You're My Happy

1332 Kata
Sejak tadi, Dave ke kanan dan ke kiri, celingukan juga sesekali melihat ke arah pintu utama gedung di mana Sasha tinggal. Wanita itu tidak memperkenankan Dave masuk ke apartemennya, masalahnya adalah Sasha belum siap-siap. Terlepas kata Dave dia selalu cantik, tetap saja dong, good looking di depan pria idamannya hukumnya wajib. Gak bisa diganggu gugat. Wanita yang sudah berhasil menggelombangkan rambutnya itu pun tersenyum lega. Sasha hanya memakai bedak tipis dan lipstik warna bibir, tak mencolok tapi kecantikannya selalu memesona. “Ren, bilang ama Gina gue gak jadi makan sama dia. Ada urusan dan santai aja karena gue bakalan pulang dengan selamat.” Klik. Sasha langsung menutup telepon tanpa mendengarkan jawaban managernya. Ia tahu Rendi pasti akan tanya siapa yang mengajak Sasha makan, meskipun managernya itu tahu akhir-akhir ini Sasha sangat bucin pada Dave Lennon. "Selesai. Tunggu aku, Dude!” Dengan santai, Sasha menutup pintu apartemennya lalu memasuki lift, ia melihat jam pada ponselnya. Bahkan melihat Dave menelpon beberapa kali, dasar! Nggak sabar banget sih pengen ngedate. Dan benar, pria itu sudah berdiri di depan mobilnya sendiri. Langsung menegakkan badan begitu Sasha mendekat. “Gak ganggu kegiatan kamu kan?” Sasha menggeleng, meskipun tadinya ia sedang memakai sheet mask dan menikmati lasagna yang dibeli Rendi. “Enggak dong. Waktuku 24 jam buat kamu. Tapi gak jadi deh, aku kan juga sibuk. Jadi, separuhnya aja.” Beginilah sikap Sasha yang selalu ceria dan membuat Dave merasa baikan. Ia membukakan pintu, sudah reservasi tempat di mana mereka akan makan nanti. Makan malam dadakan, bahkan Dave berpenampilan seperlunya. Tak usah pakai tuksedo dan parfum wangi, ia datang ke sini tanpa pikir panjang, yang penting bisa ketemu dengan Sasha. Nama wanita itu mendadak muncul begitu saja, lebih baik daripada memikirkan soal Elena yang makin menggila saja tingkahnya. “Kamu gak nanya kita mau ke mana?” “Hmmm, ke mana pun kita, asal cuma kita berdua aku setuju, Dave.” Muach, muach. Sasha melihat lagi penampilannya dan mengecup sendiri wajahnya pada cermin yang ia bawa. “Penampilanku gimana?“ Yang ditanya hanya menoleh beberapa detik dan kembali fokus pada jalanan. “Lova, jangan sok manis begitu. Diabetes susah sembuhnya, jadi jangan dimanis-manisin ya mukanya manis.” Ya namanya aja Sasha Bellova, wanita yang punya segudang kepedean dengan kecantikannya. Kalau gak pede, gak mungkin ia bisa menaklukkan Dave. Ini sudah hampir dua minggu, dan lihatlah, Dave hanya memikirkan Sasha saja saat semua amarah menghampirinya. “Dave, si lampir seberbahaya apa sih?” Lampir yang dimaksud adalah Elena Dirash. “Dia orang yang nekat. Dan bisa dikatakan agak kelainan, aku heran kenapa bisa melangsungkan pernikahan dengan wanita seperti itu. Tapi, sudahlah, itu masa lalu dan tak ingin aku ingat lagi.” “Dia gak sempat hamil kan?” Dave menggeleng. Lagian, Dave juga belum pernah berpikir untuk punya anak setelah menikah dengan Elena. Mereka saling sibuk, tapi Dave tak pernah berkhianat. Ia melakukan perannya dengan amat sangat baik, sayang sekali kebaikannya malah dibalas dengan sikap tercela dari Elena. “Syukur deh. Aku sih gak masalah kamu duda, tapi kalau ada anak, itu artinya kamu akan selalu terikat dengannya. Dan kamu tahu kan? Gak ada wanita yang benar-benar bisa membagi miliknya dengan yang lain. Meskipun aku gak tahu apakah aku boleh menganggapmu sebagai milikku sekarang, karena kamu bukan barang yang butuh tanda pemilik dari seseorang.” Bisa aja Sasha bikin GR. Ingin sekali Dave menyimpan ucapan Sasha barusan, kalau perlu merekamnya ulang. Ia jauh lebih baik saat bersama Sasha, dan yang harus ia lakukan sekarang benar-benar menghapus semua kepahitan. Sampai sekarang, nama Elena dan juga Darendra menjadi pil pahit yang harus ditelannya saat ingatan itu kembali. Dan Dave butuh obat penenang yang bisa mengembalikan kewarasannya. “Aku tidak sesempurna yang kamu kira, Lova. Tapi, jika memang kita ditakdirkan bersama, maka percayalah, kamu adalah wanita yang ingin aku cintai berkali-kali, lagi dan lagi.” Sudut bibir Sasha terangkat. Seandainya tidak sedang menyetir, pasti Sasha sudah menghamburkan diri ke pelukan Dave dan menenggelamkan kepalanya pada bidang dadanya Dave. Nyaman sekali. Mereka sudah sampai. Akira Back adalah salah satu restaurant bintang 5 yang terletak di Setiabudi, Jakarta Selatan. Akira menghadirkan makanan khas Jepang yang difusion dengan makanan Korea. Koki yang sudah mengenal baik Dave bahkan ikut menyambut. Ah, tadi seharusnya Sasha lebih mementingkan penampilannya agar terlihat elegan bersandingan dengan Dave malam ini. “Kau tampak kurus saja, Dave.” “Biasa. Mungkin sebaiknya aku menikah ya agar kesehatanku terjaga.” Pria yang barusan menyapa bernama Tommy. Dulu pernah sekampus dengan Dave, dan tak menyangka karirnya malah berakhir di sini. Tentu saja dengan penawaran gaji yang fantastis. “Dia siapa?” Sasha tak ada waktu untuk menyombong. Ia yakin, ada beberapa manusia yang memang tak suka update dengan infotainment, akhirnya Dave memperkenalkan Sasha. “Dia wanitaku.” "Auh!” Tommy berdecak kagum dan memukul lengan Dave. “Kau licik, Dave. Awas saja sampai kuterima undangan pernikahan kalian. Harus aku dulu yang menikah, Jessi masih menyelesaikan studinya di Belanda.” Tommy menerima uluran tangan Sasha, bahkan mencium tangan sang model. Dan Sasha merasa tak keberatan karena ia yakin Tommy sering memperlakukan tamu-tamunya seperti itu. “Duduklah. Aku sudah menyiapkan banyak hidangan untukmu.” Mata Sasha tertegun pada meja yang dihias dengan dua lilin, bunga mawar segar. Bahkan, suasana lampu penerang juga begitu remang-remang. Kalau seromantis ini sih, Sasha harus pamer buat live streaming! “Kenapa begong?” “Kamu nyebelin. Kalau seindah ini, harusnya aku tadi pakai gaun. Atau minimal, aku gak pakai sneakers gini, Dave.” Dave tersenyum, ia berterima kasih pada Tommy. Sahabatnya sudah pergi entah ke mana. Maybe hanya ingin memberikan waktu paling sweet untuk pasangan spesialnya malam ini. “Ini semua ide Tommy. Dia sangat antusias saat aku bilang akan bawa..” “Wanitamu. Iya kan? Ah, jadi, kamu sudah menganggap aku milikmu ya? Tapi, Dave? Kenapa gak ada cincin?” “Cincin? Sasha? Kamu gak sedang ngigau kan? Kamu gak sedang memikirkan soal lamaran kan? Waw, ternyata bucinmu parah ya?“ Sasha cemberut. Ia bukan matre, tapi sejauh ini, banyak pria yang rela membawa apa pun yang akan membuat wanita luluh. Permata misalnya, atau liontin tanda cinta. "Ah, maaf, Lova. Aku lupa untuk memikirkan apa yang harus kuberikan untukmu.” Dave mulai menikmati Wagyu Cheek dan memotongkan Spring Chicken & Foie Roulade untuk Sasha. “Selama yang kamu minta itu bukan membangunkan candi, pasti akan aku berikan, Lova. Jadi, jangan cemberut dan lekas makan.” “Dasar pelit.” Dave tersenyum. Kegemasannya pada Sasha sepertinya sudah melebur jadi rasa suka. Apakah ia akan segera memikirkan soal masa depan dengan wanita yang ada di hadapannya? (Bagian Kedua) Sudah menyiapkan aksinya, Elena sengaja menjatuhkan sesuatu dan menabrak Julian. Atasan Sasha yang sangat berpengaruh pada agensinya. Dan sekarang, Elena harus rela menjilati harga dirinya sendiri di hadapan pria yang tak jauh sebaya dengan Darendra. “Ah, maaf, Nona.” “Nothing. Tadi saya memang yang tak lihat saat jalan.” Elena mengibaskan rambutnya, memamerkan lehernya dan melihat ke arah Julian. Ia bahkan membuka kacamatanya. Tapi, Julian terlalu terburu-buru dan pergi setelah mengucap kata maaf. Meskipun suka nakal dan kadang sembrono, tapi Julian punya istri yang selalu setia di belakang. “Dia tak menoleh padaku, Amora.” “Haruskah kita ikuti?” Elena mengangkat tangan, tak usah. Karena masih ada banyak jalan untuk masuk ke agensi yang sama dengan Sasha. “Bukankah ada casting film terbaru? Dan aku bisa berkesempatan untuk ikut?” Elena suka pertikaian. Apalagi film yang akan digarap adalah horor. Banyak keseraman di hidupnya yang hampir menyamai film horor. Tinggal bagaimana nanti ia menjadi pemeran. Menjadi yang ditakuti atau yang menakuti. “Saya sudah punya kontak untuk ikut casting itu, Nona.” “Bagus. Kita pergi dari sini, aku ingin menemui Dave.” “Lagi? Nona, bukankah..” “Lakukan saja perintahku, Amora. Ditolak sekali bukan berarti aku langsung menyerah. Aku tahu Dave masih mengingat semua tentangku, pernikahan kita. Aku hanya ingin mengembalikan apa yang pernah kita alami dulu.” “Ba-baik, Nona.” Amora langsung mengikuti langkah atasannya. Ya, karena dia hanya seorang pesuruh dan tak akan bisa melawan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN