Bersaing

1121 Kata
Merasa rugi sudah datang ke apartemen Sasha, Elena pulang dengan rambut awut-awutan. Bahkan ia baru merasa punggungnya lelah luar biasa lantaran tadi wanita bernama Gina mendorongnya terlalu keras. Tak ada yang melerai, bahkan Elena sudah memanggil satpam. Tapi sayang sekali, justru ia sendiri yang diseret satpam karena Sasha adalah penghuni apartemen sedangkan ia hanya penyusup. “Lihat saja, akan kubalas dia nanti. Aku gak suka kalah apalagi mengalah.” Sedangkan Gina mengibaskan kedua tangannya, tenaganya terkuras separuh setelah perdebatan sengit dengan Elena. Awas saja kalau Sasha tak memberinya upah atas kerja kerasnya hari ini. “Dia sudah pergi?” Sasha muncul dari balik dapur, tengah membuat minuman hasil karya tangannya sendiri. Dengan seduhan cheaseed dengan lelehan buah alpukat dan tambahan fat milk. “Udahlah. Gila dia sih, kacau! Lu yakin mau terus hubungan sama pria yang masa lalunya kayak si sinting tadi?” Sasha mengangguk mantap. Setidaknya ia yakin kalau Dave sudah menganggap Elena sebagai pengacau. Tak tahu bagaimana detailnya, tapi yang ia dengar kemarin saat James berbisik-bisik, Dave sangat tak suka dengan kehadiran Elena. Mereka sudah pisah lebih dari setengah tahun. Meskipun bagi Sasha masih tergolong baru dan segar di ingatan, tapi Sasha akan menyingkirkan kenangan tentang Elena dan digantikan dengan kenangan manis bersamanya. Ya, ia tak pernah bergurau soal perasaannya. Sekali satu pria, ya, tetap satu saja. “Lu ada pemotretan?” “Enggak. Gue mau ke salon, cantik itu butuh modal dan waktu kan? Meskipun Elena gak secantik gue tapi yang namanya mantan istri itu bahaya, sis. Bisa-bisa dia mengeluarkan bisanya.” Baiklah. Hari ini Gina libur, lebih sering menghabiskan waktunya di apartemen Sasha. Karena ia tahu, sahabatnya itu suka sekali memesan makanan dan Gina memang hampir setiap hari merampas apa pun yang dipesan Sasha. Asal satu, mereka tak akan menyukai pria yang sama. (Bagian Kedua) Tak kehilangan akal, Elena sudah berulah lagi. Ia sudah rapi sekali, kalau tak bisa bertemu dengan Dave, ia akan mencegat pria itu di depan gedung. Ya, ia yakin Dave bukan pengangguran. Bahkan, dari kabar yang didengar, Dave akan naik jabatan. Mobil Dave hampir keluar dari lobi, sesegera mungkin Elena berlari dan menghentikan. “ELENA!” teriak Dave. Ia kaget karena sekelibat bayangan mendadak menghentikan mobilnya. Kalau tidak segera menginjak rem, sudah pasti Elena akan terpental ke jalan. Dan lebih gilanya lagi adalah Elena langsung membuka pintu mobil, duduk di samping Dave sekaligus memakai sabuk pengaman. “Mau berangkat kerja kan? Aku ikut.” “Keluar, Elena. Kita sudah tak ada urusan.” Elena menggeleng, tetap keras kepala. “Enggak, enggak, enggak. Sampai kamu memaafkan aku. Dave, aku khilaf dan gak pernah bermaksud menyakiti kamu.” Bulshit! Dave hampir muntah. Ia menatap tajam ke arah Elena. “Khilaf? Mana ada khilaf sampai tidur dengan mertua? Aku tahu kamu orang yang gegabah, Elena. Tapi aku tak tahu kamu bisa serendah itu. Jadi, sebelum aku sangat benar-benar marah, mending kamu pergi dan kembali ke asalmu. Jangan temui aku lagi, anggap saja aku memaafkanmu dan semuanya selesai sampai di sini.” Tidak. Tidak bisa. Elena tidak suka Dave memaafkannya begitu saja, ia mengambil kunci mobil Dave dan membuat perdebatan kecil di antara mereka. Nekat, Elena mencium paksa bibir Dave. Pria itu mendorong bahu Elena dengan sangat-sangat kasar. “Menyingkirlah, aku sudah punya Sasha yang jauh lebih dari segalanya darimu.” “Dan aku akan merebutmu lagi dari wanita itu! Camkan, Dave!” Elena keluar setelah ditolak mentah-mentah. Dave sudah kehilangan mood untuk berangkat kerja. Lebih baik kembali ke apartemennya meskipun ia kemarahannya bisa merobohkan gedung. Ternyata kedatangan Elena memberi pengaruh pada kesehatan Dave. Ia semalaman tak bisa memejamkan mata, kesulitan bertidur dan bahkan kepalanya seakan mau pecah. Seharian di apartemen, Dave mengamuk dan mengacaukan banyak barang-barang. Ah, sepertinya ia harus pergi ke psikolog. Rasa sakitnya sudah mengambang di atas permukaan, setiap mengingat semua lukanya di masa lalu, Dave akan begini. Dan butuh waktu berjam-jam untuk mengembalikan kewarasaannya agar kesadarannya kembali seperti sedia kala. Ting! Bel apartemennya berbunyi, Dave malas untuk berjalan. Tapi ia tetap memaksakan sampai akhirnya pintunya terbuka. Sosok Josh datang menyapa dan mengangkat sesuatu. “Gue tahu lu bakalan begini.” “Hah!” Dave langsung merebahkan tubuhnya ke sofa, memijat kepalanya dan mengoleskan sedikit aroma therapy. Sedangkan Josh malah nekat mengeluarkan minuman, menawari Dave agar bisa meneguk perseloki. “Angkat gelasmu kawan. Lupakan soal Elena dan tersenyumlah. Gue tahu kok ini berat banget buat lu.” Sebenarnya Dave kesulitan untuk bergerak, tapi ia lebih memilih minum dan menuangkan terus sampai satu botol. Setidaknya ia bisa lupa sejenak soal Elena dan juga papanya yang sama-sama sinting. “Gue bingung apa gue bakalan menghadapi trauma ini seumur hidup gue, Josh?” “Masalah ini gak akan kelar kalau si lampir itu gak datang lagi. Dia maunya apa sih? Gue aja jujur, enek lihat wajah tanpa dosanya.” Tak benar-benar tahu, tapi Josh hanya sekelibat mendengar kalau Dave mengutuki nama Elena yang baru saja bercinta dengan Darendra. Ya, papa kandung Dave. Peristiwa yang sudah lama usai tapi masih seakan terpenjara di otak Dave sampai sekarang. “Lu nelpon siapa?” “Penawar racun gue.” Josh berpikir sejenak, lalu ber-oh pelan ketika mendengar suara Sasha. Ya, mungkin wanita cantik itu tampak menyegarkan dan bisa jadi vitamin bagi Dave. Setidaknya, sahabatnya sudah bisa menemukan cara untuk berhenti dari sikap frustasi. “Lova? Boleh aku menemuimu? Di manapun, terserah. Aku akan datang dalam waktu 15 menit.” “Sekarang banget?” Dave berdiri dan melihat penampilannya, buru-buru menyemprotkan parfum Dior dan keluar dari apartemen dengan terburu-buru. “Aku hanya ingin melihat kecantikanmu saja.” Sasha terkekeh pelan, “Terima kasih pujiannya. But, aku selalu cantik sih, Dude.” Hanya mendengar tawa wanita itu saja membuat Dave kembali sedikit waras. Benarkah Sasha jelmaan dewi keberuntungan baginya? (Bagian Ketiga) “Jadi, aku harus mendekati pria itu agar aku bisa menyaingi Sasha?” tanya Elena pada Amora, asisten pribadinya. Ia sudah kembali bersemangat lagi, seperti apa sikap Dave, Elena tak akan menyerah. Ia sudah dibuang Darendra lama dan tahu kalau posisinya sangat sulit sekarang. Kalau bukan karena kekayaan kakeknya, Elena tak akan bisa kabur dari jeratan pria yang sudah membutakan siapa pria yang pernah baik padanya. Dave, ia tak mau kehilangan pria itu lagi. Amora sudah mencari siapa orang yang berkuasa pada agensi yang menaungi Sasha. Namanya Julian, pria yang tentu saja tak terlalu muda. Bakat Elena adalah mengenali siapa target sekubunya, entah dengan cara menjadi simpanannya. “Dia sedang ada rapat di hotel Wings, Nona. Dan kurasa, ini adalah waktu yang tepat anda bertemu dengannya. Dengan begitu, anda bisa masuk ke agensi yang sama. Anda juga cantik dan berbakat, bahkan mungkin nanti nama Sasha bisa tergantikan dengan nama Elena.” Mendengar Amora memuji, Elena tinggi hati. Ia akan melakukan apa pun, bahkan menjadi simpanan pria lain lagi. Semuanya demi Dave.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN