Jangan Remehkan Sasha

1003 Kata
Mata Sasha bahkan hampir keluar dari bola matanya, kalau bukan karena suara tepukan dari Dave, Sasha pasti masih melongo. "Ta-tadi mantan istrimu?” tanyanya sekali lagi. Dave mengangguk, sambil menuangkan minum. Bicara masa lalu sebenarnya memuakkan. Apa yang bisa ia banggakan? Menikah dengan dalih cinta? Tidak. Ia dulu mau menikah karena tekanan. Apalagi kisahnya seasin garam di lautan. Meskipun Dave belum pernah merasakan sendiri bagaimana rasa garam di laut. “Iya, aku pernah menikah. Aku duda, Lova. Satu fakta yang kamu ketahui bukan dari orang lain. Masih mau denganku?” “Bukan masalah. Toh, hanya mantan istri. Meskipun dia nanti menggangu kedekatan kita, aku yang akan melindungimu. Dia kelihatan buas banget, brrr! Lihat? Bulu kudukku aja merinding memikirkan siapa tadi namanya?” "Elena, Elena Dirash.” “Ah, iya Elena si wanita sinting. Kamu menyebut kata sinting tadi, Dave. Dan aku suka sebutan itu.” Sasha terlihat fine-fine saja. Padahal ia tak tahu seberapa ambisiusnya seorang Elena. Dave juga berjanji akan mengganti kode sandi, atau pindah sekalian. Wanita itu punya mata-mata di mana-mana. Dave harus waspada. Matanya bahkan sudah mengamati sekitar, siapa tahu tadi Elena sudah memasang alat perekam atau semacamnya. Kehadiran Sasha membuat suasana tak setegang tadi. Benar kata James, Sasha Bellova adalah dewi keberuntungan. Buktinya, belum ada 10 menit Elena pergi, Dave sudah bisa tersenyum lagi. Ia memunguti makanan yang dibuatkan Elena tadi, membereskan piring yang terbelah menjadi beberapa pecahan. “Kenapa melihatku begitu?” Sasha cemberut, ia meminum cola yang dituangkan Dave. Membayangkan Dave sudah menikah, ah, sudah pasti, bukan dirinya yang pertama melakukan hubungan indah seperti apa yang diimpikannya. “Aku sedikit cemburu. Wanita tadi, dia sudah pernah tidur denganmu. Bahkan,” “Kita juga pernah tidur bersama, Lova. Ingat itu.” “Hanya tidur.” Dave mendekati wajah Sasha, “Jangan paksa aku untuk tidak ngapa-ngapain kamu. Kamu kira, imanku setebal itu? Aku normal, Sasha. Aku bisa membuat kamu kalang kabut semalaman. Tapi tak kulakukan karena menjagamu adalah prioritasku sekarang.” Memerah. Sasha bukannya mau ditiduri oleh pria yang amat ia suka. Hanya cemburu saja, setidaknya si Elena sudah cepat satu langkah. Meskipun hubungan mereka hanya tinggal lembaran lama dan sudah tutup buku. Ini saatnya bagi Sasha membuka selebar-lebarnya kisahnya dengan Dave. Dicintai dan mencintai. “Apakah kamu masih mencintainya, Dave?” “Tidak.” “Bagus deh. Karena aku sanggup melawan siapa pun, kecuali seseorang yang kamu cintai.” Dave memeluk Sasha dari belakang, mencium tengkuk leher wanita itu. Wangi, padahal ia yakin Sasha belum mandi. Ia merasa nyaman dan tak ingin melepaskan. Berbeda dengan Sasha yang menikmati pelukan Dave, si wanita sinting tengah memaki-makinya. Gak ada urusan, lagu lama memang bisa diputar kembali. Tapi, kalau sudah lupa lirik, ngapain diulang-ulang? Bagi Sasha, nama Elena adalah keusangan yang tak pantas diulang lagi. Seindah apa pun kenangan itu. Ia sendiri lah yang akan menjadi lagu itu, lagu yang akan diingat dan dihafalkan oleh Dave. Tidak sekarang memang, tapi suatu hari nanti, bagi Dave sampai tua. Dan Elena? Brak! Ya, dia sangat marah! Elena membanting kunci mobil dengan sembarangan di ranjang. Siapa tadi? Bagaimana bisa Dave dikelilingi wanita secantik wanita tadi? Siapa namanya? Ah iya, Lova! “Sialan!” Elena berkomat-kamit tak berkesudahan. Ia jengkel, bahkan Elena tahu kelemahan Grace, Clara, Iven dan wanita-wanita yang pernah mengelilingi hidup Dave. Tapi yang satu tadi, Elena tak menemukan apa-apa. Ia menelpon Josh, tak ada jawaban. Sial! Kalau sampai Elena tak bisa mendapatkan cinta Dave, itu artinya siapa pun juga tak boleh mendapatkan cintanya Dave! Siapa pun! (Bagian Kedua) Mencari tahu tentang seseorang adalah keahliannya. Elena sudah tahu siapa Lova. Atau tepatnya adalah Sasha Syarasvati Bellova, model yang tengah naik daun. Popularitasnya sedang dielu-elukan media. Tumben sekali Dave mau berhubungan dengan seseorang yang terjun sebagai publik figure. “Ke alamat ini, bisa?” Supir mengangguk. Elena akan langsung ke apartemen Sasha, melabrak wanita itu terang-terangan. Ia suka tantangan. Ia suka pertarungan. Bahkan, Grace sekarang mulai mundur ketakutan karena sikap Elena yang bikin orang tak percaya. Sesinting apa sosok Elena ini. Dan kebetulan sekali, yang membuka pintu adalah Gina. Mulut julidnya bisa membuat orang yang berhadapannya hengkang. Elena bertanya apakah ini kediaman Sasha, si model sok tenar itu. Gina sudah ingat pesan Sasha, kalau ada wanita dengan rambut sebahu, tai lalat dekat alis dialah si Elena. Mantan istri Dave. Dan Gina dengan senang hati membullynya. “Mau anter makanan ya? Tadi Sasha pesan sih, berapa?” Gina pura-pura mengeluarkan dompet. Seolah berhadapan dengan go food. “Enak aja. Aku bukan kurir makanan, aku..” “Yang punya gedung? Terus mau nagih uang sewa? Kan gak mungkin, Sasha gak pernah nunggak. Malah suka kasih lebih.“ “Nyebelin banget sih. Mana Sasha! Katakan, Elena Dirash mau bertemu dengannya. Atau aku masuk sekarang? Aku tahu dia ada di dalam!” Bukan Gina namanya kalau ia mengalah. Ia malah live streaming ke sosial medianya. Memberitahu pada orang-orang kalau ada penyusup yang mencoba masuk. Elena hilang kesabaran. Terjadi dorong mendorong di antara keduanya. Gina tak rugi sering ikut olahraga dengan Rendi. Setidaknya ia tak akan kalah dari si mantan istrinya Dave ini. Mendengar keributan, Sasha akhirnya keluar dan mengatakan waw, sungguh sangat merasa berkesan karena Elena datang ke apartemennya. “Jauhi, Dave.” “Gak denger tuh. Mak Lampir ngapain ke sini?” “Kamu tuh cuma pelampiasan. Ada namaku di hatinya dan gak akan bisa keganti.” “Oh ya?” Sasha malahan asyik sendiri menjilati lolipopnya. Ia kaget saat Elena menarik lolipop itu dan membuat gigi Sasha kesakitan. Emang rada-rada nih orang! “Kebiasaanmu itu pasti ganggu kebahagiaan orang ya? Eh, wanita sinting. Dengerin ya, pasang baik-baik telinga lu, kalau perlu dikerok sampai ke akar-akarnya. Lu tuh cuma masa lalu, dan tempatnya udah rusak. Gak bisa diperbaiki. Sedangkan gue, Sasha, masa depannya yang super cerah banget kayak warna stabillo. Jadi, daripada lu labrak-labrak gue mendingan sadar diri deh. Ratu gak bersaing sama dayang sumbi.” Sasha langsung menutup pintunya setelah menjulurkan lidah, mengejek. Bodo amat sekarang Elena tengah gelut dengan Gina. Gina pasti sekuat tenaga mengeluarkan semua energinya. Ia tahu sahabatnya itu sangat suka ribut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN