Keputusan

1044 Kata
"Bima?" "Arka?" Kedua pria itu saling menatap di ambang pintu, seperti akan membakar satu sama lain dengan sorot mata mereka. Sementara, Cintya hanya menatap bergantian pria di depannya dengan banyak tanya berputar di kepala. Seingatnya, Arka adalah rival bisnis sang suami. Meski tak kenal langsung, tetapi ia sering mendengar Bima beberapa kali menyebut nama Arka. Melihat kejadian di depan mata, Myria mendekat, masih dengan Arimbi dalam dekapan. Mengabaiakan tatap Bima yang menuntut jawaban, ia tersenyum dan mempersilakan mantan bosnya itu masuk. Tak lupa, ia melayangkan pandangan pada dua lelaki yang sedang saling menghunjam tatap tajam. Kemudian, ia memberi isyarat agar Bima dan Arka menyudahi perang batin di antara mereka. Bagaimanapun, ia tak ingin dua orang itu saling mengumpat atau membuka aib di depan Cintya. Istri bosnya itu bisa pingsan bila mengetahui bagaimana Bima di luar rumah. Bagai hewan buas yang tunduk pada pawangnya, Bima dan Arka mematuhi tatapan Myria. Tanpa kata, keduanya masuk bergantian, mengikuti langkah Myria yang lebih dulu menuju ruang tamu. Empat orang itu lantas bercengkerama dengan akrab, meskipun awalnya terjebak dalam suasana kaku. Sebagai tuan rumah yang harus menyuguhkan kebaikan untuk tamu, Myria terus saja berusaha menggiring percakapan yang hangat, tak peduli jika sesekali Bima masih mengutus tatapan tajam kepada Arka. Tak hanya bisnis saja yang bersaing, dua lelaki itu masih saja bersaing untuk urusan wanita. Dalam hal ini, tentu Arka-lah yang menjadi pemenang, karena berhasil mendapatkan hatinya yang sejak lama menjadi incaran Bima. "Aah, kenapa kamu tidak memberi tahu kami, Myria? Aku juga ingin menyambut anakmu, bukan?" ucap Cintya, sembari mengusap pipi Arimbi. Membuat bayi yang masih kemerahan itu menggeliat. "Maafkan saya, Bu. Saya takut merepotkan." Myria tersenyum menanggapi tanya untuknya. "Tentu tidak, bagaimana mungkin kamu merepotkan aku? Iya kan, Pa?" Cintya menatap Bima, membuat sang suami kikuk. Saat ini, pemandangan itu membuat Myria tersenyum simpul. Ia tidak menyangka bahwa Bima sedemikian jinak di hadapan istrinya. Padahal, saat menggoda wanita, lelaki itu seperti tak memiliki urat takut sama sekali. "Ah, dia lucu sekali!" ucap Cintya lagi. Ia memandang Arimbi sekilas, lalu bertanya, "Bagaimana dia memanggilmu dan ayahnya?" "Dia memanggil saya mama, dan A ayah." Saat berkata, Myria menunjuk Arka. "Ah, lucunya! Tapi, bukankah seharusnya mama dan papa, atau ayah dan bunda?" gumam Cintya lagi. Mendengar itu, Myria menghela napas berat. Tidak mungkin kujelaskan, bahwa Arimbi juga memiliki Bunda, bukan? "Ah, iya, Myria. Sebagai ucapan selamat, kami akan mengirimkan hadiah untukmu besok." Bima menyela percakapan para wanita. "Tidak perlu repot, Pak--" "Bukankah aku harus berterima kasih, setidaknya untuk alamat yang kau berikan?" *** Myria tengah memakai rangkaian produk perawatan kecantikan di depan meja rias, ketika Arka masuk ke kamar. Arimbi tampak lelap di d**a pria itu, setelah rewel beberapa jam yang lalu. Dari pantulan cermin, Myria memerhatikan bagaimana sang suami meletakkan bayi lelap itu perlahan. Sesaat tubuh kecil Arimbi menggeliat, tapi kembali tenang setelah sang ayah meletakkan telapak tangan ke d**a bayi itu. Menikmati pemandangan syahdu di depan mata, membuat Myria merasa bahwa ia adalah wanita paling bahagia di dunia. Lima belas hari berlalu sejak kelahiran Arimbi, hidupnya terasa sempurna. Namun, itu berarti Arka telah menemaninya begitu lama. Sementara, ia paham jika jauh di belahan bumi lainnya ada wanita lain yang menunggu Arka. Sadar akan hal itu, membuat hati Myria nelangsa. Tak rela melepas keindahan di depan mata. "Kau melamun?" tanya Arka sembari melingkarkan di pinggang istrinya. "Ah ... tidak.” Myria kembali menatap cermin. " Aku cuma bahagia." "Lalu? Kenapa tiba-tiba senyuman itu hilang dari wajahmu?" "Ish! Kamu ini, apakah aku harus selalu tersenyum? Seperti ini?" sanggah Myria, sembari memeragakan senyum di bibir. "Seperti ini!" ucap Arka sembari mendaratkan kecupan ke bibir wanitanya. "Saat ini, apa hanya aku yang melihat bahwa kau semakin cantik?" Arka mengubah posisi, memangku Myria. Keduaya masih saling tatap melalui kaca. "Saat, ini apa hanya aku yang merasa bahwa lelaki ini menggodaku?" "Sejujurnya, aku menginginkanmu," bisik Arka sensual. Saat ini kepalanya menyusup ke tengkuk Myria, menjejakkan banyak kecupan di sana. Menikmati aroma lembut bak candu yang membuat hatinya berbalut rindu jika tak bertemu. "Sayangnya, kali ini kamu harus menunggu lebih lama, Tuan" ucap Myria sambil berbalik, balas mengecup suaminya. "Aish! Ternyata, empat puluh hari itu sangat lama." "Ada apa dengan empat puluh hari?" Myria mengerling. "Ada aku yang menginginkanmu!" jawab Arka. Ia lantas melabuhkan kelembutan panjang hingga keduanya terengah-engah. "Mas.” Myria melingkarkan tangan di belakang tengkuk suaminya, sambil menatap sendu. "Aku rasa, kamu sudah terlalu lama menemaniku." "Maksudmu? Apa kau mengusirku?" "Bukan seperti itu, tapi--" "Apa?" "Kasihan Mbak Mya, kalau kamu terlalu lama di sini." "Apa itu berarti, kau akan ikut denganku?” Myria menghela napas dan mengembuskannya perlahan. Mengambil jarak, ia melepas tautan tangan di tengkuk suaminya. "Kenapa? Kau tidak bisa ikut denganku? Maka aku akan tetap di sini, bersamamu." "Apa yang kamu pikirkan?" "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa yang ada di pikiranmu, sampai kau--" "Mas! Apa kamu lupa, bahwa aku yang memutuskan ke mana akan membawa hubungan ini?" "Hubungan? Kau masih menyebut ini sebuah hubungan, saat kau selalu--" "Ya! Aku yang akan memutuskannya!" "Sweetheart, jangan keras kepala. Saat ini, ada Arimbi di antara kita. Apa kau masih akan terus bersikap seperti ini?" "Kamu tidak akan pernah mengerti, Mas!" "Apa yang tidak kumengerti?" Arka menyela. Meski tahu tak akan menang saat mendebat, tetapi ia berusaha agar Myria mendengarnya. "Mengertilah, Mas! Izinkan aku menikmati bahagiaku!" "Myria, itulah yang selalu coba kulakukan untukmu.” Arka menahan pinggul Myria tetap di pangkuan, mencegah wanitanya itu menjauh. "Kita akan bersama-sama membesarkan anak kita. Apa kau tau, meninggalkanmu melewati kehamilan sendirian itu sudah membuatku sangat tersiksa. Apa kau tidak berpikir, aku akan lebih tersiksa saat jauh darimu saat ini, setelah ada Arimbi?” Myria mengatur napas dan memilih mengatup bibir rapat, tak ingin mendebat lebih dulu. Dikepalnya telapak tangan seerat mungkin, dan meremasnya dalam pangkuan. "Kau akan ikut bersamaku. Setelah ini, kita akan bekerja bersama, sementara Arimbi tinggal di rumah, dalam asuhan dan kasih sayang Azmya.” "Aku akan tetap di sini bersama Arimbi, tidak akan ke mana pun!" "Apa kau masih tidak mengerti, betapa aku mencintaimu?" bisik Arka putus asa, saat suara Myria mulai meninggi. Dia sangat paham jika sekarang Myria dituntut untuk selalu senang, demi menjaga asupan nutrisi untuk si kecil. "Sebesar apa pun cintamu, aku dan Arimbi akan tetap di sini, Mas. Tak akan pergi selangkah un, sampai waktu yang sudah kutentukan!" *** tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN