Makin Tertarik

1088 Kata
Segera menutupi sebagian tubuhnya, Sasha mengucapkan terima kasih dengan gesture antusiasnya. Takdir sesekali membawanya dalam kebahagiaan, meskipun jujur saja ia tak benar-benar bahagia setelah ditinggal nikah oleh Alan. “Dude. Kenapa bisa ada di sini?” Berusaha menutupi wajahnya agar tak ada yang mengenal, Sasha bahkan baru kali ini melihat Dave terlihat berpenampilan biasa tapi tetap memukau. “Aku ke sini untuk pemotretan. Kalau kamu?” “Menjauh dari manusia.” jawab pria itu ketus. Bukan Sasha namanya kalau menyerah begitu saja. Ia bahkan sengaja duduk di samping Dave dan membuat pria itu mau tak mau harus meladeninya bicara. “Lova, bisakah kamu mneyingkir? Kamu gak ngerti kata privasi? Hm?” Meskipun diusir secara halus, Sasha malah terang-terangan menatap pria itu secara intens. Dave Lennon, masih muda dan kabarnya akan jadi CEO di perusahaannya atas kinerjanya yang baik selama ini. Perusahaan yang tak kecil membuat nama Dave ada di beberapa liputan media. Dan dari sisi sempurna itulah Sasha kagum, bahkan penasaran meskipun keduanya kini agak canggung. “Aku juga sedang melakukannya. Tapi aku tak suka sendiri, mungkin sebentar lagi aku juga akan pergi, Dude. Waktu istirahatku sudah habis dan aku harus melanjutkan pekerjaanku.” Angin makin menjadi-jadi, membuat selendang Sasha mengibas tanpa sengaja dan mengharuskan Dave menutupinya dengan jasnya. Begitu lebih baik daripada harus melihat kaki jenjang itu dan paha yang mulus, nyaris tanpa cela. Pastilah seorang model seperti Sasha Bellova selalu perawatan, merawat diri, memuliakan seluruh tubuhnya karena itulah asetnya. Masa bodoh dengan Dave, pria itu jarang mempermasalahkan soal penampilan meskipun sampai sekarang masih jadi puja-pujaan banyak wanita, termasuk Sasha saat ini. “Aku suka panggilan itu, Lova, for me. Baru kali ini aku mendengarnya. Ah, betapa indahnya bisa menghirup oksigen bersama pria setampan kamu. Pamit dulu, see you next time, Dude. Tetaplah tampan seperti ini dan jangan biarkan dirimu dimiliki oleh orang lain. Ini jasnya,” Sasha beranjak dan merentangkan tangannya, rasanya ingin sekali memeluk Dave, tapi pasti pria itu nantinya akan parno melihat keganasan Sasha. “Kukira banyak yang memanggilmu seperti itu. Kuharap kita tak sering-sering bertemu, dan jangan jatuh cinta padaku, Nona.” Bukannya merasa terancam, Sasha malah melayangkan kiss bye. Dave benar-benar memikat, pria itu pun beranjak dari lamunannya dan pergi. Meskipun ia sempat melihat sekilas pemotretan Sasha, tapi Dave tak terlalu peduli. Ia tahu, wanita itu pasti punya niat terselubung di dalamnya. Begitu melanjutkan pekerjaannya, Sasha tersenyum manja dan membuat sang fotografer salut. Padahal tadi mood modelnya berantakan, tapi dalam sekejap, Sasha sudah membaik. “Kenapa dia? Kesambet apa tuh anak?” tanya Rendi pada Gina. Entahlah. Gina tak tahu, akhir-akhir ini mood Sasha memang sering berubah banyak, mulai dari tawa anehnya, suara teriakannya setiap frustasi sendiri entah memikirkan apa dan masih banyak lagi kerandoman seorang Sasha. Selesai pemotretan, Sasha langsung masuk ke mobilnya dan merebahkan punggungnya yang tersengat cahaya matahari dari siang sampai sekarang. Gina membawakan kopi dan cemilan, sama-sama menjadi model tapi Gina malah sering menyiapkan segala sesuatu yang membuat mood Sasha membaik, salah satunya kopi. “Ada kabar bagus buat lu seandainya lu teetarik.” “Lanjutkan,” Sasha menyeruput kopinya dan melihat layar pada tab yang dipampang Gina. The Ephipany Beauty, merilis produk rambut terbaru dan berkolaborasi dengan The Ghanamy. What? Wait, itu kan nama perusahaan yang ditempati Dave? Pupil matanya melebar, ia kagum bagaimana seorang Gina mencari informasi secepat itu. Jodoh emang selalu terencana dengan jalannya usaha. “Aku berminat menjadi modelnya.” “Tapi job lu yang kemaren?” “Seorang Sasha bisa membelah diri menjadi makhluk yang berada di mana-mana, Gina. Tenang saja, bekerja dua kali lipat lebih banyak dari biasanya adalah kebiasaan gue sekarang.” Tawanya renyah, bahkan Gina hanya gelrng-geleng kepala. Segini bucinnya, tumben Sasha mau berkolaborasi dengan dua perusahaan sekaligus. Misinya adalah mencari penanggung jawab dari The Ephipany Beauty. Mereka tak akan menolak seorang Sasha Bellova. Sudah pasti, namanya belum luntur menjadi top modelling In the Jakarta 2022. (Bagian Kedua) Setelah melihat beberapa kandidat, Celine mengangguk. Sedikit tak yakin karena mereka terlalu judes, bahkan saat memerankan wanita lemah lembut pun dirasa tetap kurang. “Apakah anda ingin membatalkan saja kolaborasi ini, Miss?” tanya Lidya, sekretarisnya. Celine menggeleng. Ia tahu The Ghanamy tak pernah salah mengirim orang. Soal pilihan prianya, Celine sudah setuju. Tapi soal pasangannya? Celine ragu-ragu. Mungkin masih ada waktu, agensi permodelan di Jakarta sangatlah luas, koneksi dari tim Dave juga tidak sebatas dari perusahaannya saja. Celine berharap mereka memilih yang paling baik dari yang terbaik. Menyuruput es tiramisunya, Celine segera bangkit. Ia ingin ke toilet, tapi tak sengaja langkahnya berhenti karena bertabrakan dengan seseorang. “Ya ampun, I'm sorry, Lady. Saya tak sengaja menabrak anda. Ah, bagaimana ini? Bahkan minuman anda tumpah.” Celine mengatakan dirinya tak apa -apa, tapi seseorang di hadapannya tetap bersikeras untuk bertanggungjawab. Wanita itu bernama Sasha, ia memberanikan diri membuka kacamatanya dan tersenyum getir. Ini adalah jebakan batmannya. Jurus jitu agar Sasha benar-benar bisa bercampur aduk dengan urusan yang berkaitan dengan Dave. “Miss Celine? Benar kan?” Celine menyipit, merasa tak asing tapi lupa siapa wanita cantik di hadapannya sekarang? “Iya, benar. Anda mengenal saya?” “Tentu. Perkenalkan, saya Sasha, siapa yang tak mengenal anda, Miss? Penanggung jawab terbesar di The Ephipany Beauty. Bahkan, saya pun pengguna salah satu produk kecantikan anda, seperti Sahara Salju, Bahtera Senja dan lain-lainnya. Parfum kalian merajai pasaran dengan harga yang seimbang.” Lidya membisikkan sesuatu dan Celine kaget. Ia bersalaman dengan Sasha, layaknya bertemu dengan seorang model berbakat adalah kesegaran baginya. Bahkan, udara di restoran jauh terasa lebih indah sejak adanya Sasha. “Ah, I see. Senang mengenalmu, Nona Sasha. Nama anda juga banyak dielu-elukan banyak presenter, juga fotografer ternama. Salah satunya tuan Andara Jobling. Saya merasa tersanjung. Apakah anda ke sini sendiri?” Sasha tersenyum, usahanya makin menunjukkan hasilnya. Ia menawarkan diri apakah boleh duduk? Tentu saja, Celine serasa mendapatkan jawaban dari kegalauannya memilih model wanita. Pucuk dicinta, Sasha pun tiba. Demi Dave, Sasha harus berakting sampai sejauh ini. “Tadi bersama manager saya, kebetulan ini adalah restoran favorit saya. Ah iya, kelupaan. Saya harus mengganti minuman anda. Sebentar,” Bagi Celine, nama besar Sasha bisa jadi jalan utama produknya makin melejit. Ia biasanya memakai jasa model yang sedang naik daun. Tapi beda dengan Sasha, wanita itu sudah lama menduduki puncak sampai lupa caranya turun tangga. “Terima kasih, Nona Sasha. Bagaimana dengan pekerjaan anda? Pasti sibuk sekali?” Sasha menjelaskan sedikit tentang kesibukannya. Bahkan beberapa minggu ini ia merasa seperti tuan putri yang lebih sering memanjakan diri di apartemen ketimbang bekerja. Celine tersenyum, haruskah ia menawari kerja sama? Pumpung bertemu dengan orangnya langsung?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN