Apa pun, Demi kontrak

1148 Kata
Dengan susah payah, akhirnya Sasha mengakhiri penjelasannya. Ia bahkan memberikan kartu namanya, kapan lagi coba menawarkan sendiri ambisinya sebagai model? Wajah Celine yang tadinya ditekuk seakan mendapatkan ilham. “Terimakasih minumannya, Sasha. Lain kali biar saya yang traktir. Nama kamu cukup terkenal di dunia permodelan, apalagi anda katanya bakalan ikut casting pemilihan film Pak Joko Anhar dalam debut horornya. Wah, congrats ya?” Sambil mengibaskan rambutnya, Sasha menjabat tangan Celine, bukan bermaksud pamer, tapi Sasha memang gampang berubah-ubah. Itulah mengapa banyak para produser mengincarnya. Talenta alami yang bisa mengikuti jalan cerita membuat siapa pun akan memilihnya. “Hehe, karena ini perdana tentu saya sangat gugup, Miss Celine. Doakan saja semoga filmnya bisa diterima di masyarakat luas. Kalau begitu, saya permisi dulu ya? Sampai bertemu lagi.” Ia yakin, besok pagi sekretaris wanita yang tengah memandanginya sekarang pasti datang ke agensinya atau minimal menelpon Rendi. Insting Sasha selalu kuat, kalau bukan karena duda tampan, ia tak akan berbuat sejauh ini. Karena kepentingannya sudah selesai, ia pun pergi dari restoran dan memanggil taksi. Kadang, lelah juga harus berpenampilan tertutup, memakai masker, kacamata kadang juga topi. Demi tak membuat banyak orang mendatanginya. “Ke apartemen Kencana Prima II ya, Pak?” “Baik, Nona.” Taksi melejit dengan cepat, pandangan Sasha teralihkan pada ponselnya yang tiba-tiba menyala. Celine Alena mengikuti anda. Ada pemberitahuan kalau wanita yang baru saja ia temui tadi mengikutinya di sosial media. Akunnya sudah centang biru, pertanda banyak pengikut Sasha di akun sosial medianya, ia pun sering memposting kegiatannya, kerja sama dengan suatu produk, ataupun kesehariannya dengan foto-foto cantik. Begitulah kehidupan Sasha. Kalau boleh jujur, kadang ia ingin punya waktu di mana ia bisa menikmati liburannya dengan tanpa dicari apalagi embel-embel sibuknya pemotretan. Tapi, sudah menjadi kebiasaannya yaitu work, work, work. “Di mana lu?” itu adalah suara Gina dari telepon. Sasha sudah turun dari taksi, berjalan dan masuk ke lift. “Habis bertemu dengan orang yang akan memberi gue jalan pintas untuk berhubungan langsung dengan sang duda tampan itu. Hebat kan?” Ha? Kok bisa? Gina yang sedang menunggu kedatangan Sasha berteriak, meminta penjelasan. “Gue habis ketemu dia, yeah, gue emang membuntutinya sih dan dia lagi di restoran. Gue pura-pura gak tahu dia di sana, nanti gue jelasin lebih kongkrit lagi. By the way, Rendi udah pulang?” “Belum. Kirain sama lu tadi, buruan. Makanan udah sampai.” Sasha menutup telepon, ia tak sengaja berpapasan dengan Alan juga istrinya, Wina. Bahkan pria itu seolah tak mengenalnya. Menyebalkan banget! Padahal dulu suka umbar janji-janjis manis, ngalahin gula. “Kamu Sasha, kan? Si model terkenal itu?” tebak Wina. Jelas, Alan pasti memamerkan kalau perna memacari seorang model top. Tapi kenapa harus dalam situasi seperti ini sih! Dengan sangat terpaksa, Sasha hanya tersenyum palsu. Alan nampak tak nyaman, seolah kehadiran Sasha akan jadi malapetaka. Dih, udah gak peduli lagi lah ya! Dulu aja ia dibuang begitu saja, tanpa ragu dan langsung cari pengganti. “Iya.” jawabnya sebagai formalitas. “Sayang, dia mantan kamu kan? Gak nyangka ya kita ketemu di sini? Kamu tinggal di sini? Sayang, kok kamu gak cerita sih kalau Sasha tinggal di gedung ini?” Alan terdiam dengan wajah kikuk. “Aku juga baru tahu sekarang.” “Makasih ya udah dateng kemarin di pesta pernikahan kami. Meskipun awalnya Mas Alan ragu untuk mengundangmu, tapi aku yang membujuknya. Dan kedatanganmu memang bikin heboh sih, banyak yang gak tahu soal kalian. Kebetulan aku di sini karena menemui salah seorang teman.” jelas Wina. Apakah Sasha harus tetap pura-pura peduli? Saat ini, wanita itu hanya berdiri sambil menunggu pembicaraan Wina selesai. “Udah ya, aku naik dulu. Senang bertemu denganmu, Wina. Selamat atas pernikahan kalian, permisi.” Sasha langsung ngacir duluan, bahkan setengah berlari. Ia merelakan kakinya agak kesakitan karena memakai high hills, sengaja demi membuat Miss Celine semakin menilainya mumpuni. Ah, gara-gara ketemu mantan moodnya langsung ambyar! (Bagian Kedua) Begitu menyebut sebuah nama, Dave kaget. Bahkan, nama itu bukan termasuk bagian dari orang-orang yang bekerja dengannya. Tapi kenapa Celine malah memilih nama itu? “Maaf kalau saya lancang mendadak mengubah semuanya. Tapi, saya rasa Jacob lebih terasa hidup jika berpasangan dengan Sasha. Wanita itu punya empat wajah. Seperti 4 musim di satu negara. Dingin, hangat, gugur, dan semi. Ya, begitulah saya menilainya, Dave.” “Tapi, Miss,” “Ya kalau ada yang lebih baik, bukankah kita harus lebih tanggap untuk cepat memilih dan mengontraknya agar tidak ada agensi lain yang menawari pekerjaan seperti ini selain dari tim kita. Dave, saya sudah lama berkiprah di dunia seperti ini dan dari dulu wanita itu memang sangat mengagumkan dengan pesona dan juga beberapa pemotretannya hasilnya juga tidak abal-abal.” potong Celine. Karena tidak ingin membuat Celine keluar dari kerjasama yang sudah mereka kerjakan selama beberapa bulan ini akhirnya Dave setuju. Ia tidak habis pikir kenapa bisa bekerja dengan wanita itu dan berurusan dengan Sasha lagi. Dunia begitu sempit sampai-sampai harus meluangkan waktu untuk mempertemukan mereka lagi dan lagi. “Apa boleh buat? Nanti tim saya akan menghubungi manajernya untuk mempertimbangkan lagi keputusan final ini dan mengambilnya sebagai modal tetap yang akan berpasangan dengan Jacob.” “Tidak perlu. Kebetulan, secara tidak sengaja saya bertemu dengannya kemarin dan dia memberi saya kartu namanya dan setelah itu saya langsung hubungi manajernya bahkan sekarang dia sudah menuju ke sini.” Waw! Sangat kebetulan sekali. Batin Dave, ia hanya tinggal menunggu dan melihat bagaimana Sasha bekerja dalam dunia pemotretan juga pemasaran suatu produk. Karena Dave sangat jarang mencari tahu, terlalu mempercayakan semuanya pada Josh. Dan benar, pintu ruangan terbuka, sosok Sasha jadi pusat perhatian. Dave menatapnya dengan tatapan datar, seolah belum pernah melihat wanita itu sama sskali. “Halo. Maaf, Miss Celine, saya terlambat.” “Tak apa, Sasha. Saya paham seberapa sibuknya anda. So, sebelum memulai kontrak kerja sama, saya ingin mengenalkan teman saya. Pak Dave, ini Sasha, model yang saya rekomendasikan. Pasti anda sempat mendengar nama Sasha Bellova bukan?” Mereka berdua berjabat tangan. Sasha dalam hati kegirangan, waw! Dave sangat dingin dan minta dicairkan. Ia begitu bersemangat datang ke sini, seolah rasanya seperti mendapatkan dua milyar. Sambil menerima penjelasan. Sesekali Sasha melirik ke arah Dave. Pria itu tetap kelihatan tegas, berwibawa dan irit bicara. Tak akan ikut nimbrung kecuali Celine memanggil namanya. “Sebentar, saya angkat telepon dulu.” Celine keluar ruangan. Dan kini, hanya ada mereka berdua. “Kamu kelihatan gak nyaman?” tanya Dave. “Ah, ini kakiku agak sakit. Biasa, tuntutan seorang model adalah harus kelihatan cantik di manapun ia berada bukan? Image adalaha segalanya.” Pura-pura sok kuat, Sasha menyembunyikan tumitnya. Memang sih, Rendi sepertinya salah memberi ukuran high hillsnya, agak kekecilan dan membuat tumitnya memerah. Tanpa aba-aba, Dave beranjak dari kursinya dan mengambil sesuatu dari laci lalu mendekat bahkan berjongkok di depan Sasha. Melepas kaki indah wanita itu dari high hillsnya, serta memasangkan hansaplast untuk menutupi luka di tumit Sasha. Ah, rasanya Sasha tidak sabar untuk memiliki pria di hadapannya sekarang!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN