Pagi ini hari dimana seharusnya Nara bersekolah dan adik nya juga, malah justru gagal karena keadaan.
Disinilah mereka, di rumah sakit tempat Nara membawa ibunya setelah tak sadarkan diri. Febri menangis dalam dekapan seorang kakak, ibunya tengah berjuang melawan sakit yang di derita, entah karena apa kenapa ayah nya begitu tega kepada mereka.
Nara menatap penuh kebencian sisi tembok rumah sakit, dalam matanya terus menangkap sosok ayah yang dia benci, selama dia hidup selama belasan tahun ini tak pernah sekalipun dia merasakan apa itu kebahagiaan, di tambah setelah bisnis Toni hancur dan membuat keadaan semakin memburuk.
Setelah beberapa lama mereka menunggu kabar dari dokter, akhirnya sosok berjas putih bergelar keluar dari ICU dan menghampiri Nara dan Febri.
"Dimana wali mu Nak?" tanya dokter itu pada Nara, dia berpikir akan membicarakan soal pasien dengan orang dewasa, tapi kondisi juga tidak memungkinkan.
"Saya putrinya, Anda bisa membicarakannya dengan saya! dan untuk ayah saya ... saya tidak punya!" jawab Nara kepada dokter itu dengan sedikit berbohong, dia menyebutkan jika dia tidak mempunyai ayah, Febri yang mendengarnya tak mengucap apapun dia berpikir apapun yang dilakukan oleh kakak nya adalah yang terbaik untuknya.
"Apa kamu tidak punya saudara?" tanya dokter itu lagi, dan Nara segera menyahut.
"Tidak, kami jauh dari kerabat!" jawab Nara lagi dengan kebohongan yang ada, nyatanya dia punya beberapa saudara dari Ibu dan ayahnya, tapi kembali lagi pada kondisi yang tidak akan merubah kemungkinan agar mereka peduli kepada keluarganya.
"Baiklah akan saya sampaikan padamu, tapi sebelum itu saya minta untuk lebih dewasa!" tegas dokter itu pada Nara, gadis mungkin yang terlihat imut dan cantik, dia mengira Nara adalah anak yang belum cukup dewasa ditambah dengan seragam SMA yang dia kenakan, padahal Nara adalah anak yang berbeda, berbeda saat anak seusianya akan menikmati hidup justru dirinya harus mengerti apa itu alasan dia dituntut menjadi dewasa.
"Saya sudah cukup bijak untuk itu, hanya saja mungkin adik saya akan sedikit terpuruk jika itu kabar kurang baik ...." sahut Nara apa adanya dia memeluk singkat sang adik yang memeluk sebagian tubuhnya.
"Kalau begitu biarkan adikmu di luar dulu, kita bicara di dalam," ucap Dokter itu lagi, entah apa kabarnya kenapa dia tidak mau terus terang saja pada Nara.
Tanpa basa-basi Nara yang mulai geram segera mengikuti dokter itu dan meninggalkan Febri bersama suster di luar.
"Saya menyampaikan ini dengan berat hati, seharusnya sebelumnya dia sudah melakukan operasi darurat, tapi dia menolak dengan alasan tidak punya biaya cukup, kami pihak rumah sakit juga tidak bisa membantu perihal dana sebab bantuan itu belum bisa di terapkan tahun ini," ucap dokter itu pada Nara dan membuat dirinya penasaran.
"Ibu mu memiliki riwayat kanker paru-paru, dan kabar buruknya dia sudah stadium akhir ...." lanjut dokter itu terpotong saat Nara mulai goyah, dia sedikit kehilangan keseimbangan saat mendengar berita itu.
"Tenangkan dirimu, duduk dan kita bicarakan lagi," lanjut dokter itu sambil menyuruh Nara duduk dan Nara menurut.
Nara mengatupkan mulutnya tangannya mengeluarkan keringat dingin seketika, dan dokter itu melanjutkan bicara.
"Ibumu saat ini sedang kritis, kanker paru-paru itu sudah menyebar luas, ditambah paru-paru lebam dan memburuk seperti pukulan dan alhasil kontraksi nya memburuk dan tak sadarkan diri," Jelas sudah kondisi sang ibu, Nara membisu tak bisa mengucap apapun saat dokter itu menjelaskan semuanya di hadapannya.
Setetes air mata mengalir di sudut mata kanan dan kirinya, kakinya gemetar. Orang yang selama ini membela dan mempertahankan dirinya dan sang adik justru adalah orang paling lemah dari mereka, seorang ibu yang selalu memberi dia uang dan makan halal kini justru sedang berjuang melawan kematian disana.
Selama ini Nara dan sang adik tak pernah menerima sepeserpun uang dari Toni, Anita selalu memberikan uang yang pantas untuk menghidupi anak-anaknya, semua dia hasilkan dengan bekerja secara diam-diam dari Ayah Nara.
"Temui dia, dia terus menyebut nama anak-anaknya mungkin dia akan membaik setelah melihatmu dan adik mu ...." jelas dokter itu menyuruh Nara menemui Anita.
Berjalan keluar dengan kaki keluh nafas yang tak teratur, detak jantung yang berantakan, matanya menatap sang adik yang penuh derita di hadapannya.
"Ayo ...." titah Nara sambil menuntun sang adik menuju ruang ICU sebelum kesana dia dan Febri sudah berganti pakaian khusus berwarna hijau.
"Mama sehat kan Kak?" tanya Febri di depan pintu ICU membuat Nara bungkam.
Jleb!
Mulutnya kaku, apa yang harus dia katakan pada sang adik, dia takut Febri akan memburuk karena dia juga masih anak-anak tidak akan mengerti ini semua.
Nara terduduk dengan lutut nya dan menggenggam tangan Febri erat-erat sambil berkata, "Apapun yang terjadi, dengarkan kata Kakak, jangan membenci siapapun! untuk sekarang, besok, dan selamanya, semua yang terjadi karena Tuhan sayang sama Mama, Febri paham kan?" ucap Nara perlahan-lahan membuat Febri mengerti, seorang anak yang tak seharusnya melihat ini semua di masa kecilnya, semua ini membuat Nara semakin menaruh rasa kecewa pada sang ayah.
Febri menganggukkan kepalanya cepat dan berkata paham, dia menurut patuh dengan apa yang diucapkan oleh Nara selaku sang kakak.
Nara berdiri, dan diam-diam mengusap air matanya yang lolos begitu saja, dia tidak ingin adik nya melihatnya menangis.
Nara berjalan masuk ke dalam dengan tangannya menggandeng tangan Febri erat. Perlahan-lahan pintu terbuka, suasana baru dengan aroma obat-obatan yang begitu menyengat Febri sedikit bingung dan Nara berusaha menguatkan hati nya.
Sosok wanita paruh baya yang kerap di sapa Mama oleh kedua anak nya, kini sedang terbujur lemas di atas ranjang rumah sakit, tabung oksigen berjalan disana, cairan infus mengalir masuk kedalam tubuhnya, detak jantung yang tak stabil tergambar pada sebuah latar monitor kesehatan.
Nara mengatupkan matanya karena tak kuasa melihat ini semua, dia tak kuasa lagi melihat sosok pahlawan yang mengasuhnya dan sang adik dari perlakuan monster yang di panggil Papa, air matanya berlinang disana, tangannya menggenggam erat jari mungil sang adik.
Nara berpaling dari tubuh ibu nya yang terbujur tak berdaya disana, dia tak kuasa melihat keadaan. Febri berjalan cepat sedikit berlari menghampiri sang Ibu.
Seketika Nara tak kuasa lagi, kakinya melemas dan akhirnya dia terduduk begitu saja dengan tatapan kosong dan matanya terus menangis.
"Mama!" teriak anak kecil yang polos itu, melihat akibat dari perbuatan sang ayah.
Nara meremas kuat pakaian hijau yang dia kenakan dengan penuh rasa kecewa dan derita yang begitu besar.
"Apa ini? aku meminta hal baru yang menyenangkan di awal bulan, tapi kenapa kau memberi ini semua, apa ini hal yang menyenangkan?" gumam Nara kecil menatap wajah sang ibu yang pucat pasi itu.
"Mama! ini Febri Ma! buka mata Mama! Febri mau ke sekolah tapi Mama sakit," ucap anak itu masih berpikir tentang sekolahnya, begitu malang nasibnya dengan derita keluarga seperti ini.
Entah keajaiban Tuhan yang membuat Nara memiliki secercah harapan baru, keluh nya seolah di dengarkan dengan cepat.
Anita membuka mata perlahan tangannya tak berdaya untuk mengusap kepala sang putra kecilnya yang menangis di atas perut nya itu, sudut ekor matanya menitikkan air mata tak berdaya melihat anak-anaknya yang harus menderita karena ini semua.
"Feb- Febri, ini Mama Nak," ucap Anita perlahan membuat Nara menatap seketika.
Febri menangis meraung-raung, dia meminta kesehatan untuk wanita paruh baya ini.
"Febri jangan nakal ya, kasihan kakak! Febri kalau mau makan harus minta kakak ya jangan minta Papa, papa lagi sibuk Nak. Febri sekolah yang pintar dan rajin ya, di masa depan Febri harus bisa membanggakan Mama dan kakak, jangan bandel ya Nak, dengar kakak mu itu, ehm?" ucap Anita memberi penuturan pada yang putra, air matanya tak berhenti mengalir di setiap kata yang dia ucapkan.
"Febri janji nggak nakal Ma, Mama harus sembuh ya, kita sama-sama lagi ...." mohon anak itu dengan penuh derita, tapi seolah Tuhan tak pernah melihatnya dengan iba.
"Mama harus menemui seseorang dulu Nak, Mama mungkin akan lama, tapi Mama bahagia Nak," jawab Anita membuat Nara paham, dia memalingkan wajahnya menatap pintu ICU dengan air matanya yang mulai membasahi pipinya itu.
"Nara .... jaga adik mu ya? maaf kan Mama yang membuat kamu harus seperti ini, dan Mama mohon jangan membenci siapapun Nak, ingat! Kamu sudah dewasa," jelas Anita memberi penuturan untuk anak sulungnya itu, Nara tak kuasa lagi dia berlari dan memeluk erat sang ibu.
Kini mereka bertiga ibu dan kedua anak nya saling berpelukan seolah tanda perpisahan, Nara sudah pasrah dengan kehendak Tuhan perihal hidup dan mati itu tidak akan bisa dia minta kepastian.
Anita tersenyum lembut, matanya mengatup menikmati hangatnya bersama anak-anak untuk terkahir kalinya, dia mengelus kedua punggung anak-anaknya, tersenyum begitu bahagia dan siap untuk kembali.
Nafasnya mulai tersengal, matanya terbuka lebar, tangan yang semula mengusap punggung Nara dan Febri kini menjadi lemas tak berdaya.
Layar monitor itu mulai tak stabil, Nara tak kuasa lagi dan akhirnya dia dan Febri berteriak spontan seolah memberi pelampiasan pada keadaan.
"MAMA! ... Mama ... Haaaa ... hiks mama ...." teriak mereka berdua mengucap kalimat Mama dengan penuh rasa kehilangan.
Ini adalah bukti tentang kuasa Tuhan, hidup dan mati menjadi misteri yang seolah di undi, padahal semua telah tercatat lengkap pada buku masing-masing.
Perpisahan yang akan selalu menjadi akhir pertemuan, seorang ibu yang membawa hadir anak nya ke dunia, dan sekarang dia harus pergi meninggalkan anak-anaknya dari kejamnya dunia.
Perpisahan yang begitu mengecam keras setiap batin seorang anak, tapi cepat atau lambat ini memang harus terjadi, manusia hidup untuk pertama kali dan terakhir kali. Memiliki orang tua utuh terkadang terasa lebih hampa dari pada kehilangan salah satu atau kedua dari mereka, tetapi saat kehilangan itu pula tepat ditatap oleh mata kepala kita akan terasa begitu memilukan.
Kehilangan adalah salah satu bukti akan perpisahan, sebuah keheningan dan kenangan telah menjadi gambaran dari sunyi nya jasad yang membusuk ditimbun tanah. Tetapi dia adalah ibu, sosok yang tak akan pernah mati bagaimanapun keadaannya.
Ayah ataupun ibu adalah dua manusia yang begitu berpengaruh dalam hidup kita sebagai anak, sayap dari diri kita untuk terbang lebih jauh dan tinggi.
Tetapi di posisi ini orang tua lah menjadi alasan mengapa sayap Nara terpotong dengan begitu terpaksa, jika bukan karena sang adik mungkin nasib gadis ini tidak jauh beda dari kenyataan pada umumnya yang berakhir bunuh diri.
Disana, Toni sebagai ayah Nara tidak mendengar kabar ini, mata lebar Nara perlahan-lahan menyipit saat menetap kosong dari balik jendela ruang ICU itu, seolah tersorot mata penuh kebencian akan sosok ayah yang telah merawat dia selama ini.
Kadang dia juga berharap jika deritanya ini adalah mimpi semata dan ingin segera bangun dari tidurnya, tetapi terkadang juga dia harus terbiasa dan mampu melewatinya karena inilah kenyataannya, demi anak laki-laki kecil itu Nara rela menjadi Monster sekalipun demi melawan ayahnya yang selalu berusaha melenyapkan anak malang yang disebut sebagai anak haram ini.
Kehilangan adalah salah satu yang Nara benci mulai hari itu, satu-satunya wanita yang selalu ada untuknya telah pulang tak akan pernah kembali, meninggalkan dirinya dan sang adik, dunia ini begitu kejam hingga membuat kita tak berdaya saat seorang ibu telah pergi. Seperti kehilangan tongkat yang selama ini menopang tubuh kita untuk berdiri, yang menyembuhkan luka duri dari lika-liku kehidupan, sosok ibu akan tetap dikenang walau nyawa dan raganya telah binasa, jasa yang tidak akan pernah bisa terbayarkan oleh apapun.