Menatap layar Macbook berukuran 13 inchi di hadapannya sejak setengah jam yang lalu, Dave seperti mengetik sesuatu. Ia sudah mengirimkan beberapa data pada Josh, tidak sesibuk pria yang baru saja menghubunginya lewat telepon, Dave memilih menunggu Sasha bangun dari tidurnya.
Bukankah pria itu berjanji akan mengajak dinner? “Cih, dia tidur pulas sekali.”
Bahu Dave tidak lagi jadi sandaran, kini Sasha sudah berganti posisi. Berbaring dengan nyaman di sofa, sedangkan Dave duduk di sofa tunggal sembari menikmati kopi.
Tak ada yang benar-benar serius sekarang, hanya melihat beberapa laporan dari divisi pemasaran. Rating perusahaan dan juga rekap data beberapa model casting yang masuk.
Mulutnya memang tak mahir memuji modelnya cantik atau menarik, tapi mata jelinya bisa menangkap bakat yang dimiliki sang model. Contohnya Jacob, pria berkebangsaan bule yang juga mencintai Indonesia.
Tangannya mengaduk kopi dengan lambat, membuat suara nyaring dan akhirnya membangunkan putri tidur yang masih bersibaku dengan selimut. Sasha tertegun melihat sesosok pria tinggi di hadapannya. Ia masih berusaha mengumpulkan nyawa dan kesadaran.
"Ah, ya ampun! Kenapa aku bisa ketiduran?”
Hal pertama yang ia lakukan adalah duduk secepat kilat, memukul kepala dan menyalahkan keteledorannya. Sasha juga menyalahkan waktu.
“Dave, kenapa kamu gak bangunin aku?” kecamnya. “Kan malah gak jadi dinner? Kamu tahu, aku udah nunggu dari tadi siang!”
Yang dibentak malah tenang, hanya mengangguk dan menerima ocehan dari Sasha. Ia meletakkan Macbook di meja dan berdiri, menunjuk sesuatu. “Itu, aku sudah belanja. Kata siapa gak jadi? Aku adalah pria yang menepati janji. Lagian, kamu tidur seperti beruang. Sama sekali gak tahu kalau aku datang dari dua jam yang lalu.”
Apa tadi? Dua jam yang lalu? Sasha benar-benar gila. Ia biasanya tak seperti ini, sulit tidur di sembarang tempat kecuali darurat dan benar-benar capek.
Mungkin efek membaca buku membuatnya cepat menguap dan ngantuk. “Jadi, kita dinner di sini? Aku kira kamu bakalan ngajak aku ke restoran mewah, bintang lima, terus ngajak aku..”
“Buang semua imajinasimu, Lova. Aku lebih jago membuatkan makanan daripada makanan yang kamu anggap istimewa di restoran yang sering kamu kunjungi. Kita lihat saja, atau bagaimana kalau kamu membantuku? Apakah seorang model sepertimu mau bersusah payah seperti menyiapkan peralatan makan misalnya.”
Dianggap manja adalah salah satu hal yang tak disukai Sasha dari dulu. Ia juga pernah mandiri, berada di titik kehidupan di mana harus melakukan semuanya sendiri. Merangkak melewati banyak jurang sampai akhirnya kini namanya jauh lebih dikenal.
Kakinya segera memasuki pantri dan menyiapkan peralatan makan yang disebutkan Dave. Pria itu sudah memakai celemek, memanasi coocware dan melelehkan blue band.
Rencananya, Dave akan membuat pasta, dan beberapa makanan Korea. Ia sudah sering menyiapkan makanan Eropa, bosan.
“Kamu bisa mendidihkan air kan?”
“Iya-iya, bisa! Apalagi!” Sasha membangun kerucut dengan bibirnya. Kesal dianggap tak bisa melakukan sesuatu di dapur milik Dave.
Tapi, sepuluh menit kemudian, mereka sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Dave memeriksa beberapa kali apakah mienya sudah mengembang karena ia harus mencampurkan sausnya.
Dan juga Sasha yang sudah menggulung sesuatu dengan campuran makanan di dalamnya. Ternyata menyiapkan makanan sendiri jauh lebih ribet dari yang dibayangkan. Apakah Sasha tetap menganggap dinner malam ini romantis?
“Kamu cukup bisa diandalkan.” puji Dave.
Pria itu penuh keringat, meskipun berada di ruangan yang Ber-Ac.
“Iya dong. Setidaknya, kalau nanti aku jadi istri kamu, aku gak bakalan kelaparan kalau suamiku gak ada. Yeah, meskipun aku bisa memesan makanan sih.”
Mendengar kata istri, Dave tersenyum getir. Ia sudah lama memendam masa lalunya rapat-rapat. Hubungan pernikahan yang kandas di hidupnya semakin membuat Dave berhati-hati, sekaligus teliti untuk memilih pasangan.
Sasha cantik, baik dan energik. Satu hal yang membuatnya kagum adalah wanita itu jarang sekali menampakkan kesedihannya, berbeda dengan Dave yang hari-harinya adalah kesedihan.
“Waw, gak nyangka bisa membuat sesuatu untuk dinner kita juga terasa bermakna, Dave.” mata Sasha berbinar-binar melihat beberapa piring yang sudah terisi makanan di atasnya, dengan hiasan ala kadarnya.
Dave mengeluarkan sesuatu, minuman tanpa alkohol karena ia tak ingin Sasha mabuk. “So, makanlah. Terima kasih atas kerja samanya malam ini, Lova.”
“Dengan senang hati, Dude.” tangan Sasha sudah menyumpit pasta, khas Aglio Olio Italia. Makannya bahkan terkesan buru-buru menandakan kalau ia memang benar-benar lapar.
Beda dengan Dave, ia makan dengan tenang, menuangkan gelas milik Sasha. Bahkan menyeka noda di sudut bibir Sasha yang sudah mampir sejak awal suapannya.
“Kamu kelihatan imut ya kalau makan,”
Sasha malu-malu, tapi tetap dilanjutkan sampai suapan terakhir. Lupakan soal wanita harus lemah lembut saat makan, kalau masalah perut, Sasha tak bisa menahannya.
“Oh iya, kata Josh kamu ketemu keluarga kamu. Siapa? Papamu? Calon mertuaku? Atau anggota kerabat yang lain?”
Ah, padahal Dave percaya Josh tak akan menyinggung soal keluarganya. Ia menutup rapat soal itu, bukan malu, bukan. Hanya saja, tak semua orang akan paham bagaimana sulitnya harus menjadi sekuat Dave.
“Kalau gak bisa cerita gak apa-apa kok, Dude. Simpan rahasiamu, karena aku memang belum berhak tahu dan gak akan mencari tahu. Asalkan kamu sadar kalau aku ini serius soal kita, itu sudah lebih cukup.”
Sasha bukan manusia ribet yang akan menggeledah masalah privasi orang. Apalagi bercerita karena dipaksa, ah! Bukan sekali tipenya.
“Terima kasih, Sasha. Oh iya, aku sampai lupa. Aku membawakan hadiah sesuatu untukmu saat kemarin ke Kuala Lumpur.”
“Oh ya?”
Sasha masih sibuk makan hidangan penutup, rugi kalau dilewatkan. Meskipun ia akan berolahraga setelahnya karena makan di atas jam 8 malam. Tak apa, asal seimbang.
Pria itu mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang sudah rapi di meja, lalu membukanya dan mendekatkan di kaki Sasha.
“Sneakers wanita? Hoho, biasanya para pria memberikanku permata, pakaian atau heels, Dude.”
Tapi, Sasha tetap memasukkan salah satu kakinya dan pas. Kaki yang satunya lagi, ia berdiri, merasa nyaman karena Dave bisa menebak ukuran kakinya.
“Karena aku beda dengan pria-pria yang pernah merayumu.”
“Jadi, sekarang kamu sedang merayuku?” pancing Sasha. Sedikit membungkuk dan menarik kerah baju Dave.
Pria itu berdiri dan merengkuh bahu Sasha. “Aku membalas apa yang selama ini kamu lakukan padaku, Lova. Memberikanku semangat di pagi hari, bahkan saat aku sendiri tak tahu apakah pagimu menyenangkan atau tidak. Lalu, kamu sengaja membuatku harus berkewajiban memberi kabar sesempat yang aku bisa. Jujur, saling bertukar kabar adalah sesuatu yang nyaris tak pernah aku lakukan.”
Dave lebih mendekat, tentu saja ia lebih tinggi dari Sasha. Tangannya mencubit pipi Sasha yang tidak chubby, tapi cukup menggemaskan. “Karena kamu, aku lupa kalau duniaku yang kemarin pernah sempat abu-abu. Terima kasih, ya?”
Sasha tak berkedip sama sekali saat pria itu menakutkan pagutannya dengan lembut. Bahkan, menarik tubuh Sasha agar menyamai tingginya. Sedangkan Sasha hanya menutup mata dan merasakan kelembutan karena bibir mereka saling menyatu.
(Bagian Kedua)
Sudah tak pernah menginjakkan kaki di Indonesia, bagi wanita bernama Elena Dirash terasa begitu asing. Ia kembali untuk mencari kesembuhan, meskipun ia sendiri tahu kalau kepulangannya tak akan disambut baik oleh seseorang.
Hampir satu tahun tak berkabar, Elena yakin pria yang pernah memanggilnya sayang belum ganti nomer. Ya, Dave Lennon, pernikahan mereka tak berhasil.
Dave banyak menderita saat bersamanya, dan Elena paling tak tega dengan segala penderitaan Dave.
Ting! Sekali lagi Elena memencet bel, ia tak yakin Dave akan menyambutnya dengan baik.
“Siapa ya?”
Elena membuka kacamatanya, geleng-geleng kepala saat melihat sosok wanita keluar dari apartemen kenalannya, Josh. "Bukankah ini kamar milik Joshua Argayuasa?”
Yang ditanyai malah berganti tanya, memasang wajah sinis menyangka kalau Elena adalah salah satu wanita simpanan Josh.
“Sayang!” itu Josh, Elena yakin sekali. Ia langsung masuk meskipun belum dipersilakan. Membuat perdebatan kecil.
“Elena!“ teriak Josh dengan lantang. Buru-buru ia menutupi dadanya dengan kemeja yang tadinya dibuang dengan asal di atas sofa. “Ka-kamu ngapain ke sini? Kapan kamu pulang?”
“Dia siapa, Honey?” tanya wanita yang tadi membuka pintu, melirik ke arah Elena yang tenang dan duduk, tanpa terintimidasi dengan Josh yang kelar mandi, sudah biasa. Elena sangat hapal kalau pria gesrek itu suka sekali gonta-ganti gandengan.
“Elena Dirash, tenang saja, saya bukan salah satu koleksi kekasihmu. Saya mantan istri sahabatnya, Dave.”
Wanita bernama Marine hanya diam dan menerima uluran tangan Elena. Dave?