RASA PENASARAN

799 Kata
*** "Ini CV Housekeeping Natasha yang bapak minta," Martin- manager hotel Kingston menyerahkan sebuah map berisi data pribadi Ghea. Kini ia berada di ruangan CEO hotel, bukan kamar pribadi Angga di hotel itu.  "Oke, kamu boleh keluar." Angga mempersilahkan Martin untuk pergi. Manager hotel itu akhirnya pergi dengan setengah hati, walaupun sesungguhnya ia sangat penasaran mengapa bos besar seperti Angga sampai meminta data pribadi seorang house keeping, akan tetapi rasa penasarannya terpaksa terkubur dalam-dalam begitu ia melangkah keluar dari ruangan itu. Sepeninggal Martin, Angga membuka lembar demi lembar isi map itu dan membacanya dengan seksama. Dari sanalah ia akhirnya tahu bahwa Ghea yang ceroboh tapi belakangan ini sangat pemberani untuk menentangnya, ternyata bukan house keeping berpendidikan rendah. Ia ternyata lulusan Strata satu c*m laude hanya saja bernasib buruk mendapat pekerjaan kecil. Pantas saja dari cara bicara wanita itu kemarin, ia bisa menangkap ada yang berbeda dengan wanita itu, ternyata wanita itu adalah lulusan cumlaude full beasiswa dari universitas paling tersohor di negara ini, dan juga memiliki pengalaman di beberapa tempat. Namun sungguh disayangkan, pengalaman dan pendidikan tinggi itu tidak bisa ia gunakan dengan menjadi housekeeping di hotel ini. Setelah berpikir sebentar, Angga kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Begitu sambungan di telepon berganti dengan suara seorang pria, ia kemudian angkat bicara. "Roy, saya ingin kamu cek di kantor kita apakah masih ada divisi yang membutuhkan staff. Posisi yang paling pemula dulu juga tidak mengapa. Jika ada, kabari saya segera. Thanks." Usai mematikan teleponnya, Angga menyesap kopinya perlahan. Ia kemudian bersandar pada singgasananya dan tersenyum misterius. Barusan ia menghubungi kantor Canvas Box, perusahaannya. Ia berencana untuk menjadikan Ghea sebagai salah satu staff di sana. Lantas apa alasannya sampai ia melakukan hal itu? Ia bukan merasa kasihan ataupun empati, ia hanya ingin melihat sejauh apa kemampuan wanita itu. Untuk itulah ia menempatkannya pada posisi yang paling bawah.  Kata orang, jika ingin mengenali mangsamu, masa kenalilah ia dari dekat, dan sekarang ia sedang melakukan itu, meskipun ia tidak menganggap wanita itu sebagai mangsa. Ia murni hanya merasa penasaran dan ingin tahu sifat asli apa lagi yang tersembunyi dibalik wajah polos dan sikap ceroboh itu. *** Ghea melotot tidak percaya saat ia dipanggil ke bagian HRD dan mengambil gajinya sampai hari ini. Dengan mata berkaca-kaca dan tangan gemetar memegang amplop gaji, Ghea bertanya, "Kenapa, Bu? Saya salah apa?" Dalam hatinya, Ghea sudah memikirkan belasan prasangka yang tidak-tidak. Ia tidak melakukan kesalahan apapun dalam bekerja, kecuali kesalahan yang satu itu : berurusan dengan bos fakboy yang pembawa sial. Ya, pasti si Angga sialan itu yang memerintahkannya agar dirinya dipecat karena insiden di rumah waktu itu. Ia berjanji dalam hati, selepas dari sini, ia akan langsung menemui Angga dan menendang tulang keringnya hingga pincang, atau jika perlu ia akan menendang aset berharganya hingga impoten sekalian. Masa bodo! Jika sudah dipecat begini, ia bebas melakukan aksi unjuk rasa macam apapun! Akan tetapi, secara tidak terduga, HRD wanita itu justru tersenyum dan menyampaikan sesuatu yang hampir saja membuat mata Ghea melompat keluar karena kaget. "Natasha, kamu tidak dipecat. Gaji yang kamu terima ini adalah gaji sampai hari ini kamu bekerja di hotel ini sebagai house keeping. Kamu akan dipindahkan ke perusahaan Canvas Box Advertising karena mereka sedang membutuhkan staff, dan kami menilai latar belakang pendidikan kamu lebih cocok di kantor. Apa kamu keberatan dengan itu?" Ghea hampir menangis bahagia mendengarnya. "Serius bu? Sama sekali tidak keberatan! Makasih ya bu!" Ghea berterima kasih dengan heboh. Ia memang sudah lama ingin bekerja kembali di kantor, tapi karena sulitnya mencari pekerjaan di tengah pandemi, baru kali ini ia mendapatkan perusahaan yang mau menerimanya kembali. Itu berarti ia bisa angkat kaki dari sini dan terbebas dari terror si pembawa sial itu. Tapi ditengah kegirangannya itu, ia tiba-tiba teringat sesuatu. Ia mencoba mengingat-ingat nama Canvas Box dan akhirnya ia teringat bahwa perusahaan itu juga merupakan perusahaan milik Angga. Itu sama saja ia akan tetap akan sering bertemu dengan si sialan itu. Habislah sudah! Padahal tadinya Ghea pikir ia cukup melihat wajah menyebalkan Angga di rumah saja. Melihat perubahan di wajah Ghea yang mendadak pucat, HRD wanita itu bertanya, "Natasha, ada masalah?" Ghea buru-buru terkekeh sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. "Tidak ada bu." "Kalau begitu besok kamu bisa langsung bertemu dengan Pak Satria ya, jam 8 pagi." "Baik bu, kalau begitu saya permisi." Ghea kemudian keluar dari dalam ruangan dengan hati yang penuh tanda tanya. Dalam hati ia berpikir, apakah si sialan Angga tahu mengenai hal ini, ataukah memang dia yang mengatur kepindahan Ghea? Tapi kalaupun benar Angga yang mengatur kepindahannya, memangnya apa untungnya buat Angga? Mengingat hubungan mereka sama sekali tidak bisa dikategorikan berada dalam hubungan yang baik.  Sepeninggal Ghea, HRD wanita itu kemudian mengangkat telepon menghubungi seseorang dan berkata, "Halo, Pak. Saya sudah urus kepindahan Natasha. Sesuai permintaan bapak, dia sama sekali tidak tahu bahwa bapak yang mengatur kepindahannya." TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN