Hari Terberat (1)

1101 Kata
Kebahagiaan tersirat di wajah Arka sejak pagi. Ia bahkan tidak henti mengulas senyuman di wajah. Seharian ini, tangannya sigap mengemas barang Arimbi, juga milik Myria. Rencananya ia akan mempertemukan kedua istrinya besok, lalu memboyong mereka semua untuk pindah ke bagian barat Pulau Sulawesi sesuai kesepakatan. Arka tidak menduga, bahwa hari yang ditunggunya akan datang secepat ini. Tanpa paksaan, Myria bahkan meminta bertemu Azmya secara langsung. Awalnya, Arka merasa ragu. Namun, kesungguhan Myria membuatnya mengabulkan pinta wanita itu. Jangan ditanya bagaimana bahagianya Azmya, ketika ia menyampaikan kabar bahagia ini, kabar yang sangat mereka harapkan di sepanjang pernikahan. Sementara itu Myria, ia hanya memeluk Arimbi seharian, seolah-olah enggan untuk dilepaskannya. Tak sekali pun meletakkan tubuh mungil itu sepanjang hari ini. Bahkan, saat bayi itu telah terlelap di pangkuan, tak jua dilepaskannya. Myria terus menatap wajah mungil yang terlelap damai. Meski selama ini dirinyalah yang membersamai Arimbi, tetapi ia ingin hari ini lebih istimewa. Ia ingin menjadi orang pertama yang dilihat bayi itu ketika bangun, juga menjadi orang terakhir yang terekam di memori Arimbi, sebelum bayi itu kembali terlelap. "Apa semua sudah?" tanya Myria saat Arka mendekat. Dipandanginya sang suami yang sangat bahagia seharian ini. Terkadang, Myria sangat menyesal. Sebab, kebahagiaan bisa dihadirkannya dengan lebih cepat. Apa daya, sisi egoisnya kadang berkuasa, membuatnya menahan semua lebih lama. Ia pun ingin bahagia. "Ya. Pakaian yang akan kau kenakan besok, juga sudah kusiapkan." Arka lantas duduk di samping Myria. Sejujurnya, Arja tidak paham bagaimana kehidupan ke depan akan dijalaninya. Memiliki dua istri dan membimbing mereka, hidup dengan adil dan bahagia, tentu bukan perkara mudah. Sebab, kebahagiaan tidak terbatas kecukupan materi saja. "Baiklah, terima kasih, Mas. Maaf aku tidak bisa membantumu." Myria menatap Arka yang kini duduk di sisinya. "Tapi, mengapa kau tidak pernah berkata bahwa unit apartemen ini sudah laku? Maksudku, kenapa kau menjualnya?" Arka penasaran. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan pengelola apartemen, dan dia mengatakan bahwa unit yang ditempati Myria telah terjual. "Bukankah katamu kita akan pindah ke Mamuju? Karena itu, aku menjual semuanya." Myria berusaha memberikan jawaban terbaik. Ia tak ingin, ada kesalahan sama sekali dalam keputusan yang diambilnya. "Kita bisa datang kemari saat bekerja, bukan?" Arka mencoba bertanya lagi. "Kamu tidak mampu menyewa hotel untukku?" kilah Myria yang membuat Arka tertawa. Ia teringat saat menghubungi beberapa kolega dan menawarkan apartemen ini. Tempat penuh kenangan yang ingin ia lupakan setelah hari esok berlalu. "Baiklaaah, apa pun untukmu!" Merunduk, Arka mengecup bibir istrinya sekilas. "Bagaimana dengan mobilmu? Kapan temanmu mengembalikannya?" "Teman?" Myria balas bertanya. "Kau bilang, yang datang mengambil mobilmu kemarin itu temanmu?" Arka balas bertanya. "Oh, aku juga sudah menjualnya," jawab Myria santai. "Kau menjual semuanya?" Jawaban Myria tak urung membuat Arka terkejut. Keningnya sedikit berkerut ketika bertanya demikian. "Untuk apa memangnya? Aku tidak membutuhkannya lagi, bukan?" Myria kembali menjawab, tetap santai seperti sebelumnya. "Aah... kau sudah mempersiapkan semuanya. Aku lupa, bahwa kau adalah Myria. Yang tidak pernah meleset sedikit pun jika memperhitungkan apa pun," ucap Arka sambil mengacak rambut Myria. Kamu benar, Mas. Tidak ada satu pun yang pernah meleset, jika aku yang merencanakannya. Sebahagia itukah dirimu, Mas? Mengapa tujuan membuatmu bahagia ini, sungguh begitu sakit bagiku? Myria berusaha menarik napas dalam, mengurai sesak yang kini memenuhi hatinya. Namun, melihat kebahagiaan suaminya, membuat sesuatu di dalam d**a kian terasa sesak luar biasa. Ia tak pernah menyangka jika memberi bahagia bagi yang terkasih akan sesakit ini. "Mari, biar kugendong." Pria itu mengulur tangan, tapi ditepis oleh Myria. "Tidak perlu, biar aku saja." "Seharian ini kau terus menggendongnya, bukan?" "Ah ... itu ...." Myria masih berusaha mendekap Arimbi, tapi Arka dengan lembut mampu membuatnya menyerahkan bayi yang tengah terlelap itu. "Apa kau tak memberikan kesempatan padaku?" Setelah meletakkan Arimbi, Arka mendekat dan membelai pipi Myria lembut. "Aku merindukanmu, Sweetheart." Aku pun akan sangat merindukanmu, Arkatama. Aku ... akan sangat merindukanmu. "Kapan aku tidak merindukanmu?" Myria balas menatap Arka dengan lembut. "Tapi, hari ini, sebelum Arimbi terbagi, aku akan menguasainya." Arka tertawa. Ia sangat paham, bahwa kecemburuan terbesar Myria bukan hanya tentang dirinya. Namun, lebih dari itu, mereka harus siap dengan apa pun, terkait Arimbi. *** "Pak, bawakan koper saya, ya." Begitu pesan Myria kepada pengemudi taksi. Saat ini, Myria telah tiba di lobi hotel yang berlokasi di pusat kota Jakarta, tempat Azmya menunggunya. Jangan ditanya bagaimana hatinya bergetar saat ini. Bukan hanya akan melakukan pengakuan dosa, tetapi ini adalah hari terberat untuknya, seumur hidup. Myria bahkan tidak pernah membayangkan akan hadir menjadi yang kedua, madu pahit bagi perempuan lainnya. "Biar aku saja," kata Arka menawarkan. "Jangan, Mas. Kamu bawa punya Arimbi saja," kata Myria, tanpa dibantah oleh Arka. Lebur dalam sukacita, Arka bahkan tak bisa memikirkan hal lain selain kebahagiaan yang akan menanti di depan sana. Masih lekat dalam benaknya, bagaimana Azmya bersujud dalam tangis, saat ia memberi kabar tentang pernikahannya dengan Myria, beberapa waktu lalu .... “Apa kamu bersungguh-sungguh, Mas? Tapi kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku?” Wajah pucat itu menampakkan binar bahagia. Arka masih teringat bagaimana Azmya masih tertunduk dalam tangis bahagia. Meski ada kesedihan karena kondisinya yang tak bisa menghadirkan kebahagiaan bagi sang suami, tapi kali ini tangisnya benar-benar berbalut bahagia. Ikhlas yang sebenar-benarnya, saat tahu bahwa Arka benar-benar mengabulkan inginnya. “Dia wanita mulia, Sayang. Dia tidak ingin menghadirkan bahagia dengan melukaimu. Dia juga bilang, tidak bisa menjamin kecemburuan, sampai benar-benar siap.” “Tapi, siapa orangnya, Mas?” Azmya penasaran. “Myria. Yang datang bersama Bima waktu itu, saat kau dirawat di Makassar.” Sapaan selamat datang dari pegawai hotel membuat lamunan Arka buyar. Ia berjalan sembari mengamit pinggang Myria, yang mendorong kereta bayi. Keduanya beriringan memasuki lobi tanpa kata, larut dalam pikiran dan perasaan masing-masing. Berjalan menuju lounge dengan penerangan lembut, Arka terus mengamit Myria, seperti sedang menegaskan pada dunia jika wanita cantik itu adalah miliknya. Ia terus melangkah, sampai terlihat Azmya di depan sana. Wanita dengan stelan gamis berwarna dusty pink itu berdiri menyambut, saat jarak mereka tinggal beberapa langkah saja. Myria menghentikan langkah, dan berbalik sebentar. Membuat Arka menatapnya penuh tanya. Mungkin pria itu takut jika Myria berubah pikiran. "Mas, boleh aku minta supaya kamu meninggalkan kami?" “Kenapa?” “Aku hanya ingin berbincang dengan Mbak Azmya sebagai sesama perempuan. Kamu tidak keberatan, ‘kan?” "Baiklah. Pakailah waktu sebanyak yang kau mau." Usai berkata demikian, Arka meraih wajah Myria dan mendaratkan sebuah kecupan di kening wanita itu. Sesaat Myria memejam, dan memeluk pinggang Arka dengan satu tangan. Menikmati dentaman dalam d**a yang nyaris membuatnya lumpuh. Namun, ia yakin bisa melalui semuanya. Bagaimanapun sikap Azmya nanti, semua akan diterimanya dengan hati dan tangan terbuka. “Terima kasih,” kata Myria datar. Myria lantas mengayun langkah yang gemetar. Menjauh dari semuanya, sanggupkah? ** tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN