Walau kedua mata nya memburam, samar-samar Mauryn bisa melihat Adrian mengerutkan dahinya. Pria itu terlihat bingung dan juga merasa bersalah disaat yang sama.
"Siapa?" tanya nya
"Siapa perempuan yang jauh lebih sempurna dibandingkan Mama dan dirimu?"
Mauryn menarik nafas panjang. Satu tangannya terangkat dan mengusap air mata nya. Dalam hati memarahi diri sendiri karena memperlihatkan sisi rapuh nya di hadapan Adrian.
"Sudahlah. Aku mungkin salah soal Clara... tapi aku tahu dugaan ku tentang perempuan yang bersama mu siang tadi, adalah orang yang istimewa bagimu tidak mungkin salah, Adrian." lirih Mauryn
Ada satu hal yang membuat Mauryn yakin terhadap intuisi nya.
Sejak dulu, Adrian tidak pernah mau diajak untuk bepergian ke tempat yang ramai seperti pusat perbelanjaan. Dan saat pria itu mau melalukan nya, tanda nya orang yang mengajaknya pergi adalah orang yang istimewa.
Mauryn menundukan kepalanya. d**a nya terasa panas dan sesak. Rasa perih di hatinya bertambah saat Adrian hanya menatapnya tanpa terlihat berniat untuk mengatakan apapun. Adrian tidak berniat menyangkal ataupun membenarkan dugaan nya.
Helaan nafas terdengar dari mulut Mauryn. Perempuan itu mencoba kembali mengangkat kepalanya untuk menatap Adrian dan tersenyum tipis.
"Selamat. Atas hubungan mu dan perempuan tadi. Aku... turut senang." ujar Mauryn
Namun sebagaimana pun dia mencoba untuk tegar, suaranya terdengar bergetar di ujung kalimat. Belum lagi dengan tekanan untuk menahan air mata di pelupuk mata nya.
Perempuan itu mengerjapkan matanya, mencoba untuk tidak kembali menangis dan membuat dirinya terlihat menyedihkan di hadapan Adrian.
"Sudah malam. Kau harus tidur. Aku juga. Terima kasih sudah meminjamkan baju mu. Aku akan mengembalikannya nanti setelah aku cuci." gumam Mauryn pada akhirnya. Perempuan itu berbalik, berniat menjauh dari Adrian yang terlihat masih terdiam dengan ekspresi yang sulit di artikan.
Namun langkah Mauryn terhenti saat merasakan sepasang lengan kokoh memeluknya dari belakang.
Tubuhnya tersentak kecil, terkejut dengan skinship yang terjadi secara tiba tiba.
"Maaf."
Suara bernada lirih itu membuat Mauryn memejamkan matanya. Nafas berat Adrian menerpa tengkuk lehernya. Membuat Mauryn merasakan sensasi yang menggelitik memenuhi perutnya.
Berbanding terbalik dengan keadaan hatinya.
Rasa sakit, dan sebersit rasa kecewa yang bersarang di hati Mauryn, membuat perempuan itu ingin berteriak pada Adrian.
Dia sangat ingin berteriak dan mengatakan jika bukan permintaan maaf yang dia dengar. Dia berharap Adrian menyangkalnya dan bukan mengatakan 'maaf'.
Kedua bahu Mauryn melemas. Bibirnya terkatup rapat bersamaan dengan kedua matanya yang terlihat kosong.
"Aku mau tidur." tukas Mauryn pada akhirnya. Dia tidak sanggup jika harus mendengar kalimat lain yang keluar dari mulut Adrian.
Untuk saat ini, dia ingin egois. Pembicaraan tentang Adrian dan perempuan yang dilihatnya siang tadi, harus segera dihentikan. Sebelum dirinya merasakan rasa sakit yang jauh lebih hebat dari saat ini.
Mauryn berbalik dan melepaskan pelukan Adrian.
"Pergilah ke kamar mu, Adrian. Ini sudah terlalu malam." usir Mauryn secara halus. Dia menatap lekat kedua mata Adrian, memberikan isyarat jika dirinya memerlukan waktu untuk sendiri.
Dan Mauryn berharap, Adrian mengerti hal itu.
Mauryn menatap Adrian yang berjalan melewatinya tanpa sepatahkata pun.
Awalnya, dia mengira jika Adrian mengerti dan mau meninggalkan nya sendirian. Tapi sesaat kemudian, terdengar sesuatu yang yang di kunci.
Saat Mauryn berbalik, dia menemukan Adrian masih berada di pintu kamarnya. Tangan pria itu baru saja memutar kunci kamar dan mengunci mereka berdua di dalam nya.
Belum sempat Mauryn mencerna apa yang sudah terjadi, Adrian sudah terlebih dahulu berjalan cepat ke arah balkon kamar dan melemparkan kunci kamar satu satu nya itu ke dalam kolam renang yang terdapat di taman belakang.
"A-apa yang kau lakukan?!" seru Mauryn. Dia berlari ke arah yang sama dan menunduk menatap kolam renang.
Terlihat permukaan air yang tenang itu menimbulkan suara samar saat kunci tersebut jatuh sebelum akhirnya kembali hening.
Mauryn sontak berbalik pada Adrian.
"Kita harus bicara, Mauryn. Kau kira aku mau meninggalkan mu dengan keadaan pikiranmu yang kacau itu?" ucap Adrian. Dia meraih kedua bahu Mauryn, "Aku mengenalmu, Mauryn. Aku sangat mengenalmu. Dan aku tahu, apa yang saat ini ada di pikiranmu."
"Aku mau tidur, Adrian." tukas Mauryn
"Apa sekarang kau sedang berusaha berkelit? Seperti saat dulu aku menyatakan perasaan ku padamu? Kau selalu menggunakan alasan jika kau mengantuk. Tapi aku tahu, kau tidak tidur. Kau tidak akan bisa tidur dengan semua isi pikiranmu yang kacau, Mauryn." sangkal Adrian tegas
Debaran di d**a Mauryn terasa semakin kencang saat melihat Adrian melangkah ke arahnya, mempersempit jarak yang sejak tadi diciptakan oleh nya. Dan saat pria itu berdiri tepat selangkah di depannya, Mauryn kembali di dera perasaan gelisah.
"Tolong, biarkan aku menjelaskan apa yang terjadi tiga tahun setelah kepergian mu ke Paris." pinta Adrian
Tanpa sadar, Mauryn menganggukkan kepalanya. Tatapan lembut dan suara bernada lirih yang mengisyaratkan keputusasaan itu, sejak dulu selalu membuatnya luluh.
Mauryn hanya terdiam saat kedua tangannya di raih oleh Adrian. Dia menurut saat dirinya dibawa untuk duduk di sisi tempat tidur.
"Namanya Sofie Eloise. Aku memang memiliki hubungan dengannya."
Kedua bahu Mauryn melemas, raut kecewa tergambar jelas di wajahnya. Perempuan itu tidak bisa lagi menyembunyikan semua yang dia rasakan pada Adrian.
"Tapi," lanjut Adrian menggantungkan ucapannya. Pria itu mengusap pelan jejak air mata di pipi Mauryn, "aku tidak mencintainya."
"Apa... kedua orang tua mu menjodohkan mu?" sahut Mauryn pelan
"Tidak."
Mauryn terdiam. Benang kusut yang ada di kepalanya sama sekali tidak berkurang. Bahkan rasanya malah bertambah runyam.
Kenapa Adrian memiliki hubungan dengan perempuan bernama Sofie jika tidak mencintai atau pun di jodohkan?
Seolah mengerti dengan apa yang tengah dipikirkan oleh Mauryn, Adrian tersenyum tipis.
"Ada banyak hal yang terjadi selama kau jauh dariku. Kau tahu jika aku menjalani kuliah dan bekerja disaat yang sama, kan?" ucap Adrian pelan
"Saat itu, aku terlibat kecelakaan yang cukup besar. Ayah Sofie, seorang karyawan perusahaan Ayahku, beliau mengorbankan nyawa nya. Karena itulah saat ini aku masih hidup." lanjutnya
Kedua mata Mauryn melebar, dia sontak menyentuh wajah Adrian dan menatap pria itu dengan raut panik yang tidak bisa disembunyikan nya, "Kecelakaan? Apa yang terjadi? Kenapa tidak ada yang memberitahuku apapun soal ini?"
Adrian tertawa pelan, dia meraih tangan Mauryn yang membingkai wajahnya, "Aku baik baik saja, Mauryn. Ini lah alasanku melarang semua orang memberitahu mu. Aku takut kau panik dan meninggalkan study mu di Paris."
Kedua pandangan Mauryn menyendu, kedua matanya berkaca kaca. Walau bibir nya tertutup rapat, tapi Adrian tahu jika saat ini Mauryn merasa kecewa terhadap keputusannya.
"Pasti hanya aku yang tidak ada di sisi mu saat itu..." gumam Mauryn
"Kau mau aku jujur?" tanya Adrian sambil tersenyum tipis. Saat melihat Mauryn mengangguk kecil, pria itu melanjutkan "Benar. Saat itu, hanya kau yang tidak ada di samping ku. Tapi lebih baik begitu. Aku tidak mau mengganggu mu. Lagi pula, aku juga tidak mau kau melihatku dalam keadaan kacau seperti itu."
"Jika kau pulang, aku akan merasa bersalah. Karena selain mengganggu study mu, aku juga akan membuatmu cemas. Aku mengenalmu Mauryn, setelah melihat keadaan ku, kau pasti akan selalu cemas. Kau tidak akan meninggalkanku hingga aku benar benar sembuh total." ujar Adrian. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Mauryn. Pria itu menghela nafasnya dan menatap perempuan yang ada di hadapannya itu dengan sorot mata penuh kerinduan.
"Aku benar, kan?" tanya nya
Mauryn mengangguk kecil membenarkan dugaan yang dipaparkan oleh Adrian padanya.
Adrian benar benar sama sekali tidak berubah. Pria itu masih mengenalnya. Hal itu membuat hatinya kembali menghangat, bersamaan dengan debaran tidak wajar dan sensasi menggelitik yang memenuhi perutnya.
Sayangnya, hal yang dia rasakan, membuat Mauryn kembali bertanya tanya.
Jika Adrian masih mengenali nya, apakah pria itu... masih mencintainya?
"Mauryn, kau tidak tahu betapa aku sangat merindukanmu. Aku selalu menahan diri untuk menghubungimu. Karena aku tidak ingin lepas kendali dan menghampiri mu ke Paris. Karena aku tahu, aku pasti tidak ingin pulang jika sudah bertemu denganmu. Sedangkan disini, aku memiliki tanggung jawab di perusahaan keluargaku." ungkap Adrian
Mauryn mengerjapkan matanya saat Adrian meraih kedua tangannya dan mengecup nya pelan. Dia terhenyak saat melihat sorot mata dalam yang terpancar dari kedua netra Adrian.
Perempuan itu sontak memejamkan mata nya saat Adrian tiba tiba memeluknya dengan erat. Dengan ragu, kedua tangannya terangkat dan membalas pelukan pria itu.
"Aku senang kau sudah kembali." bisik Adrian. Pria itu menghirup dalam dalam aroma lembut yang menguar dari rambut Mauryn, "Berjanjilah padaku kau tidak akan pergi kemana pun lagi, Mauryn. Karena aku tidak akan sanggup jika harus berjauhan lagi denganmu." sambung nya
Mauryn mengangguk pelan, "Aku tidak akan pergi kemanapun."
"Syukurlah, syukurlah..." racau Adrian
'Hangat.' batin Mauryn
Dia mengusalkan pelan wajahnya di bahu Adrian, tubuhnya melemas saat merasakan Adrian memeluknya semakin erat.
Disela kegiatan mereka, keduanya tersenyum. Meluapkan rindu yang selama ini tersimpan karena terhalang jarak yang sangat jauh.
Ketika Mauryn membuka kedua mata nya, samar samar dia bisa melihat bayangan sepasang remaja yang tengah berpelukan.
Ahh, kenangannya.
Itu kenangan terakhirnya dengan Adrian sesaat sebelum dirinya pergi untuk melanjutkan study nya di Paris.
Namun sekarang, dia sudah kembali berada di dekat pria itu.
Pria yang awalnya ia kira sudah sejauh matahari dan bulan, ternyata masih sama seperti dulu.
Pelukannya, kehangatannya, suaranya yang berbisik menenangkan dan juga aroma khas yang tercium dari pakaian pria itu.
'Masih sama seperti dulu. Semua yang ada pada Adrian terasa sangat menenangkan. Aku menyukainya.'
"Mauryn," panggil Adrian
"Berjanjilah jangan menghindar dariku. Karena jika kau melakukan itu, rasanya aku bisa gila." lirih pria itu
Mauryn menipiskan bibir nya, dia melepaskan pelukan Adrian dan tersenyum tipis pada pria itu.
"Aku tidak yakin, Adrian." sahutnya pelan
Mendengar nada tidak yakin itu, Adrian sontak menatap Mauryn dengan dahi berkerut, "Kenapa?"
"Karena setelah mendengar semua nya darimu, aku merasa jika kau... berhutang nyawa pada Ayah Sofie. Kau terlibat dalam suatu ikatan yang jauh lebih serius." jelas Mauryn
"Dan aku... tidak mau menjadi penghalang dalam hubunganmu dengan Sofie." lirihnya
"Jangan katakan itu!" seru Adrian. Pria itu mengerang pelan, dia mengusap wajahnya pelan, "Demi tuhan, Mauryn. Aku benci mendengarnya. Kau bukan penghalang."
Adrian meraih kedua bahu sempit Mauryn, dia memberikan tatapan menuntutnya pada perempuan itu, "Katakan padaku, apa kau mencintaiku, Mauryn?" tanya nya
Alih-alih menjawab, Mauryn hanya tersenyum tipis. Perempuan itu mengusap pelan pipi Adrian.
"Tidurlah, Adrian. Sudah malam. Aku yakin besok kau harus bekerja." tukas Mauryn, enggan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Adrian
"Mauryn, jawab aku!" tuntut Adrian
Mauryn menghela nafasnya, "Tidak ada yang bisa aku jawab, Adrian."
Perempuan itu berdiri, diikuti oleh Adrian. Mauryn mendorong pelan tubuh Adrian, memaksa pria itu untuk keluar dari kamar tersebut.
"Tidur, Adrian." ucapnya
Adrian menegakkan tubuhnya. Pria itu sama sekali tidak bergeming walau Mauryn terlihat berusaha keras mendorong nya keluar dari kamar.
"Tapi aku masih," ujar Adrian tiba tiba. Pria itu berbalik dan meraih tubuh Mauryn, melingkarkan lengannya di pinggang ramping perempuan itu. Kedua netra nya menatap Mauryn dengan tatapan tegas, namun dalam.
"Aku masih mencintaimu. Sejak dulu, sekarang, dan bahkan di masa depan." ungkap Adrian. Pria itu meraih satu tangan Mauryn, membawa nya dan menyentuhkan tangan lentik itu diatas d**a nya, tepat dimana jantung nya berdetak kencang.
"Jantungku selalu berdetak seperti ini setiap aku memikirkan mu. Aku selalu gugup, senang, dan gelisah disaat yang sama jika itu tentang mu. Aku sangat mencintaimu, Mauryn. Apa... kau tidak merasakan hal yang sama padaku?"