Myria mematung untuk beberapa saat. Bagaimana ia bisa melupakan satu kemungkinan, bahwa kolega Bima adalah Arka, suaminya sendiri? Dan bagaimana bisa ia lupa, bahwa istri kolega yang dimaksud Bima adalah Azmya?
Akan tetapi, semua tak bisa ditarik mundur. Waktu harus tetap berjalan, tak peduli betapa Myria ingin menghilang saja. Lalu, ia bergerak maju, memaksa langkah yang sebenarnya terasa kaku. Bagaimana bisa semesta menghadapkannya dengan hal ini begitu cepat?
'Tuhan ....' Myria bahkan tak bisa sekadar menepuk d**a yang sesak.
Jarak beberapa langkah menuju ranjang pasien di ruang VIP itu bagai hamparan gurun yang jauh membentang di hadapan Myria sekarang. Udara di sekitarnya terasa panas, seakan-akan ingin menenggelamkan dan melumat tubuhnya.
Jelas di mata Myria, bahwa Arka pun sangat terkejut dengan kedatangannya juga sang atasan. Orang lain mungkin akan menganggap suaminya terkejut karena senang, dijenguk kolega dari pusat kota. Namun, tidak demikian yang terjadi.
Mereka sama-sama tak menyangka bahwa semua ini akan terjadi.
Arka dan Myria belum siap dipertemukan, apalagi dengan cara secepat ini.
Akan tetapi, bagaimana lagi? Sebab semesta memiliki skenario yang bahkan terlalu tak masuk akal untuk mereka pahami.
Tak mudah untuk mengembalikan kesadaran Myria ke tempat semula. Berkali-kali, ia bahkan berucap dalam hati menyemangati diri sendiri. Wanita itu tak menyangka jika hal yang sangat tidak diinginkannya terjadi dengan sungguh tidak terduga. Pertemuan yang membuat perasaan Myria terliputi rasa menyesal dan bersalah dalam satu waktu.
Melihat yang datang mungkin adalah tamu penting, susah payah Azmya mencoba bangun. Ia melepaskan diri dari Arka yang mendekapnya. Namun, tamunya mencegah dengan cepat.
Gerakan Myria yang mencegah Azmya bangun, lagi-lagi membawa letupan aneh di hati. Tangannya menangkup jemari Arka, pria yang sangat ia rindukan. Pria yang sudah memenangkan hatinya. Pria yang saat ini tengah memeluk sang istri kesayangan.
"T--tidak perlu bangun. Sebaiknya Ibu berbaring," kata Myria bergetar, nyaris diikuti sebulir air mata.
Bukan air mata iba. Melainkan, kenyataan di depan mata membangunkannya dari mimpi indah. Bahwa pria yang dikasihinya sepenuh hati, adalah pria beristri. Pria yang menikahinya karena ingin membahagiakan istri lainnya.
Sementara itu, Arka yang belum pulih dari terkejut masih mengatupkan bibir rapat-rapat. Ia menatap mata Myria dalam-dalam, seakan-akan menyalurkan banyak luka dan penyesalan. Dapat tertangkap oleh pria itu, bahwa sang istri kedua tengah terluka saat ini, tetapi tetap berusaha tegar seperti Myria yang biasanya.
Ingin Arka memeluk, tapi tidak mungkin. Banyak yang harus ia jaga. Meski Arka sadar, di waktu yang sama ia tengah menorehkan luka.
Detik demi detik terasa begitu lama bagi Myria, saat Azmya menyambut buket bunga yang terulur dari tangannya. Saat ini, untuk pertama kali dalam hidup ia kehilangan rasa bangga. Ia merasa bersalah karena menahan Arka di sisi, bahkan mencegah kehamilan karena takut kehilangan.
Kenyataan pahit di depan mata membuat Myria bagai kesulitan bernapas. Bagai ada batu besar yang menindih dadanya, dan menimbulkan sesak tak terkira.
Setelah lepas dari situasi yang mencengangkan, Arka bangkit. Ia lalu menyalami Bima, dan meninggalkan Myria berbincang dengan Azmya serta sang ibu mertua.
Arka mempersilakan Bima duduk di sofa yang ada di sisi jendela kaca. Kedua pria itu lantas berbincang akrab, tidak tampak sebagai rival bisnis sekarang. Sejak menggarap proyek besar di Kalimantan keduanya memang lebih dekat satu sama lain, meski masih terlibat persaingan di beberapa hal.
"Terima kasih banyak, Mbak sudah jauh-jauh datang kemari."
Myria tergagap ketika ada tangan dingin yang menggenggam tangannya dengan lembut. Kerongkongannya bahkan tercekat saat melihat mata Azmya berkaca-kaca. Seperti ada dentuman di kepala, manakala membayangkan ia telah merebut tempat bersandar bagi wanita lemah di hadapan.
"Duduk, ki'.” Ibu yang tadi menyambut kini mendekat, mengisyaratkan kursi di sisi ranjang pasien.
"Kata ibu saya, silakan duduk." Azmya memindai wajah Myria dengan senyuman manis.
"Oh, te—terima kasih,” balas Myria. Ia dapat merasakan genggaman tangan Azmya yang mengundang desir aneh dalam d**a.
"Sekretarisnya Pak Bima, ya?"
"Ibu tahu tentang Pak Bima?" Myria balas bertanya. Mencoba mengakrabkan diri, meski itu sangat sulit.
"Suami saya sering menceritakan perjalanannya.”
Ada yang tidak dia ceritakan. Ada. Yaitu aku.
"Kalau itu Pak Bima, berarti Mbak adalah Myria?"
"Ibu juga mengenal saya?"
"Beberapa kali saat menemani suami, saya mendengar nama Mbak disebut, dan jadi pembicaraan. Pantas saja, karena memang, Mbak Myria secantik ini."
Azmya mengusap lengan Myria dengan gerakan lemah. Tampak jika wanita itu mengagumi sosok di depannya. Tak hanya memiliki lekuk tubuh sempurna, pahatan sempurna Sang Maha juga terdapat di wajah Myria. Mengundang kekaguman siapa saja yang melihatnya.
"Ah, Ibu Azmya terlalu berlebihan."
"Sungguh. "
"Malolo begai ne ... sitente artis. "
Ibu yang berada di sisi lain pembaringan menimpali, dengan bahasa yang tak dipahami Myria. Mata teduh wanita paruh baya itu menatap disertai senyuman yang dibalas sebisanya oleh Myria.
Jangankan tersenyum dengan benar, berbicara saja susah karena menahan tangis yang membuat tenggorokannya sakit.
"Kata Ibu saya, Mbak Myria cantik sekali seperti artis yang biasa kami lihat di televisi.” Azmya memberi penjelasan, saat melihat wajah Myria menyiratkan kebingungan atas bahasa yang tidak ia pahami.
“Oh iya, saya lupa. Nama saya Azmya.” Myria merasa madunya itu menyalami tangannya dengan lembut.
"Mbak Myria sudah menikah?” tanya Azmya lagi.
Mendapat tanya demikian, tentu saja Myria gelagapan. "Oh ... s—saya--"
"Gadis sepandai dia tidak akan begitu mudah jatuh cinta, apalagi menikah." Bima menyela. Tanpa sadar, pria itu telah menyelamatkan Myria dari drama kebohongan baru yang mungkin terjadi.
"Setidaknya, sekali dalam hidupnya, dia harus membuka hati dan berumah tangga. Bukan begitu, Myria?" Merasa perlu membela kedua istrinya, kali ini Arka menimpali.
Sontak Myria berbalik, dan mengutus tatapan tajam dari kedua matanya yang berkaca-kaca.
Hati mana yang kamu maksud, Mas? Yang telah kamu menangkan dan kamu bawa pergi? Bagaimana bisa kamu setenang itu? Sedangkan aku ....
"Memilih lelaki yang tepat bukanlah hal yang mudah, Mas. Apalagi kalau perempuannya seperti Mbak Myria ini. Tentu, hanya lelaki hebat yang bisa memenangkan hatinya," lirih Azmya menimpali.
Tentu saja kalimat itu membuat Arka dan Bima terkekeh.
Ya! Benar, memang hanya lelaki hebat yang akhirnya memenangkanku, dan itu ... suamimu.
"Semoga Bu Azmya cepat pulih," ucap Myria kemudian.
Mendengar hal itu, mata istri pertama Arka kembali berkaca-kaca. Ia memalingkan wajah, membiarkan sebulir bening jatuh dari sudut mata indah itu.
"Tidak akan bisa," desisnya menyayat.
Kalimat pendek, tapi membuat satu hantaman telak mengenai jantung Myria. Namun, wanita itu benar. Andaikata ia bisa pulih, tentu tak ada Myria dalam biduk rumah tangganya.
"Sudah dioperasi, Nak. Diangkatki saluran apanya itue, ka ada penyakit tinggal di dalam ... pernahmi dipotong dulu, tapi tidak sembuh. Jadi diangkatmi semua sekarang. "
Ibu paruh baya itu berusaha menjelaskan, bahwa Azmya pernah menjalani operasi pengangkatan indung telur sebelumnya. Namun, upaya dokter itu tidak berhasil, dan sekarang anaknya itu harus merrlakan rahimnya diangkat serta. Hanya saja, penjelasan itu tidak dapat dipahami Myria.
"Ibu, sudah." Arka menggeleng pelan dari tempatnya duduk.
Takut jika ibu mertuanya akan berkisah di depan Myria, Arka datang dan menyela. Ia membelai bahu sang ibu mertua, membuat wanita paruh baya itu terdiam. Menyisakan Myria menatap penuh tanya. Wanita yang dinikahinya secara diam-diam itu menatap dengan luka yang sama. Membuat Arka ingin mendekap dan berucap maaf, tetapi tidak bisa.
Selanjutnya, Myria memalingkan wajah saat Arka meraih Azmya yang terisak ke dalam dekapannya. Lelaki yang ia rindukan itu menghujani kening sang istri dengan ciuman hangat dan mata berkaca-kaca.
Sungguh menyesakkan, karena untuk cemburu pun, saat ini Myria tak bisa. Ia bahkan mati-matian menahan tangis, dan tak henti mengutuk dirinya sendiri karena merasa jadi penggoda di antara sepasang suami istri yang saling mengasihi.
Oleh karena tak sanggup menyaksikan pemandangan itu, Myria menjauh. Menuju Bima yang berdiri menghadap jauh ke lautan lepas dari balik dinding kaca.
"Pak ... bisakah kita pulang sekarang?" lirih Myria. Ia takut tak bisa bertahan lebih lama lagi, dan akan benar-benar kehilangan kendali.
Seperti turut merasai aura sedih dan tak nyaman, Bima menyetujui usul Myria. Ia bangkit lalu berpamitan, sedangkan Myria hanya tersenyum kaku tanpa berkata.
Tak terlihat oleh siapa pun, wanita itu sempat mengangguk samar pada Arka yang tengah mendekap istri pertama. Wanita itu mengekor sang atasan, keluar dengan hati yang tercabik.
Beberapa kali langkah Myria tersaruk dan nyaris limbung, jika Bima tidak menahan dengan sigap.
"Apa kau baik-baik saja? Wajahmu pucat.” Pertanyaan itu dilontarkan dengan kecurigaan.
"Tiba-tiba saya pusing, Pak." Myria menjawab tak acuh.
Bagaimana ia akan berkata bahwa dunianya hancur beberapa detik lalu? Bahkan berjalan pun, rasanya ia tak lagi sanggup.
***
tbc