Rebutan

1091 Kata
Hanya semalam saat di pernikahan sang mantan Sasha membutuhkan waktu mengetahui pria yang menabrak dan menginjak gaunnya adalah Dave. Dan juga, hanya butuh sehari saja ia mampu takluk, bahkan terkesan mengemis perhatian dari pria itu. Apakah sebegitu tidak lakunya? No! Jawabannya tergantung. Sasha tidak ragu mengakui kalau Dave memang menarik, pantas untuk dicintai dan digilai sampai sebegininya. Wajar kan orang jatuh cinta lupa waktu dan daratan? Seperti sekarang, Dave mengatakan akan pulang dan sampai di Jakarta sekitar pukul 10 malam. Itu tandanya, pria itu akan sampai di apartemennya tengah malam. Yang paling menyebalkan adalah Sasha harus menunggu secara rebutan bersama wanita lain. Namanya Grace, wanita yang tidak pernah dianggap ancaman baginya. Mereka saling melirik, melihat penampilan masing-masing. Tatapan sinis Grace dibalas dengan lebih sinis dari Sasha. “Bukannya kamu ini publik figure ya? Apa gak takut kalau kesebar sedang menunggu seorang pria di depan kamarnya langsung?” usir Grace secara halus. Sasha mengibaskan rambutnya, tersenyum simpul seolah omongan Grace barusan hanya angin lewat. “Sekedar mengingatkan, kalau publik figure sepertiku selalu bersih dari skandal. Karena ada agensi yang akan membersihkan citra nama seorang model top sepertiku. Lalu, ada kepentingan apa ya ke sini. Ke apartemen CALON PACARKU?” Sasha sengaja menekan kata calon pacar. Ia sudah ada rencana-rencana dan win-win solution untuk mendekati sesosok Dave Lennon. Interaksi mereka pun bisa dikatakan mesra, hampir baper malah. Itulah mengapa, Sasha berani bertaruh kalau dalam jangka waktu tiga bulan, ia bisa dicintai bahkan menikah dengan Dave. Menikah muda? Tidak masalah. Pasti Dave tidak akan berpikiran sempit dengan melarang istrinya terjun sebagai wanita karir. Apalagi sebagai model. “Dave masih lajang sampai sekarang, Sasha. Jangan berharap yang lebih-lebih padanya. Kamu pikir, aku gak usaha sekeras kamu untuk mendapatkannya?” Pancingan merendahkan mental Sasha sama sekali tak dihiraukan. Sasha masih terus memantau jam tangannya. Ia menyuruh Grace diam karena sudah hampir jam 12 malam. Dave hampir sampai, kata pria itu yang sedang berada di dalam taksi. Dan benar, tidak sampai 10 menit, pria yang diperebutkan berjalan ke arah mereka. Grace menyebut nama Dave, bahkan menghampiri. “Ngapain kamu di sini?” “Menyambutmu pulang.” Grace tersenyum bangga. “Dan tentunya membawakan kamu minum, Dave. See? Aku bahkan sudah memesannya langsung dari Bali. Minuman kesukaanmu.” Yang diperlukan Dave hanya istirahat. Bukan keberisikan seperti ini. Ia lebih kaget lagi karena ada Sasha, tambah ramai. “Kamu juga?” Hanya cengiran dari Sasha. Wanita itu mendekat dan langsung berpamitan. “Aku tidak akan menganggu istirahatmu, tampan. Hanya memastikan kalau tubuh kekar ini selamat sampai tujuan. Tadinya sih aku mau ngajakin kamu dinner, tapi kurasa aku bisa melakukannya lain kali. Lagian, aku tidak suka kebersamaan kita diganggu dengan kedatangan orang asing.” Cup. Sasha mengecup pipi Dave, membisikkan sesuatu lalu berlalu begitu saja. Nyaris tanpa menoleh, membuat Dave hanya berdiri tanpa berkutik ataupun memanggil nama wanita itu. Sedangkan Grace, tentu saja marah-marah. “Beraninya dia cium kamu! Kenapa kamu diam saja sih!” “Karena aku sendiri juga tak menolaknya, Grace. Setidaknya, dia tidak pernah menawariku, tapi memberiku secara cuma-cuma. Kamu juga pulanglah. Aku sedang tak ada tenaga untuk minum sekarang.” “Tapi kan..” Dave buru-buru menekan kode sandi dan masuk. Meninggalkan Grace yang masih memberontak. Wanita itu berjalan dengan kasar, menghentakkan kaki sampai menimbulkan suara. Masa bodoh, ia merasa terluka karena kalah dari pendatang baru. Bekas kecupan Sasha meninggalkan bekas. Dave menyentuhnya, ada bau cherry di sana. Pasti itu adalah merek kosmetik yang dipakai Sasha. Padahal, wanita itu bilang kalau tengah bersantai di apartemen. Tapi, kenapa bisa ada di depan tadi? Ah, sudahlah. Dave butuh tidur. Sedangkan Sasha, wanita itu baru sampai di lantai paling bawah dan melajukan mobil. Ia nekat dan mengendarai dengan asal, Gina juga tak mau dibangunkan. “Pasti kecupan penuh mantraku sekarang tengah membiusmu, Dave. Lihat saja besok, pria itu akan mengajakku sarapan.” (Bagian Kedua) Sampai siang begini, belum ada tanda-tanda kalau Dave akan mengajaknya sarapan, atau minimal bertanya kabar. Nomernya pun tidak aktif. Jangan -jangan, pria itu malah semalaman menyanggupi ajakan Grace untuk minum dan mereka tidur seranjang. Sial! Sasha nyaris putus asa. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa, satu-satunya manusia yang bisa dihubungi adalah Josh. “Jadi, kamu menghubungiku hanya untuk menanyakan soal Dave?” “Hmm, iya. Sorry mengganggu waktumu, Josh. Dia sudah berangkat kerja?” Josh terdiam dan menelpon seseorang. Sampai sekarang, ruangan Dave masih sepi, itu tandanya pria itu masih ada di apartemen. Sasha ingin sekali ke sana, tapi siang nanti ia ada pemotretan dan Rendi akan memarahinya kalau sampai kabur lagi. “Sampaikan salam saja dariku kalau kamu melihatnya, Josh. Aku akan memberimu hadiah.” Diberi iming-iming, Josh malah tertawa. Ini bukan pertama kali ada orang yang menanyakan di mana Dave, siapa wanita yang sedang bersamanya, apa Dave sedang dekat dengan seseorang. Sasha bukanlah satu-satunya. “Kamu harus lebih berusaha untuk orang seperti Dave. Tapi, Sha, aku percaya kamu bisa, karena dari yang kulihat, Dave juga nyaman dengan adanya kehadiranmu. Aku meeting dulu, bye.” Tidak tahu artinya apa, Sasha hanya membalas suara Josh. Apakah sesulit itu memunculkan benih-benih cinta? Setidaknya sampai sekarang, Sasha belum pernah ditolak atau diacuhkan oleh seorang pria. Kalau Alan sih, dia sendiri yang rugi karena memilih menikah dengan Wina. Tapi, sejauh ini, Sasha tidak benar-benar membenci Wina. Hanya sakit hati dan tidak terima saja tiba-tiba Alan berubah. Dan ternyata, pria itu memilih menaati peraturan di rumahnya untuk menikah dengan wanita yang bukan kalangan dari selebritas. “Sha, kita berangkat sekarang.” ulang Rendi, sekali lagi. Pria yang dipercayainya selama ini. Rendi dulunya hanya pegawai di sebuah restoran, menghidupi dua adiknya yang harus menyelesaikan sekolah dan studi kuliahnya. Dan sampai saat ini, bagi Sasha, hanya Rendi yang paling terbaik menjadi managernya. “Aku boleh makan sesuatu? Dari tadi pagi aku menunggu seseorang, tapi orangnya gak sadar kalau sedang ditunggu.” “Terus, ngapain masih nunggu? Nunggu yang pasti-pasti aja lah, Sha. Kayak kerjaan ini misalnya, pasti dan bergaji.” Sasha tersenyum dan menerima piring lengkap dengan makanan di atasnya. Rendi memang peka, ia tahu modelnya menahan lapar sejak bangun tidur tadi. Hanya memakan buah, oatmeal dan segelas jus. Sasha bangkit dari rasa malasnya. Ia membuka pintu dan kaget melihat ada bingkisan yang ada di atas keset. “Aku gak bisa mengajakmu sarapan karena harus pergi lagi. Tapi aku janji, nanti malam akan menjemputmu. Boleh kan?” Ada nama pengirimnya, Dave. Sasha langsung memeluk bingkisan itu dan membawanya, bisa dimakan saat istirahat nanti. Lumayan kan, tidak peduli isinya apa, apakah berlemak, berminyak, berkalori? Sasha sungguh tak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah perhatian dari Dave. Pria yang ingin ia taklukkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN