Tidak bisa dipungkiri, Sasha bahkan sudah tak tahu berapa lama ia melamun. Memastikan bibirnya berkali-kali, tersenyum dan bergumam. Dave? Pria itu membuatnya makin bermasalah.
Meskipun banyak gosip kalau Sasha punya pacar sana-sini, tapi itu semua hanya sekadar hoax. Sampai sekarang, statusnya masih jomblo. Sambil menunggu pangeran kuda putih melamarnya.
Melirik ke arah jam dinding, masih fajar. Mata Sasha tak bisa diajak berkompromi. Biasanya ia masih memejam, bahkan tak akan mau beranjak dari ranjangnya sendiri. Tapi, siapa yang bisa memejam setelah ciuman singkat tadi.
Apakah Dave melakukannya hanya karena cemas atau memang pria itu juga menyukainya? Jelas-jelas Dave bilang akan melindunginya. Memangnya dia buronan harus dilindungi?
Tak bisa berpikir jernih, Sasha turun dari ranjangnya, berjalan menuju jendela, jelas masih gelap. Hanya ada beberapa mobil di jalanan yang masih lalu lalang. Kalau bukan karena tangannya yang diinfus, ia pasti sudah nekat mengejar Dave dan melanjutkan ciumannya tadi.
“Kalau begini aku bisa gila!” ucapnya lantang.
Mana ponselnya? Sasha melihat tasnya di dekat meja dan mengetik sesuatu. Gina bahkan mengiriminya pesan.
“Lu terbangun? Perlu gue ke sana?”
“Yeah. Lu juga udah bangun. Sorry bikin khawatir, tapi gue udah baik-baik aja kok, Gin. Bilang ke Rendi, gak usah jemput. Gue bisa pulang sendiri.”
“Tapi..”
Sebelum menjelaskan alasannya, Sasha sudah memutuskan sambungan. Rasa pusingnya sudah hilang semalam, dadanya juga tak sesesak saat ia merasa kesakitan.
Ia hanya memikirkan Dave. Sasha tak sabar segera pagi, ia harus menemui pria itu dengan segera. Ya, meminta penjelasan atau apa saja asal bisa bertemu dengan Dave, si angkuh yang memesona.
“Aku cuma gak masalah dia menyentuh bibirku, tapi aku gak mau terkesan murahan di matanya. Sasha Bellova harus bernilai di depan semua pria, apalagi dia adalah Dave Lennon.”
(Bagian Kedua)
Hal gila yang dilakukan Sasha adalah pulang sendiri dari rumah sakit. Ia sudah menebus obat, meskipun tak yakin akan dihabiskan sampai tuntas. Sasha sudah memesan taksi menuju salah satu apartemen di mana Dave berada.
Kalau tidak ada, Sasha bisa ke rumah di mana dulu ia pernah tidur bersama dengan pria itu. Ia tahu Dave suka privasi, tapi, bukankah Dave juga telah merobohkan privasinya?
“Ke alamat ini ya, Pak?”
“Baik, Nona.”
Sasha bahkan punya waktu membeli pakaian dengan asal, juga memakai kacamata. Tenaganya tidak banyak, tapi disisakan demi pria satu ini.
Badannya agak lengket, ia tidak mandi semalaman. Dan mungkin tak berpikir juga sampai ke sana, yang penting wajahnya tidak kucel karena cuci muka dan hanya memaka lip tint lebih dari cukup bukan?
Setengah jam bertahan di dalam taksi, akhirnya Sasha sudah sampai. Masih jam 7 pagi, apakah pria itu masih di apartemennya?
“Ini, Pak. Kembaliannya ambil saja.”
Dengan terburu-buru, Sasha memencet lantai di mana Dave tinggal. Pria itu suka berpindah-pindah, bukan hanya satu tempat saja. Tapi Sasha pastikan, setelah ini Dave hanya akan terpaku padanya saja. Lupakan siapa Grace atau siapa pun yang menyukai Dave. Sekali Sasha melirik, pria itu harus jadi miliknya.
Akhirnya sampai. Sasha memencet bel, belum ada jawaban. Bahkan, Sasha sampai menempelkan telinganya ke pintu, lupa kalau apartemen mewah pasti kedap suara.
“Sial. Apa dia bekerja juga? Ini kan weekend. Tapi, seorang Dave pasti gila kerja.” Sasha berkeyakinan kalau Dave masih ada di sekitar sini. “Tidak-tidak, Dave pasti masih tidur.” sanggahnya.
Berkali-kali dipencet tetap saja tak ada jawaban. Sampai membuat tetangga sebelah harus keluar dan melihat siapa tahu pintunya lah yang berbunyi.
“Nona, pria yang menghuni unit 506 sedang jogging. Dia tidak ada di kamarnya.”
“Jogging?” Sasha hanya kaget, ternyata Dave cukup terkenal di sini. Bahkan, tetangganya sampai tahu kegiatannya saat weekend. Waow, cukup mengesankan.
“Iya. Namanya Dave kan? Kita sudah bertetangga lama, jadi aku cukup mengenalnya. Biasanya dia jogging di sekitaran taman depan kompleks.”
“Mom!”
Suara teriakan dari dalam membuat Sasha lega. Wanita yang memberitahunya sudah menikah bahkan punya anak. Setidaknya Dave tak akan punya kisah cinta lima langkah. Wanita tadi masih cukup muda, meskipun tak semuda Sasha.
Oke, Sasha berjalan lagi, memasuki lift dan sampai ke lantai dasar. Demi Dave. Ia celingukan, mencari taman di mana ada Dave ada di sana. Tak ada pilihan lain, Sasha terus berjalan, sesekali memastikan setiap ada pria yang tubuhnya sempurna seperti Dave.
Itu dia. Ya, Sasha yakin sekali. Pria itu sedang duduk, meluruskan kaki. Sasha makin mendekat, menghampiri bahkan menyapa.
“Hai, si angkuh.”
Dave mendongak. Kaget, lalu secepat kilat menyembunyikan wajah herannya, “Lova?”
“Yeah, it's me. Akhirnya aku menemukanmu juga. Ah, capek juga bolak-balik dan berakhir di sini.”
Ia langsung merebut minuman yang dibawa Dave. Lupakan soal apakah Dave menawarinya atau terbiasa meminum botol dari orang lain, Sasha kehausan. Ia bahkan sampai meneguk sampai setengah. Rasanya sungguh melegakan. Bahkan, Sasha melupakan siapa dirinya, membuka kacamatanya.
“Tadi aku sudah mengatakan pada Rendi aku ada urusan.”
“Urusan?” mata Dave menyipit. “Denganku kah?”
Wanita itu cepat mengangguk. “Tentu saja. Kamu pikir aku bakalan melupakannya? Kamu menciumku saat aku tak punya tenaga membalas..”
Cepat- cepat Dave membungkam mulut Sasha. Ah, wanita ini sangat berani. Dave menghembuskan napas panjangnya. Ini tempat ramai, meskipun tidur bersama adalah hal yang biasa di Jakarta, tapi Dave tak ingin orang-orang mendengar kekikukan mereka.
“Aku sudah bilang, aku akan melindungimu.”
“Kalah begitu, kamu bisa menikahiku. Tanpa mahar sekalipun aku mau, asal pria itu kamu.”
Sasha super ngawur. Ia dengan jelas melamar pria seperti Dave. Tentu saja Dave hanya bisa tertawa dan menjentikkan jari pada jidat Sasha. Menawarkan telapak tangannya pada Sasha agar wanita itu berdiri.
“Bangunlah. Kita cari sarapan.”
“Kamu nolak aku?”
“Lova, itu bisa diobralkan sekaligus dengan mencari makan. Aku lapar, kalau gak mau ya sudah.”
“Mau! Ih, tungguin, Dude!”
Sasha kembali mengenakan kacamatanya dan mengikuti langkah Dave. Pria itu hanya mengenakan celana di atas paha dan kaos biasa, mencetak abs di perutnya. Beberapa keringat di punggung membuat tubuh Dave makin seksi. Sial, Sasha bisa gila.
Mereka terus berjalan, Dave berhenti di depan rumah makan, memesan sebentar dan mengajak Sasha ke apartemennya. Ah, Sasha kira mereka akan makan di tempat. Pria itu selalu mendapatkan waktu yang tepat agar bisa berduaan dengannya. Si angkuh yang cerdik!
“Masuklah.”
“Terima kasih.”
Matanya menilai setiap sudut. Seperti ruangan pada umumnya. Tak ada sudut berantakan, rapi, tertata, dan biasa saja. Namun tetap menunjukkan sisi maskulin dari seorang Dave.