Memang Bukan Yang Pertama

1095 Kata
Panik? Jelas. Baru kali ini Jacob membuat nyawa orang dalam bahaya. Meskipun dokter sudah mengatakan Sasha baik-baik saja, tapi pria itu jelas menunjukkan sisi kemanusiaannya. Dialah yang menawarkan kue tersebut, sampai membuat Sasha harus rawat inap. Semuanya menunggu. Jacob, Dave, Gina, Rendi dan Lidya. Celine tak bisa ikut menjenguk lantaran ada perjalanan bisnis dan beberapa pertemuan penting ke Makassar. Ia menitipkan salam pada sekretarisnya saat Sasha sudah sadar nanti. “Apakah biasanya dia memang begini?” Gina mengangguk. “Terakhir kali sih 3 bulan yang lalu, ia tak sengaja memakan kue juga. Tapi, kalian tenang saja. Sasha pasti baik-baik saja kok. Gak ada yang perlu kalian khawatirkan. Mendingan kalian pulang saja, toh, sudah ada suster yang akan memeriksa keadaannya.” Kalau bukan karena besok ada job pemotretan, Jacob memilih begadang menjaga wanita itu. Ia jelas tertarik, karena Sasha memang menarik. Dengan berat hati, pria itu pun pulang, disusul Lidya. Hanya tinggal ada Dave, pria itu diam nyaris tak terbaca. Gina saja was-was harus berbicara apa. Ia berterima kasih pada Dave, karena pria itulah yang membawa Sasha dengan segera. “Kamu tak lapar?” tanyanya canggung. “Enggak. Tadi kan, kita habis makan. Pulanglah, Dave. Nanti Sasha bakalan tambah pingsan kalau tahu kamu rela menunggunya sampai sadar.” canda Gina. Keduanya tertawa, menertawakan keabsurdan Sasha yang selalu membuat Dave banyak praduga dengannya. Padahal, Dave sudah bilang kalau ia sulit ditaklukkan. Nyatanya, pria itu malah semakin ingin menjaga Sasha. Ia seperti wanita yang tegas di luar tapi runtuh di dalam, seperti ada sesuatu di mata unik milik Sasha. “Aku harus pulang. Kamu juga, Dave.” "Ah, iya. Nanti setelah dia ganti infus lagi, aku janji akan pulang. Duluan saja, Rendi pasti sudah menunggu.” Baiklah, Gina menepuk bahu Dave, kagum akan sisi perhatian pria itu. Pantas saja Sasha sebegitu sukanya pada Dave, memang unik sih. Ia yakin, Sasha akan baik-baik saja kalau bersama Dave. Pria itu bersih tanpa gosip, apalagi embel-embel buruk mengenai kehidupannya pun nyaris tak ada di media. Publik hanya menganggap sosok Dave adalah pria tanpa cacat cela. Dan hanya tinggal Dave, pria itu masuk ke ruangan VIP, Sasha jelas mendapatkan ruangan terbaik. Celine tak akan membiarkan modelnya kenapa-kenapa bukan? "Permisi. Bu Sasha Syarasvati, jadwal minum obat malam. Kemungkinan besok Bu Sasha sudah boleh pulang.” Dengan hati-hati, Dave membangunkan Sasha. Ia tak mau wanita itu kaget lantaran harus menerima suntikan lewat selang dari tangannya. Sasha sedikit membuka mata dan sadar ia berada di mana. “Terima kasih, Sus.” Perawat langsung keluar dan menutup pintu dengan hati-hati. Dave membenarkan selimut Sasha, bertanya apa yang dirasakan wanita itu sekarang. “Kamu baik-baik saja? Masih pusing? Sesak? Perutmu udah enakan?” Diberondongi banyak pertanyaan, Sasha malah menahan tawa. Ia melipat bibirnya, gemas dengan sikap Dave yang super manis ini. Jadi, begini rasanya diperhatikan oleh pria yang disuka? Rasanya seperti mimpi. Bahkan, Sasha mencubit lengannya demi menyadarkan diri kalau ia tidak sedang berhalusinasi. “Udah jam segini dan kamu masih stay? Why, Dave? Kamu khawatir ya?” “Semua orang khawatir, bukan cuma aku saja. Bahkan, Jacob hampir menangisimu. Pria itu lebih khawatir daripada aku.” “Jadi, kamu cemburu ada pria lain yang lebih memperhatikanku?” Dave menarik napas panjang, menyingkirkan semua egonya. Kalau diladeni, Sasha akan makin menjadi-jadi. Ia yakin, wanita itu sudah baik-baik saja karena sudah bisa menyanggah pernyataannya. “Simpan semua pemikiranmu, Lova. Tidur, istirahat yang cukup. Dan satu hal lagi, jangan kepedean.” Tapi, Sasha sudah terlanjur baper. Ia menarik tangan Dave saat pria itu hampir beranjak pergi. “Apalagi?” “Kamu akan pulang ya?” katanya sedikit takut harus sendirian di kamar seluas ini. Oke sih, dari fasilitas memang Sasha nyaman. Tapi, rasanya aneh. Bagaimana nanti kalau ia kembali pusing? Mungkin bisa memanggil perawat, tapi Sasha tetap khawatir kalau harus bermalam di rumah sakit, hanya ada dirinya. Sepi, sendiri. Ih, bikin merinding. Tatapan Sasha begitu jelas, wanita itu ketakutan. Dave kembali duduk dan berjanji akan tinggal sebentar lagi. "Aku ngantuk.” katanya sambil duduk di sofa. Bahkan, pria itu tak menggubris Sasha lagi, sudah merebahkan tubuhnya dan menutup mata. Tak apa, setidaknya Sasha tidak sendirian. Pikirannya kembali tenang, ia pun ikut menyusul Dave dalam mimpi. Tak lama kemudian, Sasha sudah terlelap. Mereka tidur dan sudah sibuk dengan mimpi masing-masing. Tapi Dave, pria itu memang tidak pernah nyenyak dalam tidurnya. Siklus tidurnya kadang memburuk, apalagi ia harus menjaga Sasha bukan? Hanya bertahan dua jam, pria itu terbangun. Ia melirik ke arah Sasha yang masih nyenyak. Pelan-pelan sekali Dave berjalan, jangan sampai terdengar suara kaki melangkah. Semakin dekat, Dave melihat wajah Sasha begitu intens. Padahal, ia tak punya niat apa-apa. Hanya iseng saja. “Dia seperti putri tidur saja.” ucapnya teramat pelan. Lagi dan lagi, ini sudah ke berapa kali Dave menyelimuti Sasha. Padahal lagi sakit, tapi tidurnya masih saja urakan. Karena sudah hampir dini hari, Dave harus pulang. Ia yakin Gina akan ke sini pagi-pagi sekali, jangan sampai temannya Sasha berpikiran ada sesuatu yang spesial di antara keduanya. Meskipun masih tak pasti, tapi Sasha cukup membuat hatinya tergugah. Memang belum sampai tahap yang ia pikirkan, tapi sampai saat ini, Dave hanya bisa menunggu apakah rasa yang ia miliki adalah ketertarikan atau rasa nyaman? “Kamu mau pulang?” ucap Sasha. Ia jelas merasa ada seseorang yang mendekatinya. Bau napas Dave begitu terasa sampai Sasha memberanikan diri membuka mata. “Iya. Udah jam segini juga, aku yakin temanmu atau managermu pasti akan ke sini bukan?” Sasha mengangguk. Ia mencoba untuk duduk dan bersandar pada bantal, ranjangnya otomatis, tapi Dave menahan tubuh Sasha dan menekan dua sisi bahunya. Membuat Sasha hampir kehabisan napas. “Apa yang kamu lakukan?” tanyanya penuh keterkejutan. Gila. Ya, satu kata yang tersemat di otak Dave sekarang. Pria itu semakin menekankan tubuhnya sendiri, berpegang pada sisi ranjang yang ditiduri Sasha saat ini, lalu mengecup bibir yang sudah tak begitu pucat lagi. Sasha seperti patung. Ini memang bukan ciuman pertamanya, tapi, pria yang sedang menciumnya adalah Dave. Ia seperti kehilangan akal, tak tahu harus bagaimana. Sedikit saja Sasha membuka mulutnya, memberi jalan pada Dave untuk menikmati bibirnya. Ciuman mereka makin dalam, dan Sasha makin menegang. Tak bertahan sampai semenit, Dave kembali sadar dan menutup mata. “Kamu pasti kaget. Maaf, aku hanya merasa ingin melindungimu.” "Ah, iya. Aku belum gosok gigi. Makanan di rumah sakit agak menyeramkan ya?” Sasha ingat, ia makan sesuatu saat terbangun tadi. Bahkan, ia tengah melipat bibirnya saking malunya. " Pulanglah, Dave. Jaga dirimu dan hati-hati.” Dave mengangguk. Ia juga salah tingkah, tapi memilih pergi dan hanya sedikit tersenyum lalu menutup pintu. Sedangkan Sasha, masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN