He is So amazing

1305 Kata
Dave bahkan sudah berdiri di depan gedung Kencana Prima. Sebagai seorang pria gentle man, sudah seharusnya stand by lebih dulu kan ketimbang pasangan kencannya malam ini. Iya sih, Sasha selalu aktif saat memperlihatkan minatnya soal rasa sukanya. Tapi, Dave tidak mudah luluh apalagi runtuh. Sejauh ini, keuletan Sasha mendekatinya tak banyak menganggu. Bahkan, Dave semakin penasaran akan sosok Sasha. Wanita yang pemberani, manis, hangat, ceria, gampang menebak-nebak, gak suka basa-basi. Hidup Dave terlalu abu-abu untuk Sasha yang notabennya adalah pecinta pelangi. “Halo?” Dave mengangkat nomer tak dikenal, tapi begitu mendengar suaranya, pria itu langsung menuju lift dan akhirnya sampai di depan kamar sang model. “Ia bahkan tak keberatan aku mengetahui kode sandi apartemennya. Wanita itu selalu saja bikin bahaya.” batin Dave sebelum masuk. Sasha berbalik badan dan tersenyum riang, mendekat lalu menunjuk ke arah punggungnya yang menganga lebar begitu saja. “Help me, Gina udah pergi duluan sama pasangannya. Dan Rendi, dia pasti masih tidur. Aku ga bisa menaikkan resleting gaunku. Bisakah kamu membantuku, Dude?” Pria yang dimintai pertolongan itu langsung tanggap. Berhati-hati sekali menyentuh gaun Sasha, selesai. Otaknya sedikit oleng setelah disuguhkan pemandangan serba mulus nyaris tanpa luka dan bulu. “Terima kasih. Ah, lihatlah cermin itu, Dude?” Sasha menarik lengan Dave, hanya memastikan kalau setelan yang dipakai Dave juga gaun yang ia kenakan kelihatan serasi. Dave merapikan dasinya, ikut berkomentar. “Kamu,” "Cantik kan? Aku tahu.” potong Sasha. Bahkan, ia harus menyewa penata rambut kepercayaannya agar dipuji Dave, ternyata berhasil. Hanya menyisakan poni sedikit pada ujung rambutnya. “Pasti kamu sering mendengar pujian seperti itu, barista di The Ghanamy juga bilang begitu, Lova. Dan kamu sudah terbiasa mendengarnya.” Dave memilih duduk sebelum mereka benar-benar berangkat. Wanita di hadapannya tak tanggung-tanggung memakai gaun yang memperlihatkan bagian belahannya. Tapi Dave tidak pernah tertarik pada wanita hanya karena tubuhnya. “Cantik itu luka, Dude. Percayalah, kamu harus rela melakukan apa saja demi mendapatkannya, sejauh ini sih pujian itu terlalu sering kudengar. Aku lebih suka kata seksi.” Mereka sama-sama berdiri, lalu keluar dari apartemen Sasha. Dave membawa mobil lain, bukan mobil saat dulu mereka kabur dari kejaran para wartawan dan reporter. “Berapa banyak pria yang pernah kamu kencani?” “Entahlah. Aku tidak pernah menghitung, kenapa? Mau jadi salah satunya juga?” canda Sasha. Dave tidak bertanya lagi, lalu melajukan mobil. Gedung yang akan mereka datangi cukup terkenal di Jakarta, para pejabat pun sudah hadir di sana. Karena sebelum menjemput Sasha, Dave terlebih dahulu memastikan semuanya, juga keadaan dan orang-orangnya. Sampai di tempat parkir, Dave membukakan pintu, Sasha berterimakasih dan mengangkat sedikit gaunnya. “Jangan terlalu ditarik ke atas.” “Ke-kenapa? Kakiku jelek ya? Perasaan aku udah luluran deh tadi.” "Justru itu, kakimu indah, Sasha. Semua pria melihat kecantikan wanita dari kaki dan betisnya, bukan wajahnya.” Bukankah itu pertanda Dave sedang memuji kakinya? Sasha mengulum senyum lalu menempel pada lengan Dave. Mereka berjalan melewati staff yang berjaga, menyerahkan undangan dengan bardcode. Karena tak begitu mengenal tamu-tamu yang sudah datang, tentu saja orang pertama yang dicarinya adalah Gina, sahabatnya sendiri. Ia tak ingin kelihatan kayak orang yang hanya datang, makan, lalu pergi. Setidaknya bertingkahlah seperti princess, bukankah malam ini ia berhasil mengajak pangeran angkuh di sampingnya? Kenapa gak dipamer-pamerin coba? Atasannya tak pernah sembarangan mengundang tamu, para pejabat, para keluarga konglomerat dan orang-orang yang sering tampil di gedung biru ternyata ada di sini juga. “Itu Gina, aku boleh ke sana?” “Tentu. Aku akan cari minum, saat kamu butuh aku, call me.” Sasha mengedipkan matanya, ia berjalan lenggak-lenggok, gaun duyungnya dengan belahan hampir ke lutut membuat lekukan tubuhnya makin indah dilihat dari belakang. Sedangkan Dave sudah mengambil satu gelas, hanya memegangnya. Sejak tadi ia mengamati orang-orang, entah apa yang ia pikirkan. Julian Nadiem, atasan Sasha sudah memegang microphone, menyambut tamu-tamunya, menyebut nama-nama orang penting dan banyak berbicara. Beliau memang pembisnis sukses, bukan di bidang permodelan, tata usaha dan kuliner saja. Dave saja yang jarang memuji orang akhirnya bisa membuat tiga kata yang keren untuk Julian. Sambil memperhatikan Sasha dari jauh, Dave duduk, ia kaget saat beberapa kumpulan wanita datang, ada seseorang yang ia kenal. Kenapa ada Grace di sini? Tak begitu mempedulikan kehadiran wanita yang menggilainya selama ini, Dave kaget saat Sasha menghampirinya dan mengajaknya berdansa. "Pamali ngelamun di pesta dansa, Dude. Come on.” Dave mengikuti langkah Sasha, memeluk pinggangnya seraya berdansa dengan lentur. Ia sampai melihat di chanel beberapa pedansa Eropa, supaya kelihatan lebih cool saja. Tanpa sadar, Grace memperhatikan Dave yang semakin dekat dengan model wanita itu, sejak kapan? Inikah alasan Dave selalu mengabaikannya? ( Bagian Kedua) “Tadi kurasa pria incaranmu sedang main mata sama Bellova. Waw, harus kuakui, dia memang cantik, bertalenta dan juga memikat. Apa yang akan kamu lakukan?” Tangan Grace sibuk menggaruk lengannya, saat keinginannya atau sesuatu yang kesal terjadi, itulah yang sering dilakukannya, yakni menyiksa diri. Sebal, kesal, marah. Dave, selama hampir setahun lebih pria itu menolak semau kebaikannya. Bahkan Grace pernah menawarinya tidur. “Dia bukan ancaman. Model seperti dia pasti cuma sekali pakai doang kan, Dar?” “Haha bisa aja kamu, Grace. Hati-hati, wanita itu kelihatan cerdik.” Kebetulan sekali Sasha sedang di dalam toilet, ia mendengar namanya direndahkan. Apa tadi katanya sekali pakai? Emangnya tissu! Brak! “Apa maksud ucapan kamu wanita gila!” “Kamu?” Sasha berjalan mendekat dan menunjuk Grace dengan jarinya. “Dengan muka seperti ini kamu berusaha mendekati Dave Lennon? Maaf, nona sinting, tidakkah kamu punya kaca di rumah, heh?” Tidak terima dihina, Grace menarik rambut Sasha. Sesuatu yang sangat ia manjakan selama ini, bahkan membasahinya dengan air kran. Dara pun kaget Grace sebrutal itu, Sasha meneriaki satpam dan perdebatan mereka tak berakhir panjang. “Dia duluan Dave yang bikin masalah.” bela Grace. “No! See, Dave? Aku kelihatan amburadul. Dia bahkan menjambak rambut indahku! Memangnya kamu mau ganti rugi? Hah?” Mereka saling menyalahkan satu sama lain. Dave tidak peduli siapa yang salah duluan, tapi ia memilih merengkuh Sasha dan mengajak wanita itu keluar dari pintu belakang. Bahunya sedikit basah, bahkan gaunnya pun lembab. Dave sesegera mungkin melepas tuksedonya, “Pakai ini, aku gak menyangka Grace ada di sini. Aku lupa, dia juga mengenal baik Julian, atasanmu.” Duduk untuk menenangkan diri, Sasha masih bertahan dengan muka cemberut. Mereka berjalan menuju mobil, mungkin sebaiknya pulang saja. Tapi, Dave malah berhenti di depan butik pakaian, entah kenapa? “Tunggu sebentar.” Tidak tahu apa yang sedang dilakukan. Sasha hanya bisa menunggu dan sampai pada akhirnya pria itu kembali dengan membawa tote bag bertuliskan Bavenda Clothes. Kenapa Dave malah membeli pakaian? "Aku hanya asal memilih tetapi sepertinya ukurannya pas dengan tubuh kamu, aku akan menunggu di luar sembari kamu bisa berganti pakaian dengan nyaman di dalam mobil.” Jelas, Sasha kaget. Ia belum pernah melakukannya, apalagi dengan gaun yang ia kenakan sekarang. “Dave, Aku tahu kamu suka tantangan tetapi kenapa kamu nggak meminta aku untuk masuk bersama kamu dan aku bisa berganti pakaian dengan nyaman di dalam sana, tidak di dalam mobil seperti ini?” Melihat kebingungan di wajah Sasha, Dave hanya tersenyum. “Lova, aku cuma menghindari kabar yang tidak enak karena di dalam sana pasti ada beberapa orang yang mengenal wajah kamu. So, aku akan membantumu mulai dari ini setelahnya, aku tidak mungkin ikut campur karena bagian tubuhmu yang lain pasti juga butuh privasi.” Dave menurunkan resleting gaun yang dipakai Sasha tanpa diminta, membuat wanita itu sedikit kaget dengan keberaniannya, lalu keluar dari mobilnya sendiri. Berdiri tanpa menoleh, seolah-olah sedang menunggu seorang putri keluar dari zona nyamannya. Pun dengan Sasha yang hanya menahan senyum, ia membuka bingkisan yang dibeli Dave tadi. Hanya kemeja yang seukuran dengannya, juga celana jeans santai. Lebih kagetnya lagi adalah pria itu membelikannya bra. What! Mana ukurannya pas lagi, Sasha makin tersenyum sembari menatap Dave yang masih berdiri dengan tatapan berbeda. "Dasar nakal.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN