Seperti yang sudah Sasha bilang, apa pun makanan yang dikirim Dave akan ia habiskan, nyaris tanpa sisa. Tapi, pria itu malah mengiriminya salad sayur. Apakah Dave tidak tahu kalau Sasha benci sayuran? Ia sudah sering memakannya karena sebuah keharusan sebagai model. Makanan yang tidak sepenuhnya memberi kekenyangan.
“Kenapa cuma dilihatin aja?” ejek Rendi. Managernya asyik menggigit burger, dengan squash lime segar tambahan French fries. Sedangkan Sasha? Ah, miris sekali.
Sasha menyenggol lengan Rendi. Pria itu tadi menawarinya burger dan tentu saja ia masih lapar. Salad pemberian Dave sudah hampir habis tapi ususnya masih meronta-ronta minta diberi amunisi.
Tentu saja Rendi luluh dan membukakan burger baru untuk modelnya. “Nanti gue ke tempat Gina. Dia juga ada pemotretan di gedung Amper. Sekalian ikut atau lu mau pergi ke suatu tempat gitu?”
Akhir-akhir ini Rendi sering bersikap aneh, salah menyebut nama, kadang bangun kesiangan dan sering mematikan telepon tiba-tiba ketika Sasha mendekat. Kata Gina sih, managernya tengah menjalin hubungan dengan seseorang. Lantas, kenapa harus ditutup-tutupi? Toh, Sasha tak akan melarangnya untuk kasmaran.
“Gue udah gede, KTP masih aktif, BPJS juga jalan. So gue bisa pulang sendiri kok, lu duluan aja.”
Rendi memberikan dua jempolnya. Pemotretan Sasha tinggal beberapa take lagi, hanya pose sempurna dengan produk makanan. Sasha memang menerima banyak job minggu-minggu ini, ia butuh liburan.
“Break selesai. Sasha, ayo lanjut.” kata Damar sebagai fotografer. Ia sering menjadi pembidik kamera bagi Sasha, mereka bahkan sudah saling menyimpan nomor WA. Yeah, meskipun Sasha tidak tertarik sama sekali dengan pria itu.
Terlalu muda dan tergesa-gesa. Sasha lebih suka pria matang, berpengalaman dan tentu saja bisa menjaganya.
Ia kembali bercermin dan merapikan rambutnya yang dikuncir kuda, memperagakan aksen untuk membuat penonton atau konsumen yang melihat ucapannya percaya, bahwa produk yang ia iklankan memang enak.
Hanya berlangsung setengah jam, kaki Sasha kesemutan sejak tadi. Memang sih, ini jadwal Sasha ke salon, spa, dan memanjakan tubuhnya.
“Nitip barang-barang gue ya di mobil, nanti antar aja ke kamar.”
“Oke. See you, Sha. Hati-hati, jangan lupa pakai kacamata,” Rendi memberikan kacamata hitam untuk modelnya.
Ya, begitulah kehidupannya. Ia tak sebebas dua tahun yang lalu. Di mana-mana bisa tanpa masker, tak harus sembunyi-sembunyi ketika harus melewati keramaian. Tapi, semua masa-masa sulitnya terbayarkan dengan gaji yang membabi buta. Bisa membayarkan rumah, cicilan mobil, tanah, usaha dan pengobatan orang tuanya.
Ia menscroll beranda dan melihat rekomendasi cafe paling cantik, fotogenik dan juga menarik di sekitaran Jakarta. Sasha memang sering iseng mencari tempat nongkrong, dan secara tak sengaja ia akan berfoto selfi, menandai lokasi dan akun cafe yang didatangi. Lalu, setelahnya banyak orang yang akan tertarik pergi ke sana.
Cara jitu menaikkan followers, bahkan, ada banyak pesan ucapan dari terima kasih dari sang pemilik, mengirimkan slot kopi gratis. Dasar, bilang aja nyari gratisan!
“Ah, ketemu!” Sasha melihat suasana dari beberapa orang yang sudah pernah ke sana. Membaca link yang tertera dan juga menu yang tersedia.
“Aku share lok aja kali ya ke Dave? Tapi kan pria itu bilang mau jemput nanti malam.” Sasha menimang-nimang sesuatu, ia bukan wanita yang setiap hari bertukar pesan.
Sambil menunggu taksinya datang, Sasha berdiri dan bersandar pada tembok. Melihat staf membereskan tempat pemotretan. Ia segera masuk ke dalam taksi menuju tempat pilihannya
Sudah sampai di Shophaus Caffe, Sasha memilih tempat duduk paling ujung dekat jendela. Staf membawa buku menu, dan akan kembali dalam 5 menit.
“Hmm, always Caramel Macchiato. Waffle. Toast. Oke, done.” gumamnya sendiri. Ia mengangkat tangan dan mengulurkan buku penu pada staf yang tadi menghampiri.
Tak ada tanda-tanda Dave menelepon atau membaca pesannya. Masih centang abu-abu, tak ingin diambil pusing. Sasha memilih menurunkan sedikit maskernya dan mengambil gambar.
Untuk ukuran orang yang lumayan dikenal sepertinya, bisa jalan-jalan me time tanpa seorang pengawal, paparazzi, atau wartawan adalah waktu berharga baginya. Ia masih harus memaka topi demi harga dirinya yang masih dijunjung tinggi.
Matanya mengawasi sekitar, orang berlalu lalang, keluar masuk. Ia mengenali seseorang, pria yang pernah bersama Dave pada pertemuan pertama mereka, pria yang sama yang ia mintai tolong untuk memberitahu di mana Dave berada. Haruskah Sasha menyapa?
Oke. Mending pura-pura gak kenal aja daripada sok akrab. Ia hanya menganggap Josh sebagai partner kerja, tak lebih. Nyatanya, Josh juga penuh selidik ke arah di mana Sasha duduk.
Wanita cantik selalu memancarkan aura sekalipun memakai topeng bukan? Josh sudah berdiri dan meminta waktu sebentar pada teman ngopinya.
“Sasha. Itu kamu kan?”
Josh bahkan sudah sedikit membungkuk, memastikan tebakannya benar. Sasha hanya mengedipkan mata, jujur, ia sedikit merasa tak nyaman.
“Yeah, it's me. Kebetulan banget ya kita ketemu di sini?”
“Iya juga ya? Tapi, aku sering ke sini kok, Dave juga. Dia gak ngasih kabar lagi? Kamu dicampakkan secepat ini?” ledeknya.
Sasha mendelik, “Enggak tuh, dia belum ada waktu aja buat lihat ponsel. Katanya sih pergi, emang perusahaan ngasih tugas apa sih ke dia sampai sesibuk itu?”
Yang ditanya hanya mengangkat bahu dan malah duduk, tanpa dipersilakan. “Maybe urusan keluarga bukan?”
Apakah Dave pergi ke rumahnya saat mereka dulu menginap berdua di sana? Ah, bisa jadi bukan? Josh tidak mengatakan hal banyak, langsung pergi. Dan Sasha berniat akan di sana. Ia segera menghabiskan makanannya, bahkan berniat membungkus.
“Kenapa perasaanku gak enak gini sih?”
Sesuai perjanjian. Dave tak ingin tempat itu diketahui oleh banyak orang, Sasha sengaja meminta pak supir berhenti dan Sasha berjalan menuju ke sana. Demi privasi dan juga sebuah janji.
Bahkan, Sasha nekat memanjat pagar. Tak ada orang, Sasha memutar sampai taman belakang. “Rasanya aku seperti seorang pencuri saja.”
Lebih kagetnya lagi adalah Sasha bisa menembus pintu belakang yang hanya dihalangi kayu setebal lengannya. Ia masuk dan mengatakan halo, tak ada balasan apa pun. Itu artinya, tak ada siapa pun di sini. Haruskah Sasha pergi?
“Hmmm, tempat ini membuatku ingat betapa bedanya Dave saat itu.”
Ia menyentuh beberapa bekakas yang ditata rapi, semuanya dari bahan gerabah. Sasha bahkan sudah menyentuh salah satu buku dan membacanya. Novel romen terjemahan, ia keenakan dan akhirnya tertidur di sofa.
(Bagian Kedua)
Kunjungan mingguan rutin seperti biasanya. Dave mengelapi tubuh wanita yang begitu pucat dengan air hangat. Hampir satu tahun lebih wanita itu tak mau bicara soal luka-lukanya.
“Ma, apakah mama tak ingin bertemu Nadhira?”
Nama yang baru saja disebutkan adalah adik kandungnya. Tinggal jauh bersama seorang pria yang tak ingin lagi diingat Dave, meskipun ada hubungan darah.
Ia begitu membenci semua tragedi yang membuat kebahagiannya mendadak sirna. Rasa di hatinya juga makin tak bisa dikendalikan termasuk hubungan asmaranya.
“Baiklah. Aku pulang dulu, ada Suster yang akan selalu memantau kesehatanmu, Ma.” Dave mengecup wanita berseragam itu dan benar-benar pergi.
Keluar dari rumah sakit, Dave baru kembali mengaktifkan ponselnya. Notifikasi bertubi-tubi masuk, ada beberapa panggilan dari Josh.
“Ya?”
“Di mana?”
“Biasa. Kenapa? Di perusahaan ada masalah?”
“Nothing. Lu dicari seseorang, Dave. Temuilah dia, gue tahu lu juga punya interesting dengannya.”
Klik. Siapa yang dimaksud Josh? Grace? Dave melajukan mobilnya dengan santai, bahkan ia mampir untuk membeli buket bunga. Sebelum itu, Dave mampir ke sebuah tempat. Tempat di mana dulu ia menyembunyikan Nadhira dari pria yang menghancurkan mimpi-mimpinya.
Aneh? Kenapa ada telapak kaki kotor di lantai? Dave membuka gembok dengan kunci yang selalu menempel padanya. Ia masuk, was-was dan melihat ke seluruh ruangan.
Matanya tertuju pada seseorang yang tertidur dengan novel di dadanya. “Sasha? Bagaimana dia bisa ada di sini?”
Lucunya adalah Sasha seperti tidak nyaman tidur dengan posisi kepala miring. Dave duduk di sebelah wanita yang tidak terganggu dengan suaranya.
“Halo, Lova?”
Pluk! Kepala Sasha jatuh di bahu Dave, Dave tak bergerak. Ia semakin merapatkan diri dan membuat sandaran ternyaman bagi wanita di sebelahnya.