Ramalan Akan Jadian

1068 Kata
Siapa yang tidak akan terpana kalau dipedulikan seperti sekarang ini? Seumur-umur, baru kali ini ada yang peduli soal luka segaris di tumit Sasha. Gina saja hanya sering membelikan salep saja. Tapi Dave, pria yang jakunnya kelihatannya macho tersebut malah bikin jantung Sasha tak karuan. Denyutnya pun bersuara riuh, Sasha yang biasanya punya jiwa menahan diri saat terintimidasi ternyata bisa tergugah juga. Semua ini karena Dave, pria itu sungguh bahaya. “Ini yang namanya profesional. Sesakit apa pun rasanya, tetap harus ditampilkan, Dude. Ups, sorry!” Sasha menutup mulutnya cepat-cepat. “Aku gak mau Miss Celine tahu panggilan spesialku untukmu, Pak Dave Lennon.” “Kamu boleh bawa sneakers semisal itu meredakan rasa sakit di kakimu. Kasihan, nanti bakalan ada bekas lukanya. Bukankah noda satu titik saja akan mempengaruhi popularitasmu, Nona Sasha?” Pertanyaan-pertanyaan penuh tantangan semakin membuat Sasha megap-megap untuk menjawabnya. Dave seakan pandai berdalih, padahal kan Sasha yang seharusnya begitu? Miss Celine masuk dan meminta maaf karena malah meninggalkan kliennya juga model pilihannya. Ia menunjukkan layar laptop dan memperlihatkan bagaimana produknya nanti ingin diiklankan dengan wajah Sasha. “Jacob Damian. Dia berwajah bule campuran Papua. Wajahnya sangat khas, begitu juga denganmu, Nona Sasha. Saya masih ingat betul bagaimana Pak Perwira Pratama memuji legendarisnya produk t-shirtnya yang merangkak naik bahkan mulai dikenal sebagai clothes terbaik pada tahun 2020. Produknya digemari anak muda, mereka mengingatmu sebagai wajah utama bintang produk tersebut. Sampai sekarang pun T-shirt dari Pak Perwira Pratama masih melejit.” Berpura-pura malu, Sasha menunduk seraya merendahkan diri. Ia tak ingin sombong, karena imagenya selama ini adalah manis dan natural. Jangan sampai menyebar kalau Sasha sebenarnya adalah wanita yang super bawel ketika sesuatu keinginannya tidak tercapai. Ternyata Miss Celine begitu mencari tahu banyak tentangnya. Sasha juga sudah lupa tentang beberapa produk yang pernah memakai jasanya sebagai model. Karena ia sering berganti brand Ambassador selama ini. “Itu sudah lama sekali, Miss. Anda pengingat yang baik rupanya. Saya juga mengetahui tentang sedikit sosok Jacob ini, dia muda, bertalenta, juga tubuhnya bagus. Seksi dan manly, pas banget dengan produk yang akan rilis di perusahaan anda. Tapi, jujur saya belum pernah bertemu dengannya. Kalau Marvel, sepertinya pernah.” Banyak model yang ia kenal. Kadang dari mereka malah saling sharing apa saja keluh kesah, juga cara-cara agar bisa menguasai kamera dan memiliki jiwa dalam setiap bidikan. Agar bisa lebih dekat dengan pasangannya nanti, Miss Celine sudah meminta bantuan pada Lidya untuk mempertemukan Jacob dengan Sasha. Sejak tadi Dave melihat bagaimana sikap Sasha saat diajak berdiskusi begini. Wanita itu gampang sekali berubah, seakan mengajak siapa pun yang sedang berbicara dengannya hanyut. Picik sekali, tapi menarik. Padahal, sebelumnya, Sasha kelihatan sangat tertarik padanya. Tapi, menit selanjutnya, wanita itu jual mahal lagi. Aneh bukan? Pintu lagi-lagi terbuka, Sasha tersenyum sebagai sambutan awal untuk Jacob. Dan Dave memperhatikan bagaimana wanita itu dengan mudahnya bisa membuat Jacob langsung memeluk Sasha. Pertemuan pertama mereka kelihatan hangat dan alami. “Saya sangat merasa tersanjung ketika mendengar tawaran ini, Sasha. Jujur, dari dulu namamu sangat popular di kalangan model pria. Banyak dari kami yang ingin bisa berkolaborasi dan berpasangan denganmu. Saya sangat merasa beruntung.” “Kamu bisa saja. Kita kan seumuran, kamu bisa bicara santai denganku. Biar chemistry kita tumbuh secara alami. Bukankah begitu, Miss Celine?” “Sungguh?” tanya Jacob. Sasha mengangguk. Ia merapikan rambutnya yang sering sekali menjuntai dengan asal di depan pipi. Sangat menggangu, apalagi ia lupa memakai jepit rambut. Tuntutan harus punya poni kadang membuatnya kesal dengan rambutnya sendiri. Sembari mengobrol dari muka ke muka. Miss Celine juga menjadwalkan pemotretan mereka dengan segera. Lebih cepat, lebih baik. Jacob juga tak terlalu banyak job, ia sudah tak sabar bisa saling berinteraksi dengan Sasha. “Aku boleh follow kamu di sosial media?” “Boleh dong. Bebas. Akunku dibuat agar mudah untuk dicari, yeah, maksudnya agar aku bisa menyapa penggemar sih, meskipun aku tidak sepopuler itu. Hehe.” Dave menahan senyum. Kata-kata Sasha seakan merendah untuk meroket, lucu juga. Ia memang paling heran dengan sikap narsistik seseorang. Tapi, di sisi lain, Sasha juga tak ingin orang-orang terlalu mendewikannya karena ia bukan dewi. Hanya manusia biasa seperti Dave. Selepas pertemuan ini selesai, Jacob memberanikan diri mengajak Sasha makan di restoran agensinya. Hitung-hitung sebagai sambutan awal. Tapi sayang, ia kalah cepat karena Dave sudah menawari Sasha untuk melihat sekeliling. Waw, berada di lingkaran dua pria tampan. Sasha sangat merasa beruntung. “Lain kali saja, Jacob. Aku sedang program diet. Ayo, Pak Dave. Saya sudah tak sabar ingin melihat keadaan agensi di sini.” “Baiklah. Kutagih ya, lain kali.” Jacob pun memeluk Sasha dan benar-benar pergi. Miss Celine pun harus bertemu dengan Josh, karena pria itulah yang bertanggungjawab dengan semua keputusan. Dave lebih sering memantau dan memperhatikan saja. Kini langkah mereka saling beriringan. Seandainya saja Sasha lebih berani untuk menggandeng tangan Dave, pasti banyak perkiraan yang menyudutkan mereka berdua adalah pasangan. Tapi, Dave yang dingin tentu saja sulit dicairkan. “Kakimu udah gak apa-apa? Gak sakit pakai high hills begitu terus?” “Nothing. Kakiku bahkan lebih kuat dari dugaanmu, Tuan khawatir. So, apa yang ingin kamu tunjukkan padaku? Kantormu? Atau perusahaan ini? Kalau kamu khawatir soal kakiku yang bisa saja capek karena jalan terus, kenapa kamu gak ngajak aku ngopi misalnya?” Cuma Sasha yang menawarkan dirinya sendiri. Seberani itulah dirinya, Dave mengangguk dan benar-benar membawa Sasha ke kantornya. Ya Tuhan, bahkan pria itu membukakan pintu untuknya. “Ini ruangan kerjamu ya? Menarik. Serba abu-abu. Hangat. Maskulin. Tanpa bunga dan foto. Angkuh tapi mempesona.” “Kuanggap itu pujian, Lova.” Sasha mendekat pada Dave, pria itu duduk dengan kaki menyilang. Sasha begitu berani memainkan dasi Dave, sampai hampir tercekik. “Kenapa kamu sangat menyukai panggilan Lova?” Brukk! Kini, mereka berdua ganti posisi. Dave menahan pergelangan tangan Sasha. Terlihat seperti menindih. Tatapannya tajam, bahkan sukma Sasha seakan terpanggil keluar. “Lova, Love. Mereka hampir sama, dan kurasa kamu sedang berusaha untuk mencapai kata itu. Kalau tidak salah, apakah kamu sedang mendekatiku dengan cara menjadi model Miss Celine?” Pupil mata Sasha melebar. Apakah kelihaiannya sangat mudah terbaca? Sudah ketahuan, yasudah. Mengaku saja. “Ya, seperti yang kamu duga sendiri. Tuan angkuh yang mempesona. Aku sedang mencoba merayumu agar kamu bisa menyukai atau bahkan, lebih hebatnya lagi mencintaiku.” Tangan kekar Dave makin menekan pergelangan tangan Sasha, “Aku tidak semudah itu ditaklukkan.” Oh, justru itulah tantangannya. Ia akan membuat Dave akan selalu mengingat namanya sebagai satu-satunya wanita yang akan ia cintai, nanti. Lihat saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN