Hari-Hari Indah

1371 Kata
Semenjak kehamilan Myria memasuki akhir trimester kedua dan perutnya semakin membesar, ia kembali dengan rutinitas sebelumnya, yaitu disibukkan oleh pekerjaan. Ia menemani Bima menyelesaikan beberapa proyek yang sudah berjalan. Menjelang tengah tahun, semua proyek memerlukan beberapa peninjauan, dan proses lainnya. Tak ada yang berubah, kecuali jam kerja yang lebih sedikit, yaitu kembali ke apartemen sebelum malam, dan libur di akhir pekan. Semua juga atas usul sang atasan yang baik itu. Bima juga tidak mengajak Myria bertemu kolega, jika lingkungannya itu tidak ramah bagi wanita yang sedang mengandung. Sedikit berlebihan, pria itu bahkan memberi bonus sepuluh kali lipat dari gaji seharusnya, dan sebuah tas mewah yang merupakan hadiah dari istrinya, Cintya. Cintya bahkan beberapa kali datang ke kantor, hanya untuk membawakan aneka hadiah untuk Myria. Buah, cake, pakaian, dan banyak lagi. Padahal, sebelumnya wanita itu terkenal ketus kepada semua karyawan suaminya, terutama Myria. Awalnya, Myria merasa sedikit aneh melihat perubahan si nyonya besar. Akan tetapi, kemudian ia merasa lucu saat mengetahui alasan dari semua ini. Bahwa istri Bima merasa bersyukur saat tauhu bahwa dirinya menikah dengan pria lain, bukan menjalin hubungan gelap dengan Bima. Perasaan itu sangat wajar, sebab Myria memang terlalu menggoda untuk semua pria. Akhir pekan ini Myria berencana membeli kebutuhan makanan. Beberapa buah di kulkas sudah habis, tetapi entah mengapa ia merasa begitu malas. Sejak pagi ia bahkan enggan untuk beranjak dari pembaringan. Membelai perut yang membesar, saat usianya menjelang tujuh bulan dua minggu lagi. Gerakan janin itu sangat lincah, terlebih saat Myria memperdengarkan file suara Arka. Mungkin, bayi itu merindukan ayahnya seperti juga sang ibunda. Sejak mengandung, ia bahkan terbiasa mengenakan kemeja Arka saat tidur. Aroma caviar lime dan cyrtus apple seolah-olah mewakili kehadiran sang suami. Mengalahkan rasa malas, Myria menuju Cooking Station. Matanya menelisik setiap sudut ruang, seolah mencari sosok lelakinya di sana. Saat Arka mengenakan apron hitam, pun saat ia bermanja dengan memeluk erat dari sisi belakang tubuh tegapnya. Semua terangkai indah dalam ingatan Myria, bak menyaksikan drama usang yang diputar ulang di memori. Langkah Myria terhenti di minibar, yang juga berfungsi sebagai meja makan. Wanita itu menyapukan tangan ke meja marmer hitam yang dingin, mencoba mencari sisa hangat lelakinya yang tertinggal. Tempat mereka bermesra bila bersama. Menopang dagu dengan satu tangan, bibir Myria tanpa sengaja melengkungkan senyuman. Saat ini, rindu menggelung hatinya. Sementara di belahan bumi yang lain, Arka pun merasai hal yang sama. Kerinduan yang membuncah, pada istri kedua dan bayi dalam kandungan. Kebahagiaan yang datang dalam satu waktu, tapi tak berani ia ungkapkan pada Azmya. Padahal, lebih dari siapa pun, ia tahu jika sang istri pertama menginginkan kabar itu, sekadar untuk menyambung semangat hidup yang kian hari kian menipis. Namun, demikianlah Myria. Wanita tangguh yang terbiasa menghadapi segalanya sendiri, tanpa ingin terlihat lemah di mata siapa pun, termasuk Arka. Seperti sekarang, saat ia kembali berjibaku dengan pekerjaan yang menenggelamkan seluruh harinya. Ia seperti memiliki energi ganda dalam bekerja. Melakukan semua yang terbaik yang ia bisa, dan tentu saja membuat Bima begitu tergantung dengan keberadaanya sebagai sekretaris. "Apakah anakku sehat?" Myria yang baru saja tiba dikejutkan oleh Arka yang langsung memeluk tubuhnya. "Waaah, aku harus meminta royalti pada maskapai yang kamu tumpangi, Mas. Karena rasa rindumu, membuat mereka sangat beruntung setahun ini," ucap Myria sambil tersenyum. Ia lantas menutup kembali pintu seraya menyambut pagutan lembut di bibirnya. Setelah keduanya kembali berjarak, Arka lantas berlutut, membantu melepas sepatu yang dipakai istrinya. "Kamu tidak bertanya kabarku?" imbuh Myria. "Aku tahu, kau akan selalu baik-baik saja, bukan?" Arka kembali menegakkan tubuh, setelah meletakkan sepatu ke rak yang ada di sisi kanan pintu. “Bagaimana jika kukatakan aku ingin berlibur bersama suamiku?” “Maka akan kukabulkan dengan senang hati! Kapan kau mau?” sambut Arka dengan semringah. Sebab, sebelumnya Myria tak pernah meminta hal serupa. Mendengar kalimat itu, mata Myria berbinar. Berlibur ke daerah Puncak memang sangat ia impikan belakangan ini, sekedar mengusir lelah dan penat. Lelah akan pikirannya sendiri, juga kesibukan yang tiada habis. Tak mengulur waktu, Arka lantas bersiap untuk liburan tersebut. Ia bahkan bangun lebih pagi, mempersiapkan segala hal yang mungkin dibutuhkan Myria saat berlibur nanti. "Apa kau lelah?" tanya Arka dari balik kemudi. Satu tangan pria itu memegang setir, sedangkan satu tangannya mengusap perut sang istri yang membulat besar. Sementara Myria merebahkan jok, dan berbaring menatap sang suami yang fokus pada jalanan. Akhir minggu seperti ini, arah ke Puncak memang selalu dipadati kendaraan. “Tidak. Aku sungguh bahagia.” Arka tersenyum mendengar jawaban itu. Baru terpikir olehnya, betapa mereka tak pernah menghabiskan liburan bersama, dan hanya sibuk mengejar rupiah. "Apa kau sedang jatuh cinta padaku?" "Selalu seperti itu," jawab Myria pelan, saat Arka memelankan mobil di kemacetan. Memberi kesempatan pada mereka berdua untuk saling menatap satu sama lain. "Yaaah, ternyata di sini hujan," desah Arka. Ia menurunkan kaca, dan melongok demi memandang langit yang gelap. Rintik gerimis mulai jatuh di permukaan kaca mobil. Myria sedikit menegakkan sandaran kursi, ketika mobil melintas di depan Istana Kepresidenan. Memandang hijaunya pepohonan ketika hujan, membawa damai tersendiri di dalam hati wanita itu. "Bolehkah, kalau aku ingin berfoto di sana?" Myria menunjuk deretan lampu jalan yang berbaris di sisi kanan jalan. Bulatan putih yang berpadu dengan hijaunya hutan lindung itu menambah keindahan jalanan, terlebih saat hujan seperti ini. Bagai lukisan karya sang maestro, yang disaput warna putih. "Apakah anakku yang menginginkannya?" tanya Arka memastikan. "Aku yang--" "Kalau begitu, kita jalan terus. Kau bisa sakit jika melakukan hal itu." Arka mengacak rambut wanita yang mengerucutkan bibir itu. "Ish! Akan jadi foto yang bagus, kalau aku mengambil foto di saat hujan," Myria merengek. "Kau bisa sakit." "Pleaseee ...!" Myria menangkupkan tangan dengan wajah memelas, membuat Arka tersenyum dan menggeleng. Tak pernah wanitanya semanja itu sebelumnya. "Mau kuberitahu bagaimana cara menikmati hujan?” Mendengar itu, mata Myria berbinar. Ia mengangguk cepat. “Buka saja jendelanya, lalu keluarkan tanganmu. Kau bisa menikmati hujan tanpa perlu keluar. Cobalah!" "Benarkah?" "Coba saja. Kau akan tau setelah itu." Myria menurut. Dia mengulurkan telapak tangan, menikmati tetesan hujan dengan memejamkan mata. Ia merasakan kedamaian yang menyusup dalam hati, tatkala sejuknya hujan menyentuh telapak tangannya. Tanpa sadar, bibir wanita itu mengulum senyuman. “Kenapa tiba-tiba kau ingin ke tempat itu?" tanya Arka, menyebut restoran tepi sungai yang menjadi tujuan mereka berdua. "Aku ingin minum yogurt dan makan coklat sepuasnya." "Aku bisa membelikanmu semua itu, tanpa harus terjebak kemacetan seperti ini." "Anakmu yang mengajakku. Apa kamu masih menolak?" Myria mencebik. "Kalau hanya yogurt, kau bisa minum di mana saja, bukan?" "Aku ingin berfoto dengan memeluk patung sapinya." Lagi-lagi jawaban Myria membuat Arka menggeleng. Butuh satu jam lebih Arka dan Myria sampai di restoran yang ramai, sedangkan hujan semakin deras menitikkan tiap buliranya. Seolah ingin berkuasa, menggantikan malam yang menyapukan kelamnya ke seluruh semesta. Arka membuka pintu, dan memeluk Myria. Di bawah naungan payung kecil, keduanya saling berpeluk untuk menghindari tetesan air. Mereka beriringan menuju pintu masuk, yang terdapat beberapa orang berdiri menunggu hujan berhenti. "Dingin?" tanya Arka saat menangkap Myria yang sedang menggosokkan kedua tangan. Kebiasaan wanitanya itu saat berada di tempat dingin. "Pakai ini." Arka lantas membuka jaket yang dikenakannya, lalu memakaikannya pada Myria. "Tidak perlu, kamu bisa masuk angin nanti." "Ada kau yang akan memelukku," bisik Arka. Tentu saaja itu membuat wanitanya tertunduk sambil mengulum senyuman. Sepasang suami istri itu menuju ke lantai atas, ruangan yang menyediakan lukisan tiga dimensi. Myria mengambil beberapa pose lucu, lalu berkeliling ke seluruh ruangan. Sepanjang berada di lantai atas ini, Myria selalu menggelayutkan tubuh pada lelakinya. Mencipta nyaman yang luar biasa, yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Sayangnya, mereka sampai di tempat ini saat malam. Hal itu membuat keduanya tak bisa menikmati pemandangan indah yang tersaji, sebagai latar belakang unggulan tempat ini. "Sudah malam, kau harus istirahat." "Tapi aku masih belum puas memeluk patung sapi di bawah sana, Mas.” "Baiklah, ayo." Arka meraih pinggang Myria saat berjalan menuruni tangga. "Aku juga ingin memakan beberapa porsi sosis!" ucap Myria bersemangat. "Baiklah, apa lagi?" Arka mendekatkan wajahnya. "Membeli banyak yogurt dan coklat!" "Lalu?" "Ng ... aku ingin menciummu," bisik Myria tepat di telinga sang suami. Apa yang ia lakukan sontak membuat pria itu tertawa. Namun, dengan cepat Arka menutup mulut dengan telapak tangannya.sambil mengedipkan mata. "Apa tidak masalah, jika kita langsung ke hotel saja, tanpa membeli coklat greentea yang kau mau?" Arka menggoda sembari mendaratkan kecupan di pipi istrinya. *** tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN