Dua Pria

1420 Kata
Kelahiran putri cantik yang diberi nama Arimbi Arkatama, membuat hidup dan hari Myria benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Ia bahkan takjup, karena semua terjadi dalam sehari. Merasai diri seperti orang lain, hidup dengan tenang dan bahagia, berbeda dengan sebelumnya. Tak hanya Myria yang mengalami perubahan, tapi kehadiran Arimbi benar-benar mengubah semua orang. Sikap Bu Retno pada Arka pun ikut melunak. Wajah tua yang masih menyisakan gurat cantik dari masa lalu itu, kini selalu berhias senyum ketika berbicara pada menantunya. Meskipun dalam hati terdalam ibunda Myria itu menyimpan kecewa yang teramat besar pada putrinya, setelah apa yang dikatakan tempo hari. Apa yang dikatakan Myria di rumah sakit kala itu benar-benar di luar nalar. Pasca melahirkan, Myria pulih dengan cepat. Perhatian dan kasih sayang Arka membuatnya menikmati hari bak seorang ratu. Bahkan, ia tak perlu meminta, maka segala kebutuhannya langsung terpenuhi. “Semua sudah ibu catat dan ibu tempelkan di kulkas,” kata Bu Retno sambil berkemas. Tepat seminggu setelah Myria pulang dari rumah sakit, Bu Retno memutuskan pulang ke kampung halaman. Perlakuan Arka pada putri sulungnya membuat ia tidak lagi dilanda cemas jika harus pergi. Menantunya itu benar-benar mempersiapkan diri dengan baik untuk menjadi ayah. Ia bahkan tak menyangka jika Arka begitu piawai mengurus bayi. Mulai memandikan, sampai menimang Arimbi hingga terlelap. Bahkan, Myria pun masih kaku melakukan tugas sebagai ibu. Banyak petuah yang disampaikan Bu Retno pada Myria dan juga Arka. Mengabaikan hatinya yang hancur lebur oleh pengakuan sang putri, wanita paruh baya itu meninggalkan apartemen diantar oleh Arka. “Maaf jika selama di Jakarta saya tidak bisa melakukan banyak hal buat Ibu.” Setelah berkata, Arka meraih tangan sang mertua dan menciumnya dengan takzim. Ia memang selalu sesantun ini dengan keluarga Myria. Bukan hanya meraih simpati, tetapi bentuk ketulusan dan terima kasih karna memberinya izin meminang Myria. Bu Retno mendekap Arka, dengan beberapa usapan lembut di punggung pria itu. Ia sempat kecewa hingga seperti ditenggelamkan dalam jurang dalam. Akan tetapi, melihat sikap Arka pada Myria, membuat ia yakin bahwa putrinya jatuh pada pria yang tepat. “Ibu titip Myria, Arka. Jaga dia seperti kau menjaga Arimbi.” Begitu pesan Bu Retno sebelum tubuhnya menghilang tertelan pintu kaca. Sampai di ruang tunggu, tubuh wanita paruh baya itu meluruh, bersamaan dengan air mata yang membasahi pipinya. Ia bahkan membekap wajah agar isak tangisnya tak terdengar beberapa orang di sekitar. Cukup lama Bu Retno meratap. Tak percaya jika putri yang ia banggakan mampu menjalani kisah yang rumit seorang diri. Rumit yang diciptakan demi membahagiakan suami, lelaki tempat Myria menambatkan hati. Saat tenggelam dalam tangis, ingatannya kembali ke beberapa hari lalu, percakapan dengan Myria di rumah sakit .... "Apa yang kau katakan, Myria? Mengapa kau sebodoh itu?" bentak Bu Retno dengan mata membulat. "Apa kau pikir, anak adalah sebuah mainan yang bisa diberikan pada orang lain dengan mudah? Apa yang ada di kepalamu sebenarnya?" Mendengar cecaran itu, Myria hanya tergugu. Wajahnya tertunduk, tak berani menatap sang ibunda. Sementara tangannya mengusap perut yang membesar yang terus dilanda mulas. Keputusannya untuk mengurai kebenaran tentu sangat menyakiti ibunya sekarang. Ibu mana yang mau terima kenyataan bahwa putri kesayangannya bertaruh nyawa untuk wanita lain? Namun, ia tidak punya pilihan lain selain jujur sekarang. "Ibu tidak membesarkanmu, untuk menjadi wanita bodoh, Myria! Ibu melepasmu, bukan untuk menjadi wanita pengecut!" lanjut Bu Retno dengan suara bergetar. Sementara, air matanya mulai menggenang di pelupuk. "Bu ...." "Kau mengandung demi wanita lain? Ah, Myria! Apa yang coba kau jalani ini? Selama ini ibu berpikir, bahwa Arka itu adalah lelaki paling b******k, karena telah menikahimu tanpa kejelasan status. Tapi kau? Ah! Kau bahkan membuat seorang suami mengkhianati istrinya!" Bu Retno menatap nyalang. Dadanya naik turun, tanda amarah yang memuncak oleh pengakuan Myria sebagai wanita kedua. "Sekali saja, izinkan aku melakukannya, Bu. Aku sangat mencintai suamiku ... aku--" "Tidak ada cinta setolol itu, Myria!" "Seumur hidup, aku hanya ingin mencintai sekali, Bu." "Juga tidak ada omong kosong seperti itu!" "Bu ... ada wanita tidak berdaya yang menginginkan anak ini lebih dari apa pun. Ada suami yang sangat ingin membahagiakan istrinya. Ada sepasang manusia yang menaruh harapan besar padaku, Bu,” ungkap Myria terbata-bata. "Lalu bagaimana denganmu? Apa yang akan terjadi padamu? Apa mereka akan memberikanmu uang? Apa wanita yang berharap padamu itu akan merelakan suaminya untukmu? Apa yang kau pikirkan? Setelah kau menyerahkan anakmu, bagaimana kau akan hidup?" Cecaran demi cecaran dari ibunya terasa bagai ribuan anak panah yang dilepas dalam satu waktu, dan mengoyak hati Myria. Luluh lantak, hingga hancur tak menyisakan darah lagi. Membiaskan ragu agar tetap mempertahankan bayi dalam kandungan untuk tetap menjadi miliknya. "Kau tidak akan bisa melanjutkan hidupmu, Myria ... percayalah," tandas Bu Retno. Wanita itu sempat menepuk d**a, sebelum bahunya terkulai, luruh dalam tangis. “Hanya itu cara terbaikku untuk pulang, Bu. Hanya itu,” Myria meratap semakin pilu. Bu Retno mengerjap, saat terdengar panggilan untuk penumpang tujuan Surabaya. Gegas ia bangkit setelah menyeka mata. Membaur dengan penumpang lain dengan tujuan yang sama. Sementara itu, Arka yang sedang dalam perjalanan pulang disergap lega dan aneh dalam satu waktu. Lega karena sikap Bu Retno yang begitu hangat, tapi merasa aneh karena sorot mata sang mertua mengisyaratkan kesedihan teramat. Namun, dibuangnya segala prasangka, berharap semua baik-baik saja. *** Sejak kepulangan Bu Retno, Arka mengambil semua tanggung jawab atas Arimbi dan Myria. Tak sekali pun ia membuat tidur istrinya terganggu, juga membebani dengan pekerjaan rumah. Seperti pagi ini, ia telah menyiapkan sarapan untuk sang istri, sebelum turun ke area jogging track, menjemur Arimbi. Kegiatan paling menyenangkan, saat menyambut pagi. Mengenakan kemeja oversize berwarna putih, Myria melangkah ke mini bar dan menyantap bubur sayuran yang disediakan sang suami. Angannya melayang, merangkai kepingan kisah yang telah ia jalani hingga kini. Saat ingatannya menjelajah lorong waktu, tiba-tiba ponselnya berdering, mengalunkan nada yang ia sukai. Kening wanita itu bertaut, saat nama Bima tampil di layar ponsel. Jujur saja, panggilan dari sang mantan atasan itu membuat Myria terkesiap. "Selamat pagi, Pak," jawab Myria ragu, pada dering yang mengharap sambutnya itu. “Pagi, Myria. Bagaimana kabarmu? Maksudku, apa kau ada acara hari ini?” Acara? "Saya baik-baik saja, Pak. Pak Bima sendiri apa kabar?" “Apa hari ini kau ada rencana keluar?” "Oh, tidak, Pak. Apakah ada yang bisa saya bantu? " “Aku akan datang ke apartemenmu, bersama istriku. Dia bilang, sangat ingin bertemu denganmu.” "Ah, tapi Pak Bima, maaf saat ini sa--" Tut! Myria mencebik. Sampai saat ini, Bima masih saja memperlakukannya seperti sekretaris. Untuk sejenak ia memutar otak, bagaimana menyembunyikan keberaan Arka yang menjadi rahasia. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dua orang itu bertemu nantinya. Mengabaikan nyeri pada pangkal paha, Myria beranjak. Bergerak ke sana kemari dengan gelisah. Beberapa kali menelepon Arka, tapi tak terjawab. Kenyataan yang membuat gemas, bahwa Arka meninggalkan ponsel di kamar. Sementara, untuk menyusul ke bawah ia belum bisa. Banyaknya jahitan yang didapatkan saat berjuang melahirkan Arimbi membuat lukanya nyeri jika harus berjalan jauh. Itu juga alasan Arka begitu memanjakan selama lebih seminggu ini. Akhirnya Myria memilih pasrah. Biarlah jika semua rahasia yang disimpan rapi harus terbuka hari ini. Toh, ia sudah tak bekerja pada Bima lagi. "Selamat pagi, Mama." Sapaan Arka yang muncul dari balik pintu membuat Myria bangkit dan menyongsong ke pintu dengan tergesa. Tampak suaminya itu tengah menciumi kepala mungil Arimbi sambil mendekat. "Kenapa lama sekali?" cecar Myria dengan gusar. "Apa kau merindukanku?" Arka balas bertanya, dengan kerlingan menggoda.. “Rindu? Dia sudah haus, Mas. Kamu terlalu lama bermain dengannya," cibir Myria setelah mendecih. Ia lantas meraih Arimbi dalam dekapan dan menuju sofa. Bayi itu menggeliat sampai badannya memerah. Sementara, Arka bergegas menuju kamar mandi, sebelum Myria sempat mengucapkan apa pun. "Apa anak manis ini haus setelah berolahraga? Apa Ayah membawamu berlari, sampai kamu berkeringat seperti ini? Apa yang berbau asam ini keringatmu?" Myria menimang sang buah hati yang kini menyesap kehidupan dari tubuhnya. "Apa dia tertidur?" Dengan menggosokkan handuk ke kepala, Arka mendekat. Tatapan pria yang baru saja mandi itu tertuju pada Arimbi yang melekat ke d**a istrinya. "Aish! Lagi, hari ini dia tidur sebelum mandi," ucapnya, sembari mengusap peluh di kepala Arimbi. Ada damai yang menyusup ke hati Myria melihat pemandangan seperti ini terus berulang selama seminggu belakangan. Perlahan, bibir mungil Arimbi lepas dari dadanya, diikuti geliat pelan. Dengkuran halus bayi itu membuatnya tersenyum, demikian juga Arka. Myria bermaksud meletakkan Arimbi ke kamar, saat bel berbunyi. Sontak ia melihat ke pintu, dengan perasaan berdebar. Ia bahkan lupa memberi tahu Arka tentang Bima yang akan berkunjung. Tak menuggu detik berlalu, Arka beranjak. Matanya membulat mana kala mendapati tamu yang kini berdiri di ambang pintu. "Bima?" "Arka?" ** tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN