Ajakan Kencan

1054 Kata
Sok sibuk dan sibuk, dua kata yang maknanya jelas berbeda. Dan Sasha juga Dave, tengah melakukannya. Sasha beberapa kali sudah disibukkan oleh sahutan para staff pemotretan, manager bahkan fotografer. Sedangkan Dave, pria itu pura-pura kelabakan seolah mendapatkan tugas dadakan. Ya, seperti yang terlihat, Dave mengamati bagaimana proses Sasha terjun dan berpose di hadapannya, langsung. Ada Jacob yang sejak tadi kelihatan bermain pesona dengan wanita itu. “Baru kali ini Jacob kelihatan tertarik. Model di sini banyak, bahkan jauh lebih muda dari si Sasha. Tapi lihat, Jacob seakan seperti tubuh yang memerlukan cangkangnya. Hmm, menarik.” Tebakan Josh hanya dibalas dengan seulas senyum. Sasha begitu terampil, kuku lentiknya, gaya modisnya, tatapan tajamnya juga ciri khas dengan poni. Rapi. Wanita itu begitu punya waktu menjaga semuanya dari kepala sampai mata kaki, perawatan seorang model memang tak main-main bukan? Sialnya adalah Dave harus menahan diri karena Sasha sangat piawai berpose. Dari sedikit manja, tajam, menggoda dan masih banyak lagi. “Dia memang seperti itu ya?” tanya Dave yang fokus pada Sasha saat wanita itu tengkurap dan mengangkat kakinya, menggigit jari. Bahkan tadi ada pose di bathup bersama Jacob. “Hmm, ya, seperti itulah dia, Dave. Wanita yang kamu ajak dansa di saat pesta pernikahan beberapa waktu yang lalu. Tapi, dia tipikal wanita yang sulit disentuh, bahkan Jacob saja sangat kelihatan berhati-hati kan?” “Jacob hanya takut melukai harga diri Sasha saja.” “Ayolah, bahkan untuk merengkuh bahu wanita itu saja, Jacob meminta izin. Gue tahu dari staf di sini tadi.” Done! Suara lantang dari sang fotografer pertanda pemotretan sudah selesai. Rendi mendekat dan mempersilakan Sasha untuk duduk, minum juga merileksasikan tubuhnya sebentar. Gina juga ada pemotretan di dekat gedung The Ghanamy, sekalian saja nanti Rendi menjemput salah satu modelnya selain mengantar Sasha pulang. Mereka berdua memang tinggal satu gedung meskipun beda atap, Gina lah yang sering keluar masuk ke kamar Sasha, alasannya klise, wanita itu kesepian. “Apa yang disukai oleh modelmu, Ren?” “Eh?” Jacob mendekat dan menawari akan turun sebentar untuk memesan kopi atau semacamnya. Tapi Sasha jarang minum yang mengandung cafein, bahkan Dave ingat bagaimana reaksi wanita itu saat di rumah rahasianya. Kelihatan mendelik begitu menikmati kopi buatannya, sudah jelas wanita itu tak begitu suka sesuatu yang beraroma kopi. “Air putih saja cukup, Jacob. Ini, aku sudah memilikinya.” Jacob tertawa, “Karena diet?” tangannya refleks mengacak-ngacak rambut Sasha. Padahal sudah jelas, tertera di wajah Sasha, wanita itu sangat menyayangi poninya. Tapi demi tidak kelihatan jahat atau antagonis, Sasha hanya menepis tangan Jacob. “Sejak kapan mereka sedekat itu?” Yang ditanya hanya mengangkat bahu saja. Berlalu entah ke mana. Bukan panas lantaran Sasha didekati pria lain, mereka bukan siapa-siapa atau mungkin belum jadi apa-apa di antara keduanya. Langkah Dave selalu membuat beberapa orang memberi salam. Pegawai lainnya pasti paham siapa dan apa posisi Dave di perusahaan ini. Bahkan, mereka sangat tahu kalau para klien sering salah paham dan mengira Dave adalah model tetap. Ia sering dijuluki worldwide Handsome. Rambut tipis di dagunya semakin membuat wibawanya bertingkah semena-semana. “Pagi Dave,” sapa Loly. Salah satu barista di kedai restoran di The Ghanamy. “Kopi seperti biasa?” Hampir membuatnya, tapi satu kalimat dari Dave membuat Loly tidak jadi menyentuh toples yang hampir saja dibuka. “Apa yang disukai wanita?” “Hmmm, tergantung. Kali ini, siapa wanita yang ingin kamu dekati, tuan sok tampan?” Dave hanya tertawa, sambil membaca menu, jujur ia kebingungan. Mentraktir orang bukanlah bakatnya. Beramah tamah, menebak kesukaan mereka apa. “Hanya mengingatkan, Lol, mereka lah yang berusaha mendekatiku, bukan aku yang mendekati mereka. Itu, Kamu tahu Sasha Bellova? Kamu tahu apa minuman kesukaannya?” Ah, wajah ramah Loly membuat Dave penasaran. Tapi perempuan yang memakai topi juga seragam ala kedai cafe malah sibuk, entah meracik apa. Lima menit kemudian, selesai. “Caramel Machiatto. Rasanya enak, manisnya pas, apalagi segernya bikin susah move on. Salamin buat dia ya, aku bikinnya pakai cinta, Dave.” “Haha, berat, Lol. Kamu gak akan kuat, biar aku saja.” Loly tertawa. Hanya merasa aneh, karena tumben-tumbenan bagian dokumentasi Dave rela turun dan juga meluangkan waktunya demi membeli minuman kesukaan Sasha. Loly tahu dari beberapa model yang sedang bergosip bahwa model populer seperti Sasha mendadak mau mengiklankan dan jadi bintang sebuah produk shampo yang akan rilis. Biasanya wanita itu lebih sering menjadi model majalah, Elle, kosmetik, perhiasan ataupun gaun desainer. Ya namanya aja demi mendapatkan pria setampan Dave. Ganteng sih, tapi rela bagi-bagi? Sampai di ruangan pemotretan, Sasha sudah tak kelihatan Josh bilang, wanita itu ada di ruang ganti. Dave berbalik badan dan menuju ke sana, membuka pintu dan sebelumnya sudah meminta izin untuk masuk. “Sudah selesai?” Sasha memutar kursi, staf yang membantunya bersiap-siap sedang turun ke bawah, Dave tapi juga berpapasan. “Menunggu minumanku sampai. Why, tuan angkuh?” “Ini, kurasa kamu akan menyukainya.” Waw, Sasha tersenyum saat menerima bungkusan berisi Caramel Macchiato. Dari mana pria itu tahu kesukaannya? Semakin mendebarkan saja. “Nanti malam senggang?” “Kamu tanya sama aku?” “Hmm,” Sasha mengangguk cepat. Ia menyeruput minumannya, bahkan menyedotnya sampai bersuara. Sudah jelas Sasha menyukainya, Dave harus berterima kasih secara ganda pada Loly nanti. “Kalau tidak keberatan, aku ingin mengajakmu ke pesta seseorang. Karena dari yang kuingat, kita pernah berdansa. Sangat lucu bukan kalau aku berpasangan dengan Rendi? Dia tidak suka disorot kamera. Atau kalau kamu tidak suka berdansa, kita cukup datang saja, lalu pulang.” Mata Dave menyipit, “Ini bukan pesta mantan kamu lagi kan, Lova?” “Bukan. Ini pesta dansa atasanku, dan aku menjadi tamu di sana. Semua orang berpasangan, bahkan Gina. Awalnya aku mau mengajak Jacob demi produk baru yang diiklankan kita, tapi kayaknya terlalu mendobrak popularitas. Lagian, kayaknya kamu gak sedang berkencan dengan seseorang. Aku bebas dong untuk ngajak kamu kencan.” “Aku berkencan.” “Oh ya? Siapa wanita yang mengalahkanmu, Dude?” Dave memegangi kedua gagang kursi yang tengah diduduki Sasha. Mendekat, bahkan Sasha bisa menebak parfum yang dipakai pria itu. Christian Dior Sauvage Man. “Dia adalah kamu. Baiklah, undangan kuterima. Nanti malam, aku akan berkencan. Puas?” Sasha tersenyum penuh hasrat dan maju, hampir saja bersentuhan dengan hidung mancung milik Dave. Ia gemas sendiri, tapi pria itu cepat-cepat langsung mundur. “Aku akan menjemputmu. Good bye, Lova.” Pria itu benar-benar bikin jantungan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN