Keputusan Akhir

1124 Kata
Meski hati dilanda gundah, tapi Arka tetap menampilkan senyum terbaik saat menjejakkan kaki di rumah. Pelukan hangat Azmya menyambut saat ia sampai. Kesehatan wanitanya itu terus menunjukkan prospek baik sejak terakhir kali. Hanya perlu dijaga perasaannya, yang bisa berubah hanya dalam hitungan detik saja. “Capek?” tanya Azmya sambil melingkarkan tangan ke leher suaminya. Sejujurnya, ia merasa ada yang berbeda dari Arka. Namun, ia enggan bertanya. Sebab ia tahu, lelaki itu hanya datang dengan bahagia, bukan yang lainnya. “Kalau aku bilang capek, apa kamu mau turun dari pangkuanku?” Azmya tersenyum, sambil menjatuhkan kepala di d**a Arka. “Kalau kamu bawa adik madu ke sini, pasti aku nggak akan bermanja begini. Kapan kamu mau menyetujui pernikahan yang kuminta? Sebenarnya, siapa wanita yang jadi pilihanmu, sampai proses pendekatanmu lama sekali?” Arka menghela napas dalam sembari memeluk Azmya. Mendaratkan kecupan lembut di pucuk kepala wanitanya itu. Ingin rasanya bercerita bahwa saat ini telah lahir bayi di dalam rumah tangga mereka, tapi ia tak ingin melanggar aturan yang ditetapkan Myria. Berada dalam pusaran rumit seperti ini, Arka merasa dilema. “Sabar, Sayang. Kalau beli baju saja butuh waktu, bagaimana dengan calon istri?” “Sudah tiga tahun dan belum ketemu perempuan yang cocok, apa kamu tidak begitu lambat?” Azmya menelusuri rahang suaminya dengan telunjuk. “Padahal kamu dulu selalu jadi idola perempuan mana saja. Mana pesona itu? Masa iya sama sekali tidak meninggalkan bekas?” Azmya berkata lagi. “Bagaimana keadaanmu?” Arka mengalihkan pembicaraan. Lebih tepatnya, menghindari percakapan yang akan membuatnya semakin merindukan Myria dan Arimbi. Sangat sulit, sebab wajah bulat bayi itu melekat di pelupuk matanya. “Ah, obat-obatan itu bikin mual. Sudah kuganti dengan smoothies, dan juga buah segar.” “Apa semua baik-baik saja?” Arka memastikan. Bagaimanapun, kadang istrinya ini suka melanggar aturan dan anjuran dokter. “Iya. Aku harus sehat sampai kamu menghadiahkan seorang putri cantik, kan?” Kembali Arka menarik napas dalam-dalam. Bayangan Arimbi dengan pipi bulat penuh memenuhi benaknya. Celoteh bayi yang belum genap sebulan itu memenuhi ruang telinga. Membuat desakan rindu dalam hatinya. Namun, ia tak punya daya, bahkan untuk sekadar melakukan panggilan video. Takut jika Myria nekad, lalu pergi tanpa bisa ia temukan. ‘Arimbi, ayah kangen, Nak.’ Arka membatin. “Arimbi.” Tanpa sadar Arka menggumamkan nama itu. “Arimbi?” tanya Azmya sambil mengerutkan keningnya. Tentu saja, itu membuat Arka tergagap. “Ah, m—maksudku, aku akan menamai putri kita dengan nama itu. Apa kamu suka?” Mata Azmya berbinar, kemudian berkata, “Tentu saja aku menyukainya. Jadi, kapan kamu mau menikah?” Sudah, Azmya. Pernikahan itu sudah terjadi. Hanya saja, adik madumu menjaga semua ini tetap rahasia, sebab dia tidak ingin memberimu bahagia dengan terlebih dahulu melukaimu. *** Hari terus berjalan sesuai iramanya, saat malam dengan setia berganti pagi. Terus melaju tanpa henti, dengan menit dan detik yang terus terlewati. Setiap detik Myria begitu berarti, dan selalu dijalaninya dengan bahagia karena Arimbi. Ia begitu menikmati peran baru menjadi ibu, seperti yang Arka ingini. Tak ada lagi heels sebelas atau dua belas senti, tak ada pekerjaan yang menyita waktu, meski berkali-kali tawaran silih berganti menghampiri. Satu hal yang masih sama, adalah ia masih menolak nafkah dari Arka sampa detik ini. Kecuali jika suaminya itu datang dengan hadiah barang, maka Myria tidak mau menerima apa pun. Enam bulan berlalu, Arimbi tumbuh menjadi bayi lucu yang menggemaskan. Lengan dan kakinya padat berisi, membentuk lipatan yang membuat gemas. Matanya bulat bening, mewarisi keindahan milik sang ibu. Sementara, bibir, mata, dan hidungnya adalah jelmaan sang ayah. Benar-benar perpaduan sempurna Arka dan Myria terpahat sempurna dalam bentuk Arimbi. "Arimbi sudah tidur?" tanya Arka saat Myria memeluknya. Sudah dua hari ini pria itu tiba di Jakarta dan kembali menikmati harinya menjadi ayah. Bila ada hal yang sangat membahagiakan bagi Arka sekarang, peran sebagai ayahlah yang akan dipilihnya sebagai jawaban. Segala hal tentang Arimbi, selalu menjadi candu untuknya. Jika biasanya Arka datang atas kerinduannya, maka sekarang berbeda. Setelah hampir empat tahun bersama, akhirnya Myria memintanya datang dengan sengaja. Padahal biasanya, jangankan meminta sesuatu, memberi kabar pun Myria tak pernah jika Arka sedang bersama Azmya. "Mau mencoba masakanku pagi ini?" tanya Arka sambil memutar tubuh. Sehingga kini ia bisa balas mendekap Myria. "Nanti saja... aku masih ingin seperti ini," bisik Myria. Ia menenggelamkan wajah ke ada sang suami, menghirup wangi yang ia sukai. "Apa kau merindukanku?" "Apa kamu tidak merindukanku?" balas Myria dengan sedikit mengangkat wajah. . Arka tersenyum, lalu melepas apron di d**a. Ia lantas mengangkat tubuh sang istri, mendudukkan ke meja marmer. Dipandanginya wajah Myria lekat, dengan tatapan lembut. Entah siapa yang lebih dulu memulai, tapi di antara dirinya dan Myria tak ada lagi jarak sekarang. Bahkan, kini tangannya menyibak terusan yang dikenakan Myria. Untuk beberapa saat, keduanya menikmati alunan irama yang tercipta. Mengawali hari dengan indah di pagi nan syahdu, b******u demi melepaskan untaian rindu. Saling memuja dalam balutan aksi semakin menuntut, sampai lengkingan tangis Arimbi membuat keduanya saling melepas. Tanpa aba-aba, Arka berlari menuju sumber suara, meninggalkan Myria yang masih terduduk di meja. *** Malam semakian beranjak. Arimbi juga telah lelap dalam dekapan, tapi Myria tak juga bisa memejamkan mata. Ia terus memandangi bayi berpipi bulat itu dengan perasaan sendu. Putri terkasih yang siang tadi baru saja menerima makanan pendamping tanpa drama. "Ada apa? Hari ini, kau berbeda dari biasanya?" tanya Arka. Sesuatu dalam d**a Myria berdesir saat tangan Arka menyentuh bahunya. Seketika matanya berkaca, tapi sekuat tenaga ditahannya agar tak meluruh. Malam ini, ia akan menyampaikan semuanya, bahwa ia bersedia memberikan bahagia pada Azmya tanpa mengulur waktu lagi. "Mas ...." Myria menjeda kalimat demi mengumpulkan tenaga juga menepis keraguan. "Hari ini aku akan meminta sesuatu, dan harus kamu kabulkan." "Apa akhirnya kau punya permintaan?” "Aku ingin bertemu Mbak Mya. Secepatnya." Myria menarik napas, menahan tangis sekuat tenaga. "Sweetheart, apa yang--" "Bawa dia kepadaku, kurasa sudah saatnya dia melihat putrinya." Myria berusaha menunjukkan keikhlasan. Namun, kali ini senyum pun sulit untuk dilakukannya. “Apa kau bersungguh-sungguh?" Meski ragu, tak urung mata Arka berbinar mendengar kalimat Myria. Betapa tidak, sesuatu yang diharapkannya sejak lama akhirnya akan segera terkabul. "Iya. Aku yakin." Menepis ragu, Myria berucap. Mendengar getar dalam nada suara Myria, membuat satu pukulan mengenai jantung Arka. Bagaimana mungkin bisa dia berbahagia lalu melupakan perasaan Myria? "Aku tidak akan memintamu melakukannya, Sweetheart ... aku tidak akan pernah memisahkanmu dari Arimbi." Arka menatap istrinya lekat-lekat. Bila dirinya saja susah melupakan Arimbi, bagaimana dengan Myria? "Pertemukan kami dengan Mbak Mya," tegas Myria sekali lagi. Meski berat, tapi janji dalam hatinya harus segera tunai. Menunda menyerahkan Arimbi pada Azmya hanya akan menjejakkan luka dalam hatinya sendiri. "Baiklah, akan kubawa ia kemari secepatnya," ucap Arka pelan. Lalu ia beringsut dan mendekap sang istri. "Terima kasih ...." Myria mendekap Arimbi. Menyesap aroma bayi itu dengan segenap kasih. *** tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN