Bukan Perpisahan

1080 Kata
Lalu? Apa yang dilakukan Sasha di apartemen milik Dave? Yang benar saja, wanita itu malah mandi saking gerahnya. Apalagi ia baru saja bolak-balik agar bisa menemukan Dave. Selesai keramas dan mengambil handuk bersih dengan asal, Sasha duduk, tetap memakai pakaiannya yang ia beli dengan kilat di sebuah toko baju sebelum ke sini. “Dude, bisakah kamu membelikan daleman lagi wanita untukku?” Uhuk! Dave yang sedang meneguk soda langsung memuntahkannya lagi. Bahkan, kaosnya sedikit basah karena ucapan frontal Sasha. Wanita itu terlalu berani, meskipun Dave memang pernah membelikannya, ia pun asal menebak berapa ukurannya. Sasha tersenyum simpul, “Kenapa harus kaget? Lupa ya? Kamu pernah membelikanku itu, dan sampai sekarang, barang yang sudah kamu belikan menjadi sesuatu yang paling aku suka.” Gila, batin Dave. “Mau kuantar pulang?” Menggeleng, Sasha belum mendapatkan penjelasan paling masuk akal dari si angkuh. Seberapa lama pun ia menunggu, Sasha akan bersikukuh. Masa bodoh kalau Dave ingin mengusirnya, ia akan berteriak dan membuat drama di apartemen pria itu. Membuat banyak orang menaruh simpati padanya, bagus, Sha! Kamu memang cerdik. “Kalau gitu, apa yang ingin kamu makan? Pasti, perutmu belum terisi makanan sama sekali, kan?” “Makan kamu aja gimana? Soalnya tanganku sejak tadi nganggur, rasanya pengen kruwel-kruwel kamu saking nyebelinnya.” Sasha memperagakan sedang memeras tangannya sendiri. Tapi, Dave pasti melawan. Saat ini, kewarasan Dave sedang normal, tidak hilang kendali seperti fajar tadi. Ciuman tanpa makna. Apakah Dave sering melakukannya dengan banyak wanita? Pria itu berjalan santai menuju ke arah dapur, menyiapkan cookware dengan lapisan minyak goreng, ditambah bumbu sederhana seperti bawang bombay, sedikit cabai, garam, pada dan micin. Lengan kekar Dave membuat Sasha tersenyum, sangat menggoda. Ia ikut mendekat, berusaha membantu. “Sepertinya kamu sangat handal melakukan banyak pekerjaan.” Sambil menumis, Dave segera menyiapkan dua piring. Nasi goreng buatannya hampir matang, hanya ditambahkan sedikit kecap agar tidak kelihatan pucat. Tapi, lagi-lagi Sasha terus saja menganggu. Rebutan gagang teflon dan membuat tangan wanita itu sedikit terkena bagian atasnya. “Aw, Dave. Aku kan hanya berusaha membantu?” Dave mematikan kompor, sekaligus menuangkan nasi goreng yang sudah layak untuk masuk ke perut. Kini tatapannya berpaling ke arah Sasha yang meniup jemarinya. Ia langsung menarik tangan Sasha, menyiramkan air dingin agar tidak kemerahan. Sasha hampir menariknya lagi, tapi kekuatan Dave tak tertandingi. “Kenapa suka banget sih nyerang-nyerang?” “Enggak kok, niatku baik, gak mau nyerang kamu. Kan tadi aku udah bilang mau bantuin kamu, Dave?” Sasha mengibaskan tangannya dan bilang tak usah khawatir. “Gak ada luka yang baik-baik aja, Lova. Sekecil apa pun itu, jadi, sini, biar aku oleskan salep. Setelah itu kita makan, tunggu aku mandi dan antar kamu pulang. Masih sakit aja ngerepotin.” Itu adalah kalimat terpanjang yang didengar Sasha dari mulut Dave. Sasha seperti diceramahi, tapi ia merasa malah sangat senang. Padahal biasanya Sasha sangat sensitif jika mendapatkan ceramah dari orang-orang apalagi Rendi, biasalah, soal kerjaan. “Dude, tapi kamu kelihatan gak keberatan tuh aku repotkan. Kamu khawatir ya?” Pltakk! Jari tengah Dave mengetuk jidat Sasha, bilang jangan banyak-banyak ngehalu. “Udah, yuk makan.” Menurut dan duduk, Sasha membuka mulutnya minta disuapi Dave. Beralasan kalau tangannya sakit. Dave mengeluh tapi tetap dilakukan juga. Ia bahkan tak keberatan satu sendok dengan Sasha. Nasi goreng yang ia makan bersama Sasha tandas tanpa sisa, masih satu piring lagi tapi perutnya sudah kenyang. Dave menaruhnya di kulkas. Baginya, nasi goreng dingin juga sangat enak untuk dimakan saat perutnya lapar nanti. “Aku gak akan meminta maaf karena sudah lancang mencium kamu.” “Oh ya? Kamu meminta maaf juga akan aku maklumi kok. Karena bukan cuma kamu aja yang ingin menciumku, bukan cuma Dave Lennon yang ingin merampas sesuatu dariku.” Sasha berdiri, mengambilkan dua gelas dan menaruhnya di depan Dave. “Kamu bisa terus melakukannya dengan memilikiku, Dude. Ya, bukankah aku sudah bilang kalau kamulah pria yang aku sukai sekarang?” Nyatanya, sebuah ciuman bukan arti suka. Ia khawatir soal Sasha, juga tak ingin melihat wanita itu terluka. Tapi masalahnya adalah apakah Dave bisa benar-benar membuka hati? “Kita lihat saja nanti. Tiga bulan, aku akan menerima kehadiranmu, Lova. Soal cinta atau tidak, kamu harus bersiap-siap akan semua konsekuensinya. Aku mandi dulu.” Pria itu meninggalkan Sasha yang diam mematung. Apa tadi? Tiga bulan? Waw, waktu yang cukup panjang juga. Sasha tidak tahu kalau Dave punya masa lalu terburuk yang membuatnya kadang berubah-ubah seperti bunglon. (Bagian Kedua) Linglung. Mereka sudah sepakat menjalani dating seperti pada umumnya. Tapi Sasha malah merasa semakin kesepian. “Sha, gak biasanya lu kayak gini. Dulu, hampir tiap hari lu dikirimi pesan oleh mantan-mantan lu. Meskipun rata-rata gak lu gubris dengan dalih kesibukan, tapi sekarang lu udah kayak anak SMP yang dilanda cinta monyet tau gak sih?” protes Gina. “Tapi gue beneran cinta sama tuh orang, Gin. Bukan cinta monyet, gak ada monyet yang secantik gue kali.” Gina menggaruk rambutnya, frustasi. Padahal Dave sudah mengatakan akan ada perjalanan bisnis dan masih di pesawat. Tapi wanita yang sejak tadi duduk, berdiri, mondar-mandir ke kanan dan kiri membuat Gina mengatainya gila. Obsesi Sasha akan sosok Dave makin membuat wanita itu kelihatan mengemis. Gina hanya takut sahabatnya terluka terlalu jauh. Dave pasti punya penggemar atau fans pria setampan itu tidak mungkin jauh dari kata banyak wanita. “Kalian sudah berciuman?” “Sudah.” Mata Gina terbelalak, “Apa? Kapan? Kenapa lu gak cerita?” “Saat gue di rumah sakit kemarin. Dia duluan kok yang cium gue, dia bilang, katanya mau ngelindungin gue. Uh, sweet banget gak sih, Gin?” Sasha terlampaui senang ketika mengingat momen itu, sayang sekali, saat Dave menciumnya ia sedang tak punya tenaga. Atau lebih tepatnya karena heran diserbu dengan intens. Notifikasi ponselnya semakin membuat Sasha senang. Ia menamai Dave dengan Dude Darling, norak? Biarin! Katanya pria itu baru saja sampai. Meskipun jaraknya tak sejauh Indonesia - Eropa, tapi baginya, Sasha seperti LDR. “Aku baru sampai, keluar dari bandara dan sedang menuju hotel.” jelas Dave. “Malaysia pasti indah,” goda Sasha. “Karena ada kamu di sana.” Sejak kapan Sasha jadi ratu gombal begini? Gina yang jadi pendengar hanya berusaha menahan muntah. “Tak ada yang seindah kamu, Sasha. Aku matikan dulu, see you.” Klik. Apa? Hanya begitu doang? Apa Dave tak tahu kalau kalbunya tercabik-cabik menahan rindu? Dating macam apa ini? Sabar, Sasha, baru satu minggu. Masih mentah, ia harus tegas dan mematangkan perasaan Dave, dengan cara apa pun melalui keindahannya sendiri. Seperti yang dikatakan Dave tadi, Sasha memang indah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN