Jangan GR

1054 Kata
Pamer apalagi? Pikir Sasha. Ia harus memamerkan kemesraan apalagi agar Elena berubah jadi cacing kepanasan. Wanita itu semakin berulah, setelah mengumumkan kalau kedatangannya ke Indonesia adalah ingin rujuk. Hello, please? Kalau udah ditolak sekali sih nggak apa-apa. Sasha rela merogoh koceknya demi membelikan Elena sebuah kaca paling besar agar Elena bisa ngaca dan sadar. Tapi, ini masalahnya adalah si mak Lampir nggak mau ngalah sedikit pun. Bahkan, mereka hampir ribut di toilet tadi. “Aku gak akan terpengaruh dengan apa pun kebaikan Dave sama kamu. Ingat, traktiran kopi tadi bukan apa-apa dan gak sebanding dengan kebaikan Dave yang sudah-sudah denganku dulu. Aku juga yakin, kemampuanmu hanya sebatas haha hihi aja di depan kamera.” Sasha sedang memperbaiki make up nya, tak perlu tebal-tebal. Toh, kecantikan alami biasanya lebih diagungkan. Dia hanya sedikit tertawa demi menghargai ucapan Elena barusan. “Maaf, sedikit mengingatkan. Tadi pagi aku hampir aja makan roti basi, sudah kadaluarswa. Dan kamu tahu tempatnya di mana? Ya, benar sekali. Tong sampah, udah gak berarti apa-apa. Sebaik apa pun dulu Dave padamu, sedewa apa pun sikapnya. Kalau yang namanya masa lalu itu letaknya ya di tong sampah. Say goodbye aja deh ya!” Byurr! Sasha kaget saat Elena menyiramkan air dari kran persis ke wajahnya. Ia tak mau kalah, tangannya menengadah dan langsung mencipratkan persis ke muka Elena. Makin parah, Sasha yakin rambutnya sedikit basah. Ia ingin sekali berteriak tapi terhalang CCTV. Ingat, Sha, reputasimu adalah yang terbaik saat ini. Ngapain habisin waktu sama orang yang otaknya ada di dengkul! Kurang kerjaan. Elena sudah keluar lebih dulu dan tak ada rasa bersalah sama sekali. Sedangkan Sasha bergerak ke ruang ganti juga mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Pertanyaan Rendi pun tak dijawabnya perihal kenapa rambutnya bisa basah. “Aku mau ganti kostum. Kamu bawa kan?” Meskipun banyak pakaian di ruang ganti, tapi Sasha sering sekali membawa cadangan di kopernya sebagai jaga-jaga. Ia mengenakan jeans warna light dengan jaket hitam pekat sepinggang. Tampilan modisnya membuat gayanya kelihatan bak gadis remaja. Ia memang kadang bisa berubah-ubah style. Kadang dewasa, anggun, berani dan cute. Baru saja membuka sling bagnya, Sasha dikagetkan dengan kecoak di dalamnya. Ia berteriak mundur saking kagetnya. Rendi sebagai pria pun kelimpungan, memang paling takut dengan kecoak juga serangga lainnya. “Di sini gak ada gitu penyemprot serangga!” "Gak tahu. Ih mana gak terbang-terbang lagi. Kenapa bisa ada di tasmu sih, Sha?” Suaranya yang ketakutan membuat Sinta masuk dan bertanya ada apa. Ia melihat ke dalam slig bag milik Sasha lalu menjemputnya. Geleng-geleng kepala lantaran hanya kecoak mainan saja. “See? Gak apa-apa kok, tuh udah kubuang. Kamu ini aneh, mainan gitu aja sampai segitunya.” Kalau bukan karena Sinta, Sasha pasti tak akan menyentuh tas itu lagi. Ia yakin ini adalah ulah Elena. Dasar lampir! Awas saja, tunggu pembalasannya. “By the way, pemain baru tadi kelihatannya iseng deh buat casting. Ya maksudnya buat apa orang yang berada kayak dia nyari kerja lagi. Aku lihat pakaian yang dia bawa tadi, kelihatan mahal dan pasti branded. Sha, kamu kenal sama Elena? Kulihat tadi dia sering memperhatikanmu deh. Baiknya kamu hati-hati. Kadang yang kelihatannya matching banget, gak tahunya kelakuannya cacing.” “Dia emang secacing itu sih.” tawa Sasha meledak. Sinta emang jagonya nyepik orang, melebihi Gina malah. “Apa?” “Enggak apa-apa. Kamu gak pulang? Yudis gak jemput hari ini?” Yudis adalah managernya Sinta, lumayan akrab karena memang sering nongkrong bareng dengan Rendi. Mereka bahkan sering menghabiskan waktu berdua ketika ada libur panjang. Bahkan dulu Sasha mengira Yudis skidipapap dengan Rendi saking lengketnya. “Dia lagi gak enak badan sih. Jadinya aku pulang naik taksi. See you, Sha.” "Too, Babe.” Kepergian Sinta dan juga beberapa orang lainnya membuat Sasha ingin pulang juga. Rendi bahkan sudah pasti lebih duluan sampai di depan gedung. Sasha berpikir cepat, ia suka balas-berbalas perbuatan. Elena sudah bikin jantungan, dan sekarang adalah gilirannya. Ah iya, bukannya Dave tadi bilang akan jemput ya? Apakah pria itu masih sibuk di Ghanamy? Dave, Sasha melihat pria itu tidak membalas pesannya dari satu jam yang lalu. Dih, dasar kebiasaan. Selalu abu-abu, padahal Sasha ingin sekali lekas centang biru. Baru dibatin, Dave tengah mengetik dan bertanya Sasha sedang apa, di mana, bersama siapa? “Di ruang ganti, lagi gak ngapa-ngapain dan bersama model lainnya. Kenapa?” Lagi, tidak ada jawaban. Sampai akhirnya dering telepon membuatnya bergumam sendiri. “Nih orang susah ditebak deh.” “Turun ke bawah. Aku udah nunggu kamu, tadi Rendi kusuruh buat pulang duluan.” “Kamu jemput aku?” Sasha mengintip luar ruangan dan ternyata sedikit gerimis. Padahal prediksi cuaca hari ini cerah. Memang ya, cuaca bisa gak terduga kayak gini, persis kayak Dave yang datang tanpa diminta. Ah, bagus deh. Lagian Sasha juga ingin berduaan dengan pria itu, ia tahu kalau Dave sudah menganggapnya lebih dari teman. Atau mungkin, Dave sudah mampu mengatakan pada beberapa wanita yang mendekatinya bahwa Sasha adalah pacarnya. Ya ampun, lagi dianggap pacar aja udah bersemu seperti ini. Ia lekas turun ke lantai dasar dan kebetulan sekali Elena juga ada di sana. Pasti wanita itu menunggu hujan mereda karena memarkir mobil cukup jauh, sedangkan orang yang selalu di sampingnya yang yang kelihatan seperti babu itu belum bergerak sama sekali untuk menerjang hujan. “Brrr! Dingin deh!” Sasha sengaja mengeluarkan suara agar Elena menyadari keberadaannya. Wanita itu lagi-lagi membuang muka. Cih, muka dua aja belagu! Dan Sasha melihat ke arah depan, persis di mana Dave menghentikan mobilnya. Bagus, Dave! Sasha udah gak tahan buat pamer kemesraan. Pria itu keluar dengan membawakan payung, mendekat ke arah Sasha. Elena yang kepedean pun maju dan bertanya. “Kamu mau jemput aku?” Dave bingung, kenapa ada Elena di sini? “Ngapain kamu ada di sini? Dan oh ya, aku gak jemput kamu. Jangan mimpi.” Pria itu terus berjalan sampai akhirnya berhenti di depan Sasha. “My lady, kamu gak kedinginan?” Belum sempat dijawab, Sasha agak terkejut setelah Dave melepas setelan jasnya dan membiarkan tubuhnya hanya terbalut kemeja warna tosca. Ia menghangatkan tubuh Sasha dengan jasnya. “Jaket yang kamu pakai bakalan dingin, gak sebaik milikku.” “Terima kasih. Hujan-hujan gini emang enaknya dibaperin ya?” “Aku gak berniat baperin kamu kok. Ayo masuk, sebelum hujan makin deras.” Mereka sepayung berdua. Sasha menoleh sebentar dan menjulurkan lidah. Rasain! Memang ini yang Sasha mau, Dave peka sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN