“Mauryn, kau mau makan malam di rumahku? Aku harap kau mau datang. Kita sudah sangat lama tidak bertemu. Aku yakin, Mama dan Papa pasti senang melihatmu. Sekaligus mengucapkan terima kasih karena telah membawa Clara ke sini.” Ajak Adrian
Saat pria itu tersenyum, Mauryn bisa melihat ada binar antusias di kedua netra kecokelatan itu.
“Ah, aku… aku tidak tahu.” Sahut nya pelan. Mauryn tersenyum canggung saat menyadari jika dirinya menjadi pusat perhatian dari perempuan yang tadi menabrak tubuhnya.
“Aku memaksa. Kau tahu aku tidak suka di tolak, kan?” desak Adrian
Lagi dan lagi, Mauryn hanya menyunggingkan senyuman tipisnya. Dirinya di dera oleh perasaan gelisah. Berdekatan dengan Adrian tidak hanya membuatnya merasakan déjà vu. Tapi juga membuat dirinya tidak bisa menahan debaran jantungnya yang semakin menggila karena takut salah mengartikan tatapan yang diberikan pria itu padanya.
Mauryn terkesiap saat Adrian meraih ponsel yang ada di tangannya. Pria itu terlihat mengetikkan nomor telfon acak di ponselnya. Saat Adrian meraih ponsel dari saku nya, dirinya menyadari jika pria itu baru saja memasukan nomor telfon nya.
“Aku sudah menyimpan nomormu. Jika kau tidak datang, aku akan menghubungi mu terus menerus.” Ujar Adrian sambil tersenyum penuh arti
Mauryn menahan nafasnya saat Adrian melangkah mendekatinya dan menyerahkan ponsel miliknya.
“Akhirnya kau kembali, Mauryn.” Bisik Adrian
Perempuan itu menipiskan bibirnya, dia meraih ponselnya dan memundurkan tubuhnya. Menarik jarak sejauh jauh nya dari pria itu.
“Aku akan datang. Jadi, kau tidak perlu menghubungiku berkali kali.” Ucap Mauryn pada akhirnya
“Alamat ku masih yang lama. Aku yakin kau masih mengingatnya.” Sahut Adrian yang langsung diangguki oleh Mauryn
Dia menelan ludahnya gugup sebelum akhirnya berdeham dan berbalik pergi dari sana. Samar samar, dia mendengar Clara yang berseru mengucapkan terima kasih. Namun Mauryn tidak berniat untuk menoleh sama sekali.
Dia tidak mau atau bahkan tidak siap melihat gambaran keluarga sempurna yang ada di belakang nya. Terlebih, karena yang menjadi sosok ayah disana adalah pria yang selama ini dicintai olehnya.
Mauryn tidak mau kembali goyah.
Saat dia berbalik dengan pintu lift yang terbuka, pemandangan Adrian dan seorang perempuan dewasa tadi adalah hal terakhir yang dia lihat.
“Apa hanya aku yang sampai saat ini, masih terjebak dalam masa lalu, Adrian?” gumamnya lirih
Sesaat setelah pintu lift tertutup dan memisahkan Mauryn dengan dunia luar, perempuan itu bersandar pada dinding lift dan memejamkan matanya.
“Bodoh, Mauryn. Hanya dengan menyanggupi ajakan makan malam nya, kau sudah pasti akan kembali terlibat dengan Adrian.” Gumam nya pasrah
Mauryn menghembuskan nafasnya kuat kuat.
“Apa lebih baik aku tidak datang? Bilang saja ada acara mendadak yang harus aku datangi.”
“Tapi Adrian bukan anak kecil. Dia tidak mungkin terkecoh dengan alasan remeh seperti itu. Lagipula, dia tahu karakter ku. Jika aku sudah membuat janji dengan seseorang, maka acara se penting apapun itu, tidak akan aku hadiri jika waktu nya bertepatan.”
Mauryn mengusap wajahnya dengan tangan. Gelisah, cemas, sekaligus ketakutan.
Lima tahun berjauhan dengan Adrian tidak lantas membuat perasaan nya memudar. Sebalik nya, ketika dirinya menatap wajah pria itu, dirinya tahu jika Adrian masih menjadi pria yang dicintainya.
“Dan sekarang kau mencari mati, Mauryn. Kau mau datang dan melihat keromantisan mereka?! Lebih baik kau kembali ke Paris dan berpura pura amnesia. Tak masalah melajang seumur hidup jika Adrian memang sulit untuk dilupakan.” Rutuk Mauryn pada dirinya sendiri. Prempuan itu menatap pantulan wajah nya di kaca lift. Gurat gurat frustasi tergambar jelas disana.
“Ya. Tak masalah melajang seumur hidup. Asal jangan merusak rumah tangga orang lain.” Ucapnya setengah meracau
Pintu lift berdenting, Mauryn merapikan rambut nya dan menetralkan ekspresi wajahnya sebelum melangkah keluar dari benda besi itu.
“Kita pikirkan Adrian nanti. Aku harus fokus pada tujuan ku ke tempat ini.”
Saat Mauryn hendak mengedarkan tatapannya, getaran dari ponselnya membuat nya mengurungkan niatnya.
“Halo?” sapa Mauryn
“Nona Mauryn? Nabeela Mauryn? Saya dengar anda hendak membuka cabang butik?”
Dahi Mauryn berkerut pelan, “Iya. Benar. Aku sedang mencari tempat yang cocok. Bukannya, sebelum nya anda menyarankan agar aku melihat sebuah tempat di sebuah mall? Aku sedang disana untuk melihat lihat.”
“Ah, maafkan saya Nona. Saya kira, The Metro adalah tempat yang stategis. Tapi ternyata saya menemukan tempat lain yang lebih pas untuk sebuah butik. Kebetulan, tempatnya berdekatan dengan sebuah Wedding Organizer. Nona Mauryn bisa menjalin kerja sama dengan mereka untuk mengembangkan brand milik Nona.”
Mauryn memejamkan matanya, “Baiklah. Kirim alamat nya. Aku akan meninjau kesana.”
“Saya kirimkan lewat chat. Terima kasih, Nona. Maaf atas ketidaknyamanan nya. Tapi saya yakin, Nona akan langsung menyukai tempat ini. Nuansa nya mirip dengan butik yang anda miliki di Paris.”
Mauryn menjauhkan ponselnya, dia menggerakan jarinya dengan lincah diatas permukaan ponsel dan membuka chat dari agen properti yang tadi menghubunginya. Kedua mata nya sedikit melebar saat menyadari jika foto dari lokasi yang dikirimkan oleh agen itu benar benar bernuansa Paris.
“Ah, baiklah. Aku akan segera kesana. Tunggu aku. Sepertinya, tempat itu akan cocok denganku.” Putus Mauryn
Perempuan itu langsung menutup panggilan tanpa menunggu balasan dari sang Agen. Sebelum beranjak keluar dari The Metro, Mauryn mendongkakkan kepalanya. Dia menatap lantai empat, dan menemukan Adrian masih berada disana dan tengah menatapnya.
Mauryn dengan cepat memutuskan eye contact yang terjadi diantara mereka.
“Menemukan tempat nya gagal. Tapi aku malah dipertemukan dengan Adrian dan keluarga kecilnya. Takdir macam apa ini?” gumam nya
Kali ini, tanpa menoleh, Mauryn langsung berjalan menuju pintu keluar mall. Dia berjalan menuju basement dan memasuki mobilnya. Setelah memastikan lokasi yang dikirimkan oleh agen properti tadi, Mauryn langsung menginjak gas dan memutar roda kemudi nya untuk menjauh dari The Metro.
***
Mauryn mendesah frustasi saat melihat layar ponselnya kembali menyala dan menampilkan nama Adrian. Pria itu sudah menghubungi nya lebih dari enam kali dalam lima belas menit. Hal itu semakin membuatnya merasa tertekan. Belum lagi dengan semburat oranye di langit yang masuk melalui jendela penthouse rumah nya, yang membuat Mauryn tersadar jika dirinya sudah menghabiskan waktu seharian untuk berkeliling.
“Kenapa waktu dengan cepat beranjak ke sore hari?” tanya nya kesal
“Nona, pergi saja. Butik ini bisa Nona percayakan pada ku.” Ujar seorang perempuan yang menjadi tangan kanan Mauryn sejak di Paris
“Aku bukan mengkhawatirkan soal butik, Grace. Aku justru tidak mau pulang, tadinya. Aku tidak mau hari dengan cepat berubah menjadi sore. Aku tidak mau malam tiba.” Tukas Mauryn
Mendengar itu, Grace, langsung menatap sang Nona dengan ngeri.
“Memang apa yang sedang terjadi? Kita baru saja tiba di negara ini. Tidak mungkin kita langsung menemui masalah, kan? Tujuan kita datang ke negara ini saja belum terwujud sepenuhnya. Masalah macam apa yang bisa datang seawal ini?” tanya Grace
“Ada… ada masalah.” Gumam Mauryn. Dia melirik Grace yang tengah mencoret kertas untuk membuat desain arsitektur bagian dalam butik itu, “Kau ingat Adrian Naufal?” tanya nya
Grace terdiam sejenak, “Pria yang foto nya ada di meja Nona?” tebaknya yang langsung disahuti oleh anggukan lemas oleh Mauryn
“Aku bertemu dengannya siang tadi. Dia mengajakku makan malam.” Ungkap Mauryn
“Terdengar bagus. Nona menjalani hubungan jarak jauh dengannya dalam waktu yang lama, kan?”
Sahutan dari Grace membuat Mauryn tertawa frustasi. Perempuan itu semakin menenggelamkan dirinya diatas ranjang.
“Tidak terdengar bagus karena aku yakin, Adrian sudah memiliki keluarga kecil nya sendiri…” ucap Mauryn dengan suara nya yang teredam
Grace terdiam. Dia menatap teman kuliah sekaligus atasannya di tempat kerja itu dengan tatapan bingung.
“Mungkin saja itu kakak nya?” terka nya
“Tidak. Adrian anak pertama.” Sangkal Mauryn
Grace berdecak kecil, “Wah, sulit. Tapi menurutku, lebih baik Nona datang. Nona harus memberikan ekspresi terbaik Nona. Seolah mengatakan padanya jika Nona sudah baik baik saja selama ini. Tak masalah jika ditinggal menikah oleh pria itu.” Saran nya
“Saran mu tidak membantu, terima kasih.” Balas Mauryn. Perempuan itu kembali menutup mata nya. Ego nya terbagi menjadi dua. Namun dia tahu, keduanya tidak akan berakhir baik.
“Nona, tolong angkat dulu telfon nya. Aku tidak bisa fokus karena benda itu terus bergetar.” Pinta Grace
Mauryn langsung bangkit dari posisinya dan meraih ponselnya sendiri. Dia menghela nafasnya dan menekan icon berwarna hijau yang ada di layar.
“Mauryn, kau pasti akan datang, kan?”
Suara Adrian. Pria itu langsung bertanya tanpa berbasa basi, sama seperti dahulu.
“Uhm, aku tidak tahu.” Jawab Mauryn ragu
“Kau harus, Mauryn. Berikan alamat mu. Aku akan menjemputmu kesana.” Desak Adrian
“Tidak, tidak perlu. Aku akan datang sendiri. Tidak perlu menjemputku.” Tolak Mauryn. Dia menipiskan bibirnya saat menyadari jika reaksi penolakannya terdengar sangat berlebihan.
“Kau yakin? Kau tidak sedang mencoba melarikan diri, kan?” tanya Adrian
“Tidak. Aku berjanji. Aku tidak melarikan diri.” Sahut Mauryn langsung
“Baiklah. Aku berkata seperti itu karena tadi… kau melihatku seperti melihat hantu. Dan terlihat sangat ingin menjauh dariku. Kau tahu? Aku cukup terluka dengan reaksi mu…”
Mendengar itu, Mauryn memejamkan matanya.
‘Aku jauh lebih terluka karena membayangkan kau sudah menikah, Adrian. Terlebih… tanpa memberitahuku.’ Batin Mauryn. Perempuan itu mengatupkan bibirnya rapat rapat, mencegah agar mulutnya tidak menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya tadi.
“Mauryn? Kau masih disana?” tanya Adrian seolah memastikan
“Ya. Aku masih disini.” Jawab Mauryn pelan
Terdengar helaan nafas dari seberang telfon, “Baiklah. Kau harus datang sesuai janjimu, oke?”
“Jangan datang menyetir sendirian. Datang lah dengan supir. Aku khawatir jika kau menyetir sendirian. Aku tahu, kau pasti kelelahan hari ini.”
“Jika kau tahu aku kelelahan, apa kau bersedia membiarkanku tidak datang?” tanya Mauryn
“Tentu saja tidak. Kau harus datang. Karena kau tidak mengizinkanku mengetahui alamatmu. Jadi makan malam ini mungkin akan menjadi satu satunya cara ku agar bisa melihatmu lagi.” Tukas Adrian. Pria itu tersenyum sesaat setelah mendengar pertanyaan yang di layangkan oleh Mauryn padanya. Terlihat sangat kentara jika perempuan itu tengah berusaha menghindarinya.
“Tepati janjimu, ya? Karena jika tidak, aku akan memakai caraku sendiri untuk mencari tempat tinggalmu dan memaksamu untuk datang.”
Mauryn menghela nafasnya dalam diam, “Iya. Baiklah. Aku akan datang. Aku benar benar akan datang. Jadi jangan tiba tiba muncul di depanku seperti hantu.”
“Senang mendengarnya. Selamat sore, Mauryn. Terima kasih.”
Mauryn menatap layar ponselnya yang sudah menampilkan panggilan yang terputus dengan tatapan hampa.
“Itu Adrian? Dia tidak terdengar seperti pria yang sudah berkeluarga. Apalagi dia terang terangan mengatakan jika dia khawatir. Nona, aku yakin dia masih mencintai mu.” Komentar Grace. Dia mendengarkan dengan seksama percakapan yang baru saja terjadi.
“Kecuali…” ucap Grace menggantung. Hal itu membuat Mauryn menoleh ke arahnya dengan kedua alis terangkat tinggi.
“Kecuali apa?”
“Kecuali dia pria jahat yang akan meninggalkan keluarga kecilnya demi Nona.” Sambung Grace yang membuat Mauryn menatapnya dengan ngeri.
“Tapi ini membuatku bingung juga. Entahlah. Datang saja, Nona. Jika dia macam macam, pukul saja kepalanya.”
Mauryn menghembuskan nafasnya, “Kau tidak membantu atau membuatku tenang. Tapi setidaknya kau ada disini menemaniku, terima kasih Grace. Seandainya nanti ada kabar jika aku menjadi perusak rumah tangga orang, aku harap kau tidak meninggalkanku.”
“Sound stupid, Miss. Aku tidak mungkin meninggalkan Nona. Aku akan mengatakan jika pria itu lah yang terlebih dahulu menggoda Nona. Jika memang dia adalah pria yang sudah menikah, sudah tentu saat ini dia sedang mencoba untuk menghancurkan hubungannya sendiri. Bukan Nona yang salah. Nona hanya terjebak di situasi tersebut.” Sahut Grace