Setelah Azmya tidur--usai menangis berjam-jam lamanya, Arka berpamitan dengan alasan ada urusan. Sang ibu mertua mengiyakan meski tengah malam. Sebab, sudah menjadi kebiasaan, Arka akan turun sekadar merokok atau minum kopi di kantin. Jadi, tak ada kecurigaan meski pria itu menghilang sejenak.
Perbincangan sore tadi dengan Bima membuat Arka melajukan mobilnya ke sebuah hotel di tepi pantai. Untung saja, ia bertanya di mana Bima dan Myria menginap. Di hotel pun, meski awalnya sedikit kesulitan, akhirnya ia bisa naik ke lantai sembilan, dan berkata bahwa akan memberi kejutan kepada istrinya.
Beberapa kali Arka mengetuk pintu, tetapi tak ada jawaban. Biasanya, meski sedang tidur, Myria akan bangun bila mendengar suara. Hal itu membuat Arka melakukan panggilan telepon dengan gelisah. Tak henti bibir lelaki itu menggumamkan nama wanita terkasih yang mungkin sedang terlelap di dalam kamar bernomor 9011.
Sementara di dalam, Myria yang tergolek di lantai menggeliat karena ponsel dalam genggaman terus bergetar. Wanita itu tergeletak tanpa alas, bahkan sepatu masih melekat di kedua kakinya. Entah berapa lama ia menangis sepulang dari rumah sakit, sebelum tertidur di ubin yang dingin. Saat terbangun, kepalanya pening luar biasa.
Myria mengerjapkan mata yang terasa berat. Dilihatnya puluhan panggilan tak terjawab dari sang atasan maupun Arka.
Ia bergeming sejenak. Arka. Sebuah nama yang lagi-lagi membuat matanya berkabut. Ia beringsut dari posisi berbaring. Susah payah ia bersandar pada tembok demi menopang tubuhnya yang limbung. Lalu, ketukan di pintu kamar membuatnya berjalan pelan, lalu membukanya. Myria mematung saat sesosok tegap di hadapannya langsung mendekap tanpa berkata.
Wangi yang mendekap penciuman membuat d**a Myria sesak. Tanpa melihat pun, ia tahu siapa yang memeluknya saat ini. Tanpa berucap, wanita itu membenamkan wajah di d**a bidang itu, sembari menumpahkan tangis pilu.
Masih di ambang pintu, kedua orang itu saling berpeluk. Membiarkan hening dan tak ada yang terucap, memberikan kesempatan air mata mengungkap segala rasa.
"Maafkan aku." Hanya itu yang mampu Myria ucap pada akhirnya.
Ada kepedihan mendalam saat mengetahui yang sebenarnya terjadi. Pun gunungan penyesalan tak bertepi, mana kala meragukan sang suami kala itu.
Dulu, ia tak memercayai ucapan Arka tentang Azmya. Ia juga menganggap Arka hanya pembual karena memintanya menjadi istri demi membahagiakan istri yang lain.
Oleh karena rasa tak percaya itu pula, Myria menunda kehamilan. Rasa yang kemudian menimbulkan keserakahan, padahal Arka dan Azmya begitu berharap momongan dan menderita.
"Bukan salahmu, Sweetheart."
"Maafkan aku." Lagi, Myria mengiba atas keegoisan selama ini. Melihat betapa tidak berdayanya Azmya, ia merasa menjadi wanita paling jahat di dunia.
Myria tersadar, bahwa ketidaksiapannya memiliki momongan hanya karena takut Arka memanfaatkan rahimnya saja. Pikiran picik yang seharusnya ia buang, mengingat betapa Arka mengasihinya selama dua tahun ini.
Saat ini, Myria merasa begitu bodoh karena mengabaikan penderitaan suaminya. Sementara, pria itu masih terus memeluk dan menepuk punggungnya.
Arka masih saja sama, selalu berusaha memberi ketenangan seperti biasa. Sungguh perih saat Myria menyadari bahwa yang disampaikan Arka pada saat itu adalah kebenaran. Kebenaran yang ia permainkan. Kebenaran yang ia anggap hanya sebuah omong kosong.
"Maafkan aku ... maafkan keegoisanku ... aku tidak menyangka, jika kebodohanku begitu menyakitimu maafkan aku."
Hari ini, Myria bahkan melanggar satu syarat pernikahan yang ia ajukan. Syarat tak saling menghubungi atau menemui, jika Arka sedang bersama Azmya. Pun juga syarat menghilangkan kata maaf dalam hubungan mereka.
"Bukan salahmu ... ini salahku yang tidak bisa meyakinkanmu saat itu."
"Seharusnya aku tidak mengulur waktu, seharusnya aku--"
"Aku mencintaimu Myria ... aku mencintaimu, dan itu sudah cukup bagiku."
"Aku bahkan tidak bisa menolongnya, Mas.”
"Sudah kukatakan, ini bukan salahmu." Arka berkata pelan.
"Aku tidak bisa menyadari bahwa aku sungguh berarti untuk cinta kalian. Aku mempermainkannya."
Detik dan menit berlalu, dan kedua orang itu hanya berpeluk. Mereka seperti berusaha menukar dentuman hati yang berhias luka, tanpa suara. Hingga Arka membawa Myria duduk di tepi ranjang, dan membiarkan wanita itu meringkuk di dadanya.
"Aku akan kembali pagi ini," pamit Myria setelah tangisnya mereda.
"Baiklah. "
"Jaga dia untukku, masih banyak yang belum aku tunaikan untuk kalian."
"Sudahlah, jangan bebani pikiranmu." Arka mengusap pipi Myria penuh kasih.
"Kembalilah ke rumah sakit. Tidak benar jika kamu berada di sini. Lebih dari siapa pun, dia membutuhkanmu, Mas."
"Beginikah rasanya?" Tatapan Arka menerawang jauh. Pada kebimbangan karena menyakiti dua wanita yang ia kasihi dalam satu waktu.
"Itu sebabnya aku mengajukan syarat itu padamu. Aku tidak ingin, kamu merasa bimbang dan bersalah seperti hari ini, Mas. Kembalilah ke rumah sakit."
"Saat ini aku merasa jadi pria paling b******k di dunia. Melihat dua wanitaku tersiksa hanya karena ingin membahagiakanku, tidakkah aku terlihat begitu buruk?"
Lelaki itu melepaskan dekapannya. Menyusut sisa air mata Myria dengan kedua tangan. Sementara wanita itu tetap menunduk, tak ingin menunjukkan luka yang mungkin memberatkan Arka.
Meninggalkan kamar Myria, langkah Arka limbung. Ia bahkan bersandar di tembok, dengan air mata jatuh ke pipi.
***
Myria terduduk lemah dengan wajah menghadap closet. Entah berapa kali wanita itu membenturkan kepalanya pagi ini demi menghapus semua kenangan sebulan lalu saat di Makassar. Setelah hari itu, ia bagai kehilangan jati diri dan banyak termenung.
Sekali lagi, Myria menatatap alat kecil dalam genggaman, melihat hasil yang tak diinginkan. Bangkit dari lantai dingin, ia lantas memutar keran, dan membiarkan tubuhnya basah oleh deraian air. Berharap segala yang menjadi beban di hati luruh, seperti aliran air tersebut.
Sebulan berlalu, tapi sesak itu masih bertakhta sepenuhnya dalam hati Myria. Menguasai segenap ruang yang ada di sana, mengubahnya menjadi orang lain. Terlebih alat tes kehamilan yang hanya menampilkan satu garis saja. Padahal, saat terakhir kali Arka berkunjung, ia tak lagi menenggak tablet kontrasepsi.
Tentu, itu membuat Myria semakin murung. Beberapa kali ia bahkan konsultasi ke dokter, dan mendapat asupan berbagai macam vitamin dan suplemen penunjang untuk mempermudah proses kehamilan. Namun, berbagai tablet dan s**u itu tidak banyak bekerja, dan malah membuatnya mual.
"Sebenarnya ada apa, Myria?" tanya Bima saat keduanya dalam perjalanan sepulang dari lokasi meeting pada suatu siang.
"Tidak ada apa-apa, Pak."
"Kau yakin?" Bima mendesak. Sebab, tak biasanya sang asisten sependiam ini.
Bagaimanapun, pria itu bisa paham ketika Myria ada masalah. "Kau bisa bercerita apa saja padaku."
"Sungguh, Pak Bima. Saya baik-baik saja.” Setelah diam beberapa saat, Myria kembali bertanya, "Pak, kapan Bapak memiliki anak pertama?"
"Maksudmu?"
"Ngg ... setelah menikah, maksud saya--"
"Ada apa? Apa mungkin, ada yang melamarmu?"
“Ah ... tidak. Hanya saja--"
"Istriku mengandung setelah enam bulan kami bersama." Bima menjeda kalimatnya sejenak. "Ada yang menunggu lebih lama, bahkan tak sedikit pasangan yang sengaja menunda.
"Ada apa?" lelaki itu kembali fokus pada kemudi setelah sempat menatap Myria sekilas.
"Lalu, bagaimana perasaan Bapak, saat mengetahui itu? Maksud saya ... saat istri Bapak mengandung."
"Aku bahagia. Rasanya aku menjadi manusia yang baru, terlebih saat anakku lahir. "
"Bagaimana setelahnya? Apakah Bapak masih mencintai istri Bapak?"
"Apa maksudmu?” Bima terkekeh sebentar. "Aku tetap mencintainya. Jika sesekali aku bermain di belakangnya, bukan berarti aku tak mencintainya, bukan?"
"Sebagai hiburan? Atau penasaran?"
"Aku hanya penasaran denganmu.” Bima terkekeh.
Lagi-lagi, kalimat Bima membungkam Myria. Pria itu seperti tidak lelah mencari celah untuk mendapatkan hati sekretarisnya ini. Padahal, jika ia tahu kesetiaan Myria mengabdi, tentu ia akan bangga mendapatkan orang kepercayaan sepertu Myria.
"Saya turun di sini, Pak." Myria berkata ketika mobil melintasi sebuah mal.
"Mau aku temani?" Bima tertawa setelah berkata demikian.
Myria hanya tertawa. Kemudian, ia turun setelah berpamitan kepada atasannya. Setelah mobil Bima menghilang, ia memesan taksi online. Bahkan sampai saat ini, ia masih merahasiakan tempat tinggalnya dari Bima.
"Apa Bima selalu menahanmu sampai pagi, seperti ini?"
Sapaan yang menyambut saat Myria kembali malam itu, membuat tangannya urung menyalakan lampu. Bibir merahnya mengembangkan senyuman tatkala si pemilik suara membingkainya ke tembok, berikut ciuman menghujani di wajah lelahnya.
"Aku merindukanmu," bisik Myria dengan d**a berdebar hebat. Entah mengapa kehadiran Arka terasa berbeda kali ini.
***
tbc