Terserah, gumam Amira membatin. Ia sudah memperingatkan cewek yang terikat tepat di depannya ini. Menghirup napas dalam-dalam, Amira kemudian memulai aksinya. “Ammar bangggggsaaaaaaaaaaaaaaaaaat!” “Aaargghhh…” “Penjahat kelamin bodoh!” “Hiyaaa…., Bapaaaaaaaaaaaaaaaak.” “Ga ada Beruk seegois kamu tauuuu..” Amira sibuk dengan segala keluhan dan umpatannya untuk Ammar tanpa tau perubahan yang terjadi pada seseorang di seberang sana. Awal Amira mengumpat, ia masih bisa mendengar teriakan gadis itu. Suara mereka bertabrakan sehingga Amira yakin orang asing ini tidak akan mendengar dengan jelas apa yang ia teriakkan. Beberapa saat setelah ia tidak lagi mendengar teriakan ketakutan di seberang sana, Amira mencoba untuk melirik ke depan. Pipi bagian dalam perempuan itu tampak sudah penuh dan

