Setelah puluhan kali usahanya untuk terlelap gagal, akhirnya Joanne memilih bangkit dan terduduk diam di tepian ranjang. Menatap iri Felix yang tidur melingkar di sofa lalu bangkit untuk mendekati jendela.
Tahu kalau ide membuka gorden di tengah malam adalah buruk, tetapi Joanne tidak dapat menahan dirinya sendiri.
Kegelisahan akan ucapan Alice yang terus menggaung di kepalanya nyaris membuatnya menelan pil penenang yang disembunyikan Belinda tepat di balik kloset.
"Melindungi Brian? Aku bertanggungjawab atas keselamatan Brian?" cicitnya.
Bagaimana mungkin Joanne bisa melindungi orang lain di saat ia sendiri kesulitan setengah mati untuk bertahan dari ancaman yang sebenarnya tidak ia ketahui secara gamblang.
Setelah desahan panjang menyesakkan. Joanne kembali memicingkan mata untuk menatap dahan pohon oak besar yang tumbuh tepat di depan jendela kamar.
Perlahan bayangan itu semakin nyata dan seringai yang dikenalnya memenuhi mata Joanne.
"Ya ampun, apa dia sudah gila?" maki Joanne.
Joanne membuka palka besi di daun jendela, mendorong kuat-kuat lalu balas menatap Ethan.
"Belum tidur?" tanya Ethan setengah berteriak.
"Belum tidur? Apa itu pertanyaan sinting itu harus aku jawab? Kemarilah! Kamu seperti hantu saja," oceh Joanne.
"Mundurlah, aku akan melompat," titah Ethan.
Joanne menurut, malah ia bergerak agak jauh dari jendela dan duduk menggeser Felix ketika Ethan sudah masuk ke kamarnya.
"Tutup jendelanya, angin malam bisa membuatku flu," tutur Joanne.
"Flu? Baiklah," jawab Ethan menyanggupi tanpa banyak protes.
"Mendapatkan tugas menjagaku lagi?" tebak Joanne.
Setelah menutup gorden jendela, Ethan berjalan menghampiri Joanne lalu duduk di atas pegangan sofa. "Yups, mirip semacam itu. Alice harus melakukan tugas penting dan aku menggantikan bagiannya. Terima kasih karenamu aku mendapat jatah darah lebih banyak," jawabnya.
Joanne bergidik, tanpa sadar mengusap lengannya sendiri ketika Ethan menyebutkan kata darah tanpa risi. "Apa kamu tidak tidur atau berisitirahat?" tanyanya penasaran.
Ethan tertawa kecil. "Kenapa? Mengkhawatirkan aku?" godanya.
Joanne mendecih, tak terima dengan sangkaan Ethan lalu menatap Felix yang terbangun dan setelah meregangkan otot-otot, kucing hitam itu menggosokkan kepala ke tangan Ethan.
"Kamu tahu, butuh waktu yang cukup lama untuk Felix mau menerima orang asing dan aku cukup terkejut karena dia tertarik padamu," ungkap Joanne yang mencondongkan tubuhnya lalu membelai pucuk kepala Felix.
"Dia betina dan semua betina dari berbagai spesies menyukaiku secara alami," jawabnya percaya diri.
Joanne dengan cepat mendongak dan wajahnya bersemu kala menyadari wajah Ethan berada tidak lebih dari tiga senti tepat di hadapannya.
Senyum Ethan terasa berbeda dari yang selama ini Joanne lihat. Bukan tarikan tipis miring atau semacam senyum menyebalkan. Kali ini ia jelas melihat senyuman yang persis diberikan Brian untuknya.
Joanne menarik diri dari tatapan memesona Ethan lalu berdeham beberapa kali, berharap pemuda itu tidak tahu debaran jantungnya yang menggila. "Well, tidak semua betina. Aku harus dicoret dari daftarmu," sergahnya.
Ethan mengangguk-angguk. "Kamu tidak masuk dalam spesies mana pun, Joanne. Itu masalahnya."
Joanne kembali menoleh. Ucapan Ethan menyentak kesadarannya. Sayangnya, Ethan benar.
"Menurutmu begitu?" tanya Joanne menyakinkan dirinya sendiri.
Ethan menurunkan Felix yang kemudian pindah ke ranjang lalu duduk di tempat yang ditinggalkan Felix. "Ya. Aku rasa begitu. Kamu bukan manusia, bukan vampir, hewan pun bukan. Begitu, 'kan?"
Joanne menggeser posisi duduknya, kali ini ia mengangkat kedua kaki, serta memeluk lututnya sendiri. "Ya, aku rasa begitu," timpalnya putus asa.
Ethan kembali tertawa puas karena kali ini gadis itu tidak membantah setiap kalimatnya. Dengan berani ia menyentuh kedua bahu Joanne, memaksanya untuk bergeser—duduk menatapnya. "Lihatlah aku, mungkin, aku bisa merasakan apa yang terjadi padamu di beberapa tahun berikutnya."
Bagaikan terhipnotis, Joanne menurut saja lalu duduk menatap Ethan. "Kamu bisa meramal?" tanyanya.
Ethan mengangguk tanpa ragu. "Setiap vampir memiliki kekuatan istimewa. Seperti Amanda dengan api penghancurannya, Alice dengan kekuatan penyembuhnya atau ibuku yang bisa memimpikan masa depan. Kamu tahu, ayahku adalah seorang vampir sejati, tentu aku adalah putra mahkota yang hebat," jawabnya.
Joanne terdiam beberapa detik. Ucapan Ethan memang masuk akal. "Kalau begitu, katakanlah, apa yang akan terjadi padaku?" selidiknya.
"Ulurkan tanganmu," pinta Ethan.
"Ethan, aku pernah bertemu dengan vampir yang bisa mengubah dirinya sendiri menyerupai orang lain. Kali ini, apa, apa ini sungguh kamu?" selidik Joanne.
Dahi Ethan berkerut. "Hmm, aku tidak pernah mendengar hal semacam itu, tapi apa kamu yakin kalau ini adalah aku?" ujarnya balik bertanya.
Joanne menelisik wajah Ethan. Entah karena sering menatap pemuda itu. Lama-kelamaan Joanne malah hafal sendiri dengan setiap lekuk serta guratan yang membentuk wajah Ethan, bahkan tahu seberapa panjang rambut yang hampir menyentuh alis pemuda itu.
"Aku tidak mau ambil pusing. Kalaupun ini bukan kamu, aku hanya perlu mendengarkan apa yang kamu ucapkan," balas Joanne.
Ethan tertawa geli lalu meraih tangan kanan Joanne. Mengusap telapak gadis itu sembari matanya tetap fokus mencari cara untuk bisa membaca pikiran dari Joanne.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Ethan.
"Tanganmu sedingin salju," jawab Joanne polos.
Sontak Ethan melepaskan tangan Joanne. Tidak tahan menertawakan jawaban konyol yang gadis itu lontarkan ketika ia berusaha keras menyergap Joanne dengan energinya.
"Ke-kenapa kamu tertawa? Apa itu salah? Tanganmu sungguh terasa dingin," protes Joanne.
Ethan kembali menatap Joanne, meraih tangannya lagi lalu menaruh tepat di pipi. "Apa pipiku juga terasa begitu dingin?" tanyanya tepat setelah hampir menempelkan ujung hidungnya dengan milik Joanne.
Seharusnya Joanne mundur atau memalingkan wajah, tetapi ia malah terkunci. Matanya enggan melepaskan iris Ethan yang perlahan berubah merah dan dengan pasti malah menyentuh pipi lain Ethan dengan tangan kirinya.
"Apa—apa dengan begini, kamu bisa melihat masa depanku?" tanya Joanne ragu.
Ethan tersenyum kemudian mengangguk pasti. "Aku melihat kamu tersenyum bahagia di ujung cerita dan semuanya berakhir tanpa satu hal yang menyedihkan," jawabnya.
Joanne tidak merasa lega akan jawaban Ethan karena tahu itu adalah satu kebohongan, tetapi ia malah tersenyum puas. "Benarkah begitu? Apa aku bisa menikah?" tanyanya lagi.
Ethan menarik diri dari tatapan Joanne, melepaskan tangan gadis itu dari pipinya lalu kembali tertawa. "Menikah? Dengan siapa? Brian? Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia, Joan. Itu menggelikan sekali," jawabnya.
Hampir saja pemuda itu menyapu bibir Joanne karena tanpa aba-aba, jaketnya ditarik paksa.
"Aku ingin hidup normal. Aku tahu kamu hanya membual, tapi aku akan percaya pada ucapanmu, bila akhirnya kamu berkata aku akan menjalani sisa hidupku dengan bahagia!" sergah Joanne.
Ethan tidak dapat menahan sensasi aneh ketika hembusan napas Joanne menerpa wajahnya. Hanya terpaut satu senti saja maka ia bisa mencoba energi Joanne dengan mengecup bibir penuh gadis itu.
"Berikan aku bibirmu maka aku akan menjawab semuanya."