Alergi?

1340 Kata
Siapa sangka, dalam waktu kurang dari sebulan, produk yang meluncur pertengahan bulan Februari dikagumi banyak orang. Miss Celine bahkan mendapatkan penghargaan dari berbagai peminat beauty product in the Jakarta. Nama produknya banyak digandrungi konsumen. Merajalela sampai ke beberapa toserba, bahkan ruko-ruko di kampung. Ia bisa mengetahuinya karena banyak pujian dari mamanya sendiri yang tinggal di kampung halaman. Sukses dengan pekerjaan putrinya, betapa bangganya Celine terhadap kerja keras Sasha dan Jacob. “Sejauh ini, produk kita paling laris berjajar dengan produk impor, bahkan penjualannya merangkak naik. Miss Celine, kurasa tahun ini memang tahun keberuntungan anda. Lihatlah, laba dan rugi kita bahkan berjauhan. Dari semua aspek, paling kelihatan bintangnya adalah produk terbaru kita.” Pandangan Celine menangkap semua monitor, banyak juga banner iklan di jalan raya besar dengan wajah Sasha yang menggunakan mereknya. Sasha, wanita itu adalah berlian, dan Celine bahkan berniat menganakemaskannya. Jangan sampai berlian itu berpindah tangan, tinggal ajukan kontrak baru lagi, diperbarui bahkan bisa diperpanjang. “Aku sudah yakin, dia memang dewi fortuna, Lidya. Dari dulu, produk kita selalu kalah dengan produk kecantikan impor dari luar. Tapi sekarang, aku bahkan ingin menembus go internasional. Bersama Sasha, aku yakin bisa meraihnya.” Ketukan jari Celine sejak tadi sebenarnya sedang memperhitungkan. Ia membayar mahal Sasha, dan ia rasa setelah ini wajib mengadakan pesta. Sejauh ini, Sasha tidak terlalu tertutup terhadap orang lain, meskipun ia tahu kalau Sasha bisa saja tak menyukai keramaian. “Kita harus adakan pesta bukan?” “Pesta?“ tanya ulang Lidya. Ya, Celine berdiri lagi, memasukkan jemarinya ke dalam saku dan menatap kota Jakarta dari ruangan kacanya. Sejak perceraiannya setahun yang lalu, Celine adalah wanita paling menderita, pekerjaannya menjadi berantakan, tapi berbanding dengan Celine yang sekarang. Ia bangkit sekeras-kerasnya dan membuktikan kalau perceraian adalah langkahnya untuk maju. Baginya, wanita pasti mampu berdiri sendiri ketika sudah sukses. Begitu juga dengannya, pasti ex husbandnya pun tak sangka, karir Celine bisa semelejit ini dalam angka satu tahun setelah perceraian. “Di mana saya harus mengkonfirmasi tempatnya, Bu Celine?” “Restoran terbaik di Jakarta. Kita undang Sasha dan managernya, Jacob, Pak Julian, dan juga Dave. Banyak yang ingin aku bicarakan dengan pria itu.” “Baik, Bu Celine.” Sudah selesai. Sebaiknya ia pulang karena pekerjaan hari ini cukup panjang. Harus bolak-balik ke gudang, melihat perkembangan stok barang yang akan dikirim dan masih banyak pekerjaan yang harus ia tuntaskan malam ini. Begadang adalah teman baiknya selama tiga bulan belakangan. Kadang, Lidya juga ikut membantu kesibukan bosnya, ikut prihatin. Bagaimana bisa wanita bisa setegar Celine? (Bagian Kedua) Setelah membaca pesan dari sekretaris Miss Celine, Sasha terpingkal-pingkal. Ia gemas sendiri, bagaimana bisa Tuhan begitu baik selalu mempertemukannya dengan Dave? Pria itu tidak banyak bicara setelah sepulang pesta dansa, pun tak punya keinginan untuk menjelaskan siapa wanita yang menjelek-jelekkan martabatnya. Namanya Grace Arlita, yeah, hanya segelintir nama. Tapi Sasha tak peduli. Ia tak menganggap wanita itu saingan karena sampai sekarang, Sasha tahu dirinya mampu menaklukkan hati dingin Dave. “Sebegitu bahagianya ya sampai gak jelas gini? Sha, dia baik dengan semua orang. Inget! Jangan terlalu ngarep sama Dave, gue cuma takut lu dimanfaatin.” “Dengan senang hati gue mau dimanfaatin oleh dia. Itu kan tujuan gua mendekati Dave. So, lu gak usah khawatir.” Gina hanya bisa tepuk jidat, bahkan tak melanjutkan komentarnya karena sahabatnya yang selalu buta akan cinta sudah fokus pada penampilannya malam ini. Ia akan bertemu dengan orang-orang penting, termasuk Pak Julian, atasan mereka sendiri. Bahkan, Gina tak yakin kalau bos mereka bisa hadir karena sering pergi ke luar kota. Memastikan kalau make up nya tidak terlalu tebal, juga penampilannya yang tak heboh. Sasha mengambil swafoto dan dibagikan pada sosial medianya. Tak usah menunggu lama, banyak love yang mampir, pujian cantik pun sudah berbaris untuk dibaca. Ya, semenarik itulah dia. “Rendi mana? Lu gak ikutan?” “Pertanyaan bagus. Kebetulan Rendi lagi ketemu sama Bu Tara, dan gue ditugaskan buat jagain lu di restoran Amuz Gourmet, dengan nuansa ala Paris. Cocok dengan gaun yang lu pakai sekarang.” Baiklah. Lagian Sasha juga malas harus datang sendiri, ia bisa saja mabuk dan bikin ulah. Jangan panggil Sasha Bellova kalau tak banyak tingkah. Gina juga ada gunanya, ia lebih berhati-hati apalagi dalam menyetir. Beda dengan Sasha yang harus berurusan dengan polisi karena selalu ngawur dan kebut-kebutan. Mereka tidak terlalu mencolok, tapi Sasha wajib cantik demi membuat Miss Celine tidak kecewa. Restoran yang mereka tuju begitu sepi, pasti Miss Celine sudah memboking tempat ini. Bahkan, Sasha sudah kegirangan melihat mobil Dave terparkir. Pria itu benar-benar datang. “Ah, ini dia bintang kita. Good night, Sasha. Kami sangat menunggu kedatanganmu.” Celine mendekat dan memeluk modelnya. Ia harus mendapatkan hati Sasha agar wanita itu mau untuk memperbarui kontrak kerja sama lebih lama lagi. Jangan menyia-nyiakan berlian yang sedang naik tangga. Celine bisa membacanya dari wajah Sasha malam ini. Wajahnya memang sedikit campuran antara asia dan kebule-bulean. Postur tubuh yang tidak kelihatan dibuat-dibuat, alami juga ramping. Sudah memesan makanan, Celine mempersilakan Sasha untuk duduk. Jacob juga baru saja datang, kebetulan pria itu memang baru pulang dari pemotretan. “Hai, my lady.” Jacob memeluk Sasha, cipika-cipiki dan duduk di samping Sasha dan Gina. “Halo, tampan. Duduklah, mau bersulang?” Sedangkan Dave, pria itu seperti sibuk dengan isi otaknya sendiri. Sampai membuat Sasha geregetan. Tidakkah ia tahu kalau Sasha berminat hadir hanya karena tahu pria dingin itu mau datang? Ah, sudahlah. Ia terlanjur lapar, lebih baik mengisi perutnya dengan makanan pembuka. Sebaik mungkin Sasha memperlihatkan cara makan, kelihatan dimanis-maniskan dan lemah lembut. “Kamu bahkan cantik ya saat sedang makan. Aku sampai gak bisa berkata-kata lagi.” “Oh ya? Hoho, terima kasih, Jacob. Makanlah, aku juga tahu kamu pasti butuh energi sehabis pulang kerja. Kamu diantar supir?” Jacob mengangguk. Ia mengambilkan Sasha tissue, project bareng mereka membuat keduanya kelihatan akrab. Celine justru bahagia kalau model-modelnya bisa akur. Dilanjut dengan hidangan utama, juga musik yang dimainkan salah satu piania tetap di restoran Amuz Gourmet. Merasa tak kuat lagi dengan perutnya, Sasha menyudahi suapannya dan fokus pada Dave. Pria itu makan dan duduk dengan tenang, seolah Sasha hanya sekilas bayangan baginya. Padahal, kemarin pria itu iseng membelikannya sebuah bra, tapi sekarang malah sok gak kenal? Nyebelin banget sih! “Sasha, produk kami sold out di mana - mana. Bahkan, sebagian pengiriman juga melayani ke luar negri, semua ini berkat kerja kerasmu dan Jacob.” "Ah, anda terlalu memuji, Miss. Produk anda lah yang memang bagus. Bisa diterima di masyarakat, menguntungkan banyak orang seperti konsumen, peracik dan tentu orang-orang yang berpengalaman pada bidangnya.” Celine memuji Sasha lagi, sampai-sampai wajah wanita itu memerah karena malu. Gina pun ikut senang sahabatnya mengalami banyak kemajuan. Ia tak pernah iri karena dari dulu mereka memang bersahabat baik. Satu lagi hidangan penutup, Jacob mengambilkan peralatan makan dan memberikannya pada Sasha. "For you.” Cake dengan hiasan cherry di atasnya. Sasha menerimanya dengan senang hati, ia tak tahu kalau ada sesuatu yang ia hindari tapi sudah terlanjur masuk ke perutnya. Oh no! Dan satu-satunya orang yang paham dengan gelagat Sasha hanya Dave.Tatapannya hanya fokus pada Sasha yang mendadak ke toilet, orang-orang mengira mungkin Sasha ingin memperbaiki riasannya. Dave tak mungkin diam saja. Ia mengikuti Sasha, memastikan wanita itu baik-baik saja. Uekk! Suara Sasha membuat mata Dave hampir keluar. "Sasha! Buka pintunya!” Brak! Leher Sasha sudah mulai memerah. Dave bertanya apakah wanita itu punya alergi? Ya, Sasha mengangguk. Ia memang alergi kacang almond. Tenggorokannya terasa menyempit, hidungnya mulai tersumbat dan kram perut. Sasha lemas, Dave dengan cepat mengangkat tubuh Sasha, membawanya keluar untuk segera mendapatkan pertolongan. “Sasha kenapa!” Jacob kaget saat melihat wanita yang tadinya elegan sekarang sudah berada dalam gendongan Dave. Mata Gina terfokuskan pada kue yang baru saja dimakan Sasha. “Ya ampun! Kenapa aku gak tahu kalau kuenya ada kacang almond! Dave, cepat bawa dia ke rumah sakit.” Tanpa diminta pun, Dave segera berjalan secepat yang ia bisa. Menidurkan Sasha dengan benar di kursi, memakaikan sabuk pengaman lalu melesat cepat menuju rumah sakit. “Aku tahu kamu pasti akan baik-baik saja.” ucap Dave sembari memperhatikan Sasha yang sudah setengah merintih dan keringetan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN