TUNTUTAN MENIKAH

1465 Kata
Angga tidak langsung pulang ke rumahnya hari itu. Ia lebih memilih menghabiskan waktunya di bar langganannya seorang diri. Karena mood-nya berubah tidak bagus hari itu, ia menolak semua wanita yang mendekatinya, dan hanya memilih minum sambil menghabiskan waktu. Setelah puas menghabiskan waktu dengan hal yang tidak berguna, barulah ia pulang ke rumah. Hari ini hari minggu, jadi Ghea tidak akan datang ke rumahnya untuk mengurus hewan pelihataannya. Khusus weekend, Pak Anton lah yang akan memberi makan dan mengurus mereka semua, meski tidak membawa mereka jalan-jalan keliling komplek. Namun Angga tidak pernah menyangka, begitu ia menginjakkan kaki di rumahnya yang besar, seseorang sudah menunggunya di ruang tamu dengan kedua tangan bersedekap, dan tatapan tajam ke arahnya, bersiap memuntahkan semua amarah yang ditahannya selama menunggu kepulangan Angga. “Masih ingat pulang kamu ternyata.” Sindir sang pemilik suara. Sontak saja Angga mendongak. Matanya melebar saat melihat Linda yang terduduk di sofa kini sudah bangkit berdiri dan menatap tajam ke arahnya. “Mama?” Angga menghampiri Linda dengan semringah. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan ibunya karena selama ini ibunya berada di Australia. “Kenapa mama tidak memberitahuku dulu kalau mama pulang dari Sydney hari ini?” Tanyanya sambil memeluk ibunya, akan tetapi Linda buru-buru mendorong putranya menjauh. “Kamu ke bar ya? Bau minuman.” Tanya Linda. “Sedikit,” Angga terkekeh. “Tapi tidak sampai mabuk kok, ma.” Angga berucap tanpa dosa. “Sama saja, Angga! Mama pikir kamu kemana? Ternyata kamu ke bar sampai jam 9 malam? Kenapa nggak sekalian saja nggak usah pulang saja? Kamu kan sudah nggak pulang dari kemarin malam.” Cecar Linda yang kontan membuat putranya mati kata. Dalam hati Angga mengutuk kesialannya. Semua ini pasti ARTnya yang memberitahu karena dipaksa oleh sang mama. “Terus kamu apain itu Tania? Kamu ajak makan terus kamu tinggal di tengah jalan gara-gara kamu bertemu dengan wanita lain? Wanita macam apa yang kalian temui? Wanita yang menghabiskan malam sama kamu kemarin? Iya? Kamu benar-benar mempermalukan mama ya! Mama tidak mau tahu kamu harus tunangan dengan Tania kalau begini! Kamu sudah tidak waras, hobinya main perempuan tapi tidak mau menikah!” Linda mengomel habis-habisan dengan nada tinggi. “Tenang dulu, ma.” Angga berusaha menenangkan Linda sebelum terjadi pertumpahan darah. “Dengarkan penjelasanku.” “Penjelasan macam apa yang mau kamu berikan ke mama? Mama sudah tahu semuanya. Besok mama akan menghubungi keluarga Haritama dan menyampaikan kalau kita akan melamar putrinya secara resmi!” Tukas Linda. Ia sudah memutuskan jika putranya memang tidak bisa dibujuk baik-baik, maka ia akan memaksanya. “Ma! Aku serius. Aku punya alasan kenapa aku tidak mau menikahi si Sania itu.” “Tania, Angga! Bukan Sania! Memangnya wanita yang kamu kencani ada berapa ribu sih sampai mengingat nama Tania saja kamu tidak bisa?” “Ya, maksudku si Tania. Aku tidak bisa mengingat namanya karena memang dia tidak sebegitu penting sampai aku harus mengingat namanya.” Ucap Angga yang kontan membuat ibunya melotot garang. Sebelum ibunya benar-benar menghabisinya, Angga kemudian berdeham dan melanjutkan, “Dia terlalu manja, pemaksa, menyebalkan, dan sepertinya hanya mencari keuntungan dari pernikahan ini.” “Keluarga kita juga mendapat keuntungan jika kamu menikah dengan Tania. Perusahaan kedua belah pihak akan bertambah besar jika pernikahan ini dilaksanakan. Kamu bisa memiliki sebagian saham Haritama Group. Bukankah ini bagus?” “Aku sama sekali tidak tertarik. Baik itu Haritama Group maupun si manja itu.” “Mama tidak mau tahu. Mama maunya kamu menikah. Tahun ini. Kalau bisa bulan depan sudah resepsi. Titik!” “Aku tidak akan menikah dengan si manja, ma. Titik.” Ia kemudian menatap ibunya. Ibunya tampak melotot padanya dengan garang dengan tatapan seolah berkata ‘siap-siap kehilangan hak warismu, nak’. Merasa tidak mempunyai pilihan lain, Angga menghela nafas panjang, kemudian berkata dengan pasrah. “Jika mama begitu menginginkan aku menikah, aku akan membawa calonku sendiri.” Mendengar hal itu, Linda sukses menegakkan tubuhnya dan menghampiri Angga. “Memangnya kamu punya calon? Serius? Kamu bukan sedang mencoba membohongi mama kan?” Tanyanya penuh selidik. “Begitulah,” ucap Angga lirih. Ia tampak berpikir apakah ia harus melakukan ini, tapi setidaknya ia harus meloloskan diri dari pertunangan bersama Tania. Ia tidak memiliki pilihan yang lebih baik selain ini. Ia memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya mengatakan sesuatu yang pastinya akan membuat situasi semakin runyam. “Dia adalah wanita yang kami temui di restoran tadi siang,” Angga mendongak menatap mata Linda, dan mengucapkan sederet nama yang ia sendiri pun tidak sangka-sangka akan menghafalnya luar kepala. “Namanya Natasha Gheandra Halim.” *** Mobil yang dibawa Adhit berhenti tepat di depan gerbang kosan Ghea. “Sudah sampai. Tepat jam 9 malam,” ucap Adhit kepadanya. Ghea tersenyum menanggapi ucapan Adhit. Setelah mereka meninggalkan restoran itu, Adhit membawanya ke restoran lain yang makanannya tidak kalah enak dengan restoran Perancis yang tadi, nonton film, lalu berakhir dengan pergi ke tepi pantai, merasakan angin sepoi-sepoi sambil mengobrol dan makan seafood segar langsung di restoran tepi pantai. “Thanks for the treat, Dhit. Sudah nganter pulang lagi.” ucap Ghea tulus. “Aku yang harusnya berterima kasih, Ghe. It’s nice to meet you today. Dan aku berharap masih ada lain kali untuk kita bertemu kembali.” Adhit tersenyum. Pertemuan pertamanya dengan Ghea memberi kesan yang baik di matanya, meski sempat diganggu oleh kehadiran seseorang. “Oh, Jadi masih ada lain kali?” Ghea terkekeh. “Itupun jika kamu tidak keberatan.” Adhit tersenyum. Ghea balas tersenyum. “Tentu saja tidak. Kalau begitu sampai bertemu kembali.” “Aku akan chat lagi nanti,” Adhit tampak senang mendengar jawaban Ghea. Ghea mengangguk dan beringsut keluar dari mobil. Ia melambai sekenanya sebelum mobil pria itu bergerak menjauh. ‘Adhitya bukanlah pria yang buruk. Jauh berbeda sekali dengan si bos sialan itu’, batinnya dalam hati. Namun beberapa detik setelahnya Ghea tersadar bahwa ia telah membanding-bandingkan Adhit dengan Angga. Walaupun Angga benar-benar benar sudah di cap buruk olehnya, tetap saja rasanya tidak pantas membandingkannya dengan Adhit yang jelas berbeda bak langit dan bumi. Ting! Sebuah pesan muncul di layar ponselnya tepat setelah Ghea masuk ke dalam kos. Ternyata pesan itu dari Elise. Elise : [Hi, Sweety. Gimana kencannya?] Ghea : [Good. Walaupun sempat hampir dikacaukan seseorang.] Elise : Ciyeee… Gimana Adhit? Oke kan? Kakak gue kenal baik sama dia, jadi dia pasti calon pacar yang bisa diandalkan dan nggak PHP. Hehehehe. Eh, kenapa tuh? Dikacaukan sama siapa?] Ghea : [Adhit baik, tapi satu hari belum cukup untuk menilainya. Semoga saja gue nggak salah menilai orang lagi ya. . . Dikacaukan sama BOS SIALAN GUEEEE! DIA NONGOL PAS GUE LAGI MAKAN SAMA ADHIT. CAN YOU IMAGINEEEE???] Elise : [HAH? SERIOUSLY?] Ghea : [DUA RIUS, LISE. And you know what? Dia ngaku kalau gue PACAR RAHASIANYA di depan TUNANGAN DIA, dan DEPAN ADHIT. Hampir saja Adhit marah dan salah paham sama gue] Elise : [WHATTTTTTT THEEEEE?] Ghea : [Pas gue lihat jam, ternyata si Angga nyamperin gue jam 12.55. Double 5 pantesan gue sial. Gue jadi makin sering sial kalau ketemu dia.] Elise : [TUH KAN…. GUE BILANG APA? DIA ITU MENCURIGAKAN. RESIGN SAJA UDAHHHHHH!] Ghea : [Susah cari kerja, Lise.] Elise : [Lo bisa minta bantuan ke Adhit buat cariin lo kerjaan.] Ghea : [No, no, no. Gue baru kenal sama dia kurang dari 24 jam, terus tahu-tahu minta dicaariin kerja. Bikin malu aja.] Elise : [Ya gapapa, Adhit super baik kok.] Ghea : [Gue bakal bertahan Lise. Si sialan itu janji kalau gue lulus percobaan tiga bulan di Canvas, dia bakal kasi gue posisi yang layak.] Elise : [Buaya kayak dia kok dipercaya si Ghe, Ghe.] Ghea : [Soal pekerjaan sepertinya dia nggak bakalan bohong deh.] Elise : [Semoga ya.] Ghea : [Eh, Lise. Udah dulu ya. Gue mau mandi dulu. Namti lanjut lagi. Bye] Usai mengakhiri chatnya dengan Elise, Ghea pun beringsut masuk ke dalam kamarnya. Ia melempar tasnya ke sembarang arah dan duduk di sofa kecil tak jauh dari ranjang. Ia menengadah menatap plafon, mengingat kejadian di parkiran bersama Angga. Ghea sampai mengatakan bahwa ia sangat membenci pria itu dan bahkan mengatainya pembawa sial. Apakah ia keterlaluan? Bagaimana pun pria itu bosnya. Bagaimana jika besok ia dipanggil HRD dan dipecat karena menghina seorang bos? Tapi setelah ia pikir kembali, ia sama sekali tidak bersalah. Perceceokannya dengan Angga berlangsung di luar kantor dan di hari libur. Angga yang mengganggu ketentraman hidupnya dan ikut campur dengan urusan pribadinya, jadi Ghea berhak memakinya. Meski begitu, apakah Ghea boleh memakinya sampai sekasar itu? ‘Pembawa sial.’ ‘Sama sialnya dengan angka lima terkutuk itu.’ ia mengingat kembali makian yang ia lontarkan pada Angga. Entahlah. Ia tidak mau peduli lagi. Pria itu memang pantas mendapatkannya. Siapa suruh ia menganggap semua wanita itu sama? Ghea bukanlah mainan. Dan sampai kapanpun ia tidak sudi menjadi mainan Angga. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN