Umar berdiri dengan gagah beberapa meter dari pintu utama rumah mertuanya. Mertua, cibir Umar dalam hati. Supaya segala urusannya lancar di dalam rumah ini, Umar sengaja melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu. Kaki kanan sudah membuka jalan kemenangannya yang tidak bisa terelakkan namun tubuhnya tetap tidak bisa bergerak. Melirik ke belakang, ia menemukan Amira yang menahan lengannya dengan kedua belah tangannya. “Mar.. kita ke base camp aja, hm? Base camp kita free, lo bisa tinggal di sana sama Divya dan semua orang ga perlu tau kalau gue yang jemput lo di bandara.” Umar mendengus, “Base camp kita sedang mencari pemilik barunya. Gue udah minta tolong Rehan nyari yang bersedia beli.” “Aldiii..” rengek Amira. Nyalinya ciut melihat mobil Ayah sudah terparkir dengan seksi di depan rumah y

