Cemburu?

1170 Kata
"Siapa lelaki yang beruntung itu?" tanya Bima pelan. Seperti tak mengindahkan apa pun termasuk perasaannya, Bima tampak tenang. Pandangannya lurus ke depan, fokus pada kendaraan yang memadati jalanan ibu kota di siang hari. "Ah ... maksud Bapak?" Myria berdeham. Jujur, ia gugup dihadapkan hal seperti ini. "Lelaki yang cincinnya ada di jarimu. " Myria salah tingkah. Harapan agar Bima menangkap isyarat darinya benar-benar terkabul. "Oh ... itu, hanya lelaki biasa." "Kau? Benarkah gadis sepertimu mencintai lelaki biasa?" Bima tersenyum miring. "Memangnya, menurut Bapak saya seperti apa? Saya tidak memiliki apa pun untuk dibanggakan, Pak. " "Kau sempurna, Myria." Bima menyela dengan cepat. "Jangan berlebihan, Pak. Tidak ada satu pun manusia seperti itu. Dan terkadang, apa yang Bapak lihat sempurna, tidak seperti keadaannya. Termasuk saya." "Sejak kapan?" tanya Bima lagi. Ia seperti mengabaikan jawaban gadis yang ditanyainya."Apa kau mencintainya?" "Pak Bima ...." "Apa kau akan berhenti bekerja jika telah menikah?" Myria terdiam, saat menyadari ada nada tak rela dari ucapan Bima. Bagaimanapun, itu wajar saja karena dirinyalah yang menghabiskan banyak waktu berdua selama ini. Bisa dibilang, di mana ada Bima, ada juga dirinya. "Tetaplah di sisiku, seperti sekarang," imbuh pria itu lirih, dengan fokus masih ke jalan raya. "Meski saya tidak bisa menjanjikan apa pun, tetapi saya akan melakukan yang terbaik yang saya bisa, Pak." "Meskipun aku percaya kepadamu, entah mengapa saat ini aku bersedih." Bima menoleh sebentar, lalu tersenyum. Meski ia adalah pria yang ingin Myria selalu bahagia, tetapi, entah mengapa, ada ketidakrelaan di hatinya. "Kebersamaan ini, membuat Bapak adalah satu-satunya sahabat bagi saya. Untuk itu, saya berterima kasih atas--" "Apa mungkin, saat ini kau sedang berpamitan?" "Ah, bukan seperti itu, Pak ... maaf jika saya merahasiakan semua ini." "Apa memang banyak hal yang tidak kuketahui tentangmu? Harusnya, du hari pentingmu itu aku ada di sana. Ah, rasanya jahat sekali aku, seperti mengabaikanmu." "Bapak adalah atasan terbaik." "Apakah terlambat kalau sekarang aku mengucapkan selamat?" "Saya menikah hampir tiga tahun yang lalu, Pak. Maafkan saya karena merahasiakan ini semua." Myria berkata dalam nada amat pelan. Menikah diam-diam, memang keputusan yang sudah dipikirkan Myria masak-masak. Namun, melihat Bima yang beberapa kali menghela napas berat, tak urung ia merasa bersalah. Bagaimana lagi? Status Myria sebagai istri kedua Arka, memang bukanlah orang yang harus Bima ketahui. "Itukah sebabnya, kau tak pernah membuka hatimu untukku?" Bima bertanya dalam nada setengah mengeluh. "Ah, semua itu karena saya menghargai keluarga Bapak, sungguh." "Kau memang selalu memiliki jawaban." "Maaf, jika saya membuat Pak Bima--" "Kau bahkan tidak memberiku kesempatan mengucap selamat atas pernikahanmu." Bima menghela napas. Ia memalingkan wajah dan sejenak menatap Myria, lalu kembali memusatkan perhatian pada kemudi. Myria menatap sang atasan dengan senyum terkrmbang di bibir. "Tetap meminta saya berada di sisi Bapak, itu sudah cukup." *** Menjalani kehamilan yang semakin membesar, Myria begitu santai. Bisa melahap semua makanan yang dia sukai, meski setiap pagi terus diserang mual yang luar biasa. Semua berjalan menyenangkan bagi wanita itu, meskipun dijalaninya seorang diri. Dukungan dari Bima bahkan tak henti mengalir, pria itu sungguh baik. Pada trimester awal ini, seperti saran dokter, sebisa mungkin Myria menghindari perjalanan jauh. Hal yang membuat Bima sering mengadu, tentang sekretaris pengganti yang dia pilih untuk sang atasan. Sekali, hanya dibalasnya dengan senyuman, karena tentu saja Bima belum terbiasa. Bagaimanapun, ia harus membuat lelaki itu bersiap tanpa dirinya, dalam waktu singkat. Sementara Arka, sebisa mungkin pria itu datang berkunjung setiap bulannya, meski hanya dua atau tiga hari. Kehamilan Myria tetaplah prioritas, mengingat Azmya begitu mendamba bayi itu. Tak begitu sulit mencari alasan, karena memang di awal tahun para pengusaha seperti mereka sedang berburu proyek. Kesibukan di awal tahun yang dimaklumi Azmya, untuk sabar dan menanti kepastian. Tentang kapan sang suami bersedia menikah, sedangkan Arka sudah berkata jika kali ini tengah melakukan penjajakan dengan seorang gadis. Yang membuat wanita itu optimis, adalah Arka tidak pernah ingkar janji selama ini. "Aku akan tinggal lebih lama," ucap Arka suatu pagi. Ia tengah menemani Myria, di antara kesibukannya. "Jangan. Bagaimanapun Mbak Mya membutuhkanmu,” jawab Myria pelan. Diteguknya jus buah yang disiapkan Arka. Selain pandai mengolah aneka sayuran, lelakinya itu juga terampil memadukan buah menjadi jus yang sarat gizi, juga segar. "Mbak Mya?" Arka mengangkat sebelah alisnya. Ia tidak menyangka jika gadis yang ia taklukkan dengan susah payah ini memiliki jiwa yang besar, mengandung demi wanita lain. Kini, Myria bahkan menyebut Azmya dengan sapaan akrab, tak ada sedikit pun dendam atau iri, layaknya kisah madu di luar sana. "Iya. Kenapa? Bukankah seharusnya aku menyebut seperti itu? Dia kakak maduku, bukan?" Arka mendekat, dan mengusap pipi Myria pelan. "Aku akan segera berbicara kepada Mya tentang ini semua.” "Jangan! Jangan sekarang!" Dengan cepat Myria memotong. "Kenapa, Sweetheart? Saat seperti ini, bukankah seharusnya aku berada di sisimu? Dan itu hanya akan terjadi jika aku mengatakannya kepada Azmya." "Tidak, Mas! Apakah kamu lupa, bahwa kamu berjanji akan menghadirkan anak ke pangkuannya?" "Karena itu, inilah saatnya aku mengatakan semua kepadanya, bahwa aku telah memenuhi janjiku. " "Kamu menjanjikan anak untuknya, tapi kamu lupa bahwa sejujurnya dia tidak pernah menginginkan madu." "Dia yang memintaku melakukan ini, kenapa kau selalu--" "Tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang rela melihat suami mereka b******u dengan wanita lain, Mas." "Dia telah siap saat menginginkan ini semua, Sweetheart, kenapa kau--" "Dia mungkin telah siap, tetapi tidak denganku." "Sweetheart, jangan seperti ini. Kumohon ... apa kau tidak tau betapa aku sangat terluka melihatmu menjalani semua ini sendiri?" "Aku bahagia!" "Jangan keras kepala! Sekali ini, kumohon. Demi anak kita, Myria." Arka berusaha mendebat. "Biarkan semua berjalan dengan keinginanku, atau aku akan berhenti tanpa meminta izinmu sama sekali," desis Myria pelan. "Jika pada akhirnya aku bisa memberikan kebahagiaan untuk orang yang aku cintai, mengapa aku harus terluka?" Sekuat tenaga Myria menahan agar tak ada getar dalam suaranya. Sementara di dalam d**a, gemuruh memenuhi hingga menyentuh seluruh sisi kalbu. Rasa bimbang yang pada awalnya samar, kini terasa semakin muncul ke permukaan. Berdesakan, menuntut takhta atas kekuasaan mereka. Menyergap batin, menciptakan ketakutan tak beralasan. "Apa kau sungguh baik-baik saja?" "Apa yang aku risaukan? Seperti katamu, aku memiliki segalanya. Bisa melakukan semuanya meski seorang diri." "Tidak akan semudah itu, Sweetheart ... aku tahu, ini berat bagimu." "Aku masih memiliki banyak kesempatan. Tidak apa jika kali ini aku membiarkan Mbak Mya memiliki kesempatan itu. Bukankah kebahagiaannya adalah alasanmu menikahiku?" Entah karena kehamilan membuatnya lebih sensitif, tetapi kenyataan menjadi yang kedua serta rasa takut kehilangan membuat Myria terluka saat ini. "Aku menikahimu karena aku mencintaimu!" "Aku akan percaya jika aku bukan Myria!" Myria berkata tak kalah sengit. "Lalu, mengapa akhirnya kau mengizinkanku memilikimu?" Myria menarik napas dalam, sedangkan matanya mulai berkaca-kaca. "Karena sekali saja, aku ingin menjadi kebahagiaan bagi orang lain. Sekali saja, aku ingin melakukan hal besar dalam hidupku, tanpa imbalan uang. Kesalahanku adalah ... karena saat melakukannya aku jatuh cinta jepadamu." "Apa maksudmu, Sweetheart? Mengapa kau berkata seperti itu?" Tak menjawab, Myria beranjak. Bukan untuk menghindari lelaki yang bahkan enggan melepaskan pelukannya itu. Namun, ia butuh ruang untuk sedikit menjauh, agar Arka tak melihat kaca-kaca yang siap meluruh. Merasai ragu yang tiba-tiba hadir, mungkinkah saat ini ia benar-benar sedang cemburu? *** tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN