"Aku merindukanmu," bisik Myria dengan d**a berdebar hebat. Entah mengapa, kehadiran Arka terasa berbeda kali ini. Ia seperti kemarau yang begitu mendamba hujan.
Lebih dua tahun mereka bersama. Namun, hari ini, untuk pertama kali, Myria memiliki banyak harapan untuk hubungan mereka. Membayangkan akan menjadi kebahagiaan untuk orang lain, ia sampai berdebar tak karuan.
Lalu, mangabaikan suara keraguan yang bersahutan memenuhi benak, Myria membulatkan tekad. Jika hanya anak yang dibutuhkan untuk kebahagiaan Arka dan Azmya, itulah yang akan ia berikan. Kali ini, ia tak boleh lagi egois.
Sebab, ada seorang wanita nun jauh di sana yang pangkuannya kosong, menanti belas kasih, dengan untaian doa dan harap. Myria bahkan tidak peduli jika keputusannya akan menyakiti diri sendiri nantinya.
"Apa saat ini kau sangat merindukanku?" tanya Arka saat Myria mengeratkan dekapan.
"Aku menginginkan suamiku," bisik Myria. Ia berkata sambil menyusupkan kepala di antara leher dan tengkuk Arka. Menjelajahi bagian itu dengan banyak kecupan menggoda.
"Apa tidak sebaiknya kau mandi?"
"Menjelang tengah malam? Apa kamu akan menemaniku?"
Lelaki itu tersenyum, lalu dengan kedua lengan kokohnya ia membawa Myria ke dalam kamar. Mengarungi malam biru seperti banyak hari yang berlalu.
**
"Aku hanya akan di sini beberapa hari," ucap Arka pagi itu sambil meletakkan dua cangkir kopi ke meja.
"Apakah ada proyek baru lagi?" Myria beringsut ke pangkuan suaminya, lalu meringkuk dengan nyaman.
"Suplai solar untuk daerah Maluku."
"Lalu, kenapa kamu ke sini?"
"Ada yang kurindukan."
"Ish! Gombal!" Myria hanya mencebik saja.
"Apa tidak sebaiknya kau cuti hari ini?" tanya Arka dengan nada membujuk.
Myria duduk sesaat, menatap suaminya. "Aku? Cuti? Untuk apa?"
"Aku bisa bosan seharian di sini menunggumu."
"Menunggu? Kenapa kamu harus melakukannya? Apa sungguh, tidak ada yang akan kamu temui di sini?" Kini, Myria benar-benar duduk dan menatap wajah Arka dengan saksama.
"Ada." Arka menjawab pelan, lalu menarik Myria agar kembali dalam pelukan.
"Lalu? Temuilah!"
"Aku sedang memeluknya saat ini," jawab Arka sambil meninggalkan kecupan di tulang selangka Myria.
Seketika wajah Myria merona merah. Namun, ia tak mau euforia kemesraan itu berjalan lama. Bagaimanapun, ada wanita yang tak menginginkan, dna bahkan mungkin terluka atas kemesraan ini.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Myria pelan.
Sesungguhnya, ketika bertanya tentang Azmya, Myria tengah memastikan kabarnya sendiri. Namun, ia tak pernah menyadari itu. Bahwa keteguhannya menjadi bahagia untuk Azmya, justru melukai dirinya sendiri di waktu yang sama.
"Dia pulih dengan cepat, ketika kukatakan aku sedang melakukan penjajakan dengan gadis yang aku sukai."
"Ah ... syukurlah, setidaknya dia bisa bahagia dengan harapan yang dia miliki." Myria mendesah pelan. Sebenarnya ada cemburu, tetapi ia merasa lega saat mengetahui Azmya baik-baik saja.
"Dia tau, aku sedang mencari gadis terbaik untuk kubawa masuk ke rumah kami."
"Itulah mengapa aku meminta agar kamu merahasiakannya, maafkan aku Mas." Myria berkata pelan.
"Aku tau, terima kasih."
"Dia akan merasa sakit, jika mengetahui kamu telah menikah. Karena aku yakin, tidak ada wanita yang benar-benar ikhlas dan menginginkan suami mereka memiliki perempuan lain. Percayalah."
Arka mengusap rambut panjang Myria, menatap wajah yang selalu saja menawan. "Bagaimana denganmu, Sweetheart? Apa ini sungguh menyakitimu?"
"Setidaknya, harapan bisa membuatnya kembali ceria, itu cukup bagiku."
"Kau memang masihlah seorang Myria.”
"Menurutmu ...." Myria menjeda kalimat, lalu mengunci tatapan Arka. Namun, ia justru berdebar saat pria itu membalas dengan sorot memabukkan.
"Bagaimana jika kita mengabulkan keinginannya sekarang?" tanya Myria setengah mendesah. Menggoda pria yang membuatnya mabuk kepayang.
"Apa saat ini, kau sedang menggodaku?" bisik Arka seraya membelai pipi wanitanya.
"Aku sedang menginginkanmu." Sepasang mata wanita itu menuntut. Salah satu pesona Myria adalah mata yang mampu menghipnotis siapa saja, termasuk Arka.
***
Hari berganti, demikian juga dengan bulan yang terus berlalu. Segala hal berjalan sebagaimana adanya, ketika Myria kembali disibukkan dengan rutinitas yang tak pernah kehabisan irama.
Banyak perjalanan yang dilakukan Myria dalam tugas mendampingi Bima. Tak ada yang berubah. Bos dan asisten pribadi itu melakukan kunjungan kerja ke berbagai daerah. Sebulan ini, Myria bahkan nyaris tak pernah merasakan yang namanya libur, meski tanggal merah.
Melobi proyek baru, memang tidak mengharuskan Myria ke kantor. Namun, tetap saja ia harus siap setiap saat, ketika sang atasan memintanya menemani ke mana pun pria itu pergi. Sampai-sampai, terkadang Myria lebih banyak menghabiskan waktu dengan Bima, ketimbang istri pria itu sendiri.
Seperti halnya Bima, Arka pun sama sibuknya. Para pengusaha muda itu sama gigihnya salam berburu proyek Hal itu menyebabkan Arka nyaris tak pernah datang ke Jakarta selama lebih dua bulan ini. Tentu saja, selain kesibukannya menemani sang istri pertama melewati masa pemulihan dan banyak treatment.
Meski rindu, baik Myria atau Arka memilih menahan semua itu. Myria masih tak pernah mau memberi akses perpesanan atau telepon, ketika Arka ada bersama Azmya. Myria tak ingin mengubah apa pun, bila itu tentang posisinya sebagai istri kedua.
Oleh karena itu, yang hanya bisa dilakukan Myria adalah melihat foto kebersamaan dengan Arka. Ketika rindu begitu mengusik, ia akan mendekap kenangan dan membawanya tidur. Dalam mimpi saja bertemu Arka dalam keadaan seperti itu, sudah cukup baginya.
"Aku pasti akan meneleponmu bila terdesak."
Begitu kata Myria, ketika suatu hari Arka meminta agar di antara mereka bisa saling berkirim pesan ketika Arka tengah ada bersama Azmya. Dan untuk menghargai permintaan Myria, Arja tak mengirim pesan atau menelepon bila sedang bersama sang istri pertama.
"Itu adalah bentuk keadilan yang kuminta. Terima kasih telah mengabulkannya." Demikian kata Myria lagi, sebagai penegasan agar Arka tak melanggar apa pun.
Apa Bima masih menahanmu?
Bagaimana jika aku merebut satu proyeknya, untuk keegoisannya telah menyandera istriku?
Myria terkesiap saat membaca pesan yang masuk ke ponselnya siang ini. Mengiriminya pesan, di mana Arka sekarang? Sementara sebelum ini, pria itu tak mengabarkan apa pun terkait perjalanan kerja atau apa pun.
Tak menunggu lama, Myria segera melakukan panggilan. "Kamu di mana, Mas?"
"Turunlah. Kau tidak lelah, sepanjang hari duduk di kursimu?"
Sejenak, Myria menoleh ke kiri dan kanan. Ia bahkan bangkit, menuju jendela, lalu menyibak gorden. Ia menatap ke bawah, bila saja ada Arka yang memberikan kejutan seperti di film-film.
"Jangan becanda, Mas!"
"Turunlah. Ada kejutan untukmu.
"A-apa? Apa maksudmu?"
Mata Myria membulat dengan benak penuh tanya. Apa yang dilakukan Arka di kantor Bima saat ini? Apakah pria iti datang kemari?
"Cepatlah, Sweetheart."
"Apa? Pak Bima bisa melihatmu. Dia bisa--"
"Aku hanya mengirimkan bunga."
"Bunga?" Lagi-lagi Myria terkejut. Meski demikian, ia menarik napas lega. Sebab, apa yang ditakutkannya tidak terjadi.
"Cepatlah pulang hari ini, aku menunggumu."
"Kamu di sini? Di Jakarta?" Myria nyaris meninggikan suara. Bagaimana bisa pria itu memberi kejutan seperti ini?
"Di hatimu!" Begitu kata Arka, lalu mengakhiri panggilan.
Myria segera beranjak dari duduknya, lalu menuju lantai satu dengan setengah berlari. Benar, ada yang menitipkan bunga untuknya pada resepsionis.
Happy anniversary, Sweetheart. Love You.
Myria membaca pesan yang tertulis pada selembar kartu berwarna merah jambu. Perlahan bibir wanita itu mencebik, dengan ucapan yang singkat itu. Namun, senyuman terbit di bibirnya saat bayangan Arka memenuhi pandangannya kini.
Tak menunggu lama, Myria berkemas dan pulang lebih awal. Sebelum pulang, ia menyempatkan siri singgah untuk membeli gaun di sebuah butik. Tak lupa, ia juga mencuci rambut terlebih dahulu di salon langganan.
Malam ini, Myria bertekad akan tampil cantik. Tak apa jika lelaki tercinta harus menunggu lebih lama. Tak apa meski rindu di hatinya sendiri tengah meronta-ronta.
Alunan musik lembut menyambut begitu Myria menjejakkan kaki ke unitnya. Semntara itu, sesosok tampan menyambut dengan bunga tepat di depan pintu. Bibir pria itu membentuk lengkung manis yang sempurna.
Seperti ada beban berat yang lepas dari pundak Myria, ketika melihat lelaki itu di hadapannya. Entah kapan ia terbawa dengan pesona Arka. Namun, ketika sadar, Myria merasa dirinya telah hanyut begitu jauh, tanpa bisa kembali menolak segenap rasa yang menjajah, agar ia kembali menjadi Myria seperti semula ....
***
tbc