Harus butuh pengakuan

1070 Kata
Setidaknya, sampai hari ini, Elena masih mengira rasa sakit Dave adalah karenanya dan dia berkontribusi untuk menghapus semua luka dengan kebaikannya. Sikapnya memang tidak bisa dibilang berubah, tapi ia bisa berakting, Pura-pura memasang wajah baik di depan pria itu. Pagi ini, setelah mendaftarkan diri pada agensi yang sama dengan Sasha, juga mengirimkan email pada Joko Anhar, sutradara film horor yang akan tayang tahun depan, Elena harus melewati banyak pintu dulu. Kalau Sasha, ia terpilih langsung. Bahkan akan menjadi sosok yang akan mengungkapkan kasus seram di sebuah desa, menceritakan banyak sekali kejanggalan sosok yang tak kasat mata. “Kita harus ke agensinya dan melihat, seperti apa pesaingku di sana, Mora. Siapkan mobil, aku yakin aku akan masuk dalam film itu.” Pernah ikut teater beberapa kali di luar negri akan membuat bakatnya terasah. Sekaligus bisa menghancurkan nama baik Sasha adalah tujuannya. Amora sudah menyalakan mobil, melaju menuju agensi di mana Sasha dibesarkan. Ia hanya menjalankan tugas, sudah lama menjadi kaki tangan Elena sejak bercerai dengan Dave. Sebenarnya, ia tahu siapa Sasha. Amora juga wanita asli Indonesia yang dulu kebetulan sekali merantau sampai Singapore dan dipertemukan dengan Elena Dirash. Orang yang berani menggajinya tinggi asal mau melakukan apa pun yang diinginkan atasannya. Dan sampai di sana, ternyata orang yang menerima emailnya juga menerima semua fakta tentang identitas Elena adalah Marko. Pria itu suka dengan wajah tegas Elena, cocok jadi peran hantu di film yang akan digarap nanti. “Sebenarnya tak banyak yang bisa dimunculkan. Hanya beberapa take saja, dan kebetulan, wajah anda sangat mumpuni sebagai hantu wanita di cerita misteri kita. Anda tahu Sasha? Dia yang akan jadi pemeran utama. Kalian sudah berkenalan?” “Aku tidak butuh berkenalan dengannya. Aku hanya mau namaku bisa sebanding dengan wanita itu, Marko. Kalau ada peran yang lebih menjanjikan, kamu bisa kabari aku. Berapa pun bayarannya, aku setuju.” “Tapi, semua peran sudah ada yang mengisi. Udah bagus loh peran yang Anda dapat. Aku melihat semua penampilanmu di teater.” Elena menatap tajam Marko, satu-satunya pria yang dengan senang hati melambungkan namanya. Bisa dibilang, Elena baru kali ini ikut syuting. Ia hanya ingin mengejar Sasha dengan cara yang sama, kalau bisa menjatuhkan wanita itu sejatuh-jatuhnya. Sedangkan Sasha, wanita itu baru saja tiba di agensi. Ada Rendi yang berjalan di sampingnya, mereka tersenyum begitu disapa oleh beberapa orang. Seperti biasa, Sasha akan langsung ke ruangan ganti, memperbaiki make up nya. Ini adalah syuting pertama sebagai pemeran utama juga. Dia agak kaget saat melihat kursi miliknya diduduki oleh seseorang. Dengan sopan, dia meminta kursinya. “Maaf, tapi ini kursiku. Sepertinya kamu salah masuk ruangan deh.” Karena sudah dimake up, tentu saja Sasha tak mengenali siapa wanita yang tengah dipermak menjadi hantu. Ia kaget saat mendengar suara yang begitu familier. “Kayaknya gak ada tulisannya ini milikmu. Aku bisa menggunakan sesuatu kalau aku mau.” Waw, baru kali ini Sasha meminta haknya. Biasanya, ia akan diratukan. Tapi, Sasha tak mau ambil pusing dan meminta kursi yang lain. Elena tersenyum licik, ia bersukur Sasha tak mengenalinya. Lihat saja, pelan-pelan nama Sasha tak akan lagi ditinggikan di sini. Dan selesai, Elena lebih dulu keluar dari ruangan ganti. Membiarkan Sasha juga pemeran lain lebih lama, ia bahkan akan muncul saat pembukaan film. Barulah, beberapa pemain lain buka suara Sejak kedatangan Elena, pemain lain pun heran, kok ada ya orang dengan kepedean senarsis itu. "Tadi siapa sih?” tanya Cantika. Ia akan berperan sebagai adik Sasha di film ini, usianya di bawah Sasha dua tahun. Berwajah manis dan juga punya gigi kelinci. “Namanya Elena, katanya dia dipilih langsung sama Marko. Ada kan casting online, sepertinya dia kepilih karena voting.” Elena? Jangan-jangan! Sasha langsung berdiri dan keluar dari ruangan, bahkan make up nya belum benar-benar selesai. Ia mencari keberadaan Elena, melihat wanita itu sudah berakting. Meskipun hanya ketawa gak jelas karena jadi kunti, Sasha penuh selidik. “Sial. Dia beneran mantan istrinya Dave. Gila! Ngapain sih ngikutin aku sampai ke agensi? Kalau mau ribut, mending ke lapangan aja! Sekalian adu panco! Dikira gue takut apa!” Berkomat-kamit tak berkesudahan. Sasha dibuat jengkel karena Marko sok akrab, pasti wanita itu paka semar mesem! Dih, sana sini mau! Sasha kembali ke ruangannya, ia tak mengatakan apa-apa. Biar saja Elena mau berbuat apa, menjatuhkannya? Hoho, mana bisa? Ratu tak pernah bisa dilengserkan. “Sasha, 10 menit lagi kamu masuk adegan ya! Usahakan pasang wajah sesedih-sedihnya.” “Oke. Aku udah baca naskahnya kok.” Sasha bahkan sudah siap banjir air mata, ia akan membuktikan kalau Elena bukanlah saingannya. Usai syuting, jelas, Sasha merasa capek. Biasanya ia akan memesan Caramel machiato favoritnya. Karena bermaksud pamer, Sasha iseng menelpon seseorang. Siapa lagi kalau bukan Dave? Dengan berani ia menyuruh pria itu ke sini, atau minimal pria itu mengirimkan sesuatu kepadanya. “Aku haus. Aku laper. Aku kangen sama kamu.” “Kamu sudah selesai syuting?” “Udah, Honey. Ini baru aja break, males banget mau ke cafe. Kamu sibuk gak?” Sengaja diimut-imutkan, bahkan Sasha sengaja memampangkan layar ponsel. Tertera nama Dave, apalagi ia yakin Elena masih mengingat nomer mantan suaminya. Mampus deh! Biar tahu rasa, makan tuh api cemburu, cemburu buta! Elena yang masih berpenamlolan hantu pun seperti membuang muka. Ia rindu dipanggil sayang oleh mantan suaminya. Bahkan, dulu Dave juga memanggilnya Honey. “Sebentar, aku kirimkan sesuatu untukmu. Aku tidak bisa ke sana sekarang, tapi kalau menjemput, bisa.” “Oh ya? Ah, Dave. Kamu sangat baik sekali. Selamat bekerja ya!” Beberapa pemeran lain ikut bersorak. Mereka tahu seberapa populernya Sasha. Bukan sekali wanita itu mendapatkan traktiran. 15 menit kemudian, seluruh kru dan juga pemain mendapatkan coffe gratis atas nama Sasha. Pasti itu semua ulah Dave. Sasha tahu itu, ia memperlihatkan kertas dan dengan sengaja membacanya keras-keras. “Untuk yang tersayang, dari kesayangan. Ah, dia bisa saja.” Sasha pura-pura sok malu, padahal sengaja agar Elena mati kutu. “Makasih loh, bilangin sama pangeranmu. Kali ini, kamu berkencan dengan siapa, Sha?” Yang bertanya adalah Sinta, ia juga seumuran dengan Sasha. Sering sekali satu project. Tapi, film kali ini, Sinta tak berperan. Hanya masuk ke agensi dengan syuting film lain. Ikut mampir di ruang ganti, ada beberapa pemain baru, salah satunya adalah Elena. “Hmmm, kalau kusebutkan nama, kalian bakalan pingsan.” Mereka tertawa. Sampai saat ini, Sasha sering sekali kencan buta. Banyak skandal dan cerita mengenai kisah percintaannya pun tak hanya sekali, tapi Sasha kadang menampiknya sebagai hoaks. Hanya dengan Dave dia ingin merasa memiliki seseorang yang bisa dibanggakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN