Sebait Kejujuran

1600 Kata
Adakah yang lebih sakit, ketika kaki ingin menjauh dan pergi, tapi rasa dalam hati dengan kuat menahan, dan ingin tetap di sini? Myria mengigit bibir dan memejamkan mata, merasai serangan nyeri yang datang semakin sering, juga kecamuk rasa atas ungkapan sang suami. Sekuat apa pun ia berusaha menyembunyikan rencana, tapi tercium juga oleh Arka. Bagaimanapun ia menghindar, tetap saja suaminya itu mampu membaca gelagatnya. Permintaan Arka agar ia tetap bersama, membuat satu sisinya tersayat perih. Bagaimana bisa permintaan itu akan menggoyahkan hati atas keputusan yang ia ambil sejak jauh hari? "Sakit?" tanya Arka. Dari nada suaranya, menggambarkan bahwa pria itu tengah diliputi cemas. "Haruskah kamu menanyakan itu saat ini?" lirih Myria sambil membelai pipi suami terkasih. "Aku sangat mengenalmu, Sweetheart. Lebih dari siapa pun, aku benar-benar mengenalmu. Aku takut, jika--" "Ternyata kamu belum mengenalku, Mas." "Aku takut, karena wanita sekuat dirimu bisa pergi kapan saja, bahkan tanpa izinku. Kau bisa menjauh, yang mungkin saja tanpa bisa lagi kutemukan. Aku--" "Rasanya, cinta ini membuatku lupa. Bahwa ternyata aku memang seperti itu," ujar Myria, dengan menyungging senyum. Sesekali wanita itu meringis, juga menggigit bibir, membuat Arka semakin cemas. "Sekali ini saja, percayalah padaku, hmm? Aku akan melindungimu, juga akan membawamu pada tempat seharusnya. Bukan hanya dalam hati dan bahagiaku." "Apa saat ini, kamu sedang memberiku semangat, Mas?" "Kau bisa melakukan apa pun tanpa aku, Sweetheart. Hanya saja, saat ini aku ingin mendapatkan kepercayaanmu. Biar aku yang berjuang untuk hubungan ini." Arka menatap Myria alam-dalam. Menyusuri setiap lekuk wajah ayu istrinya. "Mas ...." "Sekali saja, percayalah padaku. Izinkan aku melakukan segalanya untukmu." "Apa benar, kamu ingin jawabanku?" Myria balas menatap Arka, yang masih menggenggam tangannya erat. "Aku ingin kau selalu di sisiku. Bersamaku." "Jika hari ini adalah hari terakhirku, maka aku akan menjawab, iya!" "Sweetheart--" "Apa saat ini, kamu sedang mencoba berterima kasih sebelum akhirnya pergi?" "Myria, please!" Myria mengerjap, sadar jika Arka sedang marah sekarang. Satu-satunya alasan lelaki itu menyebut namanya. Tak ingin perdebatan berlarut, ia meringis sambil mengusap perutnya. "Ahh! Bangunkan Ibu, perutku sakit!" Caranya menghentikan perdebatan berhasil, karena Arka bangun tanpa menanti tarikan napas kedua. Pria itu lantas menuju kamar dan mengetuk pelan. Sementara, Myria mengamati lelakinya dengan tatapan sendu di balik mata yang berkabut. Ia tak pernah sanggup melihat Arka mengiba seperti tadi. Betapa pun ia sadar cinta lelaki itu begtu besar, Myria tetap tak akan ingkar pada janji yang telah terpatri. Bahwa hubungan ini hanya akan memberi bahagia untuk Azmya, bukan menjejakkan luka pada wanita itu. Wanita yang sekian lama berkubang dalam harap, di dalam keterbatasan dan nestapa. Tak lama, Bu Retno muncul dan langsung meraih pergelangan tangan Myria. Diamati wajah sang putri yang meringis menahan nyeri, kemudian bertanya, "Apa sudah ada tanda lahir atau semacamnya?" "Belum." Myria menggeleng pelan, lalu berkata setengah merengek, "Tapi sakit, Bu." "Kalau begitu, jangan berbaring ... berjalanlah," kata Bu Retno, yang membuat Arka dan Myria kaget. "Tapi, Bu--" "Itu akan mempercepat prosesnya, Myria. Sementara itu, ibu akan menyiapkan barang-barangmu," tandas Bu Retno yang tak ingin dibantah. "Biar saya saja yang menyiapkannya, Bu," tukas Arka cepat. "Temani saja Myria. Bagaimanapun, saat ini kau lebih dibutuhkannya," ucap Bu Retno lagi. Wanita paruh baya itu lantas berlalu, menuju cooking station. Selepas kepergian Bu Retno, Arka membantu Myria duduk. Melihat wanita terkasih kesakitan, tak urung membuat ia panik bukan kepalang. Bagaimanapun, ini adalah momen yang ia harap sepnajang hidup. "Mana? Sangat sakit? Maksudku, apa? Ah! Apa kau masih bisa menahannya?" Myria tersenyum di antara mulas yang melanda, melihat kepanikan di wajah lelakinya. Wibawa dan ketenangan Arka hilang saat ini. Ia bahagia dan sedih pada saat yang sama, karena benar-benar mampu membuat lelaki tangguh itu luluh, dan terlihat konyol seperti sekarang. Menuruti pesan sang ibu, Myria berdiri dan memeluk Arka dari belakang. Keduanya lantas berjalan pelan mengelilingi ruangan, seperti sedang bermain ular naga. Sesekali lelakinya itu berkisah, apa saja untuk memancing tawa. Tak jarang mereka berhenti, saat ia mengeluh tak sanggup lagi berjalan. Myria bisa saja mengelabui suaminya untuk istirahat, tapi tatapan sang ibu di balik cooking station membuatnya bergidik ngeri. Sementara, Bu Retno mengamati anak dan menantunya itu dengan senyuman di bibir. Ada nelangsa yang menyusup saat menyaksikan itu semua. Laki-laki yang pernah disebutnya tak tegas, ternyata sangat mencintai putri yang begitu ia banggakan. "Selagi bisa makan, makan. Nanti kalo sudah sakit, jangankan makan, sekedar bernapas saja sangat susah," kata Bu Retno sambil mengulur mangkok pada Arka. Senyuman miring disuguhkannya pada Myria, membuat mata putrinya itu membulat karena semakin gugup. "Betul seperti itu, Bu?" tanya Myria dan Arka hampir bersamaan. Lebih dari Myria, Arka terlihat lebih cemas. Dari tirai panjang yang tersibak, terlihat malam sudah menyerahkan takhtanya pada pagi yang menjelang. Sang surya tengah bersiap menabur cahaya bagi semesta, dengan mengukir guratan-guratan terang pada salah satu ufuk, jauh di depan sana. Sederhananya pagi, tapi tampak luar biasa ketika Sang Pemilik semesta mengulur tangan. Mengatur bagaimana yang harus terjadi dengan seharusnya. Pagi yang tak pernah terlambat membuka hari, juga malam yang selalu memeluk bumi dalam kelamnya. Itulah juga yang diyakini Myria akan berlaku dalam hidup ini, hingga tak perlu menjawab apa pun. Bawa semua akan terjadi sesuai garis takdir Sang Maha, tanpa pernah tertukar. Bu Retno mendekat, lalu memeriksa Myria sekali lagi. Ia lantas berkata, "Mandilah, lalu kita ke Rumah sakit." Myria menurut, lalu melangka menuju kamar mandi. Ia meminta Arka menyibak tirai pembatas dinding kaca, menampilkan benderang di luar sana. Diperhatikannya bias sang surya dengan saksama. Terang selalu datang pada waktu yang sama, meski kadang harus mengalah pada gelap yang dibawa sang hujan. Begitupun malam, yang terkadang harus rela mengalah pada benderang bulan. Lalu, apakah mereka semua kehilangan kuasanya atas bumi yang sama? Tidak, bukan? Seperti itulah hadirmu dalam rumah tangga Arka dan Azmya. Memberi terang tanpa mengharap balasan, menjejakkan bahagia meski menikmati luka. Saat ini, Myria berharap bisa menjadi bulan bagi semesta malam di hati Arka. Bersinar lembut, tanpa mengusik kelam di mana Azmya bertakhta, pada sisi hati yang lain. Jika saja semesta berkehendak, maka ia yakin semua akan berjalan sebagaimana adanya. Seperti rencana yang menjadi keputusannya. ‘Tenanglah, Myria! Berbahagialah’ Lagi, Myria membisikkan semangat untuk dirinya sendiri. *** Duduk di belakang kemudi, Arka tampak sangat gusar. Beberapa kali ia berbalik memastikan keadaan Myria yang meringkuk dalam dekapan Bu Retno. Wajahnya sempurna terbalut cemas. Sementara, alam hati merapal banyak doa semoga yang terbaik berlaku untuk sang istri dan calon bayi yang akan lahir ke dunia. Bu Retno yang risih akan sikap Arka lantas menghardik, "Istrimu aman bersamaku!" Tentu, itu membuat Arka semakin gugup dan salah tingkah. "Kau berkonsentrasi saja. Berapa lama kita sampai?” imbuh ibunda Myria. "Sebenarnya tidak jauh, Bu. Hanya saja, ini jam sibuk," jawab Myria. Ia berusaha menjadi penengah atas perdebatan itu. Bagaimanapun, ia turut andil akan sikap kedua orang tuanya pada Arka. Orang tua mana yang merelakan putrinya berada dalam status tidak jelas? Myria tak bisa membayangkan, bagaimana jika ibunya tahu tujuannya menikah dengan Arka. Entah seperti apa reaksi ibunya saat tahu jika dia menik h dengan lelaki ini demi memberikan anak bagi istri pertamanya. Ia mendesah pelan saat menyadari cintanya untuk Arka begitu dalam. Bahkan di saat seperti ini ia masih cemas pada lelaki itu. Myria mengeratkan dekapan pada ibunya, ketika mulas lagi-lagi menyerang tanpa ampun. Datang bertubi-tubi, tak memberi kesempatan bernapas. "Sakit, Bu!" rengek Myria pelan. Namun, berhasil membuat Arka berbalik dengan kecemasan yang sama. "Sebentar lagi, Sweetheart, hanya beberapa puluh meter lagi, sabar ya." Suara Arka terdengar bergetar. Bagaimana ia tidak cemas, penantiannya lebih dari sepuluh tahun akan berakhir hari ini dengan pengharapan yang tinggi. "Aaarghhh!" Tanpa sengaja Myria mengerang. "Kenapa?" tanya Bu Retno, tetap tenang. Pengalaman menjadi bidan selama puluhan tahun membuatnya santai menghadapi Myria. Meski tetap saja ada kecemasan dan iba melihat kesakitan putrinya. Sakit yang akan menyempurnakan kodrat seorang wanita. "Sakit?!" tanya Arka tak kalah cemas dari balik kemudi. "Pertanyaaan macam apa itu?" desis Bu Retno sebagai jawaban. Baru saja Myria akna menengahi perdebatan yang mungkin terjadi, saat mobil berhenti tepat di depan IGD. Secepat kilat Arka berlari masuk, lalu kembali dengan seorang suster yang mendorong kursi roda. "Biarkan dia jalan, Sus!" kata Bu Retno. Ia menghalau seorang perawat yang menyambut Myria. "Tapi, Bu ...." Keraguan Arka lenyap saat Bu Retno menatap dengan sorot mematikan. Akhirnya, ia memutuskan memapah istrinya turun dari mobil. Sementara, Myria tampak semakin kepayahan di bawah pengawasan ibunya. Jangankan bermanja, mengeluh saja ia takut. “Bu,” panggil Myria Saat Arka membantunya berbaring. Membuat Bu Retno berbalik dengan tatap penuh tanya. “Aku mau bicara sesuatu.” Bu Retno memindai wajah Myria dengan saksama. “Mas, boleh tinggalkan aku dan Ibu sebentar? Ada yang ingin kubicarakan.” “Sweetheart—“ “Mas, kumohon.” Tak lagi mendebat, Arka meninggalkan ruang rawat. Menunggu di luar seperti pinta istrinya untuk beberapa waktu lamanya. Ia tetap di luar dan mengabaikan seluruh rasa cemas, sampai beberapa orang suster dan dua orang dokter masuk ke ruangan istrinya. Serta merta ia mengekor, dan mendapati Myria sudah berteriak dalam tangis pilu. Mencakar apa saja demi menahan sakit. Tangis bayi yang menggema memenuhi ruangan VIP tempat Myria berbaring, mengakhiri perjuangan selama lebih dari lima belas jam. Sesosok bayi merah berjenis kelamin perempuan meringkuk di dadanya, dengan rintihan dari bibir yang mungil. Myria memejam, menyelami sukacita yang tak bisa digambarkan lagi. Sakit yang tak dapat dijabarkan beberapa saat lalu, seketika hilang sudah. Terbayar dengan gerakan halus saat kulitnya bergesekan dengan sang buah hati yang lama dinanti. Sama seperti Myria, mata Arka basah. Ia menangis tanpa suara sampai hidungnya memerah. Entah berapa banyak ia menghujani Myria dengan ciuman dan ungkapan terima kasih tiada tara. Larut dalam derai bahagia yang mendekap hatinya ia mengudarakan berbait doa. Tak pernah ia bahagia seperti ini, sepanjang hidup. *** tbc. jangan lupa tinggalkan vote-nya ya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN