"Apa kau bersungguh-sungguh?" Bima bangkit dari duduknya, dan menghampiri Myria yang berdiri tepat di seberang meja kerjanya.
"Iya, Pak."
"Myria, bukankah sudah kukatakan untuk tetap mendampingiku? Di sisiku?"
"Maafkan saya, Pak."
"Kau bisa ambil cuti selama yang kau inginkan, tapi jangan seperti ini."
"Sudah saatnya saya menepi dari semua ini, Pak. Karena pada kenyataannya, saya adalah wanita biasa yang harus berada di rumah."
"Kecuali kau bukan Myria, kecuali kau tidak menemaniku selama lima tahun ini, mungkin aku akan percaya."
"Pak .... "
"Aku anggap ini tidak pernah terjadi." Bima mengambil surat pengunduran diri yang tadi diletakkan Myria di meja, lalu merobeknya. Sementara, Myria hanya tertunduk. Ia paham, tidak akan mudah melepaskan diri dari Bima setelah sekian lama.
"Jangan membuat posisi saya semakin sulit, Pak. Saya mohon--"
"Apa yang terjadi, Myria? Ada apa denganmu? Apa yang kurang dariku selama ini?"
"Tidak ada yang kurang, Pak. Selama ini, Bapak sungguh baik. Tapi, saya benar-benar ingin istirahat, mengurus anak yang sebentar lagi saya lahirkan, juga--"
"Aku anggap tidak pernah mendengar apa pun."
"Pak ... saya--"
"Sudahlah, kau boleh keluar dari ruangan ini."
"Saya akan kembali ke kampung halaman saya, Pak. Orang tua saya sudah semakin tua. Sebagai anak, saya ingin menemani mereka di masa tuanya. Bagaimanapun, memiliki anak perempuan di perantauan, tidaklah menenangkan mereka." Myria berkata sambil menjatuhkan pandangan ke lantai, saat Bima menatapnya lekat.
"Myria ...."
"Maafkan saya, Pak. Tapi keputusan ini sudah saya pikirkan sejak lama."
"Ah ... kau memang selalu punya cara untuk bertahan, pun demikian saat kau ingin pergi."
"Saya sudah menyiapkan semuanya, Pak. Sampai beberapa bulan ke depan, Bapak masih tetap bisa menghubungi saya, dan saya akan membantu dengan senang hati."
"Ah, aku ... apa yang bisa kulakukan untuk menahanmu lebih lama?"
"Terima kasih, Pak ... terima kasih untuk semua yang--"
Tidak selesai kalimat Myria, saat Bima mendekapnya dengan erat. Pria itu terdiam sejenak, sebelum berkata pelan, "Apa yang bisa kulakukan untuk menahanmu tetap di sini?"
Myria mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh. Jika berpisah dengan Bima saja seberat ini bagaimana mungkin dia bisa berpikir untuk menjauhi Arka? Membayangkan itu, lagi-lagi, air matanya meluruh pada saat yang tidak tepat. Tak mampu ditahannya, meski telah berusaha sekuat tenaga. Ia menunduk sesaat, menumpahkan tangis hingga membasahi bahu atasannya itu.
Meski pada awalnya Bima sama dengan lelaki kebanyakan di mata Myria, tapi pria ini menjadi satu dari seribu. Betapa tidak, di tengah gemerlap metropolitan yang mungkin bisa menenggelamkan kapan saja, Bima terus mendukung dan melindungi Myria. Bahkan pria itu tak henti memintanya untuk tetap di sisi.
"Jadwal periksamu dua hari ke depan, aku akan menemanimu," kata Bima seraya melepaskan pelukan.
“Jika ada yang bisa saya lakukan untuk berterima kasih, maka akan saya lakukan dengan senang hati, Pak. Tapi jika Bapak menginginkan saya tetap tinggal, saya sungguh tidak bisa.” Myria menatap Bima dengan mata basah.
“Aku tau. Jaga dirimu, nanti aku antar periksa seperti biasa.”
***
Perkiraan kelahiran yang tinggal beberapa hari, membuat Bu Retno datang ke Jakarta untuk menemani Myria. Wanita itu melangkah menyusuri terminal kedatangan Bandara Soekarno Hatta sambil mengedarkan pandangan mencari putrinya. Ia lantas tersenyum sekilas, saat melihat Myria, melambai di kejauhan.
“Bagaimana kabarmu?” Bu Retno mengusap perut Myria setelah putrinya itu menyambut dengan pelukan hangat.
“Seperti yang Ibu lihat, kami kangen sama Ibu.”
“Seharusnya kamu nggak usah jemput. Ibu bisa naik taksi.”
“Ini tadi sekalian jalan-jalan, Bu.” Myria melepaskan diri dari pelukan sang bunda, memberi kesempatan pada Arka untuk menyapa.
"Ibu dan Bapak apa kabar?" Seperti Myria, Arka menyambut dengan mencium punggung tangan Bu Retno. Ia lantas meraih kopor dari tangan mertuanya, lalu ketiganya beriringan menuju area parkir.
"Ibu baik, bapakmu juga. Kami semua baik," jawab Bu Retno dingin.
"Maaf kalau saya merepotkan, Bu--"
"Myria anakku, apa yang membuatmu harus minta maaf?" Bu Retno berucap pelan. Akan tetapi tekanan pada suaranya berhasil membuat raut wajah Arka berubah. Selalu seperti ini, saat mereka dipertemukan.
Untuk pembawaan, Bu Retno ini seperti Myria dengan tampilan lebih tua. Tatapan mata, suara, semua begitu mirip dengan putri sulungnya itu. Sehingga ketus yang ia tampakkan tak membuat Arka heran sebenarnya. Hanya saja, pria itu tahu jika semua sikap sang mertua beralasan.
Itu karena Arka yang tidak memenuhi tuntutan Bu Retno untuk melegalkan pernikahan. Padahal, wanita itu tidak tahu jika Myria-lah yang melarang Arka melegalkan pernikahan mereka secara hukum. Membuat sang menantu serba salah, berada dalam dua wanita yang memiliki sifat menuntut.
Sikap Bu Retno semakin sinis semenjak Myria mengandung. Menurutnya, melegalkan pernikahan di catatan sipil sangat diperlukan menyangkut dokumen kenegaraan cucunya kelak. Ia tak ingin anak yang akan terlahir itu tak memiliki status di mata hukum. Namun, segala keinginannya terbantahkan karena keras kepala Myria. Bagaimanapun, tidak ada yang bisa mendebat saat Myria mengambil keputusan, meskipun Arka menjadi pihak yang disudutkan.
Jika ada yang bertanya mengapa Myria ingin merahasiakan status dan kehidupannya, itu karena ia tak ingin membahagiakan Azmya dengan terlebih dahulu menyakiti wanita itu. Bahkan, apa yang dilakukannya sekarang adalah demi memberikan bahagia pada sang suami. Demi cinta, ia rela melakukan hal tidak masuk akal ini. Merelakan karier, juga mengandung bayi yang akan diberikannya pada wanita lain.
Keadaan Azmya sungguh tidak baik, hingga detik ini. Kalau ada yang bisa membuat wanita itu bertahan dan tersenyum, adalah karena Arka menjanjikan untuk menikah, dan memberikan anak. Itulah yang membuat Myria dilanda gundah. Satu sisi ia ingin egonya berkuasa, tapi di sisi lain tak ingin melukai lelaki terkasih. Sebab, ia paham betul jika tujuan terbesar sang suami adalah membahagiakan Azmya sepanjang sisa hidup wanita itu.
Myria terjaga saat merasa ada yang aneh dengan perutnya. Tiba-tiba terasa mulas, diiringi gerakan bayinya yang sangat aktif. Sementara, perkiraan lahir masih dua hari ke depan. Waktu masih menunjuk pukul dua pagi, tapi rasa gugup karena perut yang tak nyaman membuatnya beranjak pelan, lalu melangkah keluar kamar.
Myria menghampiri Arka yang terlelap di sofa ruang tengah. Unit yang mungil, membuat hunian nyaman miliknya hanya terdiri dari satu kamar saja. Sementara, seluruh ruangan ditata apik tanpa sekat. Itu sebabnya, saat sang ibunda datang seperti sekarang, suaminya akan tidur di ruang tengah.
Dengan langkah pelan, ia menghampiri Arka yang tengah damai dalam buai mimpi. Melalui temaram lampu dari mini bar, ia mengamati lelakinya yang terlelap. Ia lantas melabuhkan tubuh di lantai beralas karpet, membuat wajahnya sejajar dengan Arka sekarang. Dibelainya wajah tampan sang suami, sambil memperbaiki letak selimut.
Seketika terbentuk lengkung senyum di bibir Myria. Ia berpikir, sungguh hanya wanita beruntung yang bisa berada di sisi lelaki sebaik Arka. Sosok yang selalu bisa memberikan damai, dan mengajarkan arti hidup. Berjuang dan menang tanpa menginjak orang lain, bahagia tanpa merampas hak bahagia hati lainnya.
"Apa mungkin kau ingin sesuatu?"
Myria mengerjap, ketika Arka menangkup telapak tangannya. Pria itu lantas mengecup tangan wanitanya dengan lembut. "Ah ... apa aku membangunkanmu?"
"Bahkan saat tertidur lelap, hatiku berdebar saat kau menghampiriku." Arka membuka matanya perlahan.
"Ah ... benarkah?" Tak urung, kalimat gombal yang dilontarkan Arka membuat Myria tersipu.
"Hmmm ... kemarilah."
Arka menepuk sisi sofa tepat di hadapannya, sebagai isyarat agar Myria berbaring di sana. Wanita itu menurut, lalu didekapnya dengan hangat. Sementara, satu tangannya melingkar di perut Myria yang bulat sempurna. Ukuran sofa yang tak begitu besar membuat mereka merapatkan tubuh satu sama lain.
“Kenapa? Susah tidur karena aku tidak memelukmu?”
"Tiba-tiba, aku merasa mulas."
Mendengar itu, Arka tersentak. "Benarkah? Bukankah kata dokter masih dua hari lagi?"
"Tapi, tetap ada kemungkinan maju, dan kali ini lebih sakit dari sebelumnya ... mungkin, hari ini ... ah, aku gugup."
Mendengar ucapan sang istri, Arka berniat bangun. Namun, tangan Myria mencegahnya, dan berkata, "Tetaplah seperti ini. Saat takut begini, aku ingin di pelukanmu saja."
"Jangan berpikir hal yang tidak-tidak."
"Aku hanya gugup dan sedikit takut."
"Tidak ada yang perlu kau takutkan. Ada aku di sini. Aku akan selalu menemanimu melaluinya”
"Aku .... " Myria ragu.
"Tidurlah selagi kau bisa. Jika besok anak kita lahir, maka kau butuh tenaga lebih, bukan?"
"Rasa mulas ini membuatku takut. Dan sepertinya, aku tidak akan bisa kembali tidur."
"Haruskah aku bernyanyi untukmu?" Arka turun dari sofa dan duduk tepat di depan wajah istrinya yang berbaring miring. Digenggamnya jemari wanita terkasih, seperti sedang menyalurkan energi positif.
"Sweetheart, apa kau sungguh mencintaiku?" tanyanya Arka pelan.
"Kamu masih bertanya?" balas Myria. Ia menggeliat, saat mulas semakin terasa jelas, membuat jantungnya semakin berdebar keras.
"Demi cintamu, bisakah kau mengabulkan satu permintaanku?"
"Ahh ...!" Myria mengigit bibir, ketika sakit itu datang lagi. Namun, ia masih berusaha untuk setenang mungkin.
"Sakit?" Arka membelai kening wanitanya. "Setelah semua ini, bolehkah aku minta sesuatu padamu, Sweetheart?" ulangnya.
"Apa semua yang kuberikan padamu masih kurang, Mas?"
"Tidak ada yang kurang darimu. Hanya saja, aku akan meminta satu hal lagi padamu. Dan kupastikan bahwa ini adalah permintaan terakhir."
"Terakhir? Mungkinkah--"
"Setelah ini semua, maukah kau tetap berdiri di sisiku? Tetap seperti ini, bersama membesarkan anak kita dengan segenap kasih sayang yang kita miliki untuknya." Arka berkata sembari mengusap perut Myria dengan lembut.
Kalimat itu membuat satu hantaman mengenai jantung Myria. Betapa tidak, permintaan Arka tersebut adalah hal yang sangat sulit ia sanggupi.
"Mas--"
"Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku, Sweetheart."
"Mas Arka, aku --" Myria tercekat, tanpa mampu berucap.
"Berjanjilah. Kumohon, Sweetheart." Arka menatap manik kelam istrinya dengan penuh harap. "Jangan pernah pergi .... Aku mencintaimu." bisiknya kemudian. Ada getar yang berusaha ia redam, sedangkan matanya tampak berkaca. Sesulit inikah ia bertahan, memberi rasa nyaman saat Myria terlihat mulai menyerah?
Sikap manja Myria beberapa hari belakangan membuat Arka menduga-duga, jika wanitanya ini berusaha melepas. Awalnya ia berpikir, jika sikap tergantung Myria karena kehamilan. Akan tetapi, tidak demikian adanya. Ia menangkap ada yang berbeda dari gestur Myria. Oleh sebab itu, ia tidak ingin kecolongan, dan meminta kesediaan wanita itu bertahan, sebelum terlambat.
Mendapati reaksi Myria yang bungkam, Arka merunduk. Lalu dengan lembut, ia kembali menyentuh dan membungkam Myria dengan cintanya. Seolah-olah berusaha melebur segala ragu yang memenuhi segenap jiwa.
Myria memejam, membuat dua bulir bening mengalir di kedua sudut matanya. Ia bahagia, sebab Arka masih sama seperti saat pertama kali. Lembut saat menyentuh, juga penuh perhatian. Namun, keteguhan pria itu memintanya tetap di sisi, entah mengapa semakin membuat ia yakin untuk segera menjauh dan pergi. Bukan karena tak lagi menaruh rasa, tapi tak ingin membuat Arka bingung nantinya. Tak adil dalam membagi perhatian, lalu hubungan rumit ini akan menyakiti semua orang.
Tetapi sanggupkah Myria menjauh?
**
tbc