Arka yang sedang bersiap dengan kopernya, menoleh ke arah Myria yang berlari menuju kamar mandi. Entah sudah berapa kali wanitanya itu memuntahkan seluruh isi perut pagi ini, sampai tubuhnya terlihat begitu lemas.
Akan tetapi, Arka hanya mengamati dari jauh. Sempat ingin bertanya, tetapi Myria berkata bahwa dia baik-baik saja, seperti biasa. Terlalu terbiasa sendiri dan mandiri, selama ini Myria nyaris abai pada kesehatannya sendiri.
"Bukankah sudah kubilang, jangan memakai gaun seperti semalam? Gaun terbuka membuatmu masuk angin, 'kan?" Arka memijat tengkuk Myria yang masih menelungkupkan wajah ke arah closet. Ia yang sejak tadi hanya memperhatikan, akhirnya menyusul Myria yang kian terlihat kepayahan.
"Jangan terlalu menyiksa dirimu. Apa yang kau kejar? Kau sudah memiliki segalanya." Pria itu lantas memapah istrinya itu menuju sofa kecil di sisi lain kamar mandi.
"Apa mungkin ...." Arka menggantung kalimat dan menatap Myria dengan saksama. Ia lantas bergerak menuju laci, dan mengambil sesuatu dari sana.
"Tapi, Mas ... bisa saja aku masuk angin seperti katamu, 'kan?"
"Kuta tidak pernah tau sebelum mencoba, 'kan?" Arka mengangguk, lalu mengulurkan alat tes kehamilan itu kepada Myria.
"Mas ...."
"Coba saja. Kita masih memiliki harapan yang sama, apa pun hasilnya."
Sepasang mata Mas Arka menatap penuh harap, sedangkan Myria berdebar hebat dengan tubuh gemetar. Wanita itu akut kecewa dengan harapan yang kandas seperti sebelumnya.
Myria bahkan menutup mata saat Arka mencelupkan alat pendeteksi kehamilan dalam cangkir bening yang ia pegang. Dalam hati, wanita itu melambungkan berbait doa, dan harap cemas luar biasa.
"Sweetheart, kau ...."
"Apa?" Myria memberanikan diri membuka mata.
Seketika itu pula, buncah bahagia menyelimuti, mengantar bulir bening leluasa melesat turun dari kedua mata indahnya. Akhirnya, dua garis merah itu membawa bahagia tak terkira.
"Kau sungguh menjadi jawaban atas doa-doa kami, Sweetheart," ucap Arka dengan suara bergetar.
Didekapnya Myria dengan erat, seolah-olah tak akan ia lepaskan lagi. Pun tak terhitung banyaknya kecupan yang didaratkannya di wajah sang kekasih.
"Pada akhirnya, aku akan mebawamu ke dunia ini, tanpa perlu bersembunyi lagi. "
Ada yang berdesir dalam d**a Myria mendengar kata demi kata yang diucap lelakinya. Sementara tangan wanita itu terkulai, tak membalas dekapan seperti biasanya. Ada haru, bahagia, juga sedih dan takut kehilangan di waktu yang sama. Untuk beberapa saat keduanya mematung dalam tangis masing-masing, coba menyelami perasaan yang berkecamuk dalam d**a.
"Apakah menanti lebih dari sepuluh tahun itu sangat menyakitkan?" bisik Myria di antara isak tangis. "Maaf jika aku menundanya jadi lebih lama ... seharusnya aku tidak sebodoh dan seegois ini. Aku hanya—“
"Tidak ada yang perlu kumaafkan, Sweetheart. Berhentilah meminta maaf. Aku sangat bahagia, aku mencintaimu."
Arka sedang melakukan panggilan telepon, ketika Myria keluar dari kamar mandi. Pria itu menghadap keluar, di antara tirai kamar yang tersibak.
"Iya ... tiba-tiba klien yang dari Singapur membatalkan penerbangannya, Bund. Jadi, ayah harus menunggu beberapa hari. Apa mungkin, Bunda mau menyusul? Oh ... baiklah. Hati-hati di rumah, jangan lupa minum obat. Love you too."
"Love you too." Myria memajukan bibirnya, mengejek kata terakhir yang diucapkan suaminya.
Meletakkan ponsel di meja rias, pria itu berbalik. "Apa mungkin saat ini kau sedang cemburu?"
"Aku? Cemburu? Ah!" Myria menunjuk dirinya sendiri.
"Lalu? Apa yang baru saja kau lakukan?"
"Ceh! Bagaimana mungkin aku cemburu, sementara saat ini aku mengandung anaknya? Anak kalian?"
Myria mengganti jubah mandi dengan terusan pendek tanpa lengan. "Kenapa kamu berbohong? Kamu bisa langsung pulang, bukan?"
"Aku ingin menemanimu lebih lama, tidak bolehkah aku melakukannya?"
"Aku baik-baik saja.”
"Kau akan selalu berbicara seperti itu. Apakah mungkin, saat ini ada yang kau inginkan? Bukankah di awal kehamilan biasanya orang mengalami ngidam?"
"Tidak ... baru juga pagi ini aku mengalami mual."
"Untung saja saat aku di sini." Arka berucap sembari membelai bahu istrinya. "Aku akan di sini, sampai seminggu kedepan."
"Dan besok, aku akan kembali bekerja," tukas Myria cepat.
"Kau harus tetap di rumah, atau aku akan menjemputmu dengan paksa, di depan Bima."
"Ish! Apa kamu tau, saat ini kamu lebih pantas sebagai debt collector daripada suamiku?" kata Myria sembari tersenyum miring.
Mendengar itu, Arka mendekat, lalu meraih pinggang istrinya. "Adakah yang ingin kau minta sebagai hadiah?"
"Kesediaanmu menemaniku seminggu ke depan, itu sudah cukup."
"Bagaimana perasaanmu?"
"Aku? Bukankah seharusnya aku yang bertanya demikian padamu?”
"Aku pernah tiga kali mengalami hal ini. Hanya saja, kali ini aku lebih bahagia.. Ingatan Arka menerawang jauh, pada masa Azmya mengandung untuk pertama kali.
"Boleh aku bertanya?" Myria menatap pada sang suami yang mengangguk.
"Apa yang membuatmu memilihku saat itu? Maksudku ... bukankah kamu bisa memilih opsi lain, seperti sewa rahim?"
"Anak adalah hal berharga yang kunantikan, karena itu aku ingin menghadirkannya dengan cinta. Dengan lebih dulu mencintai ibunya."
"Jadi apa saat itu kamu memang sudah mencintaiku?"
"Aku sedang kacau saat itu.” Pandangan Arka menerawang, mengingat kenangan saat pertama kali bertemu. Merangkai kekonyolannya mengungkap perasaan kala itu, membuat ia tersenyum. Coba merasakan debar dalam hati, saat berdebar pertama kali bertemu Myria.
"Apa? Kacau? Jadi kamu memilih aku bukan karena kamu cinta padaku, tapi karena--"
"Bukan begitu. Biasakan jadi pendengar yang baik, saat kau bertanya.” Myria tertawa, dan kembali menyimak. “Saat aku tengah kalut memikirkan keinginan Azmya agar aku menikah, gadis yang pertama kutemui adalah kau. Waktu kita mengurus tender proyek di Kalimantan. Entah mengapa saat itu ada yang berdebar di hatiku saat melihatmu."
"Aish! Sayangnya, bukan hanya kamu yang berdebar saat melihatku." Myria mencebik.
"Benarkah? Siapa lagi? Si Bima? Haruskah aku membunuhnya?"
"Apa kamu lupa, karena Pak Bima-lah kamu bisa bertemu dengaku?"
"Mengapa aku merasa saat ini kau sedang membela bossmu itu? Apa mungkin, perhatiannya mulai meluluhkan hatimu?"
"Ish! Apa kamu cemburu padanya?"
"Tentu saja! Bagaimana bisa dia terus berusaha mendapatkan istriku?"
"Dia tidak tau tentang kita, bukan?"
"Jadi, kau berniat menyukainya?"
"Aish! Aku bahkan mengandung anakmu, dan kamu masih curiga padaku?"
Keduanya terlibat perdebatan beberapa saat. Tak ada yang mau kalah, sampai akhirnya Myria bangkit dan berkacak pinggang.
"Aku mencintaimu," ucap Arka kemudian. Tak lupa ia memberikan kecupan singkat di pipi Myria.
"Dan bodohnya, sampai saat ini aku terus berbunga-bunga saat kamu mengucapkannya!" Myria memutar bola mata, sebelum Arka menariknya dalam dekapan.
***
Pagi ini Myria melangkah dengan anggun memasuki ruangan Bima. Rasa bahagia membuat kakinya bagai berjalan di atas jutaan kuntum bunga. Bukan tanpa alasan, karena untuk pertama kali akhirnya dia memakai cincin di jari manis. Tanda ikatan yang selama tiga tahun hanya teronggok dalam sebuah kotak perhiasan di laci meja rias. Bagi Myria, ini adalah saat yang tepat untuk Bima mulai mempersiapkan pengganti, jika suatu saat ia pergi dari sisi pria itu.
"Pagi, Myria ... bagaimana sampel bahan baku yang diminta importir? Sudah dikirim?" sambut Bima begitu Myria masuk.
"Sudah, Pak. Tinggal menunggu hasil lab dari mereka. E-mailnya sudah saya teruskan ke Bapak. Sementara, siang nanti akan ada meetingbonline di salah satu web investor," ujar Myria diiringi senyuman.
Sengaja wanita itu memperbaiki letak poni yang tersisir rapi ke samping dengan tangan kiri, agar Bima mengetahui benda manis yang tersemat di jari.
"Baiklah, terima kasih." Bima berucap setelah membubuhkan tanda tangan.
Sementara Myria hanya menghela napas karena maksudnya menunjukkan cincin manis tak dilihat sang atasan.
"Myria," panggil Bima saat Myria akan berlalu.
"Ya, Pak?" Wanita itu berbalik, berharap sang atasan menangkap isyaratnya.
"Siang ini, kita makan di luar. Ada klien dari luar daerah yang akan bertemu, mengenai proyek jalan tol yang lalu. Mereka sudah memesan tempat. Jadi, kau tak perlu lagi melakukannya."
Myria hanya mengangguk sebelum meningalkan ruangan atasannya itu. Dengan sigap, ia mempersiapkan bahan yang diminta Bima sebagai bahan sang nanti.
"Siapa lelaki yang beruntung itu?" tanya Bima pelan. Pria itu tampak tenang, dengan mata memandang lurus ke depan. Pada kendaraan yang memadati jalanan ibu kota di siang hari.
Myria mematung sejenak. Ia berusaha menghela napas yang mungkin terhela sedikit kasar. Bagaimanapun, inilah yang ditunggunya. Jadi, ia harus tenang.
"Ah ... maksud Bapak?"
"Lelaki yang cincinnya ada di jarimu."
Bagaimanapun menyiapkan diri untuk hari ini, tak urung Myria salah tingkah. Harapan agar Bima menangkap isyarat darinya benar-benar terkabul.
"Laki-laki yang membuatmu tidak pernah melihatku."
***
tbc