9.4

2265 Kata

“Gimana?” tanya Ucup pada putri bungsunya. Sudah waktunya makan malam tapi Amira yang dari sore tadi sudah pulang tidak pernah keluar kamar sampai sekarang. Gadis kesayangannya itu mengunci diri di dalam sana padahal kalau ada masalah, biasanya dia akan mencari Ucup atau Kakek kesayangannya. “Kakak bilang, Kakak lagi mikir jadi jangan dipanggil-panggil lagi.” “Kita makan dulu aja, nanti Bunda yang ngomong sama Kakak,” ucap Vani pada semua orang. Sedang di dalam kamar sana Amira tidur menelungkup, membenturkan kepalanya pada ranjang. Tidak sakit memang, karena tujuannya bukan untuk mencederai diri sendiri melainkan mencoba untuk mengacak-acak isi kepalanya sendiri agar bisa mengambil keputusan dengan benar. Semenit Amira bertekad untuk menolak mentah-mentah tawaran Ammar untuk menikah na

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN