Almost

1004 Kata
Setidaknya hukuman yang diberikan profesor Luther tidak buruk. Malah, Joanne senang tidak harus mendengarkan ceramah mengenai hukum fisika membosankan dan yang terbaik adalah bisa bersama dengan Brian. Pemuda itu tampak begitu serius membersihkan daun yang berguguran di sepanjang halaman sekolah. Sesekali ia menatap Joanne. Kelihatannya tidak tega kalau Joanne harus ikut membantu. "Kamu istirahat saja. Maaf, seharusnya kamu tidak ikut dihukum bersamaku," sesal Brian. Joanne meluruskan punggung lalu menatap Brian. Menghadiahi pemuda itu senyuman memikat miliknya. "Tidak apa, Brian. Aku tidak menyukai fisika. Jadi, membersihkan halaman sekolah bersamamu jelas jauh lebih menyenangkan," hiburnya. Brian balas tersenyum lalu menggaruk tengkuk, berharap wajahnya tidak merona. "Apa kamu haus? Tunggulah di sini aku akan membawakan minuman dingin untukmu," Joanne sedikit mundur ketika ia menyadari banyak bulir peluh yang meluncur dari dahinya. Semua bisa kacau bila Brian bertanya perihal kulit wajah Joanne yang berkilauan saat diterpa sinar matahari. "Sebaiknya aku saja yang membeli minuman dingin. Bukankah di dekat ruang kesehatan ada mesin minuman otomatis? Kamu tunggu sebentar di sini, ya?" ujar Joanne kemudian menyerahkan sapu ke Brian lalu berlari menuju sekolah. Sesekali kepala Joanne menoleh ke kiri dan kanan. Saat jam pelajaran dimulai, lorong sekolah tampak begitu sepi. Hanya ada beberapa penjaga sekolah yang sesekali berkeliling. Walau belum pernah berkeliling sekolah, Joanne tahu kalau ruang kesehatan berada di gedung terpisah sebelah kanan dekat kantor. Niatnya hanyalah ingin membeli dua kaleng minuman soda dingin lalu kembali ke halaman sekolah, tetapi dari jauh ia melihat seorang siswi mengendap-endap masuk ke ruang kesehatan. Entah mengapa Joanne juga malah ikut menoleh ke kiri dan kanan. Memastikan tidak ada orang lain di sekitarnya lalu mendekati ruang kesehatan. Setelah menempelkan daun telinga dengan saksama di balik pintu, Joanne tahu kalau gadis yang baru saja masuk berniat menemui Ethan. Mereka terdengar berbincang pelan, sesekali tertawa kemudian suasana menjadi hening. Hal itu malah membuat Joanne penasaran, hingga tanpa sadar gadis itu mendorong sedikit pintu lalu menyesali keputusannya. Dari balik tirai putih yang terbuka, jelas ia melihat Ethan duduk di pinggiran ranjang dan siswi itu ada di pangkuannya. Untung saja Joanne cepat-cepat membekap mulutnya erat-erat kala tontonan yang jelas ditangkap matanya semakin liar. Setiap sentuhan serta tatapan mata Ethan berakhir dengan satu kecupan panas di antara mereka hingga wajah Joanne pun terasa memanas. Joanne tidak ingin menatap pertunjukan menjijikkan itu, tetapi sialnya kaki Joanne membeku. Entah karena gugup atau akibat Ethan yang tiba-tiba saja menatap balik dirinya. Hingga di satu detik yang cepat seseorang menarik tubuh Joanne lalu menutup pintu ruang kesehatan serta membawanya sedikit berlari menjauh dari sana. "Itulah sebabnya aku tidak suka dia mendekatimu!" aku Brian yang juga menstabilkan deru napasnya. Joanne masih kesulitan memberikan reaksi yang paling tepat atas kalimat Brian, tetapi ia harus berterimakasih karena Brian bisa menyelamatkan matanya dari adegan kecup yang sepertinya terus berlanjut entah sampai ke arah mana. "Bukankah, dia, maksudku, Ethan berpacaran dengan Amanda?" tanya Joanne ragu. Brian melonggarkan dasi serta melepaskan tautan kancing pertama kemejanya. "Ya dan sepertinya semua siswi yang ada di sekolah ini pernah mendapatkan perlakuan tidak pantas dari Ethan. Aku sudah pernah membahas hal ini ke profesor Anne sebagai penasihat kesiswaan, tapi jelas dia berkata tidak dapat ikut campur dalam kisah romansa para siswa selama tidak ada laporan dari yang merasa dirugikan," jawab Brian. Joanne tidak tahu harus berkomentar apa. Ya, ia tahu kalau pesona Ethan jelas tidak bisa ditolak oleh para gadis, maksudnya adalah para manusia. "Joan, apa kamu baik-baik saja?" tanya Biran sedikit mengguncang-guncangkan bahu Joanne. "I-iya, aku, hanya, maksudku tidak pernah melihat hal yang seperti itu selain di film dan aku bahkan belum pernah ...." Joanne berhenti bicara ketika menyadari wajah Brian yang turut merona. "Melakukan itu?" tanya Brian hati-hati. Joanne bisa merasakan hawa panas yang memenuhi sekujur tubuhnya kala Brian meremas bahunya. "Aku, aku juga belum." Pengakuan Brian malah membuat tubuh Joanne membeku, tetapi rasa panas di wajahnya semakin menjadi kala Brian mengangkat lembut dagu Joanna. Keduanya saling berpandangan dan saling mengikis jarak. Hingga .... "Hei, bukankah seharusnya kalian sedang membersihkan daun kering di halaman sana?" Keduanya kompak menoleh. Menatap kikuk Alice yang berdiri sembari melipat tangan di d**a. "Ah, ya, ini ... kami baru saja akan ke sana," kilah Joanne. Alice hanya meng'oh'kan ucapan Joanne lalu mendekati mereka, tanpa disadari keduanya berusaha memisahkan Brian dan Joanne dengan berjalan di antara mereka. Alice menyingkap sedikit lengan seragamnya lalu memperlihatkan arlojinya pada Brian. "Waktu kalian hanya tersisa lima belas menit lagi sebelum pelajaran kedua dimulai." Brian selalu tidak pernah menyukai semua yang berhubungan dengan keluarga Vernon. Selain Ethan yang kelakuannya minus hingga sepupunya yang kini berusaha mendikte kegiatannya, jelas Brian begitu benci Alice. Brian meraih tangan Joanne yang masih belum sadar seratus persen. "Baiklah, terima kasih sudah mengingatkan. Ayo, Joan," ajaknya. "Ah, iya, sampai jumpa Alice." Alice jelas tidak suka melihat genggaman erat tangan Brian dan Joanne. Sayangnya ia harus menyaksikan itu sampai keduanya menghilang di ujung lorong. "Kenapa? Baru menyadari kalau jelas gadis itu adalah ancaman untukmu?" Alice menoleh. "Apa kamu harus menyerap semuanya dengan cara seperti itu?" keluhnya. Ethan menyeka bibirnya yang masih dipenuhi lip balm chery milik siswi tadi. "Kenapa? Amanda saja tidak pernah protes padaku," sergahnya. "Amanda? Oh, jadi sekarang kamu mulai mempertimbangkan untuk menganggap hubungan kalian mulai serius?" selidik Alice. "Aku belum berpikir sejauh itu. Lagi pula bukankah dia akan tetap berada di klan walau tiba-tiba pergelangan tanganku dilingkari tanda milik vampir lain?" tanya Ethan sembari mengacungkan ke dua tangannya. "Terserah kau saja, tapi ingat jangan ganggu Brian! Aku tidak mau bertengkar denganmu karena jelas aku akan membela dia!" tegas Alice. Ethan malah tertawa. "Kau, menyedihkan Alice. Di saat semua manusia bahkan vampir terkuat memujamu, tapi kamu selalu saja jatuh pada lelaki itu," sindirnya. "Kamu bocah tengik sok tahu!" "Ya, jelas. Aku tahu segalanya, Alice. Semua tentangmu atau apa harus aku menyebutmu dengan nama lain semisal—" Ethan kehilangan senyuman ketika Alice mendorong tubuhnya hingga ia terpental menabrak dinding lorong. Kali ini, pukulan yang diterima Ethan jelas berbeda dengan tinju tak berguna yang diberikan Brian. Darah hitam yang mengalir dari bibirnya, menyiratkan pukulan Alice bukanlah satu hal yang main-main. "Tutup mulut atau aku sungguh akan membunuhmu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN