Cemburu

1278 Kata
Betapa lega dan puasnya Sasha melihat wajah Elena ditekuk kayak benang kusut. Lagian, ngapain sampai ikut casting? Meskipun ia mengakui kecantikan Elena khas orang barat, hanya saja demi Dave ia harus bermain lebih epic lagi. Ia yakin, bukan sekali dua kali ini Elena bermain licik. Wanita pendendam seperti dia pasti lebih punya ide-ide yang nantinya bisa saja membahayakan posisi Sasha. “Tadi kenapa ada Elena di sana?” “Dude, aku gak suka kamu nyebut nama dia dengan mulutmu.” “Maaf. Terus kamu maunya aku manggil dia apa? Gak mungkin kan aku manggil dia mantan istri?” Sambil ngemil waffle yang tadi dibelikan Dave, Sasha tengah berpikir. Panggilan apa yang cocok untuk Elena. “Devil?” Tawanya meledak, menertawakan idenya sendiri. Sampai akhirnya ia terbatuk karena saking girangnya. “Maaf, maaf. Aku terlalu excited. Panggil aja sesukamu, Dave. Oh iya, by the way makasih loh udah kirimin aku truck coffe mini. Anak-anak agensi pada penasaran siapa kamu.” Tangan Dave membelai rambut Sasha sebentar. Ia tahu bagaimana cara menyentuh hati wanita. Bukan pawang play girl, hanya saja kalau soal urusan merayu, Dave juga tak kalah dengan para pria handal di luar sana. Mereka belum kepikiran akan ke mana. Sasha juga melihat waktu, masih terlalu cerah untuk pulang ke apartemen. Rendi palingan juga lebih memilih menghabiskan waktunya tidur seharian setelah mengikuti Sasha sejak pagi tadi. Tadinya Sasha ingin bertanya lebih jauh kenapa mereka ke rumah sakit, ingin menjenguk siapa atau lebih tepatnya apakah Dave sakit? “Siapa yang sakit?” “Kita gak bawa sesuatu kalau mau menjenguk, Dave?” Tapi, semua pertanyaan itu terpatahkan saat Dave menyebut sebuah nama, seorang wanita. Entah mengapa, Sasha merasa banyak rahasia yang dimiliki oleh pria itu. Sasha tak banyak bicara, ia berpas-pasan dengan banyak suster, ke sana - kemari dengan kesibukan mereka. Pasti di sini gak ada televisi, makanya mereka menganggap Sasha hanya pengunjung biasa. Begitu masuk ke ruangan, Dave menyapa suster yang begitu akrab dengannya. Masih muda, cantik dan murah senyum lagi. Sasha merasa tersisihkan. “Beliau sering demam akhir-akhir ini. Mungkin karena udara di sekitar rumah sakit sedikit dingin, kau tahulah, Dave. Rumah sakit ini tidak terlalu dekat dengan jalan raya. Banyak pohon pula di belakang bangunan ini, jadinya udara lebih dingin. Padahal Jakarta sangat jauh dari kata adem, iya kan?” “Nanti aku akan membelikannya tambahan suplemen dan vitamin. Tentu aku akan berdiskusi dulu dengan dokter Abbas. Sampai nanti, Rena.” Suster baik itu pamit, membungkuk pada Sasha yang sejak tadi mengamatinya. “Dia Renata, suster pribadi mama. Dan oh ya, ini mamaku.” Sasha tercengang. Ia langsung merubah muka masamnya menjadi senyum, berniat mencium tangan wanita yang bahkan tak meliriknya sama sekali. "Halo, Tante. Aku Sasha, senang bertemu dengan anda.” Tapi, Sasha sangat kaget saat mamanya Dave langsung menepis tangan Sasha, ketakutan. Bahkan hampir berteriak. Luka di pikiran dan raga Bettari sudah terlalu lama menumpuk, sampai semua orang yang berusaha mendekatinya dianggap bahaya. "Di mana Elena? Dia bukan Elena. Elena bilang akan membawa Nadhira ke sini, Dave. Elena mana? Kenapa kamu pergi dengan wanita lain? Jangan jadi seperti papamu! Pergi kamu! Dave hanya mencintai Elena!” Sasha terkejut, padahal bukankah Elena sudah pisah dengan Dave? Atau mamanya Dave tak tahu soal itu? Dave mendekat dan memeluk mamanya, bahkan berusaha sangat memahami semua kemarahan Bettari. Dave bertanya pada beberapa orang apakah ada wanita yang mampir ke sini, mereka menjawab ya. Sudah pasti itu Elena. Dulu Bettari sangat dekat dengan menantunya, ia tak tahu betapa liciknya Elena. Semua demi harta saja, harta Darendra yang mengubah takdir Dave seperti ini. “Sebaiknya aku keluar dulu, Dave.” “Maaf, Lova. Nanti aku akan segera kembali.” Ia tak bertanya lebih jauh lagi, mungkin nanti Dave akan bercerita. Ya, karena Sasha bukan pemaksa, ia ingin menjadi titik terindah dan ternyaman bagi Dave. Sambil menunggu mamanya Dave tenang, Sasha keliling rumah sakit. Rumah sakit ini lebih banyak menerima pasien yang punya sakit menahun, atau lebih tepatnya rumah sakit penyembuhan. Luka-luka orang yang trauma, depresi, kehilangan semangat dan juga orang-orang terkasih. Siapa sangka, kalau salah seorang wanita yang dirawat di sini adalah mamanya Dave. Dave, pria itu penuh misteri. Lebih setengah jam hanya duduk, bermain ponsel dan mengamati banyak suster yang sejak tadi mondar-mandir, Sasha langsung berdiri ketika melihat Dave menghampirinya. “Kamu baik-baik saja?” Tentu tidak. Sasha tidak main-main dengan Dave, keluarga Dave keluarga Sasha juga. Seburuk apa pun perlakuan mamanya Dave tadi, Sasha harus sedikit menebalkan sabarnya, lebih banyak lagi. Ia memeluk Dave, menepuk bahu pria itu berkali-kali dengan pelan. “Aku yang seharusnya tanya seperti itu, apakah kamu baik-baik saja. Apakah kamu kesepian? Apakah rasa sakitmu begitu sakit sampai aku gak tahu, rasa sakit mana dulu yang harus aku ssmbuhkan.” Baru kali ini ada yang bertanya dengan keadaannya. Biasanya, orang-orang hanya bertanya kenapa bisa pisah. Kenapa mamanya bisa berakhir di rumah sakit dan semua yang berkaitan dengan urusan keluarganya. “Aku baik-baik saja, Lova. Sebaik yang kamu kira. Mau cari makan? Di kantin sini makanannya lumayan kok.” Sasha setuju, ia mengikuti langkah Dave. Bahkan pria itu menggandeng tangannya tanpa ragu. “Kamu gak malu gandengan gini di rumah sakit?” "Ngapain malu? Kamu kan wanitaku.” “Dalam artian apa?” Senyum Sasha kembali terbit, ingin rasanya menggigit bahu Dave. Ia bergelayut manja, lagian lorong di sini lumayan sepi. Tak akan ada orang yang melerai kemesraan mereka. “Duduklah. Aku pesankan sesuatu ya? Teh manis mau?” “Asal semanis kamu aku mau.” Sasha melihat keadaan sekitar, lumayan sepi. Hanya beberapa orang yang sedang makan, sepertinya keluarga pasien. Ia terpengarah pada seorang anak yang terbalut kepalanya dengan perban, duduk di kursi roda. Sasha melambaikan tangan pada anak kecil itu, dibalas dengan senyuman. Karena tergelitik hatinya, Sasha mendekat dan bertanya siapa namanya. “Halo, aku Sasha. Kamu siapa, anak manis?” “Lusiana. Kak Sasha cantik banget, bandonya juga bagus.” Sasha lupa apa yang dipakai pada kepalanya. Ia asal menerima saja apa yang dipasang Gina tadi pagi. Ia melepaskan bando polos itu dan memberikannya pada Lusiana. "Hadiah untuk kamu. Tapi, kamu harus janji pada Kak Sasha, Lusiana harus cepat sembuh. Oke?” Lusiana mengangguk. Ia menggerakkan kursi roda, menghampiri keluarga dan mereka mengangguk sopan. Berterima kasih karena ada yang mau mengobrol dengan anaknya. “Ngapain kamu?” "Ah, tadi. Namanya Lusiana, dia manis banget. Kelihatan pucet, terus aku ngasih dia bando.” Sasha terduduk lagi, lalu menyendok nasi dengan lauk lengkap. Seperti masakan padang. “Dave, kenapa mama kamu begitu menyukai Elena? Padahal kamu sebegitu bencinya. Dia pakai pelet?” “Jangan makan sambil bicara. Habiskan dulu.” Sasha cemberut, ia tak suka kalah satu langkah dengan Elena. Meskipun mamanya sedang sakit pikirannya, tapi kalau hanya Elena saja yang diingat, pasti wanita itu sudah melakukan sesuatu sampai diingat kebaikannya. Ia terburu-buru makan, sampai seperti balapan. “Udah habis kan? Sekarang aku pengen tahu banget kenapa Elena bisa diterima mama kamu.” “Dulu, Elena bilang kalau dia akan memberikan cucu sama mama. Dan kamu tahulah, semua orang tua pasti akan antusias banget kalau mendengar kata cucu. Elena memberikan usaha terbaik, padahal, dulu kita sibuk sampai melupakan soal anak.” “Terus?” “Saat mama udah sakit, Elena bohong soal kehamilannya. Dan yeah, saat aku cerai, mama marah besar, dikira aku yang jahat. Dia memutarbalikkan fakta. The real dari semuanya adalah, Elena tidur dengan mertuanya sendiri. Papaku, Lova. What do you think about this?” Hah! Gila! Skidipapap sama mertua? Padahal punya suami yang wajahnya kayak pahatan raja romawi! Gila! Elena Gila! “Dude, percayalah. Mungkin sekarang nama Elena yang akan disukai mama kamu. Tapi, aku akan membuktikan kalau aku pantas untuk jadi menantunya. Oke?” “Aku menunggu hal itu segera terjadi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN