Keasyikan!

1340 Kata
Josh bersumpah, ia tak ingin berurusan lagi dengan Elena, wanita gila yang dari dulu hanya menimbulkan masalah di hidup Dave, dan mengajak Josh terjun di dalamnya. Sudah cukup Elena tinggal di luar negri, kenapa harus kembali! “Aku tak bisa memberitahu di mana Dave, Elena. Kalian sudah berpisah dan sekarang dia sangat-sangat bahagia. Tanpa adanya kamu.” kecam Josh. Tidak ada kegusaran di wajah Elena. Wanita yang memakai blazer sampai ke paha itu sangat percaya diri bahwa Dave Lennon tak akan mampu membuka hati lagi. Atau mungkin kesulitan untuk mencintai wanita, lagi. Pikirnya. Tradegi masa lalunya pasti membuat Dave trauma. Ia datang bukan ingin mengingatkan, bahkan dengan tujuan baik, yakni memperbaiki. “Dulu aku tidak pernah punya pikiran bahwa Dave akan sangat menderita. Tapi, kau harus tahu, Josh, aku dan Dave pernah memiliki kisah indah. Dan itu enggak sebentar.” “Bedakan arti pernah dan sudah. Semuanya sudah berakhir, Elena. Biarkan Dave setidaknya bahagia dan jangan ganggu dia lagi.” Ya, Josh adalah saksi di mana hari-hari Dave begitu kacau, pilu, berantakan dan tak tersusun. Enam bulan hidup luntang-lantung tanpa raga, begitulah Dave dulu ketika bercerai dengan Elena. Diselingkuhi? Lebih, lebih dari itu. Sampai Dave tak bisa berkata-kata lagi. Marine sejak tadi hanya diam, sesekali melihat perdebatan kecil antara kekasihnya dan mantan kekasih sahabat Josh. “Baiklah. Aku akan segera menemukannya, dan apa kau bilang? Dave punya kekasih? Aku penasaran, wanita macam apa yang bisa berhadapan dengan pria sedingin dia. Bukankah Clara, Nadya, Iven dan terakhir, Grace, mereka mengejar pria yang buta akan perasaan? Itu pertanda dia masih sangat terluka.” Meskipun tak pernah lagi mendengar kabar dari ex husband, Elena selalu mendapat laporan mengenai wanita yang berusaha mendekati Dave. Semuanya juga bukan orang sembarangan. Ada anak CEO, sekretaris anggota dewan, dari keluarga darah biru, konglomerat, dokter. Waw, Dave dikelilingi diamond termewah. Tapi, tentu saja. Hanya Elena yang mampu memecahkan cangkang yang sudah rapuh itu, ia berniat memperbaiki masa-masa dulu yang terjadi begitu saja. “Sampai jumpa lagi, Josh. Bertaubatlah, kali ini aku doakan kau langgeng dengan Marine.” Rasanya, Josh ingin melempar wajah Elena dengan vas bunga di meja. Tapi diurungkan karena ia tak mau ada masalah yang lebih buruk lagi. Haruskah Josh menelpon Dave sekarang? (Bagian Kedua) Seperti menjalankan sebuah misi, Sasha sangat berhati-hati kali ini. Dia melihat kakinya, lebih tepatnya sneakers yang dibelikan Dave semalam. Usai dinner romantis di rumah misterius milik Dave, Sasha berjanji akan meluangkan waktu bangun pagi, berolahraga. Percuma juga bukan membatasi makanan, tapi tubuh hanya berbaring seharian di ranjang. “Mau ke mana?” “Bertemu Dave. Gue yakin pria itu sudah menunggu di bawah. Katakan saja pada Rendi kalau Sasha Bellova sudah bangun dan bahkan berniat jogging. Dia harus bangga modelnya sangat menjaga bentuk tubuhnya demi profesional kerja.” “Bertemu Dave? Lagi?” “Kalau bisa setiap hari, Gina. Ayolah, Dave mumpung punya waktu. Dan gue bakalan berolahraga di tempat yang aman. Jauh dari sorotan media. Maybe Dave punya lapangan golf rahasia atau suatu tempat di mana hanya ada gue dan dia saja.” Gina menoyor kepala Sasha karena wanita itu pikirannya hanya sayang-sayangan. Tapi baiklah, mood Sasha bertambah baik saat berhubungan dengan Dave. Setidaknya, hal itulah yang membuat Rendi lega karena mood baik seorang model sangat berpengaruh pada pekerjaannya. Dengan semangat tinggi, Sasha memberi kiss bye pada Gina dan menutup pintu apartemennya lalu memasuki lift, memencet tombol dan menunggu. Tak lama, ia sudah keluar lagi dan mencari keberadaan pria yang mengatakan kalau pria itu memakai setelan warna biru gelap. Ah, ketemu! “Hai. Menunggu lama?” Yang disapa sedikit menoleh, bahkan lupa caranya berkedip. Sasha memakai kaos warna cerah, merah muda dan celana dengan tambahan rok mini meskipun bahannya sangat elastis. Nyaman sih, tapi, apakah harus seheboh ini perpaduannya? “Kamu sungguh akan mengenakan ini?” Sasha melihat penampilannya sendiri dan mengangguk. “Iya. Ini satu-satunya pakaian olahraga yang paling manis yang aku punya. Lainnya hanya berwarna gelap, aku gak mau pagiku segelap apa yang aku pakai.” Dave mengambil napas panjang, Sasha malah terkesan seperti akan ikut kegiatan balet. Ramai dan heboh. “Kenapa menyukainya? Kurasa kamu cocok dengan warna kalem, Lova.” Sambil menerawang ke atas, Sasha berpikir sejenak. “Karena terlalu biasa. Aku tidak suka dianggap biasa olehmu. Aku berharga, seberharga waktuku sekarang.” Seperti itulah Sasha. Percaya diri dan selalu bangga dengan dirinya sendiri, Dave hanya tersenyum dan membukakan pintu. Ia punya tempat di mana Sasha bisa merileksasikan tubuhnya sebentar. Awalnya sih ingin mengajak wanita itu jogging, tapi diurungkan karena sepertinya bermain bowling lebih menarik. Ia tentu punya tempat tersendiri menyalurkan hobi bukan? “Ngapain kita ke Mall Gading?” “Bermain bola. Aku suka memainkan bola, Lova.” Tatapan Sasha menyipit, “Bola apa? Ih, dude! Kamu bisa berpikiran jorook ternyata ya!” tuduhnya sukses. Dave mendelik, ia tertawa dan mencubit pipi Sasha. “Hey, bukan bola itu. Maksudnya, aku tidak pernah menganggapnya bola ya. Aku juga tidak berniat memainkan bolamu. Ah, maksudnya..” “Terus apa kalau gak bola, gunung? Dasar, semua pria selalu punya pikiran yang sama saat bicara tentang tubuh wanita!” Salah paham Sasha tak dihiraukan Dave. Ia tahu Sasha hanya sekadar bercanda, ia juga sudah memesan tempat di sana, apalagi James adalah teman baiknya, dengan senang hati menyediakan tempat bowling untuk rekan bisnisnya. James bahkan kaget saat Dave mengatakan mengajak seorang wanita, apalagi dia adalah Sasha. Sekalian aja nanti minta foto dan tanda tangan, jalur orang dalam memang jangan ditanya! “Aku parkir dulu.” Setelah itu, Dave mengajak Sasha ke tempat bowling. Melewati beberapa ruangan yang hanya beberapa saja pengunjungnya. Tidak benar-benar masuk ke Mall, Sasha bingung. Apakah Dave mengajaknya gym? Ia tak suka olahraga berat. “Nah, sampai. Kamu suka bowling?" Menggeleng. “Aku lebih suka kamu, sangat-sangat-sangat menyukai kamu!” Sasha mengalungkan kedua tangannya pada leher Dave. Pria itu menanggapinya dengan baik, bahkan memeluk pinggang Sasha. “Lova, sebentar lagi temanku akan sampai, jadi bersikap sopanlah. Dia kadang-kadang sedikit ember ke media.” “Bagus dong! Itu tandanya aku gak usah bersusah payah untuk menyebarluaskan kalau Dave Lennon is mine.“ katanya bangga. Dave melepaskan tangan Sasha, ia mengajari dengan melemparkan bola ke arah pin-pin yang tersusun rapi di ujung papan lane. “Bisa kan? Kita tidak bisa sembarangan melemparkan bola bowling begitu saja. Kalau sembarangan, bisa-bisa bola malah menggelinding ke samping papan dan kita tidak mendapatkan poin.” “Paham kok, lagian kan baru awal. Jadi, kalau aku tidak mendapatkan koin, setidaknya aku bisa mendapatkan kamu, Dude.” “Serius, Lova! Ayo, cobalah.” Sasha tertantang, ia mencoba untuk memegang bola dengan menyamai pinggangnya. Bahkan Sasha memakai sepatu bowling yang sesuai ukurannya di gelanggang tadi. Ia sudah menangkat bola dan mengarah ke posisi tepat di depan jalur bowling. Letakkan jari tengan dan jari manis paa dua lubang atas dan letakkan jempol di lubang bawah. Dan yeah, hanya beberapa yang jatuh. Sasha tidak tahu artinya apa. “Aku lulus?” “Ini bukan ujian, Lova.“ “Hai, Dave.” Suara James membuat permainan berhenti, Sasha kembali menegakkan bahu, bersiap memperkenalkan diri meskipun yakin James pernah melihat wajahnya barang sekali di TV. “Sorry, aku langsung masuk tadi. Kata Ciara, ruangan ini sudah kamu buka sejak jam 6, so aku tinggal menunggu kamu datang.” jelas Dave. “Oh iya, ini Sasha, dia..” “Pacarnya Dave.” tegas Sasha. “Waw, sungguh, Dave, padahal tadi aku baru saja..” James melihat ponselnya lagi, ia yakin suara yang didengarnya benar suara Elena. “Dave, ikutlah denganku sebentar.” Menurut, James agak berbisik pada Dave, “Tadi Josh bertanya kau di mana, dan katanya Elena tiba di Indonesia. Dia mencarimu. Kalian sudah bertemu? Atau kalian rujuk?” Dave tahu kalau belakangan ini Elena sering mengirimkan email padanya, tapi tak satupun dibuka. Lukanya tak akan sembuh hanya dengan kata maaf, bahkan tak cukup. “Jadi, Sasha itu beneran pacarmu?” James menoleh ke belakang, tersenyum ragu-ragu dan berbisik lagi. “True?” “Biarkan saja. Iya, Sasha memang pacarku. Aku tidak main-main soal itu.” Dave menepuk bahu James dan kembali pada Sasha, “Mau bermain lagi, Sayang?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN