Jingga mulai menyapa dan membias melalui dinding kaca, saat Arka tengah sibuk dengan pekerjaannya. Meski jemarinya sibuk dengan keyboard laptop, tapi angan pria itu melayang kepada sang istri yang tak jua kembali. Dia paham betul, Myria pergi karena menghindari perdebatan. Wanita terkasihnya itu bahkan mengabaikan panggilan juga pesan yang ia kirim seharian. Meski begitu, Arka tahu jika Myria baik-baik saja.
Baru saja pria itu hendak melakukan panggilan, saat mendengar ada yang menekan kode kunci dari luar. Sebenarnya dia ingin menyambut, tetapi urung. Percuma saja merayu Myria pada saat seperti ini, sebab wanitanya tidak akan merespon apa pun. Jadi, baik baginya untuk tetap menjaga jarak beberapa waktu.
Apa pun yang dilakukan Myria untuk menunda kehamilan, tentu membuat Arka kecewa. Bukan saja karena ia sangat mendamba seorang anak, tapi kondisi Azmya memburuk belakangan ini. Bahkan, dokter sudah memberi ultimatum untuk operasi pengangkatan rahim.
Dihadapkan dengan keadaan seperti ini, tak urung membuat lelaki jangkung itu dilanda gamang. Satu sisi ia ingin melakukan yang terbaik utuk istri pertama, tapi di sisi lain tidak ingin menyakiti wanita keduanya.
Meresapi seluruh hal yang memberatkan hati, Arka mengembuskan napas berat. Dari sudut mata, ia melihat Myria masuk sambil meletakkan beberapa kantong belanjaan ke sebuah meja kecil di depan kamar.
"Kau sudah pulang?" Hanya itu yang Arka ucapkan untuk menyambut wanitanya, meski dalam hati ia ingin bangkit dan mendekap seperti biasa.
Tak menjawab, Myria hanya tersenyum sekilas. Wanita itu menuju kamar, dan segera mandi untuk mengusir penat. Kenyataan bahwa Arka tidak menyambutnya dengan hangat membuat hatinya nelangsa.
Apa kau semarah itu, Mas?
Gemericik air dari kamar mandi membuat Arka menunggu dengan sabar. Pria itu menatap keluar, pada kelabu mulai turun menyelimuti semesta. Mengambil alih kuasa sang jingga, sisa pergulatan senja melukis langit.
Tak lama Myria muncul dengan tubuh berbalut jubah mandi. Saat dari sudut mata Arka melihat tangan Myria menyentuh laci, serta merta ia menahan agar itu tak terjadi.
Membayangkan Myria akan menenggak tablet kontrasepsi, membuat Arka bergerak cepat. Membungkam bibir wanitanya dengan lembut dan hangat, tak peduli saat wanitanya meronta.
"Give me a princess, Sweetheart. The sweetest one, like you," bisik Arka mengiba.
Mendengar itu, untuk pertama kali setelah dua tahun bersama, Myria merasa hatinya tercabik dengan perlakuan lembut tapi menuntut dari suaminya. Betapa tidak, sejujurnya ia pun ingin ada putri kecil yang menjadi pengikat agar cinta keduanya semakin kuat. Namun, tetap saja dia belum siap, dengan bayang-bayang kehilangan. Entah sampai kapan.
Seharusnya, Myria bahagia manakala ia berhasil memenangkan hati Arka sepenuhnya. Namun, seiring waktu ia malah bersedih dan terluka atas hubungan itu. Meski berulang kali menolak, tapi tetap saja posisinya sebagai yang kedua dalam kehidupan Arka membuatnya gamang.
Bagaimana jika Arka pergi setelah hadirnya anak?
Tanya itu terus menari dalam benaknya.
Menjadi wanita kedua bukanlah kesalahan Myria sepenuhnya, tapi itulah yang menyeret mereka dalam pusaran cinta segi tiga. Namun, wanita itu tak menyangka jika kesamaan hak yang ia miliki yang pada akhirnya membuatnya harus lebih menahan diri, dan merasakan sakit. Kenyataan bahwa ia hanya yang kedua, membuat Myria merasa bagai terhunjam sembilu berkaki-kali, pada luka yang sama. Menyisakan perih tak terkira.
"Aku mencintaimu, Myria ... aku mencintaimu."
Bisikan Arka tepat di telinga yang biasanya disambut dengan buncah bahagia, untuk pertama kali, membuat Myria hanya memejam. Merasakan sebongkah hati yang teremas, berdarah. Sakit yang membawa sebulir bening menetes, tanpa bisa dicegah.
***
Mengingat semua kenangan tentang Arka adalah hal yang sangat Myria sukai, saat pria itu tak di sisinya seperti saat ini. Ia merenung, coba mengumpulkan kepingan manis kenangan yang pernah dilalui bersama sang pujaan.
Dua bulan lebih berlalu sejak terakhir kali bertemu, membuat kerinduan menggunung di hati wanita itu. Selain masih mengurus banyak proyek di beberapa daerah, Arka juga lebih banyak menghabiskan waktu bersama istri pertamanya di Mamuju.
Bima yang hendak menuju ruangan berhenti sejenak saat mendapati asistennya melamun. Ia memerhatikan wanita cantik yang kini menopang dagu dengan satu tangan, sedangkan satu tangan lainnya memainkan pena.
"Kau melamun?" Jentikan jemari Bima di depan wajahnya membuat Myria tergagap.
"Ah, Pak Bima. Ngg-- maaf. Saya hanya--"
"Kau melamun."
"Iya. Pak." Myria tersipu.
"Mana laporan yang kuminta?"
"Sudah saya kirim ke e-mail Bapak."
"Oke. Baiklah." Lelaki itu hendak kembali ke ruang kerjanya, tapi urung. Ia berbalik dan bertanya, "apa kau baik-baik saja, Ri?"
"Iya, tentu saja."
"Lusa kita ke Makassar. Bersiaplah."
"Makassar? Mengapa begitu mendadak? Apakah ada masalah dengan proyek lagi, Pak?"
"Hanya ada urusan sedikit."
"Haruskah saya ikut?"
"Iya. Anggap saja ini bonus liburan dariku. Akhir-akhir ini, kau sering melamun."
"Ah, maafkan saya, Pak." Myria memperbaiki rambutnya, lalu menyelipkan ke belakang telinga.
"Apa mungkin, kau sedang jatuh cinta?"
Wajah Myria merona. "Oh? Ap--apa?"
"Sudah saatnya, Myria. Atau kau akan menjadi perawan tua." Myria mengulas senyum canggung.
"Berada hampir di akhir dua puluhan tanpa pernah jatuh cinta, bukankah kau terlalu menyia-nyiakan masa mudamu?" imbuh Pak Bima lagi.
"Saya selalu jatuh cinta pada pekerjaan saya, Pak."
"Benarkah? Bagaimana denganku?"
"Saya tidak menyukai lelaki berkeluarga, Pak."
"Aah, syukurlah!"
"Ada apa memangnya?"
"Dulu, saat di Kalimantan, kupikir kau dekat dengan Arka. Dia ... sempat meminta izin untuk menemanimu jalan-jalan," ucap Bima yang membuat Myria gugup.
Jadi, waktu itu Mas Arka meminta izin Pak Bima? Ah, manis sekali.
"Baiklah, jangan lupa bersiap. Urus semuanya, penerbangan paling pagi."
Myria hanya mengangguk, dan melepaskan napas dengan kuat ketika Bima akhirnya berlalu. Bagaimanapum, ia tak ingin atasannya itu mengendus kehidupan pribadi, terlebih tentang Arka. Rahasia yang akan disimpannya serapat mungkin, tanpa siapa pun mengetahui. Termasuk si Bima Sakti.
***
"Kita menginap di hotel sekitaran pantai saja."
Begitu kata Bima mana kala pesawat yang membawa ia dan Myria mendarat di Makssar. Saat itu, waktu menunjuk sekitar pukul setengah sebelas pagi. Keduanya beriringan mengayun langkah lebar, dengan kopor di tangan masing-masing.
Mendengar itu, Myria mengulum senyum simpul. Ia teringat kawasan lokalisasi di sekitar Pantai Losari, tempat Bima pernah mencoba ‘jajanan’ di sana.
"Pantai? Apa mungkin Bapak--"
"Ish! Jangan mengada-ada. Aku sudah bukan seperti dulu, asal kau tahu." Mengetahui arah pembicaraan Myria, Bima menyela.
"Baiklah, saya percaya."
Myria tersenyum saat berhasil menggoda Bima dengan kawasan lokalisasi. Mungkinkah lelaki seperti atasannya ini mengenal kata lelah memainkan hati wanita?
Taksi bandara yang membawa keduanya melesat menuju tepi Kota Makassar. Sepanjang perjalanan, Myria menyapukan pandangan ke kota yang telah banyak berubah, sejak terakhir kali dia berkunjung.
"Lakukan apa yang kau inginkan. Sebelum jam lima, aku menunggumu di lobby." Begitu kata Bima, sebelum ia hilang dibalik pintu kamar, tepat di sebarang kamar Myria, sedangkan wanita itu hanya mengangguk.
Sesampainya di kamar, Myria menyibak tirai berwarna krem dan mempersilakan terik mentari menyinari ruangan. Dari tempatnya berdiri, terlihat mesjid terapung yang menjadi ikon wisata kota ini. Juga ada sebuah mesjid lagi yang tak kalah megah, dengan banyak kubah berwarna oranye. Bangunan itu belum ada saat dia berkunjung beberapa tahun yang lalu.
"Kita mau ke mana, Pak?" tanya Myria.
Ia tampak semakin anggun, saat keluar kamar dalam balutan blouse berbahan sifon warna ungu muda. Atasan manis yang dipadu dengan rok sebatas lutut, untuk membingkai indah tubuh bagian bawah. Tak lupa heels glossy berwarna peach, yang menyempurnakan tampilannya sebagai sekretaris Bima.
"Ke sana," Tangan Bima menunjuk sebuah bangunan menjulang, tak begitu jauh dari tempat mereka menunggu taksi.
"Rumah sakit?"
"Ya."
"Siapa yang sakit?"
"Ada seorang istri klienku. Kasihan."
"Kasihan?" tanya Myria dengan kening mengerut. Tak biasanya sang atasan se-peduli itu.
"Aku memang tidak begitu menyukai klienku ini, tapi itu hanya soal bisnis. Sedangkan ini masalah kemanusiaan."
Kalimat itu disambut anggukan oleh Myria. Senyum terbit di bibirnya, manakala memikirkan kemungkinan jika sang atasan benar-benar telah berubah.
"Lantai delapan, kamar 8020."
Berulang kali Myria menggumamkan kalimat yang diucapkan resepsionis tadi.
Keluar dari lift, Bima dan Myria berjalan beriringan menuju ruangan tersebut. Keranjang berisi buah ada di satu tangan Bima, sedangkan Myria membawa sebuket besar rangkaian bunga. Siapa pun yang sedang terbaring sakit, tentu akan berbinar bahagia mendapat bunga secantik itu.
Setelah mengetuk pelan, Myria dan Bima masuk ke ruangan. Mereka disambut seorang wanita paruh baya yang mengenakan stelan gamis berwarna merah marun.
Myria tercekat begitu matanya menangkap sosok wanita mengenakan pakaian rumah sakit yang terbaring lemah. Dengan wajah pucat, pasien yang meringkuk dalam dekapan seorang lelaki itu coba mengulas senyum di bibir yang kering, menyambut kehadirannya dan Bima.
Pemandangan itu nyaris membuat Myria kehilangan kesadaran. Bukan karena kondisi wanita itu yang lemah, bukan juga karena terlampau iba. Melainkan, lelaki yang mendampingi wanita itu, d**a bidang tempat tubuh lemah yang bersandar, lelaki yang mencium pucuk kepala berhijab ketika dia dan Bima masuk, dia adalah Arka!
***
tbc