne seperti orang t***l yang mengangguk-angguk tanpa tahu mengapa pemuda itu berkata demikian. Pandangannya kembali terarah pada depan kelas, seseorang berkemeja biru dengan kacamata besar serta rambutnya yang klimis memasuki kelas, memerintahkan murid untuk membuka buku. Sekali lagi yang bisa dilakukan Joanne hanya meraih buku tulis kosong serta pena. Ia menutupi sedikit wajah dengan rambutnya, berharap tidak ada yang memperhatikan kalau dirinya sedang gugup. "Kamu lupa membawa buku? Ini, kita berdua saja," Joanne memperhatikan pemuda itu menggeser bukunya dan yang menarik perhatian adalah nama yang tertera di sampul buku itu. Brian Davies. "Terima kasih Brian," ucap Joanne ragu. Brian melengkungkan senyum lalu mengangguk pelan. Joanne melepaskan napas lega. Ia tidak salah, nama pemuda tampan di sebelahnya adalah Brian. Selebihnya yang Joanne bisa lakukan adalah berpura-pura sebagai siswi lama yang telah bersekolah di sini. Mungkin, sebaiknya ia akan menemui Alice, memastikan kalau mantra itu bisa sedikit diubah. Ya, sepertinya akan lebih mudah bila semua orang tahu kalau Joanne adalah murid baru. Jadi, ia tidak perlu bersusah payah mengakrabkan diri. Beberapa kali Joanne melirik jam dinding hingga akhirnya denting bel kembali terdengar lalu guru yang disebut dengan nama Profesor Mc Larren itu keluar. "Kamu mau makan siang bersamaku?" tawar Brian. Joanne menoleh. Ya, tentu saja. Selera makannya pasti bertambah ketika selaku berada di dekat pemuda beraroma membius. "Oh, ya, tentu saja. Aku akan segera menemuimu di kantin. Aku harus ke toilet dahulu," jawab Joanne seolah ia telah hafal seluruh penjuru sekolah. "Ya, baiklah. Sampai ketemu di kantin," balas Brian. Joanne sempat memperhatikan guratan tipis warna perak yang menghiasi ke dua pergelangan tangan Brian sampai akhirnya pemuda itu benar-benar menghilang di ambang pintu. Setelah Joanne menyisir rambutnya dengan jemari lalu memasukkan buku ke laci meja, hampir saja ia jatuh terjengkang karena wajah Ethan tiba-tiba ada di sampingnya sampai ujung hidung mereka beradu. "Apa yang kau lakukan?" pekik Joanne yang tanpa sadar mendorong wajah Ethan tanpa sempat menyembunyikan wajahnya sendiri yang merona. Ethan tersenyum miring lalu kembali menatap Joanne. "Luar biasa sekali. Sampai detik ini. Aku tidak tahu kamu itu apa. Aku bisa merasakan energimu juga tahu kalau kamu menikmati Brian. Hanya saja ...." Ethan meraih tangan Joanne lalu mengecup punggung tangan gadis itu. "Setiap kali aku mendengar detak jantungmu serta menghirup aroma yang kamu keluarkan, aku bisa membayangkan betapa nikmatnya darahmu," lanjutnya. Di detik ini, Joanne, bisa-bisanya ia masih mengagumi setiap gerakan bibir Ethan hingga rasanya terus bertanya apa rasanya? Apa bibir itu senyaman selimut? "Kenapa? Apa kamu sudah berpikir untuk menerimaku? Berharap aku menjadikanmu sebagai milikku?" selidik Ethan yang kemudian menyusuri setiap garis bibir Joanne dengan ujung telunjuk. Joanne tidak mampu menahan setiap tawaran yang disodorkan Ethan. Pemuda itu, dengan wajah menawannya seakan menghipnotis untuk menawarkan apa saja yang dimiliki. Persis seperti b***k yang pasrah untuk dilucuti. "A-aku," Sekali lagi Ethan mendekatkan wajahnya ke arah Joanne. Dengan satu senyuman serta tatapan dingin yang mampu melelehkan bongkahan es, Ethan mengunci pandangan Joanne. "Berlututlah di hadapanku!" titah Ethan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN