Berbeda dengan kedatangan Arka sebelumnya, kali ini Myria sengaja meminta cuti. Selain ingin menghabiskan waktu bersama yang terkasih, wanita itu tak khawatir lagi karena sekretaris pengganti yang ia pilih sudah mulai bisa beradaptasi dengan Bima. Atasannya itu bisa menerima, meskipun pada awalnya gadis itu sempat ingin menyerah karena sikap ketus Bima.
Seperti biasa, Myria duduk di kursi bulat tinggi yang terletak tepat di belakang Arka berdiri. Mata indah wanita itu menatap ke arah lelaki yang sibuk dengan spatula, dengan sesekali aku menggoda dengan menarik-narik ujung kaus yang dikenakan Arka.
"Ada apa?" guman Arka di antara kesibukannya.
"Masih lamakah?"
"Kau sudah lapar?"
"Aku merindukanmu," ucap Myria dengan suara dibuat selembut mungkin.
Sekejap kemudian Arka berbalik. "Kau bahkan lebih seksi saat seperti ini."
"Lalu, kenapa kamu masih di situ?" Myria berkata dengan nada dibuat-buat, sambil melipat kaki. Menampilkan pahanya yang mulus, berpadu dengan aura seksi yang kian memancar selama ia mengandung.
Arka mendekat sambil melepaskan apron yang sedari tadi melekat di bagian depan tubuhnya. Dengan gerakan cepat, pria itu memindahkan tubuh Myria dan mendudukkan ke meja marmer, membuat wajah keduanya sejajar kini. Untuk beberapa saat, keduanya tenggelam dalam ciuman panjang nan memabukkan.
Setelah terengah, mereka saling melepas, dan mengambil kesempatan bernapas. Mengisi kembali d**a dengan udara yang sempat tertahan, di antara kelembutan yang sempat tercipta.
"Apakah tawaranmu mengabulkan apa saja yang kuinginkan saat itu masih berlaku?" bisik Myria dengan tatapan lembut.
"Apa saat ini, kau telah mempunyai permintaan sebagai hadiah dariku?" Arka mendekatkan wajah, hingga hidung keduanya saling menyentuh.
"Apa kamu sungguh akan mengabulkannya, Mas?" Ragu, Myria berucap.
"Mintalah, akan kukabulkan, apa pun itu," balas Arka lalau mendaratkan kecupan singkat di bibir Myria.
Perlahan Myria melepaskan tangan yang sedari tadi melingkar di tengkuk sang suami, lalu menggenggam tangan Arka. Menatap kedua manik kecoklatan milik lelaki itu, coba menyalurkan apa yang dirasakannya saat ini. Sejenak wanita itu memejam, mengambil napas dan coba menekan suara setenang mungkin, agar gemuruh dalam hatinya tak membawa getar.
"Aku ...."
"Mintalah, Sweetheart. Aku akan mengabulkannya, selama ini kau tak pernah meminta apa pun, bukan?"
"Bolehkah aku ...." Ragu, Myria menelan ludah. Berbagai kecamuk dan bisikan memenuhi kepala, saling berdesakan dan memaksa keluar dari tempatnya.
"Apa?" tanya Arka pelan, tepat di depan wajah Myria. Mengantarkan embusan napas yang membelai wajah wanita itu.
"Mengabaikan segalanya, menuruti kata hatiku, bolehkah, jika aku ingin menjadi satu-satunya untukmu?"
Dekapan Arka melonggar saat mendengar kalimat itu. Sementara dari dari wajah yang menunduk, Myria melihat lelakinya bergerak mundur, selangkah mencipta jarak. Membuat Myria seakan-akan terhempas dari bahagia dan perasaan berbunga beberapa detik yang lalu. Mengantarkan buliran-buliran bening dari wajahnya meluruh ke lantai.
***
Arka mematung beberapa saat sambil menatap Myria yang menunduk dan terisak. Ia membiarkan wanita itu larut dalam tangis, tanpa mengucap apa pun, dan hanya berusaha memahami. Ia tahu betul, jika saat ini Myria ingin selalu di dekatnya, juga membutuhkan perhatian lebih. Itu sebabnya, mungkin dia tidak bisa berpikir dengan baik, dan sebagai suami Arka tentu memahaminya.
Posisi dan status Myria memang tidaklah mudah, dan Arka paham hal itu karena ulahnya. Belakangan istrinya ini sering merasa bahwa kehadirannya hanya sebagai tempat mendapat keturunan saja, padahal tidak demikian adanya. Ia benar-benar mengasihi Myria sebagai seorang wanita, juga seorang istri.
Myria masih tenggelam dalam isak, saat Arka menarik sebuah kursi, lalu duduk dan bertumpu di pahanya. Lelaki itu menengadah, lalu memindai wajahnya yang menunduk dengan tatapan lembut. Tatapan khas yang membuat pertahanannya runtuh dan menyerah sejak pertama kali Arka menyatakan cinta.
"Apa akhirnya kau ingin menyerah?" tanya Arka. Ia berucap sambil melingkarkan tangan ke meja, membingkai pinggul Myria yang duduk di sana. "Apa pada akhirnya kau ingin mengakhiri semuanya?" Lagi, ia coba menyelami perasaan wanitanya.
Tak mendapat respons, ia merunduk dan mendekap perut istrinya, membenamkan wajah di sana untuk beberapa lama. Merasakan gerakan halus bayi yang umbuh di rahim Myria. Sesosok malaikat kecil yang didamba setelah sekian lama.
"Seperti kau adalah milikku, aku juga milikmu seutuhnya, Sweetheart. Seperti inginmu, aku tidak pernah berbagi saat bersamamu, dan sebaliknya," bisiknya lagi.
Sebagai lelaki, Arka merasa satu sisi hatinya tersentuh melihat Myria selemah ini. Tidak pernah sekali pun wanitanya ini meruntuhkan harga diri demi apa pun sebelumnya. Akan tetapi, saat Myria mengiba dan ingin menjadi satu-satunya, tentu ada yang salah.
"Kau lelah, istirahatlah," kata Arka sambil merengkuh tubuh istrinya. Membawa tubuh dengan perut membulat itu ke ranjang, dan membaringkannya perlahan.
"Apakah aku pernah memintamu untuk seperti ini?" tanya Arka, sambil memeluk Myria.
"Apa aku pernah membiarkanmu bersedih?" bisiknya lagi, yang hanya diabaikan.
"Bukankah sudah kukatakan, aku tidak akan membiarkanmu merasakan kepayahan ini sendiri?” Arka menjeda kalimatnya sejenak. “Aku mencintaimu, karena kamu berbeda, Sweetheart. Kamu wanita paling tangguh yang pernah kutemui. Baik kamu maupun Azmya, adalah harta tak ternilai bagiku.” Arka mengusap perut Myria beberapa kali.
"Kalian memiliki istana masing-masing di hatiku, tanpa pernah aku berusaha mengubahnya, tanpa ingin menukarnya. Sampai saat ini, aku menuruti semua inginmu. Saat kamu memutuskan untuk merahasiakan semua ini, sedangkan Azmya sudah mengurus segalanya di pengadilan, apa aku pernah memaksamu?”
Mendengar banyak kalimat Arka, Myria hanya memejam. Membuat banyak bulir air jatuh dan membasahi bantal. Ia bahkan bingung dengan dirinya sendiri, tentang rasa takut kebilangan yang amat mendominasi. Padahal sejak awal, ia paham jika hal ini akan terjadi.
"Saat kamu mengembalikan semua yang kuberikan sebagai tanggung jawabku, apa aku marah? Apa aku pernah membatasimu bekerja? Tidak bukan? Aku sama sekali tidak ingin mengubah apa pun darimu, Sweetheart," ucap Arka lembut, sembari mengeratkan pelukan.
"Apa kau pikir, aku akan memisahkanmu dari anak kita? Apa kau berpikir aku sejahat itu padamu? Apa kau juga berpikir aku hanya menginginkan anak untuk Azmya, lalu pergi setelah meninggalkan luka untukmu?” Arka merasa tubuh Myria semakin bergetar.
"Saat aku ingin lebih lama bersamamu, kau berkeras meyuruhku pulang. Dengan alasan kau terbiasa sendiri. Menurutmu, bagaimana perasaanku saat meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini?” Arka menarik napas dalam-dalam, lalu mendaratkan kecupan di helai rambut istrinya.
"Aku memilihmu, sama sekali bukan untuk menyakitimu, Sweetheart. Dan seperti katamu, bukankah kau bersedia menerimaku, karena kau mencintaiku? Tetaplah menjadi dirimu, aku tidak ingin mengubah apa pun ... lakukan apa pun yang menjadi keputusanmu. Kembalilah seperti Myriaku yang dulu. Karena aku sangat mencintai Myria yang teguh, yang angkuh dengan prinsipnya. Jangan seperti ini, hmm?"
Pada akhir kalimatnya, Arka membalikkan tubuh Myria. Membuat keduanya berhadap-hadapan. Saling menatap, seperti tengah berusaha menyelami perasaan satu sama lain.
Semua memang salahku. Sejak awal, semua salahku. Salahku, karena berpikir ini akan mudah, salahku karena berpikir semua bisa kuatasi layaknya pekerjaan dan perebutan proyek.
Arka meraih kepala Myria untuk bertumpu pada lengannya. Wanita itu lantas meringkuk. Mencari nyaman demi mengusir sesak dalam d**a, dengan menyembunyikan wajah dalam d**a suaminya. Berharap cara ini akan menemukan damai, seperti sebelumnya.
***
tbc