Seharusnya, Dave bisa lebih tegas.
Seharusnya, ia sudah memberi peringatan pada Elena untuk tak hadir lagi, atau minimal jangan mengirimkan sesuatu entah kabar atau sekadar menanyakan soal keadaan.
James hanya mengangguk mantap setelah pria yang sudah dianggap saudara sendiri itu pergi, terkesan terburu-buru dan terganggu dengan sekitarnya. Sasha juga ikut pergi, padahal rencananya James akan mengajak wanita itu gym, lumayan kan dengan mengandalkan wajah populernya tempatnya akan dikunjungi banyak orang?
Bagi James, Sasha seperti dewi keberuntungan.
“Dave, tadi kamu sengaja ya manggil aku Sayang? Kamu takut kan James godain aku?”
Fokus menyetir, bahkan menyibak jalanan dengan kecepatan tinggi. Sasha takut, ia yakin ada sesuatu yang terjadi. Dave kenapa berubah dingin lagi sih? Bukankah benteng pertahanan pria di sampingnya hampir runtuh? Lalu, kenapa membeku lagi?
Mereka tak saling bicara, Sasha juga tidak bertanya lagi ada apa dan mau ke mana mereka pergi. Wajah Dave begitu serius, seserius wajah-wajah DPR di surat kabar pagi ini.
“Dave, setidaknya jelaskan kita akan ke mana. Tadi kamu narik tangan aku kenceng banget, bahkan kamu gak pernah kayak gini. Dan sekarang?”
Sttt! Dave banting setir, ia tak habis pikir kenapa otaknya kacau balau setelah Josh menelpon dan juga memberitahunya sesuatu. Nama Elena menjadi larangan yang paling dihindarinya selama ini. Dan larangan itu kini hadir bahkan mencarinya. Muak? Tentu saja.
“Kalau mau nyari mati jangan ngajak partai, Dave. Aku memang suka sama kamu, tapi bukan berarti aku mau mati sama kamu tanpa alasan gini tau gak!”
Napasnya seperti diburu, Sasha menaik-turunkan dadanya serta menormalkan debaran jantung yang memompa lebih cepat dari sebelumnya. Untung saja Dave masih ingat, ada Sasha yang semobil dengannya. Mereka berada di jalanan, bahkan suara klakson cukup menganggu sampai akhirnya Dave kembali menyetir dengan normal.
Barulah pria dingin itu menepikan mobilnya dengan benar, persis di depan minimarket lalu keluar, tanpa melihat keadaan Sasha yang masih terkejut. Pria itu masuk, menelusuri dari rak satu ke rak lainnya, lalu keluar lagi dengan menenteng kresek minimarket.
“Minumlah. Aku beli semua rasa kecuali Almond.” ulurnya memberi sesuatu.
“Kamu ada masalah?”
“Apakah aku menakutkan?” Dave malah tertawa, lebih tepatnya menertawakan keadaannya.
“Dave! Jangan balas pertanyaan dengan pertanyaan. Kalau bukan lampu merah, kita udah terseret ke jalanan. Gila ya!”
Sedangkan kegilaan yang sesungguhnya bagi Dave adalah menipu diri sendiri. Ia sudah berjanji akan tegar jika tiba-tiba saja Elena hadir lagi, nyatanya, ketika mendengar nama wanita sinting itu, dadanya seperti ditaburi arang. Penuh kabut dan masih menyala.
Bahu Dave bergetar, sudah jelas ada yang tidak beres. Sasha tidak suka mengulangi pertanyaan meskipun ia sangat penasaran kenapa Dave marah setelah menerima telepon tadi.
“Seharusnya tadi aku mengajak kamu bermain, Lova.”
“Kamu sudah menunjukkannya tadi, Dave. Kamu mempermainkan nyawaku.”
Pria itu tersenyum, meneguk minuman rasa blueberry dalam sekali tegukan. Membuka permen karet dan membaginya pada Sasha. Kadang-kadang Dave memang hilang kendali seperti ini. Mungkin, jika tidak membawa Sasha, egonya bisa lebih tinggi. Atau minimal, mobilnya sudah menabrak mobil lainnya.
Selama setengah tahun ia kalang kabut, menyembuhkan luka yang begitu besar. Elena memang pernah jadi kisah indah, tapi Elena juga lah yang mengibaskan darah di hidup Dave.
Saat semua wanita cantik yang mengelilingi papanya, Darendra, dicari satu persatu, ternyata Elena sendiri lah yang jadi dalangnya. Ya, Elena Dirash berselingkuh dengan orang yang masih satu darah dengannya, Darendra.
Hubungan Dave dengan sang papa begitu buruk, apalagi mamanya sudah tak bisa diajak bicara dari hati ke hati. Sedangkan Dave harus berhadapan dengan papanya sendiri. Takdir menggelikan macam apa ini?
“Maaf.” sesalnya kemudian.
“Sudahlah. Kita pulang saja, lain kali aku tidak akan suka kamu begini, Dave. Aku meminta kamu menyukaiku agar hidupmu bahagia, bukan karena tekanan. So, seburuk apa pun masalah kamu, kamu harus ingat, aku sudah menerima semua luka itu.”
Kalau tidak sedang di depan minimarket, Dave pasti sudah membabat habis bibir indah Sasha. Kata-katanya seperti bius, mencandukan.
Pria itu tersenyum dan menggenggam jemari Sasha, bahkan mengecupnya dari jari telunjuk sampai jari kelingking. Satu-persatu, tertib. Jujur, Sasha tidak bisa marah pada Dave.
“Kenapa kamu mau mencintai kalau pada akhirnya akan tersakiti?”
“Karena cintaku ikhlas menerima semua pukulan itu, Dave. Ya, sesederhana itu.”
Tatapan mata Sasha menjadi satu-satunya alasan bagi Dave untuk tetap menjadi manusia yang masih punya perasaan. Ia tersenyum dan mengecup lembut pipi Sasha.
Setelah mengantarkan Sasha ke apartemennya, Dave menemui Josh. Sayang sekali, pria itu pergi entah ke mana. Maybe menghabiskan waktu liburannya bersama kekasihnya.
Kalau tidak lupa, namanya Marine. Terlampaui sering gonta-ganti pasangan, Dave kadang salah menyebut nama. Itulah mengapa, Josh jarang membawa pacar-pacarnya di hadapan Dave karena bisa membawa bahaya.
Sesuai dugaannya, cepat atau lambat, Elena pasti akan menemukannya. Lebih tepatnya, mereka akan segera bertemu.
(Bagian Kedua)
Kalau bukan karena mendengar suara dari arah dapurnya, Dave tak akan mau bangun sepagi ini. Apakah Josh? Bukankah pria itu sering sekali masuk ke apartemennya tanpa permisi?
“Siapa?”
Gesture tubuhnya sama sekali bukan Josh, Dave menyalakan lampu dan membuat si perusuh pagi-pagi buta itu pun menoleh.
“Morning. Apakah kebiasaanmu masih sama? Bangun kalau matahari menganggu jendela kamarmu, Dave?”
Ya, wanita itu kembali. Bahkan sudah tahu kode sandi apartemennya. Hebat sekali seorang Elena Dirash!
“Ini, aku siapkan sarapan untukmu.”
“Apa yang kau lakukan di apartemenku? Haruskah aku menelpon security karena kau menyelinap masuk tanpa izin?!”
Elena masih bermuka tebal, ia mengangkat piring dengan makanan buatannya. Memberitahu kalau sudah susah payah membuatnya. Dave murka dan melempar piring itu ke lantai.
“Dave! Aku kan hanya berniat baik.”
“Bahkan seandainya kau sebaik dewi, kau tetap buruk di mataku, jadi, selagi aku masih bersikap baik, tolong dengan amat sekali, keluarlah dari apartemenku sekarang!”
Elena menatap masakan yang tercecer, berniat mengambilnya dan merapikan. Tapi Dave ingin wanita itu segera pergi, dengan amat sangat terpaksa, Dave menarik lengan Elena, mengeluarkan wanita sinting itu dari kediamannya.
Pura-pura kesakitan, Elena merengek, mengeluarkan teriakan-teriakan manja. Pada saat yang sama, Sasha sudah berdiri di depan pintu kamar Dave.
Ia tak bisa tidur semalaman dan nekat ke sini pagi-pagi buta. Betapa terkejutnya saat Sasha melihat Dave keluar bersama wanita lain.
“Dave?”
“Lova? Kamu ngapain ke sini?”
“Lova?” itu adalah suara Elena. Ia menyipit, melihat Sasha. “Jadi, kamu wanita itu? Wanita yang mencoba menempati posisiku?”
Siapa dia? Batin Sasha. Wajahnya memang cantik, tapi kalah besar dengan ekspresi kesal. Sasha juga sama kesalnya. Ia ke sini untuk menghilangkan stres tak berkesudahan dan malah melihat dua orang manusia dari tempat yang tak ia kira sebelumnya.
“Siapa aku, bukan urusan kamu. Menyingkirlah, kau menghalangi jalanku untuk masuk ke dalam. Iya kan, Dave?”
Jangan panggil Sasha kalau ia tak berani melawan. Dengan memamerkan pinggangnya yang kecil, Sasha mendorong Elena ke samping sampai wanita itu terdepak. Lalu, Sasha masuk dan menarik Dave.
Ingat, di sini ialah pemeran utamanya. Yang lain? Ke laut aja!