Setelah Arka berlalu, Myria melanjutkan langkah. Dengan langkah pasti, ia menuju pada Azmya yang menunggu dengan senyum terkembang. Menepis canggung, Myria membalas madunya itu dengan senyuman yang sama.
Myria berhenti tepat di sisi meja yang ditempati Azmya. Istri sah Arka itu berdiri menyambutnya. Keduanya berhadapan dalam jarak satu langkah saja sekarang. Saling tatap satu sama lain, seolah-olah tengah menyelami perasaan satu sama lain tanpa berkata.
"Mbak Azmya ...." Baru saja Myria akan berucap, saat Azmya langsung mendekap dan meluruh dalam tangis.
"Terima kasih, Myria. Terima kasih." Entah berapa kali kata itu terucap oleh Azmya. Lagi-lagi dua wanita itu terjebak tangisan pilu yang tak bisa dijabarkan.
"Aku tidak tahu, bagaimana harus berterima kasih, Myria," ucap Azmya sambil menyusut sisa air mata.
Setelah berbasa-basi sejenak, dua wanita itu duduk terpisah meja bundar, berhadap-hadapan.
"Apa Mbak Mya tidak ingin bertanya apa pun?" Suara Myria memecah kebisuan. "Atau mungkin ... akan mencaci?"
"Mas Arka sudah menjelaskan semuanya, Myria. Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi, karena aku percaya pada kalian. Lagi pula, selama ini Mas Arka tidak pernah sekali pun berbohong," ucap Azmya, sembari menggenggam tangan Myria. Senyumnya terkembang, menebar ketulusan.
"Tapi, bukankah selama hampir empat tahun ini kami berbohong?" Myria berkata pelan.
"Kalian melakukannya demi aku, bukan?"
"Terima kasih sudah percaya kepadaku. Tapi ...." Myria menghela napas demi mengumpulkan keberanian. "Aku mungkin saja nggak sebaik yang Mbak kira."
"Aku tidak tahu, bagaimana Allah bisa mengijabah doaku dengan mengirim wanita semulia dirimu, Myria. Aku sampai-- "
"Aku bahagia, bisa melakukan semua ini, Mbak. Sungguh." Myria menatap wanita di depannya dengan mata sendu. Sekuat tenaga ia membendung air mata agar tidak tumpah sebelum waktunya.
Usai berkata demikian, Myria beranjak. Diraihnya Arimbi yang tengah lelap dalam stroller, lalu meletakkan bayi itu di pangkuan Azmya. Ada yang terkoyak dalam dadanya, begitu melihat Azmya menyambut putrinya dengan suka cita.
Wajah Azmya begitu berseri ketika menyambut bayi Arimbi. Bibirnya menguarkan senyum, mata berkaca-kaca, disertai ungkapan syukur tak henti terucap.
Azmya menghujani ciuman ke wajah Arimbi, sampai bayi itu terbangun. Melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya, satu sisi hati Myria meluruh. Yang terjadi kepada Azya kali ini bagai rintik hujan pada kemarau panjang. Seperti bunga layu yang berusaha bangkit dan segar kembali, hanya dengan setetes air. Tampak penuh suka cita, tapi meninggalkan sakit laksana tertikam belati di hatinya.
"Mbak.” Pamggilan Myria membuat Azmya mengangkat wajah yang sejak tadi sibuk menciumi Arimbi. “Maukah Mbak Mya mencintai Arimbi seperti anak yang Mbak lahirkan sendiri?"
Mendengar itu, Azmya mengangkat wajak dan berucap, "Myria, apa maksudmu? Tentu saja aku akan melakukannya. Kita akan memberi banyak cinta untuk Arimbi.”
"Bukan kita, tapi Mbak Mya.” Myria berkata tegas, suaranya terdengar gemetar.
"Apa maksudmu?” Sejenak Azmya mengerutkan kening, tapi keudian tersenyum sambil berkata, “Oh, aku lupa. Kata Mas Arka, kamu akan bekerja dengannya setelah ini. Jangan khawatir, aku akan menjaganya seperti aku menjaga diriku sendiri, saat kalian berdua pergi. Aku janji," ucap Azmya bersemangat. Wajah cantiknya bersemu kembali, tak lagi pucat seperti sebelumnya.
"Jika aku meminta sesuatu, apa Mbak akan mengabulkannya?"
"Apa pun, Myria. Jika kamu meminta nyawaku atas kesediaanmu melahirkan anakku, maka akan aku berikan."
"Sungguh?"
"Sungguh! Wallahi."
Mendengar itu, Myria mendekat dan menghampiri wanita yang kini memangku Arimbi.
"Myria, ada apa?"
Mengabaikan tanya Azmya, Myria berlutut. Diraihnya tangan Arimbi, dan mengecup telapak tangan bayi itu berkali-kali.
"Arimbi Sayang, jangan nakal, ya, Nak. Baik-baik sama Ayah, sama Bunda. Jadi anak yang manis, mama sayang sama Arimbi." Bergetar bibir Myria saat mengucap demikian. Dadanya terasa sesak, juga air yang mulai berdesakan di pelupuk mata.
"Ya Allah, Myria. Ada apa?" Mata Azmya membulat melihat apa yang dilakukan Myria.
"Jangan seperti ini, Myria, kumohon," lanjutnya hampir menangis.
"Janji untuk membahagiakan Mas Arka telah selesai kutunaikan. Karena itu, aku akan pergi. Aku tidak akan lagi menjadi duri di antara dua orang yang saling mencintai seperti kalian." Tak bisa lagi Myria menahan tangis yang siap meluruh. Ia bahkan menggigit bibir sekuat tenaga agar tidak tergugu.
"Apa yang kamu katakan, Myria? Janji seperti apa? Pergi?" Azmya mulai merasa ada yang tidak benar
"Bagaimanapun, keputusanku menerima Mas Arka adalah salah. Hanya dengan ini, aku tetap menjadi baik. Hanya dengan ini, aku bisa terus mencintai kalian, tanpa sakit, tanpa tapi."
"Myria, kamu bisa meminta apa saja. Percayalah padaku! Jangan seperti ini."
"Aku tidak akan meminta apa pun, meski keserakahan dalam hatiku menginginkannya." Myria menelan getir yang menyapa.
"Demi Allah, Myria. Ada apa ini? Aku yang mau Mas Arka menikah, aku yang mau--"
"Mbak janji akan mengabulkan semua permintaanku, kan? Jadi, tolong cegah agar Mas Arka tidak mengejarku. Lakukan itu untukku!" pungkas Myria. Ia lantas bangkit sembari mengepal erat kedua tangan di sisi tubuh.
"Ya Allah, Myria...."
"Mbak, jangan biarkan Mas Arka mencariku."
"Demi Allah, Myria, jangan lakukan ...." Wanita itu menggeleng keras, air matanya mengalir.
Tak menghiraukan Azmya yang menahannya, Myria berbalik dan melangkah cepat sembari memegangi d**a. Celotehan Arimbi yang sedang didekap Azmya, bagai rantai besi yang erat menahan kakinya untuk tidak menjauh.
Sejujurnya, Myria pun ingin tetap di sini. Melihat gigi pertama bayi itu tumbuh, menyertai langkah pertama yang dia ambil, lalu mendengar Arimbi menyebut namanya. Akan tetapi, apa yang akan dikatakan dunia tentangnya nanti?
Myria tak mau, jika pada akhirnya ia tak lebih dari sang penggoda di mata semesta. Wanita kedua yang hadir dengan banyak hujatan, apa pun alasannya. Itu sebabnya ia memutuskan menjauh, sebelum cinta semakin membuatnya lumpuh.
Apa pun yang terjadi, ia bertekad bahwa Arimbi harus hidup dengan baik, juga bahagia, layaknya sebuah keluarga pada umumnya. Dan untuk mewujudkan semua itu, ia-lah yang harus pergi dan merelakan dunianya, untuk sang buah hati.
"Mas! Mas Arka! Maas!"
Terdengar suara Azmya memekik di belakang Myria, menjadi perhatian beberapa orang yang sedang berada di ruangan itu. Sementara, Myria terus melangkah.
Saat mencapai pintu keluar lounge, tampak oleh Myria Arka berlari mendekat. Pria itu kebingungan mendapatinya berjalan cepat, dan menepis tangan Arka.
Dengan cepat Myrua mengetik pesan untuk sopir taksi yang sejak tadi dimintanya untuk menunggu di lobi, satu hal yang tidak Arka sadari.
Sementara itu, Azmya masih histeris, dengan mendekap Arimbi. Ia menjelaskan dengan putus-putus pada Arka yang masih kebingungan.
"Yaa Allah, Mas! Jangan biarkan Myria pergi, Mas!" Azmya semakin tergugu.
Mengabaikan apa yang terjadi di belakang sana, Myria terus melangkah menuju lift. Sebelum pintu besi itu tetutup sempurna, ia masih bisa mendengar teriakan Arka menyebut namanya, juga derap sepatu pria itu yang berusaha mengejar.
Myria tergugu, merasai dunia yang seakan runtuh, menyisakan kepingan kecil tak berarti. Nyaris saja ia meluruh, jika saja tak cepat bersandar. Dengan tenaga yang tersisa, ia lantas menuju taksi. Bagaimanapun, ia harus kuat.
"J--jj--jalan, Pak!" kata Myria di sela isak.
Bagi Myria, keputusan yang diambilnya ini, langkahnya menjauh, adalah harga yang harus dibayar, karena menikmati cinta yang salah. Sakit dan sesaknya kini, adalah hidup yang ia berikan untuk Arimbi.
Dunia tak akan pernah menanyakan ibumu, Arimbi. Tetapi jika aku terus mempertahankanmu bersamaku, apa yang akan kujawab, ketika semesta mempertanyakan ayahmu?
Ya Tuhan ... mengapa sesakit ini?
***
tbc